Babi Beranting

Babi Beranting
77. masalah terus


__ADS_3

"Ambu ini ada apa, Kok ambu bisa pingsan seperti itu, bikin orang jantungan aja!" tanya Bah abun sambil menatap lekat sama istrinya, namun orang yang ditanya tidak menjawab, Dia hanya terisak dengan begitu Sendu.


Ketiga orang laki-laki itu akhirnya saling menatap, merasa bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. karena orang yang mereka tanya tidak menjawab sama sekali. sehingga akhirnya pak RT pun merasa kasihan dan dia pun berkata. "Ambu jangan terlalu banyak pikiran, saya sebagai ketua Kampung Ciandam tidak pernah lepas tanggung jawab. kita semua saling membantu, mencari tahu keberadaan Ranti. kalau Ambu ingin tahu, Jang Galih dan Jang Daus mereka Baru saja pulang mencari keberadaan Ranti. namun sayang menurut keterangan mereka, Galih dan Daus belum menemukan keberadaan Ranti. dan saya juga sudah melakukan berbagai hal untuk mencari keberadaan anak Ambu, mulai dari bertanya kepada kerabat atau kenalan-kenalan saya yang berada di kampung-kampung yang lain. bahkan Pak Kades saya sudah beritahu, dan beliau pun berniat membantu kesusahan Ambu. Namun sayang sampai saat ini mereka belum mendapatkan petunjuk. Nah, dari itu ambu harus sabar, harus tawakal, tidak boleh putus asa. jangan sampai lupa diri, harus memikirkan dengan cara yang wajar, bisa-bisa nanti Abu ikut sakit juga. karena saya juga akan terus berusaha mencari keberadaan Ranti yang menghilang." jelas Pak RT panjang lebar menenangkan hati wanita yang masih terisak.


"Iya Ambu jangan terlalu terbawa suasana, karena banyak orang yang masih peduli sama kita," Timpal Mbah Abun yang terdengar Merana, dia juga merasa sedih ketika melihat orang-orang yang disayanginya seperti itu. namun Ambu Yayah, dia tidak sedikitpun berbicara. hanya matanya yang mengalirkan cairan bening, sebagai bentuk ungkapan kepedihan yang berada didalam hatinya.


Setelah melihat istrinya sudah siuman Mbah Abun yang kedatangan Pak RT. dia pun mengajak kembali ke ruang tamu untuk membahas apa kepentingannya.


"Abah.....!" Panggil Pak RT setelah mereka duduk dengan nyaman.


"Yah, Ada apa Jang RT?"


"Sebelum ditanya, saya mau berbicara sesuatu hal yang hendak saya sampaikan. tadi ketika di sawah, saya didatangi oleh Kang Arif saudara almarhum Kang Sarman. Kang Arif melaporkan bahwa kebun almarhum Kang Sarman habis di jarah oleh babi hutan. malam kemarin kebun singkong satu kebun habis, tadi malam kebun pisang satu kebun habis. Nah, sekarang maksud saya bersama kedua orang datang ke sini, Saya ingin melaporkan kejadian itu sama abah," jelas Pak RT panjang lebar, membuat kedua orang yang mengikutinya manggut-manggut, seolah setuju dengan apa yang di sampaikan ketua Kampung Ciandam.


"Bentar....! bentar.....! Kenapa harus lapor sama abah, apa Jangan-jangan pak RT menganggap Abah adalah raja babi atau bagaimana?. karena walaupun yang RT lapor sama abah. Abah tidak bisa membantu kesusahan Kang Arif. kalau Kang Arif merasa dirugikan dengan kelakuan jahat babi hutan itu, kenapa babinya gak ditangkap, Kenapa harus lapor sama abah," jawab Bah Abun yang terdengar tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh ketua Kampung Ciandam, yang secara tidak langsung menuduhnya menjadi bibit pengacau yang ditimbulkan oleh babi-babi liar itu.


"Bukan begitu Abah, sebentar dulu! tadi malam kebun pisang itu dijaga oleh Kang Arif, semenjak meninggalnya Kang Sarman, Kang ariflah yang mengurus semua harta Kang Sarman. Kang Arif sangat rajin menjaga kebun Kang Sarman, karena memang biasanya banyak orang yang tidak bertanggung jawab, banyak orang yang ingin untung dari hasil enteng, sehingga melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, namun menurut keterangan Kang Arif, kejadian tadi malam sangat aneh."


"Sebab?" tanya Mbah Abun sambil mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Yang datang ke kebun jagung bukan maling, namun yang datang ke kebun itu adalah gerombolan babi yang sangat banyak. yang besarnya ada lima, yang sedang ada selawe, yang kecilnya tidak terkira. ada lagi yang paling aneh, karena di antara perkumpulan babi itu, ada salah seorang wanita yang terlihat masih muda, perawakannya mirip seperti Neng Ranti. Namun sayang Kang Arif tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena keadaan yang gelap dan dia sangat ketakutan. Namun intinya perempuan muda itu dia sangat Sakti, karena dia bisa mengendalikan babi babi liar yang begitu banyak."


"Terus Apa hubungannya dengan Abah?"


"Maksudnya menemui Abah?" Pak RT memastikan.


"Iya!"


"Kenapa saya menemui Abah, karena menurut keterangan Kang Arif, gerombolan babi hutan itu pulangnya ke rumah abah."


"Halah.....! kalau ngomong ke mana aja Pak RT.itu sangat mustahil, karena Bagaimana caranya Abah bisa menampung babi sebanyak itu. kalau Pak RT tidak percaya, silahkan geledah rumah abah. silakan Pak RT cari di setiap sudut rumah abah. Mohon maaf Pak RT! kalau Berbicara itu harus dimengerti oleh akal sehat, Mana mungkin babi sebanyak itu Abah bisa tampung. mungkin kandangnya juga harus sebesar rumah. Pak RT kalau berbicara tolong dipikir terlebih dahulu!"


"Bentar....! bentar bah! jangan marah terlebih dahulu, Memang betul kalau dilihat secara lahiriyah, memang begitu keadaannya. Babi yang jumlahnya sangat banyak pasti membutuhkan kandang yang begitu besar. tapi ada ilmu yang bisa mendatangkan babi siluman, atau babi jadi-jadian."


"Bukan begitu Abah, Kenapa Kami bertiga mendatangi Abah ke sini, karena babi-babi hutan yang sudah menjarah kebun almarhum Kang Sarman itu, diikuti, diintip. dan ternyata pulangnya ke rumah abah, setelah sampai di rumah abah babi itu menghilang dari pandangan "


"Maksudnya bagaimana Pak RT, Saya pusing! anak belum ketemu, Ditambah lagi dengan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar."


"Maksudnya begini Bah, saya mendatangi Abah ke sini. saya bukan bertujuan untuk menuduh atau memfitnah atau menambah beban Abah. namun saya datang ke sini mau minta tolong, Bagaimana caranya agar babi hutan itu tidak menjarah kebun almarhum Kang Sarman, kasihan keluarganya yang sudah tidak memiliki tulang punggung." jawab Pak RT menjelaskan inti permasalahannya.

__ADS_1


"Mohon maaf Jang RT...! Abah tidak bisa membantu, karena Abah tidak mempunyai ilmu seperti itu. kalau Jang RT mau, silakan Jang RT cari orang lain yang bisa membantu mengusir babi-babi hutan itu. Abah yakin, di luar sana masih banyak orang-orang yang berilmu tinggi, dengan kemampuan spiritual yang begitu luar biasa."


Mendengar jawaban Mbah Abun seperti itu, orang-orang yang bertamu ke rumah bandar anyaman pun terdiam. mereka bingung harus berkata apa lagi, orang yang mereka curigai, dengan mudah menyanggahnya. karena mereka tidak memiliki bukti konkret untuk menuduh Mbah Abun berbuat hal yang bermacam-macam yang tidak sesuai dengan orang-orang pada umumnya.


"Kalau seperti itu, saya mohon pamit dan mohon maaf telah mengganggu waktu istirahat Abah," Ujar ketua Kampung Ciandam yang sudah kehabisan akal.


"Yah dimaafkan Jang! tapi Lain kali kalau mau bertamu ke rumah orang dan mau memfitnah orang, jang RT Harus berpikir terlebih dahulu, jangan sampai gara-gara melihat orang lain sedang terkena musibah, Jang RT bisa seenaknya mengikuti apa yang diadukan oleh orang lain. Jang RT harus adil seperti pemimpin-pemimpin yang diharapkan oleh semua warga," jawab Bah Abun membalikan perkataan Pak RT.


Rasa malu dan rasa kesal bercampur menjadi satu, namun Walau begitu akhirnya ketiga orang itu pun bangkit dari tempat duduknya. kemudian menyalami Bah Abun tak lupa sebelum pulang Pak RT meminta maaf kembali atas kesalahannya yang sudah berani mengganggu ketentraman hidup Bah Abun.


Setelah kepulangan ketiga tamunya  Mbah Abun menarik nafas dalam. dia tidak menyangka kalau Prabu uwul-uwul, Raja siluman babi yang dia puja, bisa berbuat sesadis itu. Mbah Abun mengira setelah Sarman terbunuh Raja siluman babi itu akan menghentikan gangguannya, Namun ternyata tidak, kebun Sarman pun menjadi sasarannya.


"Ada-ada aja gangguan kehidupan, hilang satu masalah datang yang lain. si Sarman sudah mampus, sekarang datang si Arif bersama Pak RT, yang terlihat sangat tidak menyukai," gumam Mbah Abun sambil menatap pekarangan rumah dari jendela yang belum tertutup.


Dug! dug! dug! dug!


Terdengar bedug magrib yang dipukul dari arah mushola, membuat Mbah Abun terperanjat kaget dari lamunannya.


"Aduh sudah magrib saja, kelamaan melamun sampai tak sadar waktu sudah segelap ini," gumam Mbah Abun sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke tengah rumah yang terlihat masih gelap. karena Abu Yayab seolah tidak peduli dengan keadaan sekitar, wanita tua itu lebih memilih menangis, mengurung diri di dalam kamar.

__ADS_1


Melihat kenyataan seperti itu, Mbah Abun hanya menghela nafas pelan, kemudian dia mulai menyalakan lentera sehingga ruang tengah pun menjadi terang benderang. Setelah lampu menyala, dia pun mulai mengecek kembali jendela jendela dan pintu-pintu yang ada di rumahnya, berjaga-jaga takut ada hal-hal yang tidak diinginkan.


Keesokan paginya.


__ADS_2