
Daus. setelah berpisah dengan Galih, dia terus berjalan menuju ke arah Masjid, hingga dia bertemu dengan seorang wanita tua yang sedang menyapu halaman rumahnya. karena waktu itu masih pagi, di mana para warga Kampung ketika tidak ada kegiatan di sawah, mereka akan mengurus rumahnya.
"Permisi Bu!" sapa Daus sambil manggut memberi hormat kepada orang yang lebih tua.
"Yah ada apa Jang!" tanya ibu-ibu itu sambil menghentikan menyapu halaman. kemudian dia menatap orang yang sedang berdiri di hadapannya.
"Mau bertanya boleh?"
"Tanya apa, silahkan?"
"Apa Ibu mendengar atau pernah bertemu dengan seorang wanita yang bernama Ranti?"
Ditanya seperti itu ibu-ibu yang sedang membersihkan halaman. dia pun terdiam seketika, mengingat-ingat kejadian-kejadian yang pernah ia alami. namun setelah lama terdiam, dia pun tidak tahu dengan orang yang ditanyakan oleh pemuda itu." Maaf Ujang, Ranti siapa?"
"Ranti kekasih saya bu!"
"Bentar, bentar, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya ibu-ibu itu sambil mengurutkan dahi, tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Daus.
"Ranti anaknya Mbah Abun, orang Ciandam."
"Oh begitu, Ujang lagi mencari seorang wanita yang bernama Ranti orang Ciandam. begitu Bukan?" ibu itu memastikan.
"Benar begitu Ibu! Apakah ibu tahu?"
"Nggak tahu Jang! jangankan bertemu orangnya, mendengar namanya pun Ibu baru sekarang. Kenapa emang dengan wanita yang bernama Ranti itu?" jawab ibu itu sambil melayangkan pertanyaan.
"Kekasih saya itu hilang dua hari yang lalu Bu. dia menghilang tanpa memberi kabar, Sekarang saya sedang mencarinya."
"Aduh Sayang sekali Jang! Emang ke mana menghilangnya?"
"Yah, kalau saya tahu. saya nggak akan nanya sama ibu."
"Oh iya, ya! benar-benar. Maaf Ibu nggak tahu Jang!" jawab ibu-ibu itu sambil terus menundukkan tubuhnya lagi, melanjutkan pekerjaan menyapu halaman rumahnya.
Mendengar jawaban seperti itu, Daus pun akhirnya Beranjak Pergi Meninggalkan rumah yang sedang dibersihkan. tanpa berpamitan terlebih dahulu, Daus terus mencari di sekitar area Kampung Ciaul. kampung yang besar itu dia kelilingi satu persatu sambil terus menanyakan tentang keberadaan Ranti. Namun sayang semua warga yang ia tanya, mereka menjawab dengan serempak, bahwa mereka tidak tahu, dan mungkin tidak mau tahu tentang keberadaan orang yang dicari oleh Daus.
__ADS_1
Hingga akhirnya sampai sore dia pun sudah merasa kelelahan. akhirnya dia duduk di samping jalan sambil mengipasi tubuhnya dengan topi yang ia kenakan. terlihat dari arah kejauhan ada seorang kakek-kakek yang berjalan, Mungkin dia mau mengontrol air di sawahnya, karena di pundak kakek itu terlihat ada Cangkul yang di bawa. semakin lama Kakek itu semakin mendekat .terlihat dengan jelas bahwa kakek itu adalah aki Makmun, kakek-kakek yang ditemui oleh Galih tadi pagi.
Melihat orang yang sedang duduk dengan pandangan kosong, aki Makmun pun berhenti kemudian bertanya. "lagi ngapain Jang, Kok ngelamun seperti itu?"
"Eh, eeuuuuumm, eeeeuuu! Eeeehhada aki. lagi bingung saya tuh Ki." Jawab Daus yang sedikit tergagap.
"Kenapa bingung, Jangan memelihara kebingungan. masih muda harus menikmati hidup. jangan bergelut dengan kebingungan, kalau masih muda masih panjang cerita, yang akan dijalani."
"Iya Bagaimana gak bingung Ki. Saya sedang mencari kekasih hati, pencuci mata, pelipur lara, yang pergi tanpa berpamitan. entah ke mana perginya, dari pagi sampai waktu sore seperti sekarang. saya sudah mencari ke berbagai tempat, Namun sayang saya tidak menemukannya." Jawab Daus menyampaikan keresahan hatinya.
"Puitis banget Jang! siapa atuh nama kekasih hati Ujang itu, kekasih pencuci apa tadi?"
"Pencuci mata ki!"
"Gadis pencuci mata, pelipur lara itu, siapa namanya?" tanya aki Makmun sambil mengulum senyum, Mungkin dia merasa lucu dengan tingkah Daus, atau mungkin juga dia merasa bernostagia ke masa-masa mudanya dulu. dimana di masa-masa itu dipenuhi dengan berbagai hal-hal yang tidak bisa dimengerti oleh akal, karena seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta, mereka seperti pujangga yang pandai merangkai kata-kata.
"Namanya Ranti, orang Ciandam. anaknya Mbah Abun Bandar anyaman yang sudah terkenal. Dia pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahu, karena kalau memberitahu bukan kabur namanya."
"Bentar! bentar! Ranti.......! Ranti......!" ulang aki Makmun dia mengingat-ingat kejadian tadi pagi, di mana ada orang yang bertamu ke rumahnya. orang yang sama sedang mencari keberadaan wanita bernama Ranti, dan sama pula juga dia mengaku bahwa Ranti itu adalah kekasihnya, adalah pujaan hati mereka.
"Aki nggak kenal, tapi."
"Tapi apa?" susul Daus yang terlihat penasaran.
"Tadi pagi ada Pemuda seumuran Ujang, yang bertamu ke rumah aki. dia mencari orang yang sama, dengan orang yang sedang dicari oleh Ujang."
"Mencari Ranti begitu?"
"Iya Jang! dia mencari wanita yang bernama Ranti, namun pemuda itu mengaku, bahwa Ranti itu adalah kekasihnya juga, sama seperti pengakuan Ujang."
"Siapa nama pemuda itu?" tanya Daus yang semakin penasaran.
"Galih..! namanya Galih, orang Ciandam."
"Galih......! Galih mah sahabat saya Ki! tapi kenapa kok dia mengaku bahwa Ranti adalah kekasihnya," ujar daus sambil mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Justru itu yang aki mau tanyakan, kenapa Ranti memiliki dua kekasih. apa jangan-jangan Ranti melakukan poliandri sesuai dengan namanya, memiliki dua laki-laki seperti itu. atau bahasa kasarnya Salome."
"Sudah....! Sudah Ki! jangan diteruskan. Ranti wanita baik, bukan wanita seperti itu. hanya galihnya saja yang kurang ajar, yang mengaku-ngaku bahwa orang sial4n itu memiliki kekasih yang bernama Ranti. padahal rantinya tidak mau." potong Galih agar aki Makmun tidak melanjutkan pembicaraan.
"Oh begitu, berarti Ranti memang benar-benar sangat cantik yah, jang! karena pemuda-pemuda yang mengejarnya sangat ganteng-ganteng. tadi yang datang ke rumah aki juga ganteng banget, sekarang aki bertemu dengan Ujang yang tak kalah keren dengan orang yang datang ke rumah aki."
"Cantik banget Ki! dia selalu menari-nari dalam pelupuk mata saya, mengganggu tidur nyenyak saya, dia selalu hadir dalam setiap tingkah yang sedang saya kerjakan.
"Sudah! sudah! jangan berpuisi sore-sore. Ujang harus memikirkan bahwa sekarang Ujang memiliki saingan." ujar aki Makmun seolah mengompori, dia merasa senang melihat pemuda-pemuda yang sedang dilanda jatuh cinta.
"Bener ki! bener saya harus secepat mungkin menemukan Gadis itu. karena kalau keduluan. saya bisa-bisa nanti tidak akan bisa nyenyak tidur, tidak akan enak makan, tidak akan enak minum."
"Iya Jang! cinta itu memang sangat membutakan. terus sebenarnya yang menjadi kekasih Ranti itu sebenarnya siapa, ujang apa Galih?" tanya aki Makmun seolah semakin menikmati obrolan itu.
"Saya Ki! Galih hanya mengaku-ngaku."
"Tapi kalau orang yang mengaku-ngakunya sangat tampan seperti itu, aki curiga kalau Ranti bisa pindah ke lain hati."
"Jangan dong Ki! jangan menakut-nakuti saya seperti itu!" jawab Daus dengan cepat, membuat sudut bibir aki Makmun terangkat.
"Ya kalau seperti itu, buruan! Cari sampai ketemu, jangan sampai ke duluan sama orang yang bernama Galih."
"Iya aki. kan ini juga Saya lagi mencari namun saya bingung harus mencari Ranti ke mana?" adu Daus sambil menghela nafas, dia pun kembali ke pemikiran semula, di mana Dia sedang mencari Pujaan hatinya.
"Menurut aki yang sudah memakan asam garam kehidupan. Ujang seharusnya mengikat hati gadis bernama Ranti itu terlebih dahulu. agar dia tidak tertarik dengan laki-laki lain."
"Maksudnya bagaimana aki?"
"Iya ujang Harus memposisikan diri, berada tepat di hatinya. agar ketika ada laki-laki lain. hati itu sudah terisi oleh Ujang." jawab aki Makmun yang terbawa puitis oleh tingkah anak muda itu.
"Caranya aki?"
"Ujang harus pergi ke kampung Sukaraja, terus cari di sana orang yang bernama Umi Erot. dia bisa mengikat hati seorang gadis dengan jampe-jampenya."
"Umi Erot?"
__ADS_1
"Iya benar Jang! nenek-nenek itu sudah terkenal ke seluruh penjuru jagat. Bahkan saking lakunya Umi Erot, Dia pernah menikah berpuluh-puluh kali." jawab aki Makmun seolah dilebih-lebihkan.