
Setelah Sarman dibaringkan di ranjang pasien, dengan cepat dia pun ditolong dengan mengganti bajunya yang sudah basah kuyup, beruntung baju yang dibawa oleh Mita tidak basah terkena air hujan, karena baju itu dimasukkan ke dalam kantong. Coba kalau tadi ikut terbawa tercebur oleh Darmi, mungkin keadaannya akan semakin memilukan.
Para warga yang mengantar Sarman, mereka duduk di bangku panjang yang tersedia di koridor rumah Pak Dokter, Mereka terlihat tertegun mengantar Lamunan masing-masing, mungkin masih membayangkan kejadian yang begitu mengerikan, yang baru saja mereka alami.
"Kalau sudah begini, kita harus bagaimana Pak RT?" tanya Darmi dengan suara Parau, dia tidak masuk ke dalam karena sudah ada Mita yang membantu mengganti baju Sarman.
"Tenang bi....! Kang Sarman sudah sampai ke sini, sudah berada di tangan yang tepat. seperti yang Bibi lihat, Pak Doktor dengan gesit membantu Kang Sarman. sekarang kita Serahkan semuanya sama yang maha kuasa, karena kita sudah berusaha semaksimal ini, sekarang kita tinggal serahkan hasilnya sama sang pencipta," ujar Pak RT menenangkan tetangganya.
"Iya bener Neng! jangan banyak pikiran, doakan saja agar Jang Sarman bisa sembuh seperti sedia kala," Timpal aki Tardi membenarkan apa yang disampaikan oleh Pak RT.
Sedangkan Sarman, diperiksa oleh Pak Dokter dengan sangat teliti dan sangat berhati-hati, namun ketika Pak Doktor itu melihat luka yang diderita oleh Sarman, dia terperanjat kaget karena melihat penyakit yang aneh seperti itu, karena biasanya orang yang anggota tubuhnya membusuk, tidak mengeluarkan belatung seperti yang dialami oleh Sarman.
Melihat kejadian yang baru saja Pak Dokter alami, dengan cepat dia pun memanggil keluarga Sarman. Darmi yang terlihat masih pilu dan pikirannya masih kalut, sehingga aki Tardi memberikan kode agar Pak RT menemui dokter.
"Kenapa dengan Kang Sarman Pak?" tanya Pak RT setelah berada di ruangan.
"Ini kejadiannya seperti apa, kok bisa lukanya seperti ini?" tanya Pak Dokter sambil menunjukkan kaki Sarman yang sudah membusuk sampai ke dengkul, padahal yang terkena luka hanya betis.
Pak RT pun mulai menceritakan kejadian yang menimpa warganya, membuat Pak dokter terlihat manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang diceritakan oleh Pak RT. "apa taring babi memiliki bisa seperti ular? sehingga bisa mengakibatkan pembusukan seperti ini," pungkas cerita Pak RT diakhiri dengan pertanyaan.
"Taring babi tidak memiliki bisa namun itu sangat tajam. Biasanya mereka menyerang menggunakan kekuatan, menyayat-nyayat korbannya dengan taring, namun tidak sampai meninggalkan racun seperti ini," jelas dokter.
"Terus bagaimana cara menyembuhkan Kang Sarman, karena kalau melihat lukanya yang begitu dalam, nggak mungkin luka itu disebabkan oleh hewan lain, luka itu pasti disebabkan oleh taring babi."
"Melihat keadaannya seperti ini. mau tidak mau, kaki pasien ini harus diamputasi, karena kalau dibiarkan anggota tubuh yang busuk akan menyebar ke anggota tubuh tubuh lainnya," jelas dokter memberikan keputusan
"Amputasi itu apa, pak?" tanya pak RT yang baru mendengar kata itu.
"Dipotong atau diputus, kaki orang ini harus dipotong, dibuang yang busuknya, karena kalau dibiarkan takut menyebar ke area paha."
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim...! gumam Pak RT yang merasa ngeri, jangankan melihat kaki yang dipotong, mendengarnya pun dia sudah bergidik tidak bisa membayangkan kengeriannya.
"Iya memang harus seperti itu Penanganannya, karena kalau dibiarkan takut lukanya menyebar ke mana-mana," Doktor itu memastikan
"Mau dipotong pakai apa Pak Dokter, mau dipotong pakai gergaji, apa pakai pisau?" tanya pak RT yang masih ketakutan, sehingga pertanyaannya ngelantur.
"Kita tidak bisa memotong di sini, karena kurangnya alat. kita mau tidak mau, harus membawa pasien ke rumah sakit besar yang ada di kota Sukabumi," jawab dokter itu.
"Ya Allah, kok bisa seperti itu?"
"Sudah Bapak Tenangkan pikiran! dan berdoa untuk kesembuhan pasien. Saya akan berusaha mencari mobil, untuk membawa pasien menuju ke kota."
Mendengar keterangan dari Dokter yang menangani Sarman, akhirnya pak RT pun berpamitan untuk keluar kembali dari ruangan rawat. kemudian dia duduk di kursi sambil menundukkan pandangannya, bibirnya terlihat membiru kedinginan, karena hanya Darmi dan Sarman yang membawa baju ganti, sedangkan mereka yang mengantar, mereka tidak persiapan seperti itu.
Darmi dan aki Tardi yang melihat Pak RT keluar, dengan wajah yang begitu mendung. dengan cepat mereka berdua pun menggeserkan tempat duduknya, mendekat ke arah Pak RT.
"Bagaimana ini Jang RT?" tanya aki Tardi dengan berbisik.
"Aduh...... bagaimana ini?" keluh Darmi yang wajahnya terlihat pucat seketika, dia tidak bisa membayangkan dengan apa yang menimpa suaminya sehingga harus dibawa ke pusat kota.
Akhirnya ruangan itu terdiam sesaat, para warga Kampung Ciandam mengantar Lamunan Lamunan mereka masing-masing, menerka-nerka kejadian yang akan menimpa Sarman. dari arah luar rumah terdengar suara Deru hujan yang begitu deras, seperti ditumpahkan semuanya dari langit. Suara angin sekarang sudah tidak sekencang tadi ketika mereka berada di jalan. tapi Guntur dan petir terus saling bertautan, saling menyusul memberikan getaran-getaran kepada hati-hati orang yang mendengarnya.
Waktu itu terasa begitu sangat lambat, Sedetik terasa semenit, semenit terasa sejam, sejam terasa sehari. para warga yang menunggu sudah bergoyang, mungkin merasa pegal karena kelamaan duduk, mata mereka terus memantau keadaan cuaca di luar, yang masih diguyur oleh hujan lebat.
"Kurang ajar, dasar hujan sial4n....!" gerutu dharmi yang terlihat sangat kesal, giginya mengancing, matanya memerah.
"Sabar neng.....! sekarang Sarman sudah diperiksa, sudah diberikan pertolongan," tenang aki Tardi menghibur hati wanita yang sedang meradang.
Waktu terus berjalan walaupun terasa sangat lambat. hingga akhirnya terdengar bedug magrib yang dipukul dari arah masjid, diikuti oleh suara Adzan yang berkumandang. karena di daerah Kecamatan sudah memiliki Toa yang menggunakan accu charge, lampu-lampu di rumah terlihat sudah dinyalakan, keadaan waktu itu terlihat sangat gelap, bahkan ketika mengangkat telunjuk tidak bisa melihatnya, menambah kegetiran yang dialami oleh warga Kampung Ciandam.
__ADS_1
Waktu maghrib yang begitu menakutkan, ditambah harus menunggu orang yang sedang sakit, membuat para warga semakin merasa sedih dengan apa yang mereka alami. badan-badan Mereka terlihat menggigil karena merasa kedinginan.
"Kalau sudah seperti ini kita harus bagai mana, waktu sudah menunjukkan waktu malam," keluh Darmi yang merasa putus asa.
"Sabar Bi....! sabar.....! kita harus bersabar....!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Pak RT, dia juga merasa bingung harus melakukan apa.
Sedangkan Pak dokter yang berada di dalam ruangan, dia terus menerus melakukan berbagai cara untuk membantu Sarman, yang sudah terlihat lemas. ilmu yang dipelajari, ilmu yang dipunyai oleh dokter itu, semuanya dikerahkan demi tertolongnya Sarman. namun keadaan pasien yang sudah sangat kritis, ditambah lagi dibawa hujan-hujanan yang begitu lama, terus Sarman pernah jatuh menimpa tubuh Syukron.
Tubuh Sarman terlihat sangat lemas, seperti sudah tidak memiliki kekuatan, nafasnya sudah lemah, begitupun dengan detak jantungnya tidak jauh beda dengan tarikan nafasnya.
Merasa putus asa dengan apa yang sudah dokter itu lakukan, karena semua cara sudah ia kerjakan, namun semua itu tidak membuahkan hasil. dokter itu keluar dari ruang perawatan menuju ke koridor Di mana para warga Kampung Ciandam menunggu.
Melihat Pak Dokter keluar, Darmi dan Mita bahkan Pak RT terperanjat kaget, apalagi dokter itu memanggil keluarga Sarman untuk masuk ke dalam.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Pak Dokter. Alangkah terkejutnya mereka setelah melihat keadaan Sarman yang sangat mengkhawatirkan, tubuhnya terbaring dengan lemah di atas ranjang pasien, matanya tertutup dengan sempurna, Seperti kekuatan yang ada di dalam tubuh pria itu sudah sirna.
"Bagaimana nih Pak Dokter?" tanya Pak RT sambil berbisik agar tidak ketahuan oleh istri dan anaknya Sarman.
"Tipis..... Pak!" jawab Pak Dokter dengan jujur tidak ada yang ditutup-tutupi.
Mendengar penjelasan seperti itu, Pak RT hanya terdiam, bingung harus berkata apa lagi. sedangkan Darmi dan Mita dia berdiri seperti patung, menatap ke arah tubuh yang terbaring lemah di atas ranjang. merasa penasaran dengan apa yang terjadi kepada suaminya, dengan perlahan Darmi memegang tangan Sarman.
Cep!
Terasa tangan pria itu sangat dingin, ketika digerakkan tangan itu terasa kaku.
"Akang.....! akang.....!" Panggil Darmi sambil melepaskan genggaman tangannya, kemudian dia mundur beberapa langkah, matanya terlihat mengembun penuh cairan.
Sedangkan anaknya mita, melihat kenyataan yang begitu pahit, dia pun tidak kuat menahan rasa sedih yang menyeruak memenuhi dadanya, hingga tangisnya pun pecah kembali, memecah heningnya suasana di ruangan itu.
__ADS_1
Sarman yang dipanggil panggil oleh anak dan istrinya, Dia tidak memberikan respon sedikitpun, karena sebenarnya dia sudah tidak sadarkan diri.