Babi Beranting

Babi Beranting
37. Amarah Sarman


__ADS_3

Benar saja yang dikhawatirkan pun datang. Sarman yang terlihat berjalan dengan penuh nafsu, mendekati kantor kelompok.


"Galih...... Galih! keluar kau ban9sat!" teriak Sarman yang bertolak pinggang menatap ke arah pintu.


"Sudah kang istirahat saja, jangan keluar! Biar saya yang menemui Mang Sarman." tahan Daus setelah melihat sahabatnya hendak bangkit.


"Nggak apa-apa! Us. Akang harus segera menyelesaikan masalah ini, agar tidak berlarut-larut."


"Kalau berani jangan menyakiti anaknya! sakiti bapaknya." ujar Sarman yang terlihat kesal, karena tidak mendapatkan respon. para warga yang sedang menganyam mereka menghentikan aktivitasnya, untuk menonton pertunjukan yang berlanjut ke season dua.


"Maaf mang! ini Ada apa sebenarnya?" tanya Galih yang memaksakan keluar dengan ditopang oleh para teman-temannya.


"Ada apa, Ada apa! lihat apa yang kamu telah perbuat sama Mita, kamu menampar dia sampai pipinya terluka. laki-laki macam apa yang berani menyakiti seorang perempuan." jelas Sarman membuat orang-orang yang hadir di tempat itu menatap heran ke arahnya, karena yang diceritakan bukan kejadian yang sebenarnya.


"Siapa yang melukai Mita Mang?" tanya Galih memberanikan diri.


"Lu ban9sat!" ujar Sarman tanpa menunggu jawaban dia mulai menerjang ke arah Galih. Hendak memukul wajahnya. namun para orang tua yang ada di situ tidak tinggal diam, mereka dengan segera bangkit lalu berlari ke arah Sarman.


"Sudah! Sudah! hentikaaaaan!" bentak Zuhri dengan berteriak


Bugh!


Pukulan Sarman yang dilayangkan tepat mengenai pelipis Galih, sehingga terlihat Darah segar mengucur membasahi matanya. Sarman yang merasa tidak puas dia hendak menyerang kembali.


Bugh!


Namun ada satu tendangan yang mengenai pinggang Sarman, membuat tubuhnya oleng ke arah samping, tak kuat menahan tubuhnya hingga Sarman pun terjatuh, Sarman menatap ke arah orang yang menendangnya dengan penuh amarah.


"Apa apaan kamu Zuhri? kamu nggak tahu apa-apa! gak usah ikut campur! kamu belum pernah merasa Bagaimana sakitnya ketika anak kamu diperlakukan kasar oleh orang lain." ujar Sarman yang tak melepaskan tatapan tajamnya, kemudian dia bangkit menghadap ke arah Zuhri.


"Ini sebenarnya ada apa? Dan anak siapa yang dikasari oleh orang lain, Terus siapa yang mengasarinya?" tanya Zuhri yang terlihat tenang, Tak sedikitpun meladeni kemarahan Sarman.


"Anak gua ri, Si Mita! Tadi dia meminta izin untuk menemui Si Galih di sini, namun beberapa saat setelah kepergiannya dia pun kembali, sambil menangis memegangi pipinya. menurut pengakuannya dia ditampar oleh Si Galih, karena lebih memilih anaknya si oban yang hanya anak seekor babi." jelas Sarman membuat orang orang yang di sana mulai sedikit mengerti, mungkin Sarman dibohongi oleh Mita untuk memancing emosinya  sehingga dia lepas kendali.

__ADS_1


"Kata siapa Galih yang menampar, yang ada Si Mita itu yang melempar Galih dengan balok kayu, yang suka dijadikan talenan pemotong anyaman." jawab Seorang warga yang dari tadi dia mengetahui kejadian yang sebenarnya.


"Bener Jang Sarman, dari tadi Aki di sini. Mitalah yang melempar Galih, sehingga dia sangat kesakitan."


"Makanya Kalau bertindak itu dipikir dulu Mang! Jangan kaya anak kecil yang bisa diadukan oleh anaknya." ujar seorang remaja yang merasa kesal dengan sikap Sarman.


"Anak kecil, tahu apa....." bentak Sarman sambil menatap tajam ke arah pria yang baru saja berbicara, membuat remaja itu meringis menahan ngeri.


"Udah Mang Sarman Mendingan pulang, tanya anaknya kepada benar-benar! apa yang sebenarnya terjadi. jangan memperpanjang masalah, nggak baik!" tenang Zuhri agar masalahnya tidak semakin meluas.


Mendengar penuturan para warga, Sarman pun mulai ragu dengan apa yang disampaikan oleh Mita, tanpa berpamitan dia pun kembali Pulang ke rumahnya. Menahan rasa malu yang yang memenuhi jiwanya.


"Mitaaaaaaaaa! Mita!" teriak Sarman dari jauh sebelum dia sampai ke rumah.


Mendengar suaminya berteriak-teriak, Darmi yang dari tadi menenangkan anaknya di kamar, dengan cepat bangkit lalu menuju ke arah pintu depan.


"Ngapain Masih jauh aja sudah berteriak-teriak?" jawab Darmi yang tak kalah keras.


"Mana anak sial4n itu? kurang ajar dia sudah membuat orang tuanya malu." ujar Sarman sambil mendorong tubuh istrinya yang menghalangi pintu.


"Kurang ajar kamu! kurang ajar banget Mita!" bentak Sarman yang hendak menampar anaknya, Darmi yang sudah sampai di kamar dengan cepat memeluk tubuhnya, sambil menahan tangan Sarman agar tidak jadi menampar anaknya.


"Ampun Bapak! ampuuuuuun! Bapak kenapa?" tanya Mita yang meringis ketakutan, mungkin dia merasa ngeri melihat kemarahan Bapaknya yang seperti itu.


"Sudah Pak! sudah! Apa Bapak mau memukul anak sendiri, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik." tenang Darmi sambil terus menahan tubuh suaminya.


"Kurang ajar Bu! Dia menipu kita, dia tidak diapa-apain oleh Si Galih, yang ada anak set4n ini yang melukai Galih. Mana Bapak sudah menghajar dia sampai berdarah, Bapak malu Bu sama orang-orang yang ada di situ, kalau kejadiannya seperti ini." jelas Sarman dengan tersenggal-senggal, Mungkin dia merasa capek menahan amarah yang sudah tak terkendali.


Mendengar Penjelasan dari suaminya, Darmi pun menatap ke arah mita, seolah meminta penjelasan dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Maafkan Mita Bu, Pak! Maafkan Mitaaaaa! Mita nggak tahu Harus Berbuat Apalagi, Lagian mita nggak berniat melukai Galih, Mita hanya mau melempar si Ranti agar anak babi itu merasakan sakit seperti yang aku rasakan. tapi Galih yang sok kecakepan itu, dengan cepat mengorbankan dirinya menahan lemparanku."


"Kenapa kamu nggak Jujur dari awal, kalau jujur dari awal bapak nggak akan malu seperti ini." tanya Sarman sambil terus menggelinjang agar terlepas dari genggaman istrinya.

__ADS_1


"Kalau nggak seperti itu, bapak nggak mungkin mau membantu Mita."


"Bantu apa? semua harta kekayaan, pikiran, tenaga Bapak sudah curahkan buat membantu kamu. Apa kurang bapak? sampai kamu tega menipu bapak?" jawab Sarman sambil mendorong tubuh istrinya ke arah kasur, sehingga tubuh Darmi terjungkal terlentang, beruntung kepalanya tidak terbentur ke dinding.


Plak!


Satu tamparan mendarat di wajah Mita, membuat anak itu kembali menangis, sambil memegang pipinya. melihat anaknya yang menangis Sarman pun menatap ke arah tangan yang baru ia tamparkan.


"Maafkan Bapak nak! Maafkan! sakit ya?" tanya Sarman yang sudah mulai tersadar dengan apa yang dia lakukan. kemudian Sarman menarik tangan Mita yang menutupi pipinya, untuk melihat bekas tamparan.


"Bapak tega! Bapak jahaaaat! Bapak sudah enggak sayang lagi sama Mita." ujar Mita sambil menepis tangan Sarman, kemudian dia mendorong tubuh bapaknya agar keluar dari kamar.


"Maafkan Bapak mit! Maafkan bapak! bapak khilaf." ujar Sarman yang semakin merasa bersalah.


Namun orang yang dimintai Maaf, dia hanya menangis tersendu, sambil terus mendorong tubuh bapaknya keluar kamar. sehingga pintu kamar minta bisa ditutup, dengan cepat anak gadis itu mengunci pintu kamarnya, agar Sarman tidak masuk ke dalam.


"Kamu Nggak apa-apa!" tanya Darmi yang sudah terbangkit, kemudian melihat bekas tamparan yang dilayangkan oleh suaminya.


"Sakit Bu! sakit!" Adu Mita sambil kembali memeluk tumbuh ibunya.


"Kurang ajar keluarga kita jadi hancur seperti ini, itu gara-gara si Abun. Kita harus melakukan perhitungan dengan mereka." gumam Darmi sambil mengelus rambut anaknya.


Truk! truk! truk! truk!


"Mita Maafkan bapak! bapak nggak sengaja." teriak Sarman dari arah luar.


"Sudah lah kang! biarkan Mitha tenang dulu, nanti juga dia baik lagi. Lagian jadi orang tua Kasar amat, sampai tega memukul anaknya sendiri."


"Maafkan bapak bu! Bapak khilaf.


"Sudah jangan banyak ngomong! mending Bapak minum dulu sana Biar otaknya kembali sadar." Gerutu Darmi sambil berteriak agar suaranya terdengar oleh Sarman.


"Maafkan Bapak kamu ya mit, mungkin Bapak khilaf." ujar Darmi sambil melepaskan pelukannya, kemudian menatap lekat wajah Putri terkecilnya.

__ADS_1


"Bapak tega Bu! Bapak tegaaaaa!"


"Bapak kamu nggak tega, kalau tega mana mungkin dia menemui Galih untuk membalaskan Rasa Sakit hatimu. Dan yang perlu kamu ketahui yang jahat itu adalah siranti, karena kalau siranti nggak ada, mungkin hubungan kamu dengan Galih masih tetap utuh, dan bapak tidak mungkin menampar kamu. kita harus mengadakan pembalasan sama mereka!"


__ADS_2