Babi Beranting

Babi Beranting
61. Menjalankan


__ADS_3

Mendengar penjelasan dari Salamah pemilik warung pertigaan. Daus pun menatap ke arah tempat yang ditunjukkan, benar saja di situ terlihat merambat pohon sirih hitam, di samping pohon itu terlihat ada pohon kelapa yang tingginya lumayan. dibilang tinggi nggak, dibilang pendek juga enggak.


"Boleh saya ambil Bi?"


"Boleh, silakan! Nanti kalau mau ngambil cengkir kelapa, Sekalian tolong ambil kelapa yang sudah tuanya."


Daus pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia mengisi gelas dengan air minum. karena dari tadi sampai sekarang dia belum memakan jajanan yang terhidang di warung Salamah. perbawaan hati yang sedang kalut, perbawaan hati yang sedang merasa takut kekasihnya direbut oleh orang lain.


Setelah membasahi tenggorokannya dengan air. Daus pun berjalan mendekat ke arah pohon kelapa, dengan menatap sebentar. Menerka-nerka Tinggi pohon kelapa itu. tanpa pikir panjang Daus pun memanjat untuk mengambil cengkir kelapa.


"Berapa banyak Bi cengkirnya?" tanya Daus sambil berteriak setelah sampai di atas kelapa, karena tadi dia belum sempat bertanya jumlahnya.


"3 biji Jang! namun Jangan sampai jatuh ke tanah. mending sekarang ujang ngambil kelapa yang Tuanya aja dulu." saran Salamah yang mengikuti Daus berteriak.


Orang yang disuruh pun hanya mendengus kesal namun tak terlihat oleh Salamah. karena wajahnya tertutup oleh kaki yang menghalangi pandangan orang yang punya warung itu. namun meski begitu, Daus tetap melaksanakan apa yang diminta oleh Salamah. dia terus memanen kelapa kelapa yang sudah tua. selesai memanen kelapa yang sudah tua, Daus pun mengambil cengkir kelapa sebanyak 3 biji, lalu memasukkan ke kantong bajunya, karena menurut keterangan Salamah cengkir itu tidak boleh jatuh ke tanah.


Selesai mengambil kelapa, Daus pun turun kembali kemudian Dia mendekati ke arah tanaman sirih hitam yang merambat.


"Kalau sirihnya sudah Bibi ambilin Jang, tuh Sudah Bibi simpan di bangku." ujar Salamah memberitahu ketika Dia merapikan kelapa kelapa yang baru saja dipetik.


"Aduh! Terima kasih banyak Bi. Terima kasih." ujar Daus sambil berjalan meninggalkan Salamah yang masih mengumpulkan kelapa, namun Salamah pun mengikuti Daus sambil membawa satu kelapa yang sudah tua, kemudian kelapa Itu disimpan di samping Warung.


"Jang! Ujang! sekarang Ujang makan dulu gorengannya. nggak usah bayar. namun Ujang tidak akan dibayar untuk mengambil kelapa kelapa tua itu."


"Nggak apa-apa bi! gak usah seperti itu. saya menolong dengan ikhlas kok. Lagian ini juga kan kemauan saya." Jawab Daus yang berubah pemikiran, tadi dia sempat kesal karena disuruh suruh. namun setelah melihat kebaikan salamah hatinya pun meleleh seketika.


"Sudah jangan banyak nolak. makan aja! Bibi mau merapikan kelapanya dulu."


Daus pun mengambil satu gorengan, kemudian mengikuti Salamah yang sudah pergi meninggalkannya. dia membantu Salamah mengumpulkan kelapa-kelapa yang tadi ia petik. kemudian membawanya ke samping warung. Tak lama pekerjaan itu pun selesai, karena kelapa tua yang dipetik tidak banyak hanya 7 butir saja.


"Totalnya semuanya jadi berapa bi. syarat-syarat yang harus saya siapkan. terus saya makan gorengan 4 biji." tanya Daus yang sudah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, mengingat waktu sudah semakin sore Mungkin sebentar lagi akan gelap.


"Bayar minyak sama menyannya saja Jang. kalau gorengan nggak usah bayar, kelapa serta sirih juga nggak perlu bayar."


"Gak Boleh seperti itu bi! Bibi kan jualan, nanti bibir rugi loh!"

__ADS_1


"Nggak apa-apa Jang! Bibi ikut merasa sedih ketika mendengar cerita Ujang. hitung-hitung Bibi menyumbang buat orang yang sedang kesusahan."


"Ya suda kalau seperti itu. Terima kasih banyak Bi." totalnya semua jadi berapa.


"Semuanya jadi Rp500 jang."


Setelah mendengar jumlah yang harus dibayar, dengan cepat dia pun merogoh saku celananya. keluarlah Uang beberapa lembar. tanpa bertanya lagi dia menyerahkan uang yang baru saja dia ambil.


"Sudah saya pamit dulu Bi!" ujar Daus yang sudah bersiap-siap dengan membawa kantong plastik, berisi perlengkapan perlengkapan untuk dibawa ke umi erot.


"Buru-buru amat Jang. tapi benar juga sih, Nanti keburu malam. Ya sudah sana pergi! temui Umi Erot. Semoga apa yang Ujang rencanakan dikabulkan oleh Allah."


"Amin!"


Akhirnya Daus pun berjalan menuju ke arah lembah, di mana Kampung Sukaraja terlihat menghampar. meski keadaan sudah mulai mendekati malam, namun sinar dari Lembayung senja, masih menyinari kampung itu. sehingga atap-atap rumah warga Kampung Sukaraja, menjadi menguning keemasan.


Daus terus berjalan hingga akhirnya dia sampai ke rumah paling pinggir. dengan cepat dia pun menghampiri seorang anak kecil yang sedang bermain layang-layang. padahal waktu sudah mulai mau gelap, namun anak itu belum menurunkan layang-layangnya.


"Jang.....! Jang.....! rumah umi Erot mana?: tanya Daus setelah berada di samping anak itu.


"Nggak tahu!" jawab anak kecil itu dengan ketus, Mungkin dia merasa kesal karena kesenangannya terganggu.


"Apa Bu!  layang-layangnya aja Masih kelihatan, gelap dari mana?" Jawab Sarmin sambil terus menatap layang-layang yang sedang terbang di atas langit.


Melihat ada orang tua yang menghampiri, dengan cepat Daus pun manggut memberi hormat, membuat ibu-ibu muda itu menatap penuh keheranan.


"Maaf Bu, numpang tanya?"


"Apa kamu bilang, panggil saya Ibu?"


"Maaf teh, neng, Bu. eh, apa atuh?" Ujar Galih yang terlihat kebingungan.


"Pangil Teteh saja!"


"Maaf numpang tanya teh?"

__ADS_1


"Iya A, mau nanya apa, bukan mau menculik anak saya kan?" Tanya ibu-ibu itu dipenuhi dengan tatapan penuh kekaguman.


"Hehehe, nggak teh! buat apa?" ujar Daus sambil tersenyum, ternyata Sarmin bisa punya sikap menyebalkan seperti itu, warisan dari orang tuanya.


"Ya buat apa aja. buat dijadikan pengamen di lampu merah kek, atau buat dijual kek! Katanya anak kecil itu buat pakan ular." Jawab ibu-ibu itu sekarepnya, membuat Kepala daus terasa pusing karena baru bertemu dengan orang yang seperti itu.


"Nggak bu, eh teh. saya nggak berniat seperti itu. Saya hanya mau mencari tahu rumah umi Erot sebelah mana?"


"Oh rumah umi Erot. Kenapa mencari Umi Erot, ditolak perempuan?. mending daripada mengejar-ngejar orang yang tidak mau sama AA. mending sama saya aja, karena saya mungkin masih seumuran dengan Aa!" tawar wanita itu memberi pilihan, terlihat matanya berkedip-kedip seolah memberikan kode.


"Terima kasih atas penawarannya, namun saya sudah memiliki pasangan." tolak Galih dengan halus.


"Pasangan Bagaimana, istri atau masih pacaran?" Selidik wanita itu.


"Pacar!"


"Lah, kalau masih pacar, masih bisa putus. saya aja yang sudah menikah bisa cerai. apa lagi masih pacar. mending daripada kamu repot-repot menemui Umi Erot, mending Aa sama saya. Kenapa Aa harus menikahi saya, karena kalau a menikah sama saya. Aa sudah mendapat bonus anak tuyul ini." Ujar wanita itu sambil menunjuk anaknya yang masih bermain layang-layang.


"Sarmin.......! Icahhhhh! kalian Bukannya pulang. malah masih keluyuran." Teriak seorang bapak-bapak yang menghampiri orang itu.


"Sebentar kakek! Ibu lagi melobi calon Bapak baru Sarmin." Jawab anak itu seolah tahu apa yang sedang dilakukan oleh ibunya.


"Icah......! Icah.....! ini calon suami baru kamu?" tanya bapak-bapak itu sambil menatap ke arah Daus , yang terlihat kebingungan. dia tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. belum saja datang ke ma erot, dia sudah dikejar-kejar wanita seperti itu.


"Nggak Pak! saya nggak berniat, danjangan sampai seperti itu. Saya hanya bertanya rumah umi Erot di sebelah mana." Daus dengan cepat menjawab agar pembicaraan itu tidak meluas ke mana-mana.


"Kok kamu berkata seperti itu, bukannya tadi Aa memaksa saya untuk bersedia menikah dengan Aa. menurut Aa nggak apa-apa saya memiliki anak, yang penting Aa bisa menikah denganku." jawab icah yang sama menyebalkan seperti anaknya.


Melihat kejadian seperti itu, Daus pun hanya menggeleng-geleng kepala. tanpa berpamitan terlebih dahulu dia pun pergi menuju masuk ke dalam kampung, untuk mencari tahu keberadaan umi Erot.


"Jang......! Jang! Tunggu sebentar." tahan bapaknya icah yang mengejar.


"Ada apa lagi sih pak. saya baru pertama bertemu dengan putri Bapak, Mana mungkin saya bisa langsung suka."


"Nggak bukan seperti itu, Maaf kalau anak bapak kelewatan. Tapi kalau ujang mau bapak akan menyerahkan seluruh harta bapak yang sangat banyak. mulai dari 2 petak sawah, satu bata kebun. ditambah Sarmin."

__ADS_1


"Mohon maaf Pak saya enggak berminat, tolong Biarkan saya pergi.


"Ya sudah kalau nggak mau, nggak apa-apa! tapi nanti kalau orang yang Ujang kejar tidak mau menerima. datanglah ke rumah bapak untuk meresmikan hubungan kalian. dan kalau Ujang mau bertemu dengan Umi Erot, tuh rumahnya!" Jawab pria tua itu sambil menunjuk ke salah satu rumah yang tidak jauh dari tempat Mereka berdiri.


__ADS_2