Babi Beranting

Babi Beranting
76. Susah


__ADS_3

Mendengar perkataan istrinya seperti itu, Mbah Abun pun terdiam seketika, seolah Sedang berpikir. memang setelah ditelaah apa yang disampaikan oleh Abu Yayah memang benar adanya. Mbah Abun lah yang harus mengorbankan Pati dan jiwa raganya, untuk menemukan keberadaan Ranti. karena sebenarnya dia hanya mencari di sekitar area Kampung Ciandam, tidak ada niat mencari Ranti ke kampung yang lebih jauh.


"Kenapa Abah diam, sana buruan pergi...! cari keberadaan anak kita, kalau abah tidak mau biarkan Ambu yang mencari. Abah tunggu Rumah, gantikan tugas ambu. biarkan Ambu mencari keberadaan Ranti, karena Ambu juga masih bisa berjalan untuk mencari anak kita."


"Sudah, sudah bicaranya jangan ngelantur ke mana-mana. Ambu tunggu di rumah..! Abah akan melakukan berbagai cara untuk mencari keberadaan Ranty. Ambu urus rumah tangga seperti biasanya , urus tubuh Abu agar tidak sakit. jangan biarkan tubuh kita ikut sakit. sekarang Abah akan bersungguh-sungguh mencari keberadaan Ranti, kalau perlu Abah akan mengadakan sayembara."


"Sayembara Seperti apa Abah?" tanya Abu Yayah.


"Sayembara untuk menemukan keberadaan anak kita yang menghilang. Abah tidak akan sayang mengeluarkan harta sebanyak mungkin, sebesar mungkin, yang terpenting anak kita bisa ketemu kembali."


"Ya sudah, itu terserah Abah tapi jangan lama-lama! Sekarang Abah harus cepat melakukan rencana itu,"


"Abu sabar! Abah harus memikirkan caranya dengan matang-matang, jangan sampai pekerjaan kita sia-sia. Abah akan menggunakan segala cara untuk mencari keberadaan anak kita . Abah sangat kasihan dengan Ranti yang sudah berwujud babi ngepet. Mungkin dia sudah sangat susah ketika mencari makanan, karena tidak ada makanan yang sesuai dengan apa yang dimakannya. dia tidak akan bisa tidur tenang seperti dia tidur di kamar dan di kasur. sekarang dia pasti sedang mencari makanan dengan mengambil talas untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar. mungkin ketika tidur dia akan tidur di mana saja, ketika kantuk menjemput," jawab Bah Abun.


Mendengar ucapan suaminya seperti itu Ambu Yayah teringat kembali dan membayangkan kesedihan kesedihan yang dilalui oleh anaknya, sehingga membuat hatinya merasa teriris. diungkapkan melalui cairan bening yang mengalir membasahi pipi yang sudah mulai mengerut.


"Sudah Abah jangan terlalu di dramatisir! Jangan membuat hati Ambu semakin merasakan sakit, silakan Abah buruan pergi dari rumah! cari Ranti sampai ketemu. Abah tidak boleh pulang sebelum membawa Ranti, Abah tidak boleh datang sebelum menemukan anak kita. Abah harus segera bergegas mencari keberadaan Ranti, jangan sampai terlambat. sekarang sudah lima hari Ranti pergi dari rumah, sudah bisa terbayang bagaimana sedihnya Dia. setiap hari diikuti oleh rasa sedih, setiap saat dikejar-kejar oleh rasa bingung, Setiap Detik selalu dikuntit dengan perasaan Nelangsa," ujar Ambu yayah sambil menyusut cairan yang membasahi pipi yang sudah berkerut.


"Sudah Ambu Yang jangan terlalu di dramatisir, perempuan diam saja di rumah...! Serahkan semuanya sama laki laki. Abah akan mengorbankan segalanya untuk mencari keberadaan anak kita," jawab Bah Abun sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke dalam kamar Hendak bersiap-siap untuk mencari keberadaan Ranti.

__ADS_1


Sedangkan Ambu Yayah dia hanya tertegun dan tertekan memikirkan anaknya, menerka-nerka yang sedang dialami oleh Ranti. terbayang dalam benaknya, anaknya yang sudah berubah wujud menjadi babi ngepet, sekarang sedang merasakan kesedihan, kebingungan, Lara Tunggara berkumpul menjadi satu. terlintas dalam benak Ambu Yayah ketika malam hari tiba, anaknya akan tengkurap di semak-semak rumput beralaskan daun-daun yang sudah kering, dikerumuni oleh lalat dan nyamuk yang mendapatkan mangsa. kalau siang hari datang, Ambu Yayah bisa membayangkan anaknya yang susah untuk bergerak, karena bentuknya sudah berubah. mau pergi ke kampung pasti akan pada memburu dan menangkap, mau pergi ke hutan Pasti akan sangat kesusahan, karena Ranti walaupun berbentuk babi, dia tidak akan bisa akur dengan babi-babi hutan yang lainnya. Ranti tidak terbiasa menjelajah alas hutan belantara, Karena pada dasarnya Ranti adalah manusia.


Kalau Ranti sedang lapar, Ambu yayah berpikir. tidak mungkin anaknya mau makan talas mentah, serta singkong yang masih ada di dalam tanah, kalau mau minum Ranti tidak mungkin mau meminum air comberan, yang menggenang di genangan-genangan air yang berada di dalam hutan. kejadian itu semuanya terbayang tercipta oleh orang tuanya, membuat hati Ambu Yayah teriris, sangat tidak bisa membayangkan Bagaimana sedihnya anak yang sudah berubah wujud menjadi babi ngepet. hingga akhirnya wanita paruh baya itu yang tidak kuat menahan kesedihan, dia pun kehilangan kesadaran, pingsan di tengah rumah. hanya terlihat nafasnya yang keluar dari hidung.


Dari arah luar, terdengar suara burung yang berkicau menghiasi waktu sore hari itu. anak-anak terdengar saling berteriak bermain dengan anak-anak yang lainnya, para orang tua mereka menikmati senja dengan mengawasi anak anak mereka yang sedang bermain di halaman rumah, sambil bercengkrama melepas lelah setelah seharian bekerja. Mereka terlihat sangat menikmati waktu senja itu, seperti tidak ada kesusahan. mereka seolah tidak peduli dengan apa yang dialami oleh Mbah Abun, hanya ketika baru pertama Ranti menghilang, mereka sangat antusias. namun setelah lama seperti sekarang, mereka seolah Acuh dengan kesusahan yang menimpa tetangganya itu.


Dari arah selatan, terlihat ada dua orang laki-laki yang berjalan dengan tergesa-gesa. ketika di pertigaan kedua laki-laki itu bertemu dengan Zuhri yang baru pulang dari sawah, mengontrol air. setelah menerangkan tujuan mereka akhirnya, Zuhri pun ikut bersama kedua orang itu.


"Assalamualaikum Mbah.....!" ujar Pak RT setelah sampai di depan rumah mbah Abun.


Ndak ada jawaban dari dalam, namun terdengar suara dari langkah kaki yang menapaki papan, hingga akhirnya pintu rumah terbesar itu terbuka. seketika muncullah Bah Abun yang menatap penuh keheranan Ketiga orang tamunya.


"Eh ada Pak RT, Ada apa Pak RT, kok terlihat buru-buru seperti itu?" tanya Mbah Abun yang terlihat kaget.


"Ya sudah, ayo masuk ke dalam! kita bicara di rumah," jawab Mbah Abun mempersilahkan sambil dia masuk duluan ke rumahnya. kemudian dia duduk di salah satu kursi yang sudah tersedia di ruang tamu.


Setelah mereka duduk, mata Pak RT menangkap Ambu Yayah Yang masih tergeletak di Tengah rumah, membuatnya menatap heran ke arah Mbah Abun.


"Kenapa dengan si Ambu, kok tidur di tengah rumah seperti itu?" Tanya pak RT yang merasa penasaran.

__ADS_1


"Tidur di tengah rumah Bagaimana Pak RT, baru saja Dia berbicara banyak seperti burung yang sedang berkicau." jawab Bah Abun yang terperanjat kaget. dengan cepat dia pun bergegas menuju ke arah istrinya yang sedang terbaring di tengah rumah, dia baru ingat kalau di rumah itu ada istrinya. perbawaan hati yang sedang kalut penuh pemikiran-pemikiran buruk, sehingga dia melupakkan wanita yang ada di rumah itu.


Pak RT dan Zuhri yang mengetahui Abu Yayah terbaring seperti tertidur, mereka berdua pun bergegas mengikuti bah abun meninggalkan orang yang satunya lagi.


Setelah mereka bertiga sampai, mereka terperanjat kaget melihat keadaan Abu Yayah yang sudah sangat mengkhawatirkan , wanita tua itu tertidur dengan sangat pulas, bahkan beberapa kali dibangunkan Abu Yayah tidak memberikan respon apapun. karena sebenarnya Abu Yayah bukan tertidur seperti biasa, namun Abu Yayah sedang pingsan, tidak kuat menahan kesedihan kesedihan yang menimpa keluarganya.


"Abah Kenapa kejadiannya bisa seperti ini, apa Abah Nggak sadar dengan Abu Yayah yang sudah pingsan seperti sekarang, apa jangan-jangan Abah habis berantem dengan Ambu Yayah?"


"Lah....., Pak RT ngomong di jaga, Abah tidak berantem seperti yang Pak RT tuduhkan. Abah berani sumpah..! Abah tidak berantem dengan si ambu, kalau perselisihan paham memang ada, tapi itu tidak berlanjut, karena Abah tinggal masuk ke kamar untuk mempersiapkan bekal."


"Bekal untuk apa Abah?" tanya Pak RT sambil menatap lekat memenuhi wajah Mbah Abun.


"Menatapnya jangan seperti itu Pak RT, Abah mempersiapkan bekal bukan untuk berpisah dengan si Ambu. namun Abah mempersiapkan bekal untuk mencari keberadaan anak Abah yang sudah lima hari meninggalkan rumah, abah mau mencari anak Abah, sampai titik darah penghabisan," jawab Mbah Abun menepis prasangkaan buruk kedua tamunya.


"Oh mempersiapkan bekal untuk mencari keberadaan Ranti, kirain abah mau mempersiapkan bekal untuk berpisah, Terus kenapa si ambu bisa pingsan seperti ini?" tanya Pak RT kembali ke pokok permasalahannya.


"Ya nggak tahu atuh Pak RT, Kenapa Bapak menyalahkan saya. tadi kita berbicara seperti biasa," jawab Mbah Abun sambil terus membangunkan istrinya.


Akhirnya ketika orang itu, terus berusaha untuk menolong Abu yayah yang sedang pingsan, untuk menyadarkan wanita yang tidak sadarkan diri, agar cepat kembali pulih seperti sedia kala. lama berusaha akhirnya ketika orang itu bisa menyadarkan Ambu Yayah. terlihat wanita paruh baya itu mulai membuka matanya dengan perlahan, matanya yang sudah sembab, wajahnya yang pucat menambah kekhawatiran orang-orang yang melihat kejadian itu.

__ADS_1


Uwekkk!


Abu Yayah terbatuk sekali, kemudian dia menghela nafas dalam, terlihat matanya yang sudah memerah mengeluarkan cairan bening membasahi pipi.


__ADS_2