
"Maafkan sikap warga saya bah." Ucap Pak RT mewakili Sarman.
"Nggak apa-apa Jang! sudah biasa, kalau ada orang yang maju, pasti akan ada orang yang iri." jawab Bah Abun sambil duduk kembali, Tak sedikitpun terlihat raut marah di wajahnya.
Lagi asik mengobrol, istri Zuhri yang di minta oleh Galih untuk menyiapkan konsumsi. dia mulai mengantar air minum disertai makanan-makanan yang lainnya. dia meminta maaf karena waktunya sangat mepet, sehingga jamuan itu agak telat. namun para warga tidak mempermasalahkan hal itu, mereka mulai menikmati jamuan yang diadakan oleh Mbah Abun.
Semua warga yang hadir di majelis taklim, mereka saling mengobrol berbagi pengalaman kehidupan, sembari menikmati makanan yang disuguhkan. pukul 21.30 akhirnya acara itu pun selesai, satu persatu dari warga mulai berpamitan, untuk pulang ke rumah masing-masing. begitu juga Mbah Abun dan Ranti Mereka juga ikut berpamitan untuk pulang ke rumahnya.
"Ada ya, Bah. orang seperti itu?" tanya Ranti ketika mereka berjalan pulang menuju arah rumah
"Seperti apa?" tanya Mbah Abun yang berjalan di belakang Ranti karena dia membawa senter.
"Seperti Mang Sarman."
"Udah ah, nggak usah membahas kejelekan orang, nggak baik!" ajar Mbah Abun terhadap anaknya.
"Tapi Ranti masih kesal, mbah!"
"Nggak usah kesel-kesal, kamu fokus aja dengan urusan kamu, dengan kerjaan kamu." jawab Mbah Abun meski dia juga merasakan hal yang sama ,namun yang namanya orang tua, mereka pandai menyembunyikannya di hadapan anak anaknya. Mereka tidak mau anaknya memiliki kebencian terhadap orang lain.
Akhirnya mereka pun terus berjalan, tanpa ada obrolan yang menyangkut dengan Sarman. ditemani oleh suara jangkrik yang terdengar dari arah samping kanan kiri jalan, dari kejauhan terdengar ada suara kodok mungkin dari arah sawah.
Sesampainya di rumah Ranti pun meminta izin untuk masuk ke kamarnya duluan, sedangkan Mbah Abun ditemani Abu Yayah mengobrol di ruang tengah.
"Ada apa bah?"
"Biasa bu, urusan kelompok. mungkin memang seharusnya dilakukan seperti itu, agar hubungan emosional antara pembeli sama pengrajin terjalin dengan erat." jelas Mbah abun.
"Benar! kita jangan terus memerah tenaganya, tapi kita lupa dengan hak-haknya. sesekali nanti Abah kasih hadiah buat pengrajin berprestasi, agar para pengrajin yang lainnya merasa termotivasi." saran Abu Yayah.
"Ide bagus tuh Ambu! tapi tadi Abah mendapat sedikit masalah."
"Masalah apa?" tanya Abu Yayah sambil menatap heran ke arah suaminya.
__ADS_1
Mbah Abun pun mulai menceritakan tentang kejadian di majelis taklim, ketika Sarman memojokkannya. dia menceritakan Semuanya dari awal sampai akhir, agar istrinya mengerti. "nah, begitu Ambu ceritanya." pungkas Bah Abun mengakhiri ceritanya.
"Semakin ke sini, si Sarman Semakin menjadi aja, ya Bah!" tanggapan Abu Yayah setelah mendengar cerita suaminya.
"Iya Abah bingung, Abah harus apakan orang itu."
"Nggak usah bingung Mbah! kita nggak usah meladeni orang-orang yang jahat sama kita, Biarkan saja! kalau masih menjahati kita dengan omongan, rasanya terlalu membuang tenaga kalau meladeni orang seperti itu."
"Benar ambu!" jawab Bah Abun yang tidak punya solusi menghadapi orang seperti Sarman.
Setelah merasa pembicaraan antara suami istri itu selesai, Mbah Abun mengajak Abu Yayah masuk ke kamar, untuk beristirahat terlebih dahulu. menyiapkan kembali tenaga untuk melakukan aktivitas Keesokan paginya.
Seminggu berlalu dari kejadian rapat kelompok. Sarman yang masih memiliki dendam sama Mbah Abun, dia semakin merasa benci sama tetangga kampungnya itu. karena semenjak kejadian rapat, warga-warga mulai menjauhi keluarganya, sehingga Sarman merasa terasingkan.
"Kang!" Panggil Darmi di waktu sore itu, seperti biasa mereka akan menikmati senja dengan duduk di teras rumah.
"Kenapa?" tanya Sarman setelah membuang asap dari mulutnya.
"Iya Akang juga merasa seperti itu, sekarang jarang-jarang orang yang mau diajak mengobrol sama Akang. mereka selalu beralasan untuk menghindari Akang." jawab Sarman yang merasakan hal yang sama.
"Jangan diam terus dong kang! berbuat apa gitu."
"Akang bingung harus berbuat apa lagi, Akang sudah mempengaruhi warga agar keluar dari kelompok, namun usaha itu gagal. dulu Akang mau menghajar dia, nambun keburu diselamatkan oleh Pak RT." jawab Sarman sambil menarik napas pelan, kemudian matanya terfokus ke arah halaman yang ditumbuhi bunga-bunga yang sedang mekar.
"Kayaknya, kalau keluarga si Abun nggak ada, mungkin hidup kita akan tenang ya, kang?" ujar Darmi mulai menghayal.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Sarman yang tidak mengerti.
"Ya kalau si Abun mampus! mungkin hidup kita akan tenang." jawab Darmi yang tak ditutup-tutup lagi, dia menjelaskan unak-enaknya secara gamblang
"Iya tapi bingung!"
"Jangan bingung kang! karena setiap orang mempunyai kelemahan masing-masing. Akang cari kelemahan itu untuk menghilangkan nyawanya."
__ADS_1
"Akang nggak berani kalau harus membunuh orang Bu!" jawab Sarman yang masih mempunyai akal sehat.
"Apa Akang mau terus hidup dihantui oleh keluarganya, apa Akang mau kehidupan keluarga kita tidak tentram, gara-gara ada keluarga si Abun itu?"
Mendengar penuturan istrinya , Sarman pun terdiam seketika. mencerna apa yang disampaikan oleh istrinya. sambil memutar kembali kekesalan kekesalan yang ditimbulkan oleh Mbah Abun. mulai dari anaknya yang sering mengurung diri karena malu tidak jadi menikah dengan Galih. sampai sekarang dianya sendiri merasakan diasingkan oleh para warga kampung.
"Bagaimana Kang," tanya Darmi seolah tidak sabar.
"Iya bener! kalau dia tidak bisa mampus, maka kita yang harus mengakhirinya."
"Nah begitu! itu baru namanya suami Darmi." jawab Darmi sambil mengulum senyum penuh kebahagiaan, karena apa yang disarankan didengar oleh suaminya.
"Ya sudah mulai besok, akang mau mencari kelemahannya." jawab Sarman sambil menghisap kembali rok0k yang ada di tangannya, Kemudian membuang asapnya ke arah atas.
Akhirnya mereka berdua pun berlarut dalam obrolan obrolan menjelekkan keluarga Bah Abun, hingga akhirnya bedug magrib pun terdengar dari arah masjid. sehingga membuat mereka berdua masuk ke dalam rumah. Sarman yang biasanya pergi ke mushola, udah beberapa hari terakhir, dia tidak salat berjamaah di masjid. karena merasa tidak enak dengan tatapan-tatapan warga yang membencinya.
Hari-hari berikutnya, Sarman terus menguntit Mbah Abun mencari kelemahannya, untuk menjalankan niat jahatnya. benar kata pepatah, ketika ada kemauan pasti ada jalan. Namun sayang kemauan Sarman, kemauan untuk merugikan orang lain. satu hari Mbah Abun pagi-pagi sudah bersiap-siap untuk pergi ke kota, Sarman yang mengetahui tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia menyusun rencana agar niat jahatnya tidak diketahui oleh orang lain.
Setelah tahu Mbah abun pergi meninggalkan kampung Ciandam, dia bergegas pulang ke rumahnya untuk mengambil golok.
"Mau ke mana Kang?" tanya Darmi yang melihat suaminya sudah bersiap-siap.
"Akang mau ngambil kayu bakar ke hutan. kayu bakar Kita kan sudah habis." Jawab Sarman yang tak mau istrinya tahu niat jahatnya. karena dia takut suatu saat istrinya akan membocorkan rahasia yang akan dikerjakan
"Iya bener Kang! Kalau bisa, kayu bakarnya yang kering, biar mudah terbakar." jawab Darmi.
"Ya sudah, tolong Bungkuskan nasi, sama siapkan air minum." pinta Sarman.
"Tumben-tumbenan Kang! Emang mau lama ngambil kayu bakarnya."
"Iya Akang berencana hari ini mengumpulkan kayu bakar, besok pagi baru akang mulai membawanya. agar cukup buat setahun ke depan." jawab Sarman masih tetap berbohong.
Setelah mendengar penjelasan dari suaminya. Darmi pun mulai menyiapkan bekal sesuai yang diminta oleh Sarman. setelah perbekalan sudah siap Sarman pun meminta izin untuk mengambil kayu bakar.
__ADS_1