Babi Beranting

Babi Beranting
57. petunjuk


__ADS_3

Matahari semakin tinggi mungkin sebentar lagi akan pas di ubun-ubun, Galih yang masih mencari keberadaan Ranti dia sudah sampai di kampung limusnunggal, karena merasa lelah Galih memutuskan mampir ke warung terlebih dahulu, untuk melepas selah sambil mengisi perut yang mulai terasa perih.


"Iya benar! benar! saya pernah mendengar kalau Kades Karanganyar memang jago main pencak, bahkan saking terkenalnya Kades itu bisa melumpuhkan begal yang berjumlah 4 orang." jawab Galih sambil memasukkan goreng pisang yang baru saja diambil.


"Benar Jang! benar banget! itu adalah Kades yang saya pilih. Saya merasa bangga karena Saya tidak salah memilih orang untuk menjadi pemimpin Desa Karanganyar. selain baik Beliau juga bisa menjaga ketentraman desanya. eh! ngomong-ngomong Ujang Mau ke mana, atau dari mana? soalnya Ibu baru melihat orang yang seperti Ujang."


"Seperti saya Bagaimana Bu"


"Iya ganteng! Ibu jarang melihat anak muda setampan Ujang!"


"Hehehe, si ibu bisa aja, Nama saya galih, Asal saya dari Ciandam. Saya sedang Berkelana menghitung lembur, menjajah membilangan Qoryah. Tujuan saya tidak tentu, saya berjalan mengikuti angin." jawab Galih sambil tersenyum, karena bukan ibu warung doang yang mengakui ketampanannya.


"Hush! kok seperti itu. nggak boleh seperti itu jang! Hidup itu harus punya tujuan, nanti kalau tidak punya tujuan, bisa-bisa hidup Ujang terbawa arus yang tidak benar. karena di zaman sekarang banyak orang yang buruk. bentuknya baik namun hatinya jahat, bajunya rapi seperti orang kaya tapi pekerjaannya mencopet atau menipu. jadi Hidup itu harus punya tujuan Jang!"


"Hehehe, maksudnya bukan seperti itu, saya tidak memiliki tempat tujuan yang mau dituju, karena saya lagi mencari. namanya mencari, pasti akan terus berjalan sampai apa yang kita cari bisa ketemu, walaupun Sampai Ke Ujung Dunia, akan saya cari. Oh iya ngomong-ngomong apa Ibu pernah melihat seorang gadis yang lewat ke sini?" jawab Galih sambil tetap mengulum senyum.


"Banyak Jang! gadis-gadis yang lewat sini banyak banget. Bahkan bukan hanya lewat saja, mereka sering berbelanja di warung Ibu. karena menurut gadis-gadis itu, gorengan di tempat Ibu sangat nikmat, berbeda dengan gorengan gorengan yang ada di warung lain." jawab ibu warung wajahnya menunjukkan raut kebanggaan, karena memang benar Begitu adanya. jajanan-jajanan yang ada di warung si Ibu itu, memang sangat nikmat ditambah penjaganya yang sangat ramah. Sehingga siapa saja yang berbelanja di warung si ibu bisa mendapat kenyamanan.


"Bukan seperti itu ibu!"


"Terus?"


"Maksudnya! saya sedang mencari gadis yang sangat cantik bak Bidadari, matanya yang agak sipit dengan bola mata putih dengan titik hitam sempurna, rambutnya tergerai sangat lurus, kulitnya putih bak air susu. namanya Ranti dari kampung Ciandam, dia pergi dari rumah tanpa memberi kabar terlebih dahulu, tanpa memberi tahu dia mau pergi ke mana."


"Saudara Ujang, atau siapa?"


"Kekasih hati saya bu! sebentar lagi saya mau diresmikan menjadi suami sahnya. namun sebelum itu terjadi, gadis cantik itu sudah minggat kabur dari rumah, tanpa memberi tahu terlebih dahulu."


"Ya kalau memberitahu dulu, namanya bukan kabur atuh, Ujang!"

__ADS_1


"Hehehe,"


"Gimana ceritanya bisa minggat seperti itu?"


"Nggak tahu Bu! tiba-tiba aja seperti itu, saya mendapat kabar bahwa kekasih saya sudah pergi dari rumah."


"Duh! Kasihan amat kamu jang, Terus sekarang bagaimana?" tanya ibu warung sambil menatap nanar ke arah Galih, mungkin dia merasa kasihan mendengar apa yang diceritakan oleh anak muda itu.


"Sekarang kan Saya lagi mencari keberadaannya Ibu."


"Eh, iaa benar! Hehhee," jawab ibu warung sambil tersenyum merasa lucu dengan kelakuannya.


Lagi asik mengobrol, terlihat ada seorang laki-laki yang memikul keranjang, yang diisi oleh berbagai perkakas kerja pertanian. mulai dari Arit, parang, golok, cangkul dan berbagai alat-alat lainnya, laki-laki itu masuk ke warung untuk beristirahat.


"Permisi jang! Mamang ikut numpang istirahat."


"Ciomas Jang! Namun sayang hari ini lagi Suwek, karena sudah dari pagi berjalan jualan. Mamang belum ada satupun yang laku, sehingga Mamang belum mendapat uang sepeserpun. namun Mamang menemukan pengalaman yang aneh."


"Nah, nah, pengalaman aneh Apa itu mang?" tanya Galih yang terlihat antusias.


"Ada babi hutan yang aneh, jang!"


"Aneh bagaimana?" tanya Galih sambil membenarkan posisi duduknya karena hal itulah yang sedang dia cari.


"Aneh Jang! babi itu sangat aneh. ketika diburu oleh para warga, dia tidak bisa berlari di tempat yang penuh dengan semak belukar, dia lebih memilih jalan-jalan yang mudah dilalui. anjing anjing pemburu awalnya mereka bersemangat mengejar seperti mau menelan bulat-bulat babi itu. Namun sayang Jang, anjing yang sudah bisa mengejar babi itu, dia hanya mencium lalu pergi kembali. babi itu terlihat jinak dan mudah ditangkap, karena babi itu tidak mau berlari ke hutan.. Dia hanya berlari menghindari kejaran-kejaran para pemburu, dia lebih memilih tempat sepi yang dirasa aman. walau kelihatannya jinak tapi kenyataannya tidak seperti itu, karena anjing yang harus menangkapnya malah pergi menjauhi. sehingga sampai sekarang babi itu belum belum bisa ditangkap, bahkan masih diburu oleh para warga." cerita penjual perkakas itu panjang lebar.


"Bentar! bentar Mang! babi hutannya itu Jantan atau betina?" potong Galih yang semakin antusias.


"Ya nggak tahu atuh Jang! kan mamng nggak melihat jenis kelaminnya, Lagian babinya juga kan belum dapat."

__ADS_1


"Oh iya, yah! Hehehe, tapi terima kasih atas informasinya Mang!" jawab Galih sambil bangkit dari tempat duduknya, dengan cepat dia pun berdiri lalu menatap ke arah si Ibu warung.


"Totalnya jadi berapa ibu?" tanya Galih yang terlihat buru-buru


"Jajan apa aja Jang!"


"Goreng pisang 2, Buras 2, bakwan 2," jawab Galih menyebutkan makanannya.


"Rp150 Ujang!"


Tanpa berpikir panjang galih pun mengeluarkan uang sesuai yang disebutkan oleh ibu warung, setelah itu dia pun langsung berpamitan bergegas menuju ke arah Kampung Ciomas kampung penjual perkakas. Diantar oleh dua Tatapan yang penuh dengan rasa heran, karena kenapa Galih cepat-cepat pergi setelah mendengar cerita babi aneh.


Sedangkan di kampung Ciomas, kampung yang masih termasuk ke desa Karanganyar kampung kecil yang terletak di sebelah Selatan kampung Limus Nunggal dan sukaraja. warga Kampung Ciomas sekarang sedang disibukkan dengan berburu babi hutan, anjing-anjing terdengar saling menggonggong, saling bersahutan, saling memberitahu anjing-anjing lainnya. waktu itu matahari sudah terasa terik, langit yang tidak Berawan membuat mata hari itu terasa sangat panas, karena tidak ada penghalang yang menyerap rasa panas itu, baik yang ada di kampung ataupun yang sedang berada di jalan.


Sama seperti yang dirasakan oleh Galih, Dia merasakan terik matahari seperti membakar tubuhnya, namun dia tidak memperdulikan hal itu. dia ingin cepat sampai ke tempat berburu babi hutan, dia ingin cepat-cepat mengetahui, apakah benar babi itu, adalah babi aneh, seperti yang diceritakan oleh penjual perkakas.


"Kalau benar, babi itu adalah babi aneh, dan kalau babi aneh itu adalah Ranti, alangkah bahagianya aku sekarang. karena aku bisa memilikinya cepat-cepat, memiliki Ranti seutuhnya. Tapi kalau nggak bagaimana yah? Ah...... nggak apa-apa...., walaupun itu bukan babi aneh penjelmaan Ranti." umpat hati Galih yang bertanya-tanya.


Galih terus berjalan dengan agak cepat sedikit berlari. keringat sudah mencucur membasahi tubuh, nafas yang sudah terengah-engah, rasa capek sudah menyelimuti jiwa. namun dia tetap terfokus dengan tujuannya, Galih ingin cepat sampai ke tempat tujuan, tempat di mana para warga Kampung Ciomas sedang berburu babi.


Di tempat yang dituju oleh Galih. terlihat banyak warga yang sedang mengepung babi hutan, anjing anjing saling menggonggong memberikan ancaman, para warga terus berteriak memberitahu arah buruannya.


Babi yang sedang mereka buru, terlihat seperti jinak. namun jinaknya jinak Jinak Merpati, terlihat seperti bisa mudah ditangkap, namun susah untuk dijalankan. karena anjing-anjing pemburu hanya menggonggong dari kejauhan, tidak ada yang menyerang. sehingga para warga pun memutuskan menangkap bulat-bulat sang babi dengan tangan sendiri. mereka menerjang babi itu untuk menangkapnya, seperti menangkap kambing yang sedang lepas. Namun sayang babi itu, babi hidup. ketika mereka mau menangkap, babi itu menghindar sehingga bukan babi yang didapat, malah mereka yang tersungkur ke tanah, hingga bibir-bibir Mereka terlihat jontor, mencium tanah yang bercampur kerikil.


Babi yang sudah dikepung, bisa keluar dari kepungan para warga Kampung Ciomas. babi itu berlari ke arah padang ilalang. melihat buruannya kabur, para warga pun dengan cepat mengejar, mereka tidak memiliki rasa takut. karena mereka beranggapan bahwa babinya sangat jinak, tidak ganas seperti babi babi hutan pada umumnya.


Para pemburu itu terus berteriak, meramaikan suasana pemburuan. anjing anjing yang terus menggonggong semakin menambah suasana seru ketika berburu. Namun sayang Anjing itu tidak bisa diandalkan, karena ketika sudah bisa mengejar babi, anjing itu malah terdiam kemudian ketika pawangnya datang baru Anjing itu mengejar lagi.


Sedangkan babi yang diburu, babi itu sangat beruntung. Karena setelah melewati kebun ilalang, dia masuk ke kebun pinus, Di mana Di situ banyak jejak-jejak babi babi yang lainnya. Bahkan bukan hanya jejak babi, jejak-jejak hewan hutan lainnya banyak tersebar di mana-mana. sehingga anjing pemburu merasa kebingungan, jejak mana yang harus Anjing itu ikuti. sehingga ada salah satu anjing yang berlari ke arah selatan, orang yang mempunyai anjing itu pun ikut berlari mengikuti ke mana anjingnya pergi. mungkin dia menyangka bahwa anjingnya mengendus jejak babi. sedangkan anjing anjing yang lain ada yang berlari ke arah utara, di mana jejak musang berkeliaran. melihat anjingnya berlari ke arah utara, orang-orang pun ada yang mengikuti. Anjing-anjing itu terus berhamburan menyusur tapak lacak yang sangat banyak.

__ADS_1


__ADS_2