
"Baru pulang Nyai?" tanya Abu Yayah setelah melihat anaknya yang menghampiri.
"Iya ambu!" jawab Ranti sambil duduk di dekat pintu dapur.
"Kenapa kok mukanya ditekuk seperti itu, apa jangan-jangan cintanya tak terbalas, atau bertepuk sebelah tangan." ledek Ambu Yayah sambil tersenyum.
"Apaan sih Ambu! Udahlah jangan ngeledekin Ranti terus. ngomong-ngomong Abah ke mana, Kok dari tadi pagi Ranti gak melihat." tanya Ranti mengalihkan pembicaraan.
"Biasa Abah kamu pergi ke sawah, beliau lagi senang-senangnya melihat padi yang sebentar lagi mau panen. menurut Abah padinya sangat bagus, jadi dia betah berlama-lama di sawah."
"Oh iya, Ambu Ranti boleh bertanya nggak?"
"Mau nanya apa?" tanya ibunya sambil menatap Ranti.
"Tadi Ranti ketemu sama Mita, Apa benar keluarga kita melakukan pesugihan siluman babi?" tanya Ranti membalas tatapan ibunya, seolah dia ingin tahu melihat perubahan mimik wajah Ambu Yayah.
Ditanya seperti itu membuat kedua sudut bibir abu yayah tersenyum. "Mita anaknya Sarman bukan?" Ambu Yayah balik bertanya.
"Iya ambu! mita anaknya Mang Sarman Dan Bi Darmi." jelas Ranti.
"Jangan didengarkan apapun yang keluar dari ucapan keluarga mereka. memang pada dasarnya mereka sudah membenci kita yang kehidupannya sudah mulai maju kembali. biasa setiap ada orang yang sukses, pasti ada orang yang iri." saran Ambu Yayah sambil tetap mengulum senyum.
"Tapi kalau salah, Kenapa padi di rumah kita sangat banyak. padahal sawah yang kita miliki tidak mungkin untuk menghasilkan padi sebanyak itu." ujar Ranti menanyakan rasa penasarannya.
"Hehehe, Ranti! Rantiiii! kamu tuh ada-ada aja. Padi kita banyak, karena pembayaran dari para Bandar itu tidak semuanya menggunakan uang. ada juga yang menggunakan padi, karena seperti yang kita ketahui, kalau uang di perkampungan itu sangat sulit. berbeda dengan padi yang setiap orang pasti memilikinya." jawab Abu Yayah tanpa sedikitpun menunjukkan keanehan, membuat Ranti lebih percaya dengan keluarganya.
"Oh jadi begitu ya, Berarti tuduhan Si Mita itu salah!"
"Iya salah! kamu jangan terlalu memikirkan ucapan orang lain, pikirkanlah diri kita sendiri! Karena kalau orang sudah benci jangankan melihat orangnya, melihat sandalnya mereka akan meludahi." nasehat Abu Yayah kepada anaknya.
Sedangkan orang yang mereka obrolkan, setelah melihat Galih dan Ranti berjalan berdampingan. dengan membawa hati yang sangat hancur, dia pulang ke rumahnya sambil menangis. Darmi yang melihat anaknya datang dengan terisak dengan cepat menghampiri.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Darmi yang merasa heran.
"Galih Bu! Galih dan Ranti mereka berjalan beriringan, hancur hati Mita Bu! hancur sekali!" adunya sambil menyeka cairan yang keluar dari mata dan hidungnya.
__ADS_1
"Kurang ajar! Kalau keluarga siluman babi itu dibiarkan bisa-bisa mengganggu ketentraman kehidupan kita." desis Darmi sambil mengeraskan gigi.
"Iya Bu! tolong Mita! Jangan biarkan anak babi itu merebut kekasih Mita." Pintanya sambil memeluk erat darmi.
"Kalian Kenapa sih, kerjaannya nangis terus!" Gerutu Sarman yang baru datang dari sawah, Mungkin dia habis mengecek pengairannya.
"Bukannya bantuin mencari solusi, malah marah-marah!" jawab Darmi sambil mendelik ke arah suaminya.
"Cari solusi bagaimana. akang kan gak tahu kenapa kalian berdua bersedih?"
Ditanya seperti itu mita pun mulai menceritakan tentang kejadian yang baru saja ia alami. di mana Galih lebih memilih dan membela Ranti daripada membela dirinya. dengan sedikit di dramatisir agar orang tuanya semakin merasa Iba. mendengar aduan anaknya seperti itu, membuat darah Sarman berdesir. tampa berkata lagi dia pun bangkit lalu berjalan ke arah dapur, kemudian dia mengambil golok lalu diikatkan ke pinggangnya.
Setelah goloknya terikat dengan sempurna. Dengan buru-buru Sarman berjalan luar rumah langsung menuju ke arah sawah. karena tadi sebelum pulang dari sawah, dia melihat Bah Abun sedang duduk di saung sawahnya.
Dengan membawa amarah yang sudah memuncak, Sarman pun berjalan dengan cepat, menuju sawah Mbah Abun. kebetulan orang yang dicarinya masih berada di saung.
"Hai pemuja babi!" Bentak Sarman tiba-tiba berkata seperti itu, membuat Mbah Abun menatap heran ke arahnya.
"Kamu memanggil Abah pemuja babi Man?" tanya Mbah Abun memastikan sambil menunjuk dadanya.
"Di kampung Ciandam. Siapa lagi yang melakukan perbuatan terkutuk, selain kamu Bun!" ujar Sarman setelah berada di hadapan musuhnya.
"Halah! semua orang juga sudah tahu, kamu bisa seperti sekarang itu gara-gara kelakuanmu yang sesat." jawab Sarman sambil mengeratkan gigi menahan emosi yang sudah memenuhi dada.
"Kenapa emang kalau saya melakukan pesugihan siluman babi? toh, Nggak merugikan kamu ini kan? Lagian kamu nggak punya bukti menuduh saya seperti itu." jawab Mbah Abun sambil tersenyum sinis.
"Kurang ajar! dasar tidak punya malu, kaya hasil siluman aja bangga."
"Udahlah Man! Kenapa kamu marah-marah, kita bisa bicara baik-baik." Jawab Bah Abun yang terlihat masih bisa mengontrol emosi meski dia sebenarnya sudah sedikit terpancing.
"Bilang sama anak kamu! jangan dekat-dekat sama Galih. karena kalau ketahuan keluarganya, nanti anak kamu akan malu, karena memiliki orang tua yang melakukan perbuatan terkutuk." ujar sarman menjelaskan pokok permasalahannya.
"Hehehe, Oooooooooh! kamu takut kalah saing sama anak saya! makanya punya anak itu diurus! agar bisa memikat pria. Jangan dibiarkan dekil seperti itu." jawab Bah Abun membuat amarah Sarman semakin memuncak.
"Kurang ajar! sial4n!" Sarman sudah tidak kuat menahan emosi, dengan cepat dia melayangkan satu pukulan menuju ke arah wajah Mbah Abun. namun Bah Abun bukan pria yang kosong, dengan cepat Ia pun menghindar, sambil menepuk tangan yang lewat. sehingga kuda-kuda Sarman yang Doyong ke depan, membuat tubuhnya sedikit bergoyang.
__ADS_1
"Heyyyy! Heeeeey! hai hentikan!" ujar seseorang dari arah atas sawah dengan cepat orang itu berlari menuju ke arah mereka berdua.
"Kalian apa-apaan kayak anak kecil aja! Pake berantem segala." tanya orang yang baru datang.
"Biasa Pak RT Sarman pengen merasakan tinju Abah." jawab Bah Abun sambil tersenyum.
"Aduh! kalian itu sudah tua, ingat umur! ingat anak istri di rumah. mereka akan malu ketika melihat kepala keluarga mereka bertindak seperti anak kecil seperti ini." Jawab Pak RT.
"Yah Abah juga malu Jang RT, namun kalau ada yang menjual pasti Abah beli."
"Ini sebenarnya ada apa?"
"Biasa Pak RT! anaknya kalah saing dengan anak saya. sehingga dia mengancam dan menuduh Abah dengan tuduhan yang sangat keji." jawab Mbah Abun.
"Emang benar kan Pak RT. si Abun ini adalah orang yang tersesat, karena dia melakukan pesugihan babi ngepet." Timpal Sarman yang sejak dari tadi terdiam karena merasa malu sama Pak RT.
"Kata siapa?" Tanya pak RT sambil menatap ke arah Sarman.
"Masa! Pak RT nggak tahu tentang kelakuan warganya yang menyimpang, Harusnya Pak RT lebih tahu daripada saya."
"Nggak tahu, saya nggak tahu, dan saya tidak mau tahu tentang tahayul itu."
"Tahayul Bagaimana Pak RT! udah jelas-jelas dia kaya Mendadak itu gara-gara dia melakukan pesugihan babi ngepet."
"Ngomong aja kamu ngiri Man. karena keluarga kamu kalah saing dengan keluarga saya, bahkan anakmu juga kalah saing dengan anak saya." Jawab Bah Abun mengompori
Mendapat penghinaan seperti itu, Sarman yang emosinya sempat mereda, sekarang kembali tersulut. dengan cepat dia pun mengangkat tangan hendak kembali menyerang Bah Abun. namun dengan cepat Pak RT menahan tangan Sarman.
"Ya Allah! kalian tuh sudah tua, sudah sekarang kalian pulang." Seru pak RT yang merasa kesal melihat tingkah laku kedua orang tua itu.
"Lepaskan aja Pak RT! Biarkan Dia merasakan hangatnya tinju Abah!" Jawab bah Abun sambil mengepalkan tangan kemudian dia meniup kepalaan itu seperti memberikan kekuatan.
"Abaaaaah!" bentak Pak RT membuat Mbah abun sedikit meringis. bukan takut, namun dia sangat menghormati orang yang dituakan, meski umurnya masih berada di bawahnya.
"Sekarang Abah! pulang jangan memancing keributan." seru Pak RT sambil menatap bah abun.
__ADS_1
"Kalau kamu masih penasaran! Lain kali kita lanjutkan Man!" tantang Mbah Abun dengan santainya Dia berjalan masuk ke Saung, kemudian dia pulang ke rumahnya.
"Kenapa Pak RT tahan? Biarkan saya menghajar orang yang merugikan kampung kita?" tanya Sarman sambil melepaskan pegangan Pak RT.