
"Masalah yang seperti itu tidak patut Untuk ditanyakan, karena bukan tersendat dengan cucuk gajah, tapi ini tersendat oleh cucuk ikan asin peda." Jawab istri Karmin dengan sedikit mendengus.
"Eh, kalau dengan cucuk gajah bukan tersendat itu namanya."
"Terus apa dong?"
"Namanya itu tertusuk! sana buruan pergi minta telur ayam sama ibumu!' usir Karmin membuat mata indah sedikit mendelik, namun dia tetap turun dari rumah, kemudian menuju ke arah rumah ibunya. kebetulan kemarin ibu Indah bercerita bahwa si borontok sudah mulai bertelur.
Sedangkan Karmin Dia terlihat bersiap-siap, kemudian pergi ke arah samping rumah. tanpa berpikir panjang dia memanjat pohon kelapa untuk mengambil degan.
Setelah mendapat degan, dia pun turun ke kolam ikan untuk menangkap ikan lele. Namun sayang ketika dibutuhkan ikan lele Susah didapat, di tangkap. pakai serokan nggak dapat, ditangkap pakai tangan apalagi. hingga akhirnya kakinya menginjak lodong bambu. "pasti di sini ada!" ujar Karmin yang terlihat tersenyum kemudian dia berjalan mendekati tepian kolam, sambil membawa lodong bambu itu.
Setelah berada di tepian, dia mulai menumpahkan isinya. keluarlah Lumpur bercampur dengan air. namun lumpur itu terlihat bergerak-gerak, setelah diperhatikan ternyata itu adalah ikan yang ia cari. "hehehe, akhirnya kamu dapat juga!" ujar Karmin sambil naik dari kolam, sedangkan lodong bambu dia lempar kembali ke tengah, membuat air kolam terlihat bergejolak seperti ombak.
Hari itu keluarga Karmin disibukkan dengan membuat keperluan keperluan sesajen. beruntung indah dia suka membantu para warga, ketika membuat sesungguh itu, hingga mereka tidak terlihat kesusahan.
Kira-kira ba'da Ashar, semua sesajen pun sudah selesai dibuat. bahkan sudah ditata rapi di atas tanpah yang terbuat dari bambu.
"Kalau ikan lelenya diapain Kang, karena cuma itu yang belum kita masak?" tanya Inah sambil menatap ke arah karmin.
"Aduh Akang lupa, tadi belum nanya sama Mbah Turo, kira-kira diapain ya lelenya."
"Yey, Akang gimana sih! kok, bisa-bisanya sampai lupa seperti itu. Ya sudah sana buruan temuin aki turo! ikan lelenya diapain?. soalnya nasi putih, telur ayam, degan, pisang mas serta yang lain-lainnya sudah selesai, tinggal satu lagi." seru Inah.
Mendengar perintah istrinya, Karmin pun keluar dari rumah. kemudian menuju ke rumah Mbah Turo. namun sayang orang yang dicari belum pulang dari kebun. mungkin masih sibuk mempersiapkan jebakan babi.
Karmin tidak Patah Arang, dia terus berjalan menyusul Mbah Turo ke kebunnya. beruntung ketika Karmin mau masuk ke dalam perkebunan milik warga, terlihat Mbah Turo yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Ada apa Min?" tanya Mbah Turo setelah berada di hadapan karmin, dadanya terlihat turun naik mungkin dia capek setelah bekerja dengan giat.
"Tadi saya lupa Bah! kalau lelenya dimasak seperti apa, nggak mungkin kan kalau lelenya dibiarkan mentah seperti itu!" tanya Karmin.
__ADS_1
"Dicobek saja Min! Emang semuanya sudah siap?" jelas Mbah Turo membalikkan pertanyaan.
"Semuanya sudah Bah!, tinggal lelenya aja yang belum." jawab Karmin yang terus berjalan kembali ke arah Kampung.
Mereka terus berjalan sambil ditemani dengan obrolan-obrolan yang mereka baru saja alami. hingga akhirnya berpisah di pertigaan, karmin dan Mbah Turo berjanji, setelah selesai mandi pria Tua itu akan menjemput Karmin, untuk kembali ke kebun dengan membawa sesajen.
Matahari di upuk barat sudah mulai berada di atas ubun-ubun gunung, hingga lambat laun dia mulai bersembunyi di baliknya. sayap-sayap siang mulai terlihat mau tertutup, berganti dengan sayap malam yang sebentar lagi akan terbuka. para warga sudah mulai berdatangan dari tempat bekerjanya. anak-anak terlihat bermain di rumah pak ustad, mungkin malamnya mau belajar mengaji. sedangkan orang yang sudah berada di rumah, mereka menikmati senja dengan berkumpul di teras sambil mengasuh cucu-cucunya.
Mbah Turo yang sudah berjanji akan menjemput Karmin, terlihat dia sudah datang dengan memakai pakaian yang sangat rapi. sore itu, dia memakai celana pangsi hitam, dengan kaos yang Senada dengan warna celananya. kepalanya diikat dengan kain berbentuk jarik, jarinya menjepit rokok Siong pemberian dari tetangganya yang baru mudik dari Purworejo.
"Sesajennya sudah siap?" tanya Mbah Turo yang sudah berdiri di ambang pintu.
Perepet!
Terdengar suara rokok yang dihisap sehingga tercium bau wangi kemenyan, yang memenuhi ruangan tamu rumah Karmin, membuat bulu Kuduk yang ada di dalam rumah merinding.
"Sudah Bah! dari tadi juga semuanya sudah selesai. tapi saya merasa tidak enak hati bah, rasanya bau kemenyan, padahal belum dibakar. membuat bulu Kuduk Saya berdiri, apa jangan-jangan ini pertanda bahwa babi itu adalah babi penunggu pasir datar."
"Cobek lelenya nggak apa-apa di wadahin dicoet?"
"Jangan di wadahin dicoet, kalau bisa cari wadah yang sudah tidak terpakai, namun tidak bolong!"
"Haduh, gak ada bah! kalau wadah yang sudah tidak terpakai. batok sambal yang tadi tertinggal di kebun, sudah pecah juga gara-gara diinjak sama si babi."
"Ya sudah kalau nggak ada, bawa sama cobeknya aja! Ayo jangan buang-buang Waktu, Nanti keburu malam."
Akhirnya kedua pria berbeda usia itu berjalan menuju ke kebun, diantar oleh tatapan Inah yang masih berdiri di ambang pintu. hati wanita itu terasa berdebar, seperti hendak menemukan sesuatu yang aneh.
"Kenapa dengan hatiku, tidak seperti biasanya berdebar seperti ini," ujar Inah sambil mengusap dada. kemudian dia pun masuk ke dalam rumah langsung menuju ke arah dapur, hendak mengecek nasi yang sedang dia Tanak. karena tadi keluarganya terfokus menyiapkan sesajen, sehingga mereka lupa membuat makanan buat keluarganya sendiri.
Sesampainya di dapur, dia pun membetulkan kayu bakar agar apinya masuk ke dalam tungku. kemudian dia duduk di kursi jongkok yang terbuat dari kayu. kepalanya terasa berputar, bayangannya kembali ke kejadian tadi siang yang menimpanya. di bayangan itu terlihat jelas babi hutan yang sangat besar, sedang menatapnya. "kok, jadi merinding!" Desis Inah sambil mengusap bulu kunduknya yang terasa berdiri. kemudian dia bangkit lalu menutup pintu dapur yang masih terbuka, Mungkin dia takut babi siang yang tadi mendatangi rumahnya.
__ADS_1
Sedangkan orang yang dikhawatirkan oleh Inah, mereka berdua terus berjalan melewati Jalan Setapak yang di samping kanan kirinya terlihat tanaman para warga, yang tumbuh sangat hijau. matahari semakin lama semakin tenggelam, Hanya menyisakan warna kuning keemasan. suara gerapung terdengar begitu khas, disahuti oleh suara jangkrik, seolah menunjukkan bahwa sebentar lagi waktunya mereka bersuara. burung-burung saling bersahutan sambil loncat ke sana kemari, mencari sarang untuk penginapannya.
Karmin dan bah turo Akhirnya sampai di dekat galian tanah sebagai penampung air, untuk menyiram tanaman yang sudah disiapkan untuk menjadi perangkap babi. Terlihat napas Karmin begitu memburu, karena jalur yang mereka lewati lumayan menanjak, Apalagi ditambah bebawaan yang sangat banyak.
"Apa ini bah? kok jalannya di pagar?" Tanya karmin.
"Ini perangkap buat menangkap babi! maaf Abah jadikan galian tanah penampung air jang karmin sebagai perangkap, karena Abah bingung harus membuat perangkap seperti apa lagi," jawab Mbah Turo menjelaskan.
"Nggak apa-apa Bah! kalau galian tanah, saya bisa buat lagi. yang terpenting babi itu bisa tertangkap."
"Sudah! taruh semua sesajen di bibir galian, agar nanti ketika babi datang, dia terperosok ke galian," ujar Mbah Turo memberi perintah,
Karmin pun manggut, kemudian dia menyimpan tampah yang terisi penuh oleh sesajen di pinggir galian yang sudah ditata sedemikian rupa sehingga lubang itu tersamarkan. Karmin menata kembali sesajen sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Mbah Turo. sedangkan orang tua itu, membabat satu pelapah pisang untuk dijadikan alas tempat duduk, setelah itu dia pun bersila dengan sangat tegap.
Sebelum memulai ritual, dia pun meniup Arang yang ada dalam gerabah, setelah arangnya terlihat memerah, bah turo mengambil menyan yang sudah dibawa dari rumah, kemudian membakarnya. sehingga baunya menyebar kemana-mana tertiup oleh angin memenuhi seluruh area pasir datar.
Kakek-kakek tua itu mulai membaca mantra, menyerahkan semua sesajen kepada sang penunggu pasir datar dan pengasuh semua binatang yang ada di pasir itu.
Selesai membaca mantra, Mbah Turo pun mengutarakan maksudnya. bahwa dia ingin bisa menangkap babi hutan, yang sedang berada di daerah pasir datar. setelah selesai membaca mantra, Mbah Turo mulai mengasapi cobek lele dengan Asap kemenyan yang ada di gerabah, bahkan tidak sampai di situ, dia mengasapi semua sesajen yang tadi dibawa oleh Karmin.
"Sekarang semuanya sudah selesai jang karmin, ayo kita pulang!" ajak bah turo sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Ayo, tapi bagaimana dengan sesajennya?" jawab Karmin, sambil menatap ke arah sesajen yang tersaji di atas tampah.
"Biarkan saja di sina jang!"
"Sayang amat Bah! kalau dibiarkan begitu saja, sayang dengan cobek lelenya, yang terlihat dagingnya sangat tebal."
"Hush! Nggak boleh seperti itu, pamali!" Ketus Mbah Turo.
Kakek-kakek tua itu tanpa berbicara lagi, dia mulai berjalan mendahului Karmin, meninggalkan lembah. membuat Karmin dengan tidak rela hati meninggalkan Sajen mulai mengikuti berjalan di belakang. namun matanya terus melirik ke arah Sajen. mungkin merasa Sayang, dengan cobek lelenya yang terlihat sangat menggugah selera. namun dia takut dengan larangan Mbah Turo, takut hal buruk menimpanya.
__ADS_1