
"Lah....! Lah....! kenapa harus lapor sama Bibi?" tanya Saipul sambil menatap penuh heran ke arah sibibi warung, setelah dia mendengar apa yang disampaikan wanita yang ada di hadapannya, wanita yang memberikan berita sayembara, yang baru saja ia terima.
"Karena kalau Mang Saipul nanti bisa menemukan Ranti, anaknya Mbah Abun saya akan mendapat persentase dari keberhasilan itu."
"Oh begitu, hehehe....!" tanggap Saipul sambil mengulum senyum, namun dalam hati kecilnya dia sudah mulai tertarik dengan apa yang diceritakan oleh Si Bibi. Siapa orangnya yang akan menolak, ketika dikasih harta yang begitu banyak. padi sekamar dan uang sekarung, itu adalah harta yang sangat besar menurut Saipul.
"Menurut saya, Mamang jangan tertawa dulu, mendingan Mang Saipul pikirkan peluang sebaik ini. karena ini adalah peluang yang sangat langka, kalau saya laki-laki maka saya akan menutup warung, ikut mencari keberadaan anaknya Mbah Abun."
"Iya Bi....! tapi kan mencari itu harus membutuhkan biaya yang tidak sedikit, untuk biaya pembuatan kerupuk saja sudah menipis. kalau tidak bisa mengaturnya mungkin usaha saya akan bangkrut."
"Iya memang....! tapi, kalau melihat hadiahnya Yang begitu besar, maka itu akan sebanding dengan pengorbanan yang akan kita korbankan. sudah jangan banyak pikiran....! mending Mang Saiful ikut mencari keberadaan Ranti."
Mendengar penuturan Si Bibi, Saipul yang awalnya sedikit tertarik, mulai semakin tertarik dengan apa yang didengarnya. Lagian siapa orang yang mau menolak dengan hadiah sebanyak itu. Saipul terus terlarut dalam khayalan-khayalannya, sehingga harta yang diceritakan Si Bibi terlihat jelas dalam kelopak mata saipul. Apalagi Si Bibi terus mengompori agar dia ikut terjun mencari keberadaan anaknya Mbah Abun.
Sedangkan orang yang dibicarakannya, dia terus berjalan menuju arah pulang, menuju arah Kampung Ciandam. dengan membawa hati yang begitu kecewa, karena dia tidak bisa menemukan orang yang dia cari. Jangankan menemukan wujudnya, menemukan jejaknya pun tidak ada. apa lagi yang dia cari berbeda dengan orang yang hilang pada umumnya, Ranti menghilang dengan berubah menjadi babi jadi-jadian.
Bekal sudah habis, badan sudah terasa lelah, kaki sudah terasa sangat pegal. apalagi perasaan yang begitu hancur, ketika mengingat anaknya yang sedang mengalami kesusahan. Ranti menghilang dengan keadaan yang tidak biasa, membuat Mbah Abun memiliki prasangka buruk. Bagaimana tidak, Ranti akan merasa tersiksa, baik hatinya, baik tubuhnya. hatinya, akan merasa sakit ketika dia tahu bahwa sekarang dia sudah tidak menjadi manusia normal, tubuhnya akan sakit, karena dia tidak akan menemukan makanan layaknya seperti makanan manusia pada umumnya.
__ADS_1
Ranti sudah terbayang di Pikiran Mbah Abun, rasa keinginan anaknya itu masih manusia, namun bentuk tubuhnya adalah hewan, adalah babi hutan. sehingga pasti membuat anaknya akan semakin tersiksa, tidur tidak akan nyenyak, karena Gadis itu akan tidur beralaskan tanah berselimutkan langit. kalau mau makan Ranti akan sangat kesusahan, paling Untung dia bisa makan singkong mentah. Kalau bertemu dengan orang pasti akan diburu, pasti akan dikejar-kejar oleh anjing. bahkan bahaya Pati pun membayanginya, karena biasanya para pemburu tidak lepas dari senjata, minimal golok mereka pasti membawa.
"Haduh.......! kasihan banget kamu Ranti....! Ranti.....! Bagaimana Abah harus menolongmu, Apa Abah harus berbicara sebenarnya sama para warga, bahwa kamu menghilang bukan dengan wujud asli kamu, kamu berubah menjadi babi ngepet. tapi kalau abah jujur, kalau abah berbicara, Abah akan malu. pasti orang-orang menyangka bahwa yang menyerang Sarman pun adalah Abah." gumam hati Mbah Abun seolah sedang berbicara dengan anaknya yang entah berada di mana.
Mbah Abun terus berjalan menuju ke arah Kampung Ciandam, namun hatinya seperti sedang melakukan perang antara dia jujur sama orang-orang, bahwa dia mempunyai pekerjaan yang tidak patut untuk dibicarakan, kalau begitu Mbah Abun akan menanggung malu yang sangat dalam. atau tetap diam namun anaknya tidak akan tertolong, karena walaupun 1000 orang yang mencari keberadaan Ranti, mereka tidak akan menemukannya. karena Ranti tidak akan berada di perkampungan atau perkotaan, Ranti pasti ada di hutan, minimal di kebun.
"Haduh......! kalau begini bisa-bisa kepalaku pecah, Rambutku akan rontok. Haduh......! bagaimana aku bisa menolong Ranti. ini semua gara-gara baju Hikmat, sehingga membuat kepalaku merasa pusing." desah Bah Abun sambil terus berjalan, amarahnya tertahan karena dia bingung harus melampiaskannya ke siapa. karena kejadian menimpa yang dirinya, itu murni kesalahannya sendiri, yang tidak hati-hati ketika menyimpan benda pusaka seperti itu.
Lama di perjalanan, akhirnya Mbah Abun sampai ke kampungnya. Tak lama dia pun sampai ke rumah, terlihat istrinya Ambu Yayah sedang duduk di ruang tamu, sambil menatap ke arah halaman, seolah sedang menunggu orang yang sedang mencari keberadaan Ranti. melihat bah abun masuk ke pekarangan, dengan cepat dia pun bangkit dari tempat duduknya, lalu keluar menyambut kedatangan sang suami.
"Selamat datang kembali Abah....! Bagaimana keberadaan anak kita, manaaaaa Ranti, kok nggak ikut sama abah?" tanya Abu Yayah dengan raut wajah penuh harap.
Mendengar jawaban suaminya seperti itu, Ambu Yayah tidak bertanya lagi. namun dia berjalan menuju ke arah dapur, tak lama dia pun kembali sambil membawa semug air teh kemudian diserahkan ke suaminya.
Glek! Glek! Glek!
Terdengar teguhkan demi tegukan yang dilakukan oleh Mbah abun, jakunnya terlihat turun naik, seolah sedang sangat menikmati air yang membasahi tenggorokannya. hingga air yang di dalam mugpun hanya tersisa setengah. setelah dirasa hausnya sudah hilang, Mbah Abun menyimpan gelas itu di atas meja.
__ADS_1
Mbah Abun, meski raganya sudah sampai ke rumah, namun pemikirannya masih terbang melayang mencari keberadaan Ranti.
"Abah......!" Panggil Ambu Yayah.
"Iya, ambu....!"
"Ambu meski menurut Abah tidak boleh menyiksa diri, Ambu harus Makan, Ambu harus minum, namun Ambu tidak bisa melakukan semuanya. karena pemikiran Ambu masih terfokus terbayang oleh gangguan anak kita yang menghilang. setiap hari Ambu selalu menunggu di sini, menunggu kepulangan Abah yang disertai oleh anak kita. Ambu sudah nggak sabar mendengar kabar anak kita, kalau dia masih hidup, sekarang dia berada di mana, Kalau sudah meninggal jasadnya harus ditemukan," ujar Ambu Yayah mengungkapkan semua yang ada di hatinya.
"Ambu......! Abah juga merasakan seperti itu, walaupun Abah bisa makan, namun rasa makanan yang masuk ke mulut Abah terasa hambar, walaupun Abah bisa minum, namun minuman yang masuk ke mulut Abah Terasa seperti air seni. kalau abah tidak kuat mungkin Abah juga akan menyiksa diri, meninggalkan makan itu. namun beruntung Abah masih mampu menahan semuanya, Abah akan terus berusaha melakukan berbagai cara, agar kita bisa cepat menemukan keberadaan Ranti. Abah Sedang berpikir mencari jalan terbaik agar anak kita cepat ketemu."
"Kenapa kalau masih mau berusaha, Abah pulang dari pencarian, Kenapa Abah tidak meneruskan pencarian anak kita?"
"Aiiih, Ambu.....! bagaimana kan Abah masih hidup, Abah perlu makan, perbekalan Abah sudah habis, sehingga membuat Abah harus pulang terlebih dahulu. yang kedua abah mau melaporkan hasil pencarian Abah, agar Ambu tidak terlalu menunggu lama. yang ketiga Abah ingin mengajak Ambu berdiskusi, harus dengan cara apa lagi kita mencari keberadaan anak kita."
"Ya Abah....! Ya sudah buruan mikirnya, kasihan Ranti terlalu lama menderita," pinta Ambu Yayah yang terlihat matanya mengembun, suaranya terdengar Parau tercampur dengan suara tangis, yang sudah memenuhi sesak di dalam dadanya.
"Sudah Ambu....! sudah jangan pakai nangis segala, kita harus kuat, Abah sudah memikirkan jalan untuk mencari keberadaan anak kita. Bagaimana kalau kita mengadakan sayembara ,untuk mencari Ranti.
__ADS_1
"Ambu sangat setuju, Abah.....! Ambu setuju banget. yang terpenting Ranti cepat pulang ke rumah, bagaimanapun cara menemukannya."
"Tapi kalau sayembara itu harus jelas aturannya, harus jelas tujuannya, harus jelas yang dicari, disayembarakan."