Babi Beranting

Babi Beranting
39. Hasutan Sarman


__ADS_3

"Bagaimana babi hutan itu  Apakah Sudah dibunuh Kang?" tanya Darmi yang melihat suaminya masuk ke dalam rumah.


Sarman yang masih merasa kesal dan merasa malu dengan hasutan yang tidak berhasil, dia tidak menjawab pertanyaan dari istrinya. Sarman langsung pergi ke dapur untuk menyimpan tumbak ke tempat asalnya. setelah tombak itu tersimpan dia pun menghampiri istrinya.


"Kenapa mukanya ditekuk seperti itu? nih minum dulu!" tanya Darmi yang memelankan intonasi suara, mungkin dia tahu kalau suaminya sedang menghadapi masalah.


"Sial banget kita hari ini! tadi anak kita yang dilukai, sekarang akan dibuat malu oleh para warga." jelas Sarman sambil mengambil air minum yang diberikan oleh istrinya, kemudian dia meneguk air itu sampai habis.


"Kenapa kok Akang ngomong seperti itu?"


Sarman pun menceritakan kejadian ketika dia pulang berburu babi hutan. Di mana dia menjelekkan Mbah Abun, dengan mencurigai Bahwa babi hutan itu adalah Mbah Abun, namun orang yang dicurigai malah ada, ikut berburu di tengah-tengah mereka.


"Emang Akang nggak tahu kalau si Abun ikut berburu?"


"Mana mungkin tahu! kan keadaan malam, apalagi Genting seperti itu, Akang boro-boro memperhatikan satu persatu orang, memikirkan pijakan kaki saja udah sangat kesusahan."


"Terus sekarang bagaimana?" tanya Darmi yang merasa putus asa, dia mulai ragu dengan apa yang dia tuduhkan.


"Sepengetahuan akang, si Abun Baru kali ini saja dia ikut berburu babi, biasanya dia tidak pernah ada. karena dia sendiri yang menjadi babinya." Jawab Sarman.


"Terus bagaimana kita membuktikannya?"


"Tenang akang memiliki rencana, nanti kalau ada babi hutan lagi, Akang tidak akan ikut berburu. namun Akang akan menunggu di rumah si Abun, Akang yakin babi hutan itu pasti masuk ke rumah si Abun."


"Ide bagus tuh Kang!" jawab Darmi yang merasa setuju dengan apa yang hendak dilakukan oleh suaminya.


"Iya tapi kita harus tetap berhati-hati, kalau kita tidak berhati-hati, nanti kejadian yang malam ini terulang lagi!"


"Iya Kang! tapi ingat tujuan awal kita yaitu menghancurkan kelompok kerjanya, Akang mulai besok harus menemui orang yang mudah dipengaruhi, agar kelompok itu cepat hancur."

__ADS_1


"Ya sudah! Sekarang ayo kita istirahat dulu!" pungkas Sarman mengakhiri musyawarah keluarga malam itu, akhirnya kedua insan yang diliputi oleh rasa kebencian masuk ke kamar untuk beristirahat.


Keesokan paginya, Sarman mulai menemui Hasan orang yang memiliki keahlian menganyam, dengan pintarnya dia mulai memasukkan hasutan-hasutan agar Hasan keluar dari kelompok.


Hasan yang tidak memiliki pendirian yang kuat, akhirnya dia mulai terpengaruh, hingga Dia memiliki prasangka bahwa kelompok yang mereka dirikan berbuat curang, apalagi Sarman menyampaikannya dengan bukti-bukti yang dikarang Dan masuk akal. sehingga Hasan semakin tak mempercayai kelompok usaha yang dipimpin oleh galih.


Setelah selesai menghasut Hasan, Sarman pun mulai menemui pengrajin pengrajin yang lainnya, sama dia mulai menebar kebencian, agar mereka mau keluar dari kelompok yang diketuai oleh Galih. begitulah pekerjaan Sarman setiap hari, menghasut dan menghasut, sehingga usaha yang dilakukan terus-menerus membuahkan hasil.


Kita ceritakan satu hari ketika Ranti mau mengecek hasil kerajinan para anggota, dia terdiam di samping Saung yang dijadikan sekretariat kelompok. karena mendengar ada orang yang sedang berdebat, sehingga dia menghentikan niatnya, terfokus mendengar perdebatan itu.


"Nggak setuju bagaimana Kang Hasan?" tanya Galih sambil menatap orang yang ada di hadapannya.


"Saya nggak setuju Kalau kelompok mengambil keuntungan yang sangat banyak, enak ajaa kerja nggak, tapi mendapat keuntungan besar." jawab Hasan sorot matanya mengandung ketidaksukaan.


"Besar bagaimana Kang Hasan? seperti yang sudah kita sepakati, kelompok hanya mengambil keuntungan Rp150 dan uang itu pun tidak dipakai sepenuhnya oleh kita, uang itu kita jadikan koperasi. Kang Hasan juga merasakan kan keuntungan dari adanya koperasi itu."


"Masa 150 Jang! bukannya Rp350? karena Mbah Abun membayar hasil kerajinan para pengrajin Rp900" jawab Hasan.


"Nggak perlu tahu dari siapa, yang jelas berita itu sangat akurat."


"Jadi Akang menuduh kelompok mengambil keuntungan sebesar itu?"


"Iya Jang!"


"Akang! akang! Kalau Akang nggak percaya Ayo kita berangkat ke rumah Mbah Abun, untuk bertanya langsung kepada orangnya. Biar Akang percaya bahwa kelompok tidak sejahat itu." ajak Galih.


"Benar kang kelompok hanya mengambil 150, uang sisa dari menggaji anggota kelompok ada Rp150.000. namun uang itu hanya ada Rp50.000, karena yang 100 dipinjam oleh para anggota kelompok, salah satunya oleh Akang sendiri." tambah Daus membenarkan apa yang disampaikan oleh ketuanya.


"Terus uang yang Rp50 dari persatu kerajinan ke mana?" tanya Hasan.

__ADS_1


"Ada Kang! namun sama, uang itu hanya ada tulisannya saja. karena dipinjam oleh para anggota kelompok. nih tulisannya!" jawab Daus sambil menyerahkan buku yang digenggamnya, kemudian dia mulai menjelaskan apa aja yang ada di dalam buku, mulai dari pembayaran, pengeluaran, uang tabungan, uang sisa kelompok dan yang lain-lainnya.


"Harusnya Akang berterima kasih sama kelompok, karena anggota kelompok tidak tamak, mereka mau digaji tanpa memikirkan yang lain. sehingga para anggota bisa merasakan kemanfaatan hasil dari sisa gaji pengurus kelompok." tambah Galih.


Setelah Hasan melihat dan mengerti apa yang dijelaskan oleh Daus, dia pun manggut-manggut lalu menatap ke arah mereka berdua.


"Maaf kalau begitu, berarti Akang salah ya?"


"Nggak salah Kang! wajar kalau orang yang belum paham bertanya, Kalau akan tidak suka diatur oleh peraturan yang sudah ditetapkan, akang boleh keluar. karena kejadian seperti ini, akan menjadi pengganggu ke anggota anggota yang lain, namun sebelum keluar Akang harus melakukan perhitungan terlebih dahulu."


"Perhitungan apa Jang?" tanya Hasan sambil menatap ke arah Galih


"Daus tolong hitung hutang dan tabungannya! kalau ada lebih kasih, namun kalau ada kurang Kang Hasan harus membayar dulu!" ujar Galih menyeru sekretarisnya.


Daus pun mengangguk, kemudian dia mulai menghitung hutang dan tabungan Hasan, setelah di hitung ternyata Hasan masih memiliki hutang sebesar Rp5.000 ke kelompok.


"Aduh Jang! Akang nggak punya kalau uang sebesar itu, bagaimana kalau Akang masih bekerja, maaf kalau Akang salah." ujar Hasan yang merasa kaget setelah mengetahui hutangnya. namun dia sadar dan mengakui apa yang disampaikan oleh Daus, karena dia sering meminjam uang koperasi kelompok.


"Boleh Kang! boleh! namun akang harus merubah sikap! tidak boleh menyalahkan kelompok, apalagi mempengaruhi anggota kelompok yang lainnya. selama anggota itu masih menjadi anggota kelompok. saya tidak pernah menagih hutang. bahkan ketika melakukan pembayaran saya bertanya dulu apakah uang mereka mau dipotong untuk membayar hutang atau tidak. bahkan kelompok bukan memberikan pinjaman, namun kelompok juga memberikan santunan kepada anggota yang sedang sakit, yang tidak bisa bekerja. akang Hasan juga pernah kan merasakan santunan itu walaupun tidak besar."


"Sekali lagi Akang mohon maaf Jang! akang salah, terlalu percaya sama omongan orang lain."


"Siapa yang mempengaruhi?" tanya Galih yang sejak dari tadi penasaran.


"Kang Sarman Jang!" jawab Hasan sambil menundukkan pandangan, meski umurnya terpaut jauh dari Galih, namun dia malu ketika melakukan kesalahan.


"Hehehe, Pantes Akang seperti itu, Lagian orang seperti Mang Sarman saja akang percaya. untung Akang cepat bertanya kepada orang yang tepat, kalau akang mempengaruhi anggota lain, bisa semakin ribet urusannya."


"Sekali lagi akang mohon maaf Jang! tapi akang Masih boleh kan bekerja?"

__ADS_1


"Boleh kang, ya sudah. lanjutkan kembali pekerjaannya, ingat Akang masih punya hutang, walau bagaimanapun hutang harus tetap dibayar." ujar Galih memberikan ketegasan.


"Kalau seperti itu Akang pamit dulu Jang." ujar Sarman sambil menyalami mereka berdua, kemudian dia keluar dari sekretariat kelompok. Ranti yang sejak dari tadi menguping ketika melihat Sarman keluar dia bersembunyi terlebih dahulu.


__ADS_2