Babi Beranting

Babi Beranting
92. Terjebak


__ADS_3

Pletok! pletok!


Suar Ranting-ranting kering yang Terinjak oleh Mbah Turo, yang sedang masuk menyebrang rumpun tumbuh-tumbuhan, menggiring babi yang mereka anggap masih berada di lingkungan kebun Karmin.


"Jang Karmin! jang karmin!" Panggil Mbah Turo untuk memastikan posisi teman berburunya.


"Woi.....!" jawab Karmin dengan singkat, karena dia pun sama sedang berkonsentrasi dengan pijakan yang terhalang oleh rumputan yang merambat.


Kedua orang itu terus berjalan dengan penuh perhitungan penuh kehati-hatian. sambil terus memukul-mukul pepohonan yang mereka lewati, menakut-nakuti hewan yang berada di sana, hingga akhirnya mereka tiba di dekat galian tanah.


Krobas!


Terdengar suara benda yang bergerak, membuat Mbah Turo menaikkan konsentrasinya, terlihat dia mundur beberapa kali menatap ke arah bayangan hitam yang terlihat masih samar.


"Babinya ada.....! ada babi....! Jang Karmin  awas hati-hati, tetap siaga!" teriak bah turo tangan kanannya memegang ranting pohon Puspa, bersiap-siap ketika nanti babi menerjangnya, dia tinggal naik ke atas pohon. Walaupun dia sudah berpengalaman, tapi dia tetap memiliki rasa takut sama seperti yang lainnya.


Sedangkan bayangan hitam yang bergerak tadi, tidak lain tidak bukan. itu adalah Ranti dalam bentuk babi hutannya yang sedang tidur. namun terganggu oleh suara-suara yang terus saling bersahutan, membuat Ranti terlihat sangat kaget. dengan cepat dia pun bangkit dari tempat tidurnya, kepalanya cilingukan memindai area sekitar, telinganya bergerak-gerak, matanya terasa kesat dan pedih karena bangun tidur secara mendadak, apalagi tidur ranti sangat nyenyak. tubuhnya merasa menggigil kedinginan, terkena air embun yang sudah turun, membasahi tubuhnya.


"Celaka...! kayaknya ada suara orang, mau ngapain pagi-pagi seperti ini sudah sampai di kebun, dasar manusia serakah....!" begitulah gumam hati Ranti sambil melangkahkan kaki menuju ke arah samping, Mungkin dia menghindari agar tidak bertemu dengan orang-orang yang mengganggunya, Namun sayang dia salah arah Dia berjalan menuju ke arah Karmin yang berada di dekat rumpun tepus, membuat kedua makhluk itu sama-sama merasa kaget.


"Abah, di sini Bah....! babinya di sini bah.....! Abah di sini.....! Hiyya! Hiyya! Hiyyya! sana pergi! sana babi," ujar Karmin sambil loncat memegang ranting pohon karumi, Namun sayang ranting pohon itu kecil sehingga tidak mampu menahan bobot tubuh Karmin yang lumayan berat, membuat orang itu terjatuh kembali. beruntung di bawahnya banyak rumpun teki membuat tubuh Karmin tidak terlalu sakit. namun sayang babi yang berada di hadapannya masih menatap tajam ke arahnya, ketika melihat orang yang jatuh membuat Ranti terperanjat kaget.

__ADS_1


Grokkkkkkk!


Babi itu bersuara, sambil membalikkan tubuh sehingga membuat Deru suara kmeresek, karena tubuhnya terkena rumpun-rumpun rumputan, dia terus berjalan kembali ke arah yang tadi.


Karmin yang sudah terbangun dari tempat terjatuhnya, dia mulai sadar dengan apa yang dia harus lakukan. dengan cepat dia berteriak memberitahu Mbah Turo tentang keberadaan babi hutan itu, membuat kakek-kakek itu terus berteriak agar babi itu semakin merasa ketakutan, sehingga walaupun hanya dengan dua orang, namun itu cukup membuat nyali Ranti ketar-ketir.


"Dasar kurang ajar! mau ngapain manusia serakah itu, apa jangan-jangan orang-orang yang berteriak itu sangat banyak. kalau seperti itu, celaka! berarti sekarang Aku Sedang diburu." gumam hati Ranti sambil terus berjalan kembali mendekat ke arah di mana Tadi malam dia menginap, semakin lama dia semakin mendekat hingga akhirnya sampai di tempat sesajen yang sudah dihabiskan. babi itu terlihat berdiam sebentar sambil memindai area sekitar.


"Kalau ke samping aku takut kayak yang tadi, bertemu dengan para pemburu, kalau ke atas apalagi. jalan satu-satunya aku harus ke bawah." pikir Ranti namun sebelum dia mengambil keputusan, terdengar dari atas Bah Turo dan Karmin terus menakut-nakuti Ranti dengan melemparkan bebatuan dan menggoyangkan pohon-pohon kecil. membuat babi itu semakin panik, apalagi ditambah teriakan-teriakan yang sangat menakutkan membuat nyali Ranti semakin ciut.


Akhirnya babi hutan itu berjalan menuju ke arah bawah, di mana Di situ hanya ada satu jalan yang di tengahnya ada galian tanah yang sudah disamarkan sedemikian rupa oleh Bah Turo, hingga akhirnya.


Bruuuuuk!


Dalam keketiran itu, terdengar suara yang berteriak. "Hore......! Dapat Abah! babinya dapat Abah....! dapat....! dapat....!" teriak Karmin sambil berjingkrak-jingkrak layaknya anak kecil mendapat layang-layang.


"Tutup pakai bambu! jangan sampai babi itu lolos," jawab Bah Turo sambil mengambil beberapa bambu, untuk menutup galian tanah yang terbuka, yang di dalamnya Ranti sudah tertahan tak bisa keluar. sedangkan Karmin dengan cepat dia pun mengambil bambu penutup yang sudah disediakan. kedua orang itu terus bekerja sama mengamankan hasil buruannya, hingga akhirnya mereka bisa menutup lubang galian itu, dengan bambu yang sudah diikatan yang sangat kuat, karena mereka menahan bambu penutup itu dengan bambu yang lain yang ditancapkan.


Setelah dirasa aman, Mereka pun melepaskan satu bambu penutup, ingin melihat apa yang sebenarnya mereka tangkap. Apakah benar itu babi atau hewan yang lain, namun sayang ketika bambu itu terbuka, di dalam galian tidak terlihat, karena waktu itu masih pagi apalagi di lembah  banyak pohon-pohon tinggi, sehingga sinar mentari belum masuk ke dalam, ditambah galiannya lumayan dalam.


"Babi atau apa ya Bah?" tanya Karmin yang tidak bisa melihat ke dalam galian.

__ADS_1


"Jang Karmin, tadi yang bertemu Jang Karmin apa?"


"Dari bayangannya, itu babi Bah! apalagi kalau mendengar bentakannya saya sangat yakin bahwa itu babi. tapi yang kita takutkan, yang masuk Itu bukan babi, melainkan Kijang atau musang."


"Hahaha...!"


"Lah! Kenapa Abah malah tertawa?"


"Masa iya kalau musang sampai suaranya seperti itu. Gak mungkin terdengar suara yang sangat nyaring ketika yang jatuh itu adalah musang. sudah jangan banyak berbicara kemana-mana. Tolong jang karmin ambilkan bambu, abah mau membuat tali!" ujar Mbah Turo sambil menunjuk ke arah bambu yang kemarin sudah dia siapkan, dia ingin membuat ikatan dari bambu tali.


Karmin tidak menunggu lama, dia pun dengan cepat mengambil bambu yang ditunjuk oleh Mbah Turo, kemudian diserahkan kepada orang yang meminta. setelah itu Mbah Turo mulai membelah bambu itu menjadi beberapa bagian, setelah terbelah Mbah Turo mulai mengiris tipis-tipis. tak sampai di situ setelah mendapat beberapa irisan, agar talinya lebih kuat dia pun mulai menyatukan beberapa lalu diputarkan.


Sedangkan Karmin melihat Mbah Turo yang sedang sibuk, Dia tidak membuang waktu. dengan cepat Dia mendekati ke arah rumpun bambu untuk mencari pikulan, karena mereka ingin babi itu bisa dibawa hari itu juga, agar cepat menjadi uang.


Kedua orang itu terus bekerja dengan giat, tanpa ada yang menemani. karena mereka memang ingin bekerja seperti itu, agar hasilnya tidak harus dibagi-bagi dengan orang lain, agar hasil yang mereka dapat sangat melimpah.


Semakin lama, waktu pun semakin siang, hingga akhirnya sayap-sayap malam pun tertutup digantikan oleh sayap siang yang sebentar lagi terbuka. diawali dengan keluarnya Sinar kuning keemasan dari upuk Timur, cahayanya menyinari awan-awan tipis yang berada di atas langit, membuat keadaan di tempat Mbah Turo, terlihat mulai terang layaknya ketika Senja waktu sore.


Burung-burung semakin banyak yang berkicau, sambil loncat-loncat di ranting pohon. suaranya Terdengar sangat berbeda, mungkin  burung-burung sedang itu ikut merasa sedih dengan keadaan Ranti yang sudah tertangkap, Sebentar lagi mungkin akan dibawa ke kampung. air embun yang tertahan di ujung-ujung dedaunan, terlihat seperti air mata alam yang ikut merasakan hancurnya hati Ranti sekarang.


Crit! Crit! Crit!

__ADS_1


Suara burung kecil yang loncat dari tangkai satu ke tangkai yang lain, membuat air embun berjatuhan menimpa daun-daun yang lain, seperti air mata Ranti yang terus membasahi pipinya.


"Sudah siang Bah! tuh lihat dari ufuk timur matahari sebentar lagi akan menampakan diri," ujar Karmin sambil menunjuk ke arah terbitnya matahari, terlihatlah pemandangan yang sangat sangat luar biasa indah, hamparan sawah yang sedang hijau sangat memanjakan mata, di selimuti oleh embun pagi bak awan tipis yang sedang dihamparkan.


__ADS_2