Babi Beranting

Babi Beranting
36. biang kerok


__ADS_3

"Merugikan Bagaimana Kang Sarman?" tanya Pak RT sambil mengerutkan dahi tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh warganya.


"Ya rugi! karena dia sudah menjadi pengabdi siluman."


"Menurut sepengetahuan saya! Mbah Abun tidak merugikan siapapun. yang ada Mbah Abun menolong para warga dengan memberikan pekerjaan. Sudahlah Mang Sarman jangan terlalu memikirkan urusan orang lain. Mang Sarman fokus saja dengan urusan keluarga Mang Sarman sendiri. Saya pamit dulu!" jawab Pak RT yang meninggalkan Sarman yang masih terbakar emosi.


Melihat dia ditinggalkan seperti itu, dengan cepat dia pun mengambil batu sebesar kepala manusia, lalu tanpa berbasa-basi Sarman pun melempar Saung Bah Abun dengan batu. sehingga atap genteng Saung itu jebol seketika. benar apa yang dikatakan oleh Abu Yayah, Ketika orang membenci sama orang lain. jangankan melihat orangnya, melihat Bendanya pun dia akan sangat kesal."


Sedangkan orang yang memiliki Saung itu, dia baru sampai ke rumah. terlihat Ranti dan istrinya masih mengobrol.


"Kurang ajar si Sarman!"  ujar Bah Abun tiba-tiba sambil mendudukkan tubuh di lobang pintu. Membuat anak dan istrinya saling menatap heran karena melihat Mbah Abun marah-marah.


"Ada Apa sih, abah! datang-datang marah-marah." tanya Ambu yayah. sedangkan Ranti yang mengetahui Ayahnya baru datang, dengan cepat mendekatkan teko berisi air serta cemilan yang dibeli dari kota.


"Yah! daripada marah-marah, mending minum." ujar Ranti membenarkan pendapat ibunya.


"Abah sangat kesal ambu! karena tadi si Sarman menjelek-jelekkan keluarga kita. bahkan Dia mengancam agar anak kita tidak berdekat-dekat sama Jang Galih." cerita Mbah Abun setelah meminum beberapa teguk air yang dituangkan oleh Ranti. Mungkin dia sudah merasa sedikit tenang.


"Kok bisa, baru saja Ranti cerita. tadi anaknya yang bernama Mita dia mencegat Ranti agar tidak mendekati Galih." jawab Ambo yayah.


"Terus?" tanya Mbah Abun yang mengurutkan dahi.


Abu Yayah pun menceritakan pengalaman yang baru saja dialami oleh Ranti, membuat Mbah Abun Sedikit mulai paham kenapa Sarman Semarah itu. Mbah Abun berpendapat mungkin Sarman melakukan itu karena terpancing oleh aduan anaknya.


"Iya ada aja ya gangguan dalam usaha itu." gumam Mbah abun sambil menghela napas kasar.


"Biarkan saja abah! sudah biasa kan, ketika kita sukses banyak orang yang iri. dulu juga seperti itu, Jadi kita jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting!" nasehat Ambu Yayah.


"Iya Biarkan saja. dan kamu Ranti kamu jangan takut sama mereka. Kita Lawan bersama-sama, karena tidak akan ada yang membela harkat martabat keluarga, kecuali kita sendiri." nasehat Mbah Abun menambah nasehat istrinya.


*****

__ADS_1


Hari-hari berikutnya, hubungan Ranti Dan Galih semakin terlihat mendekat. membuat Mita semakin uring-uringan. pernah beberapa kali Sarman mengingatkan Ranti, namun Ranti seolah tidak menggubris apa yang diancamkan oleh Sarman. sehingga satu ketika waktu sore, di kantor kelompok usaha di dekat rumah Zuhri. di halaman kantor itu terlihat ada beberapa orang yang sedang menganyam sambil menikmati senja. Kebetulan sore itu Suasananya sangat cerah sehingga sore itu terlihat indah. sedangkan di teras kantor, Daus dan Ranti yang duduk berdampingan. sedangkan Galih berada di samping Daus dan bukan hanya mereka bertiga saja, namun ada beberapa pemuda yang lainnya, yang sama-sama sedang menikmati senja layaknya remaja-remaja Kampung lainnya.


"Coba kalau setiap sore kita bisa bekerja seperti ini, mungkin Kampung kita akan terlihat sangat hidup." jelas Galih sambil menatap para orang tua yang sedang menganyam.


"Bener Gal! namun sayang warga kampung kita yang sebagian besar harus mengurus sawah, sehingga waktu-waktu luang hanya beberapa saat, setelah pekerjaan di sawah selesai." jawab Daus.


"Semoga aja usaha kita terus berjalan lancar! agar Kampung kita selalu hidup seperti ini." doa Galih.


"Amin!"


Sedang asyik mengobrol. Dari kejauhan terlihat ada seorang gadis yang seusia dengan mereka, sedang berjalan mendekati area kantor kelompok kerajinan anyaman. setelah dekat terlihat jelas bahwa Gadis itu adalah Mita kekasih Galih.


"Istrinya ngejemput tuh Kang!" ujar Daus sambil memberikan kode dengan sudut matanya.


"Iya mau ngapain ya?" tanya Galih yang terlihat cuek.


"Pantas kamu aku cari ke rumah tidak ada. Ternyata kamu di sini, dengan anak siluman babi." ujar Mita tiba-tiba seperti itu membuat semua pandangan orang-orang yang berada di situ menatap ke arahnya.


"Lagian kamu kenapa masih mau bergabung dengan wanita siluman babi, padahal aku sudah memberitahu kamu jangan dekat-dekat dengan wanita siluman ini." ujar Mita meluapkan kekesalannya.


"Bergabung gimana? Apa Mita nggak melihat kita lagi ngapain. Aku dan Ranti tidak ngobrol berduaan, kita ngobrol berjauhan, lagian ngobrolnya juga bersama-sama, dengan yang lain."


"Pokoknya Mita nggak mau tahu, sekarang Akang mengundurkan diri jadi ketua kelompok titik!"


Mendengar ucapan mita seperti itu, orang-orang yang di halaman kantor terlihat Acuh. tidak mau mencampuri urusan mereka berdua. namun yang membuat Mita semakin kesal karena Galih pun ikut mengacuhkannya.


"Heh siluman babi, kamu nggak kerja mencari talas gitu?" mendapat tidak ada respon dengan cepat Mita mengarahkan serangan ke arah Ranti.


"Sudah jangan didengarkan wanita bermulut sampah seperti mita." ujar Daus berbisik menenangkan membela wanita pujaannya.


Mendengar peringatan Daus Ranti pun mengangguk, kemudian dengan cieuk dia mengobrol kembali dengan Daus dan semua orang yang ada di situ.

__ADS_1


Mita yang merasa diacuhkan, membuat amarahnya terpancing. dengan cepat dia pun mengambil balok kayu yang biasa digunakan sebagai tatakan pemotongan anyaman, ketika mau di wnngku. Tanpa berpikir panjang Mita melemparkan balok kayu itu, ke arah Ranti membuat semua orang yang berada di situ berteriak memperingatkan Ranti.


Bugh!


"Hemmmmmmmppp!" desis Galih tertahan. Karena ketika tadi Mita melemparkan balok kayu, dengan cepat Galih menahan Balok itu dengan tubuhnya. untuk melindungi Ranti dari serangan kekasihnya.


Melihat Pujaan hatinya tersungkur, dengan cepat mita pun menghampiri. "Maafkan aku! lagian Kenapa Akang menghalangi." ujar Mita sambil hendak memegang tangan Galih, namun dengan cepat Galih menepis tangan Mita.


"Kamu kelewatan Mita!" ujar Galih sambil menatap penuh amarah ke arah kekasihnya.


"Maafkan aku! aku nggak sengaja." ujar Mita yang salah tingkah. Dia tidak menyangka kejadiannya akan seperti itu.


dengan dibantu oleh Daus Galih pun berdiri kemudian didudukkan kembali di teras.


Melihat kekasihnya yang kesakitan mita pun hendak membantu Galih, namun dengan membulatkan mata Galih pun menolak bantuan itu.


"Kelakuanmu sudah kelewatan, maaf kalau akang tidak bisa meneruskan hubungan dengan wanita yang keras kepala seperti kamu. wanita yang tidak memiliki etika! wanita yang tidak memiliki rasa kemanusiaan, wanita yang tega mencelakai orang lain." ujar Galih dengan tegas.


"Maksudnya?" Ujar Mita seolah tidak paham.


"Sekarang kita putus! kita sudah nggak ada hubungan lagi. maaf Akang tidak bisa menepati janji Akang untuk menikah dengan kamu."


Mendengar penuturan Galih seperti itu, membuat Mita merasa disambar petir di tengah hari bolong. dia tidak menyangka dengan kecerobohannya bisa seperti itu. "Maafkan aku Kang! Lagian aku nggak sengaja." Rengek Mita memohon.


"Tolong bawa aku ke dalam!" Pinta Galih kepada Daus dan teman-teman yang lainnya. sehingga mereka pun membopong tubuh Galih masuk ke dalam ruangan. namun ketika Mita mau masuk. teman-teman Galih menolak dan mengusir Mita agar pulang ke rumahnya.


Mendapat pengusiran seperti itu. Mita seperti biasa dia berlari sambil menangis pulang ke rumahnya. bak anak kecil yang tidak diajak main oleh teman-teman seusianya.


"Hati-hati Kang nanti Bapaknya datang." Ingat seorang temannya karena mungkin dia sudah paham betul dengan keluarga Mita.


"Iya pasti!" jawab Galih setelah menghabiskan minum yang diberikan oleh Ranti. Wanita itu merasa bersalah karena Galih seperti ini gara-gara menyelamatkannya. namun Walau begitu, dia semakin mengagumi pria yang sedang meringis menahan sakit. Karena pria itu berani berkorban untuk menyelamatkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2