
"Apa Ambu bilang, bambu Tamiang sudah terbelah?" tanya Mbah Abun sambil membulatkan mata, seolah tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh istrinya.
"Iya Abah! bambu Tamiyangnya sudah terbuka." Jawab Abu Yayah sambil memberikan bambu, pembungkus baju jimat ke arah suaminya.
"Celaka!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Mbah Abun, matanya menatap nanar ke arah bambu yang ada di tangannya, yang sudah terbelah menjadi dua.
"Celaka Bagaimana Abah?" tanya Ambu Yayah yang belum paham.
"Pasti ada orang yang sudah memakai baju Jimat itu, tapi entah siapa yang memakai, maling apa anak kita?"
"Apaaaa! Rantiiiiii!" jerit Abu Yayah memanggil anaknya, setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. dia baru sadar, kalau anaknya menjadi korban keteledoran suaminya. terlihat dari sudut mata yang sudah keriput, keluar cairan bening yang mencucur membasahi pipi.
"Udah jangan nangis! itu kan baru perkiraan ambu." jawab mbah Abun yang menegarkan dirinya, membuang prasangka-prasangka buruk.
"Gimana gak nangis Abah? Ranti anak kita satu-satunya sekarang sudah hilang. mana mungkin maling itu mengambil baju jimat. Ini semua gara-gara Abah, yang mengambil Jalan salah." desak Abu Yayah menyalahkan suaminya.
"Salah Abah bagaimana! anak kitanya aja yang bandel, yang tidak nurut sama perintah orang tua. kalau dia nurut kejadiannya nggak akan seperti ini." jawab Bah Abun yang tidak mau disalahkan.
"Assalamualaikum Abah! Assalamualaikum!" Ketika mereka sedang berebut pendapat, terdengar dari arah depan ada orang yang mengucapkan salam.
Mbah Abun dan Abu Yayah menghentikan perdebatan itu, lalu mengusap cairan bening yang membasahi pipi ambu Yayah. kemudian merapikan baju, lalu keluar menemui orang yang hendak bertamu.
"Eh ada Jang Zuhri, Ada apa Jang? masuk!" sambut Mbah Abun yang tetap ramah menyembunyikan kesedihannya.
"Terima kasih Abah!" jawab Zuhri sambil masuk ke ruang tamu, kemudian mereka bertiga pun duduk. "bagaimana ada yang hilang nggak bah?" tanya Zuhri setelah duduk.
"Barang-barang berharga Abah nggak ada yang hilang. namun Ranti anak Abah yang hilang! Oh iya Ujang ke sini mau apa?" jawab Bah Abun sambil bertanya.
"Tadi saya lupa menyerahkan kunci rumah abah. karena kemarin saya mengunci rumah abah dari luar, takut Abah nggak bisa masuk!" jawab Juhri menjelaskan kedatangannya kemudian dia menyerahkan kunci yang dibawa.
"Terima kasih Jang! tapi bagaimana anak Abah? apa Ujang benar-benar gak tahu, kejadian yang sebenarnya seperti apa?" tanya Mbah Abun sambil menatap sayu ke arah tamunya.
Ditanya seperti itu zuhri hanya menghela nafas pelan, kemudian membuangnya. Zuhri terlihat enggan menyampaikan kejadian yang terjadi. "begini Bah!"
"Ya Jang! bagaimana?" jawab Mbah Abun yang terlihat nggak sabar.
"Mohon maaf kalau kehilangan Ranti Saya benar-benar tidak tahu. namun kemarin sore, ada kejadian yang sangat aneh, yang luar biasa, yang mengganggu pikiran saya."
__ADS_1
"Kejadian aneh seperti apa?"
"Kemarin sore, Ketika saya lagi diam di rumah. terdengar teriakan Daus yang meminta tolong, karena dia bertemu babi di tengah jalan. itu bukannya aneh kan Bah? Karena Biasanya kalau babi, mereka berjalan bersembunyi-sembunyi melalui semak-semak, menghindari kontak langsung dengan manusia." jelas Zuhri mengungkapkan penemuannya.
Mendengar penjelasan Zuhri seperti itu, sekarang giliran Mbah Abun dan Abu yayah yang menarik napas. mereka semakin yakin bahwa rantilah yang memakai baju jimat milik Mbah abun.
"Kenapa diam Mbah?"
"Nggak apa-apa Jang! Abah juga heran kalau ada babi seperti itu?"
"Terus bagaimana cara mencari Ranti sekarang, karena kalau dibiarkan kasihan Mbah!" jawab Zuhri.
"Bentar! Abah mikir dulu jang." ujar Bah Abun sambil terdiam sesaat, menimbang dan menerka-nerka kejadian yang terjadi, yang menimpa anaknya.
"Ujang, Abah Boleh minta tolong nggak?" ujar Bah Abun setelah terdiam agak lama.
"Minta tolong Bagaimana bah?"
"Ujang harus membantu Abah! untuk mencari babi hutan yang memiliki anting di telinganya."
"Pokoknya Ujang jangan banyak nanya. kalau Ujang mau membantu Abah. kalau Ujang merasa kasihan sama abah. Tolong bantu Abah mencari babi hutan yang memiliki anting di telinganya." jelas Mbah Abun.
Mendengar penjelasan Mbah Abun, Zuhri pun hanya diam sebentar. Dia sudah bisa menerka ke arah mana pembicaraan tuan rumah, dia sudah menebak bahwa Bah Abun punya jalan lain dalam kehidupannya.
"Bagaimana bisa Jang?" tanya Mbah abun karena tidak mendapat jawaban dari Zuhri.
"Insya Allah bisa Bah! namun Ke mana saya harus mencari?"
"Itu terserah Ujang, kalau Ujang Mau membantu, Abah akan sangat berterima kasih."
Mendengar penjelasan Mbah Abun, Zuhri kembali terdiam, berpikir. karena jangankan mencari babi yang beranting, mencari babi biasa aja, dia tidak bisa menangkap. karena kampung Ciandam sudah sering dijarah oleh babi, namun sampai sekarang belum ada satu babi pun yang bisa ditangkap.
"Ya sudah! nanti saya bantu cari, namun Saya akan meminta bantuan orang lain bah." Ujar Zuhri memberi keputusan.
"Bantuan siapa jang?"
"Mungkin Galih atau Daus, agar pencariannya semakin cepat."
__ADS_1
"Ya itu terserah Ujang! yang terpenting sekarang babi yang beranting harus dibawa ke hadapan abah, nanti Abah juga tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Ujang. Abah bukan orang yang tidak tahu berterima kasih."
"Baik Bah! kalau begitu."
Akhirnya mereka bertiga pun terus mengobrol sebentar, membahas tentang ciri-ciri babi hutan yang harus ditangkap oleh Zuhri. setelah selesai membahas Zuhri pun berpamitan hendak menemui Galih dan Daus.
Dari arah kebun belakang, terdengar suara burung-burung yang berkicau seperti sedang merasakan kebahagiaan karena hari itu sangat cerah. berbeda dengan Mbah Abun dan Abu Yayah Yang masih terdiam di ruang tamu, setelah ditinggal oleh Zuhri.
Mereka terlarut dalam lamunannya masing-masing, menerka-nerka Apa yang sedang dilakukan oleh anaknya, yang sudah berubah wujud menjadi babi hutan. semenjak mendengar keterangan Zuhri mereka sangat yakin bahwa Ranti menghilang dengan keadaan tidak wajar. anak semata wayangnya itu hilang, dengan berubah dirinya menjadi babi hutan.
Istri dan suaminya mereka saling terdiam, memikirkan Bagaimana cara mencari anaknya. perasaan mereka semakin kalut, bingung yang tidak ada Ujung, tersiksa dengan masalah yang sangat berat.
"Ini semua salah Abah, yang tidak bisa menyimpan barang dengan hati-hati. kalau udah seperti ini, kita harus bagaimana? kita harus mencari anak kita kemana? kita akan susah menemukannya karena kita bukan mencari Ranti yang berbentuk manusia, tapi kita mencari Ranti yang berbentuk babi hutan." ujar Ambu Yayah setelah terdiam agak lama, dia menyalahkan keteledoran suaminya.
"Bentar! bentar! Jangan menyalahkan Abah terus." Jawab Bah Abun yang menyanggah.
"Terus harus menyalahkan Siapa lagi, kalau bukan Abah."
"Abah sudah bilang beberapa kali sama anak kita. namun anaknya saja yang tidak menurut dengan perkataan orang tuanya. anaknya yang bandel! jadi Ambu tidak boleh menyalahkan Abah. ini semua gara-gara kesalahan Ranti yang tidak pernah patuh dengan perintah orang tuanya."
"Kalau tidak dilarang, mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini kali bah."
"Apalagi kalau tidak dilarang, mungkin lebih dari ini. dilarang aja dia berani membantah, Apalagi kalau tidak dilarang." jawab Bah Abun yang tidak mau disalahkan, dia tetap kekeh menyalahkan Ranti.
"Terus kalau kejadiannya seperti ini, siapa yang mau bertanggung jawab?"
"Udah jangan banyak pikiran! Abah yang akan bertanggung jawab. karena walau bagaimanapun Ranti adalah anak Abah, anak kita. Anak yang harus kita bela, karena tidak akan ada orang yang mau membela anak selain orang tuanya."
"Ya sudah kalau seperti itu! sana Abah cari anak kita sampai ketemu. Ambu tidak akan merasa nyaman, walaupun kehidupan kita bergelimang dengan harta, kalau anak yang kita sayangi tidak ada di sini."
"Ya sudah Ambu jangan banyak pikiran! Serahkan semuanya sama abah."
Ambu yayah yang berlinang air mata, dia tidak kuat melanjutkan pembicaraan. dia bangkit dari tempat duduknya kemudian masuk ke kamar, langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Dipikir-pikir makin terpikir, dirasa-rasa makin terasa. terbayang anaknya yang cuma satu-satunya, sedang seradak seruduk mencari makan di atas semak belukar. membuat hati orang tua itu merasa sakit yang teramat dalam, kalau tidak kuat Mungkin dia akan pingsan.
"Akh!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Ambu Yayah, kemudian diikuti dengan tangisan kesedihan, tangisan seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
__ADS_1