
Sore itu, matahari terlihat masih menunjukkan dirinya, namun panasnya tidak seterik tadi siang. sekarang panasnya mulai menurun, Sehingga membuat kedua orang yang sedang mengobrol terlihat sangat menikmati, karena yang diobrolkan mereka adalah tentang percintaan. meski obrolan itu lintas generasi. yang satu terlihat sudah tua, dengan berbagai kerutan di wajahnya. sedangkan kawan bicaranya, terlihat masih muda. selain muda, dia pun memiliki kulit putih bersih, berperawakan tinggi dengan pakaian yang necis.
"Kenapa saya harus mengikat hati Ranti, dengan datang ke Umi Erot.sedangkan rantinya saja belum ketahuan rimbanya ada di mana?" tanya Daus setelah mendengar penjelasan aki Makmun.
"Ikat dulu aja Jang! walaupun di manapun orangnya berada, namun ketika Hatinya sudah diikat, maka hati itu akan terus terfokus memikirkan Ujang." kompor aki Makmun terus dinyalakan.
"Benar! benar! kayaknya saya harus mengikuti saran aki."
"Iya Ujang harus mengikuti orang yang lebih dulu lahir ke dunia ini, karena pengalaman kita akan sangat jauh berbeda."
"Ya sudah, kalau seperti itu. saya mohon pamit dulu aki. Saya mau ke Sukaraja. Oh iya, ngomong-ngomong nama Aki Siapa, biar nanti ketika saya sudah mau menikah dengan Ranti, aki bisa saya undang ke pernikahan itu."
"Aki, namanya aki Makmun. orang-orang di Ciaul sudah mengenal nama itu, karena aki adalah Veteran pemburu babi hutan, jadi kalau Ujang bertanya nama aki, maka orang-orang akan cepat menunjukkan rumah aki."
"Terima kasih aki Makmun. Terima kasih banyak atas sarannya. kalau seperti itu saya mohon pamit." ujar Daus sambil merogoh sakunya, kemudian dia mengeluarkan uang sebesar Rp500 lalu menyerahkan ke Aki Makmun.
"Apa-apaan ini Jang?" tolak aki Makmun.
"Buat beli tembakau Ki! Maaf gak bisa ngasih besar, soalnya saya juga masih butuh."
"Kalau masih butuh, Ya sudah jangan dikasih sama aki."
"Nggak apa-apa Aki, nggak apa-apa. saya masih memiliki uang kok!" paksa Daus.
"Ya sudah kalau seperti itu, Terima kasih atas pemberian Ujang semoga diganti dengan yang berlipat ganda dan Ujang bisa berhasil dengan cepat menemukan gadis yang bernama Ranti." ujar aki Makmun sambil mengambil uang pemberian Daus.
Setelah uang itu diterima, Daus pun mengambil tangan aki Makmun kemudian mencium punggung tangan yang sudah mengerut. Lalu dia pun pergi meninggalkan tempat pembicaraan. sedangkan aki Makmun dia hanya menggeleng-geleng kepala, sambil tersenyum melihat kejadian-kejadian yang hari ini dialami. kejadian-kejadian yang menggelitik hatinya, di mana ada dua anak muda yang sedang bersaing memperebutkan cinta mereka. namun dia terdiam tidak lama, dia pun melanjutkan tujuannya yang mau menuju ke sawah, untuk membenarkan airnya, dengan membawa hati yang sangat bahagia. karena hari itu dia mendapatkan rezeki yang lumayan banyak, rezeki untuk memenuhi kebutuhannya beberapa hari kedepan.
Sedangkan Daus terus berjalan menyusuri Jalan Setapak. matahari yang sudah mulai mau bersembunyi ke belakang pegunungan, menyemburkan cahaya kuning keemasan. membuat siapa saja akan senang menikmati senja itu. burung-burung saling mengejar sambil terus bercengkrama dengan burung-burung lainnya. Suara tonggeret pun tidak ketinggalan untuk menambah suasana Asri di perkampungan.
"Kang Galih.....! Kang Galih.....! ternyata Akang memiliki hati busuk seperti itu. kirain saya akang benar-benar sudah menyerahkan Ranti seutuhnya buat saya. ternyata Akang masih memiliki rasa sama Ranti." gumam Daus sambil terus berjalan.
__ADS_1
Daus terus berjalan, hingga akhirnya dia sampai di warung pertigaan, antara Kampung sukaraja dan Kampung Setu, warung itu adalah Warung Salamah. dengan cepat Daus pun masuk ke dalam, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas bangku panjang yang tersedia di warung itu.
Di dalam warung terlihat sepi, namun dari arah belakang warung terdengar suara piring dan sendok yang saling beradu, Mungkin orang yang memiliki warung sedang mencuci perabotannya.
Tak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki yang menuju ke arah depan warung. terlihat ibu-ibu yang membawa perabotan dapur yang sudah bersih habis dicuci. "eh, ada tamu?" ujar Salamah sambil tersenyum seperti pelayan pelayan warung besar di kota.
"Iya Bi! numpang istirahat, mau jajan saya belum berani, karena tidak ada yang menjaga."
"Di sini mah, bebas Ujang. kalau mau makan ngambil aja sendiri, namun harus bayar ya! hehehe," ujar Salamah kemudian dia masuk ke dalam warung, untuk menyimpan terlebih dahulu perabotan yang baru saja ia cuci. setelah selesai menyimpan perabotannya dia pun keluar kembali. karena begitulah kebiasaan tukang warung mereka akan mengobrol dengan orang-orang yang jajan di warungnya. mencari tahu tentang berita terhangat, makanya zaman itu tukang warung selain menjual makanan, mereka juga menjual berita terupdate.
Sedangkan Daus setelah yang punya warung masuk ke dalam, dia tidak buru-buru mengambil makanan dia masih terbayang ceritaan ceritaan aki Makmun, yang masih mengganggu pikirannya. matanya terus menatap ke arah bawah, ke arah lembah di mana Atap atap rumah tersusun dengan rapi, di area bawahnya lagi terlihat sawah yang membentang seluas mata memandang, di tengah sawah ada aliran sungai yang berliuk-liuk seperti ular yang sedang mencari mangsa.
"Duh! makin bagus aja perkampungan Sukaraja. kayaknya kalau aku mendapatkan istri orang sini, rasanya akan betah. Namun sayang aku tidak akan pindah ke lain hati, karena hatiku sudah terisi oleh Ranti. menyesal dulu tidak cepat-cepat mengungkapkan rasa itu, sehingga sekarang aku memiliki saingan yang sangat berat, untuk mendapatkan anaknya Mbah Abun. sial..... sial.... lagian kang Galih Kenapa dia mengaku-ngaku bahwa Ranti itu adalah kekasihnya, Padahal dia sudah jelas jelas menyerahkan seutuhnya Ranti untukku." gumam hati Daus sambil terus menatap ke arah perkampungan Sukaraja.
"Hei, Jang! Jang! Jangan ngelamun terus. Ujang Mau ke mana, Kok sore-sore seperti ini, Ujang masih ada di sini?" ujar Salamah mengagetkan orang yang sedang hanyut dalam pemikirannya.
"Eeeeuuuhh! Eeeeuuuuu, eeeeeum! Mau ke kampung Sukaraja bi!" jawab Daus yang tergagap karena merasa kaget ditanya seperti itu.
"Mau ke umi Erot Bi! kira-kira rumahnya sebelah mana yah?"
"Loh! loh! loh! kok seperti itu? Ujang itu tampangnya sangat gagah, bentuk tubuh sangat ideal. wanita mana yang berani menolak cinta Ujang. menurut Bibi Ujang tidak pantas menemui Umi Erot, karena pria setampan dan segagah Ujang. ketika mau mencari seorang perempuan, Ujang tinggal tunjuk tinggal pilih perempuan seperti apa yang Ujang Mau. maka perempuan itu akan klepek-klepek jatuh di pelukan ujang."
"Bentar! bentar Bi. kok Bibi bicaranya seperti itu? Emang kenapa Bi." tanya Daus yang pemikirannya masih terbagi dua antara mengobrol dengan salamah dan memikirkan tentang saingannya.
"Benar Ujang! Ujang nggak pantas untuk datang ke rumah Umi Erot. karena melihat postur tubuh ujang yang sangat tegap, dengan paras yang sangat tampan. sehingga perempuan akan banyak yang mengantri untuk mendapatkan cinta Ujang. kenapa sekarang Ujang menemui umi Erot. apa beliau saudara atau bagaimana?" tanya Salamah yang sudah tahu pekerjaan tetangganya itu yang seorang tukang pelet.
"Bentar! bentar Bi! saya masih belum mengerti dengan apa yang bibi sampaikan, maksudnya apa yah?"
"Sudahlah Ujang jujur Saja. Bibi sudah sering menemukan pria atau laki-laki seperti Ujang. laki-laki yang mau menemui Umi Erot, mereka semua ingin meminta bantuannya untuk memelet hati Pujaan hatinya. Umi Erot sering dimintai tolong oleh para pria yang patah hati, diantaranya Jang cucu, Jang jaji, Jang Wanda, Jang Ali dan Jang Jang lainnya. termasuk Ujang sendiri kan?"
"Hehehe, eeeeuuuuuu! Eeeeeeeuuuuuh. Iya Bi!" jawab Daus yang terlihat Gagap, dia merasa malu karena tujuannya sudah bisa dibaca oleh Salamah.
__ADS_1
"Iya makanya Bibi heran, masa ada lelaki segagah Ujang ditolak oleh seorang perempuan. harusnya perempuan itu mengantri meminta tanda tangan di buku nikah mereka."
"Oh begitu, kalau begitu saya mengerti Bi. hehehe, namun namanya juga manusia Bi. setiap orang akan memiliki masalahnya masing-masing. sekarang saya lagi bersedih hati, bersusah rasa. karena kekasih saya yang hanya satu-satunya, Sekarang dia direbut oleh pria lain. makanya saya memutuskan untuk mendatangi Umi Erot, untuk meminta bantuannya. Siapa tahu saja beliau bisa membantu kesusahan saya."
"Oh begitu, Kasihan amat Jang! Kenapa kok bisa kekasihnya direbut orang lain. Terus siapa orang yang berani merebutnya. Apakah pria itu setampan Ujang, atau segagah Ujang, atau lebih tinggi dari Ujang."
"Sedih Bi! susah kalau diceritakan. karena orang yang merebut kekasih saya itu, adalah orang yang sehari-hari selalu berjalan beriringan, sehari-hari selalu bekerja bersama. dia adalah sahabat saya, sahabat yang terus beriringan. bahkan makanan aja sering dibagi dua. Namun sayang sekarang Dia berbuat tega seperti itu. dia tega menyakiti hati sahabatnya sendiri, dengan cara merebut kekasihnya. padahal masih banyak perempuan-perempuan lain yang bisa dia nikahi."
Mendengar cerita Daus seperti itu membuat Salamah mengangguk-ngangguk, dia mulai mengerti dengan apa yang sedang dihadapi oleh Daus.
"Kalau permasalahannya seperti itu, Ujang harus cepat-cepat mendatangi Umi Erot. agar wanita yang Ujang sudah miliki, tidak pindah ke lain hati. namun sebelum menemui Umi Erot, Ujang harus terlebih dahulu mempersiapkan syarat-syaratnya."
"Syarat-syarat Apa itu Bi?"
"Syarat yang harus Ujang siapkan. mulai dari daun sirih hitam seikat, menyan sebesar kepalan monyet, minyak wangi, pisang emas atau cengkir kelapa merah."
"Aduh banyak juga yah syaratnya. Kalau sudah sore seperti ini, saya harus mencari kemana ya Bi?"
"Jangan bingung, jangan resah. karena semuan syarat-syarat itu sudah ada di bibi, Ujang tinggal membayarnya!"
"Beneran Bi?"
"Benar Ujang! Bibi gak akan bohong." ujar Salamah sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke warung lalu membawa benda-benda yang tadi dia Sebutkan.
"Apa benar ini syaratnya Bi?" tanya Daus seolah meragukan apa yang disampaikan oleh Salamah.
"Iya bener jang! Ujang jangan takut ditipu. karena Bibi sudah bertahun-tahun berjualan di sini, daripada nanti Ujang harus repot-repot mencari kemana-mana akan susah. karena kalau malam Bibi tidak tidur di sini, Bibi tidur di rumah. Dan kalau benda-benda yang bibi sebutkan tadi tidak terpakai, Ujang boleh bawa lagi ke sini. nanti Bibi kembalikan uangnya." ujar Salamah yang paham Ke mana arah tujuan pembicaraan Daus.
"Aduh.....! Terima kasih banyak Bi. Terima kasih. namun saya lihat ini cuma ada dua syarat, hanya ada menyan putih sama minyak wangi."
"Kalau untuk siri hitam, tuh ambil di sebelah timur kebetulan sirih itu tumbuh di dekat pohon kelapa merah. ujang bisa sekalian mengambil kelapanya, karena kalau Bibi yang mengambil, Bibi tidak bisa memanjat."
__ADS_1