
Setelah melaksanakan salat Isya, semua warga yang tergabung dalam kelompok kerajinan anyaman sudah berkumpul di majlis, terlihat ada salah satu orang yang bukan anggota kelompok, ikut diundang di acara malam itu.
"Mbah Abun sudah dikasih tahu Gal?" tanya Pak RT sambil menatap ke arah Galih.
"Udah Pak! Mungkin sebentar lagi beliau akan datang." jawab Galih.
"Kirain enggak diundang?"
"Diundang pak! semua orang yang Bapak sarankan untuk diundang, saya undang."
"Bagus kalau seperti itu."
Akhirnya para anggota kelompok itu mengobrol sebelum acaranya dimulai, sambil menunggu warga-warga lainnya datang. tak selang berapa lama Mbah Abun diikuti oleh anaknya, menyapa mereka yang sedang berada di majelis taklim.
"Masuk bah!" ajak Pak RT setelah melihat Siapa yang datang.
"Terima kasih Jang RT ! Maaf membuat menunggu." Jawab Bah Abun sambil manggut memberi hormat. kemudian dia menyalami semua warga yang ada di situ. namun ketika dia melihat Sarman, Roman wajahnya berubah seketika, seolah tidak suka ada musuh bebuyutannya hadir dalam acaranya sendiri. Tapi itu tidak kepanjangan, karena tidak baik menunjukkan permusuhan di depan para warga. akhirnya Mbah Abun pun duduk di samping Pak RT dan Zuhri.
"Udah kumpul semuanya?" tanya Pak RT sambil membagi tatapan ke arah para warga.
"Sudah Pak! cuman satu orang yang nggak bisa hadir, Katanya nggak enak badan." jawab Hasan.
"Siapa yang sakit Kang?" tanya Galih yang belum mengetahui, karena tadi ketika mengundang para anggota kelompok Dia menyuruh orang lain.
"Pendi!" jawab Hasan memberitahu.
"Bagaimana nih Pak RT?" tanya Galih sambil menatap ke arah tetuah kampungnya.
"Gak Apa-apa! yang sakit doakan saja agar segera sembuh. kita mulai saja acara ini takut keburu malam." saran Pak RT sambil membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Baik, silakan Pak RT!" jawab Galih sambil manggut.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada para anggota kerajinan anyaman yang sudah hadir memenuhi undangan ketua kelompok kita." akhirnya pak RT pun berbasa-basi, menyampaikan maksud dan tujuan Kenapa anggota kelompok diundang untuk menghadiri acara tersebut.
"Silakan lanjutkan Jang!" Pinta Pak RT mempersilahkan Galih, untuk menyampaikan keadaan kelompok usaha anyaman.
Yang ditunjuk pun manggut, kemudian dia membagi tatap ke arah orang-orang yang menghadiri acara itu. setelah membagi tatapannya dia mulai menyampaikan tentang kelompok usaha kerajinan mereka. mulai dari penghasilan pembayaran, pengeluaran, saldo dan yang lain-lainnya. intinya mempertegas bahwa usaha kelompok mereka sangat transparan, tidak ada yang merugikan orang lain.
"Mohon maaf sama semua warga yang hadir di sini, kalau hanya untuk memamerkan tentang usaha kalian, kenapa saya diundang ke sini?" tanya Sarman setelah Galih selesai menyampaikan perkembangan kelompoknya.
"Oh maaf Kang Sarman! Akang dipanggil ke sini Sekalian saya ingin membicarakan tentang masalah Kang Sarman dengan Mbah Abun." jelas Pak RT membuat kedua orang yang disebut menatap ke arahnya.
"Masalah apa?" tanya Sarman yang merasa bingung dengan apa yang disampaikan oleh ketua kampung.
"Menurut keterangan dari para anggota kelompok. beberapa hari terakhir. akang selalu mempengaruhi mereka, agar keluar dari kelompok. saya ingin tahu, Kenapa Kang Sarman melakukan hal sejahat itu. padahal harusnya akang sebagai salah satu warga yang penghasilannya menengah ke atas, membantu kehidupan para warga bukan menjadi penyakit." tanya Pak RT membalas tatapan Sarman.
"Jangan bohong Kang! saya salah satu anggota yang akang pengaruhi. sehingga kalau saya tidak diingatkan oleh Galih, mungkin saya sudah mengikuti apa yang disarankan oleh Akang." jawab Hasan memperkuat pendapat Pak RT.
Mendapat serangan dari beberapa orang yang hadir, membuat Sarman sedikit merasa tidak enak hati. "kalau kalian mengundang saya hanya untuk disalahkan, Mohon maaf saya tidak merasa melakukan hal itu. Dan Izinkan saya agar saya pulang ke rumah." pinta Sarman sambil bangkit.
"Tunggu dulu kang Sarman! jangan kayak anak kecil seperti itu." tolak Pak RT sambil bangkit agar Sarman duduk kembali. melihat keseriusan Pak RT, Sarman pun dengan terlihat malas dia pun duduk kembali.
"Maksud saya mengundang Kang Sarman ke sini, Saya ingin menyelesaikan permasalahan yang ada di tengah warga saya. karena ketentraman Kampung ciandam adalah tanggung jawab saya." jelas Pak RT setelah melihat Salman duduk kembali.
"Masalah apa Pak RT?"
"Masalah Akang dengan Mbah Abun, menurut saya tidak baik berlarut-larut dalam permusuhan. kalian berdua sudah tua, mungkin kalau dibandingkan dengan umur saya tuaan kalianĀ Saya mohon jaga ke kondusifan kampung kita.
"Emang saya ngapain Pak RT, Kok saya harus di sidang seperti ini"
__ADS_1
"Jangan pura-pura nggak mengakui Kang Sarman. Akang mempengaruhi para anggota, tujuannya agar usaha Bah Abun bangkrut kan?" jelas Pak RT yang sebenarnya sudah tahu ke mana arah tujuan Sarman.
"Nggak Pak RT! saya nggak seperti itu." Jawab Sarman yang terus mengelak.
"Ya sudah kalau nggak mengakui. Mbah! Abah harus menyelesaikan masalah ini, karena Abah nggak akan tenang berusaha kalau masih ada permusuhan dengan tetangga." ujar Pak RT sambil menatap ke arah Bah Abun, Mungkin dia merasa menyerah ketika berbicara dengan Sarman yang keras kepala.
"Sarman! Abah minta maaf, kalau abah punya salah. kita sudahi permasalahan kita yang beberapa bulan ini menegang. kita kembali ke seperti semula, kita masing-masing dalam hidup. namun tetap saling membantu." ujar Mbah Abun yang mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Pak RT, dia berbesar hati meminta maaf terlebih dahulu kepada Sarman.
"Iya bah! saya maafkan. tapi jangan diulangi lagi ya!" jawab Sarman sambil tersenyum penuh kemenangan, membuat orang orang yang hadir mengikuti acara rapat menggeleng-gelengkan kepala, tidak paham dengan sikap Sarman.
"Yah Man!" jawab Mbak abun sambil bangkit kemudian mengulurkan tangan untuk bersalaman. dengan cepat Sarman pun menerima. namun hatinya tertawa karena sudah berhasil mempermalukan Mbah Abun.
"Nah begitu! kan terlihatnya sangat indah, kalau antara satu warga dan warga lainnya saling rukun." Puji Pak RT sambil tersenyum penuh bahagia.
"Iya Pak RT! Lagian saya juga Kalau dianya baik seperti ini saya tidak akan pernah mengusilinya. namun seperti yang kita tahu, tetangga kita ini melakukan pesugihan dengan siluman babi. jadi menurut saya Mbah Abun harus meminta maaf sama seluruh warga, karena dia sudah membuat kegaduhan dengan babi jadi-jadiannya." jawab Sarman yang membuat darah Mbah Abun mendidih, tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Sarman.
"Ya Allah! Kang Sarman! Akang nggak sadar apa Mbah Abun sudah berbesar hati meminta maaf duluan, tapi Kang Sarman masih menyalakan api permusuhan." bentak Pak RT yang merasa kesal dengan warga yang satu ini.
"Emang kenyataannya benar kan seperti itu Bun?" tanya Sarman sambil menatap ke arah Bah Abun yang sedang mengancingkan gigi. kalau tidak malu dengan anak dan warga, mungkin Mbah Abun sudah menerkam bulat-bulat tubuh Sarman.
"Kok kamu tega seperti itu man?" tanya Mbah Abun sambil menahan nafas.
"Benar-benar Kang Sarman! benar-benar tidak punya pikiran yang sehat. kalau seperti itu, Akang Jangan harap ada warga yang mau bertetangga dengan Akang." tambah Pak RT yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Nggak apa-apa! lagian Saya tidak butuh pertolongan warga-warga kampung yang dibutakan oleh harta yang didapat dari siluman. harusnya kalian berterima kasih dengan apa yang saya ucapkan, karena saya telah memberikan kebenaran."
"Ya Allah! semakin dibiarkan, Semakin menjadi. silakan Kang Sarman keluar dan jangan meminta bantuan apapun ketika ada kesulitan." Ancam pak RT yang mulai terpancing dengan sikap warganya.
"Hahaha, Siapa juga yang membutuhkan bantuan kalian. ya sudah saya pamit." ujar Sarman sambil bangkit dari tempat duduknya, tanpa menunggu jawaban para warga yang hadir. dia pun keluar dari Majelis Taklim, diantar oleh tatapan-tatapan para anggota kelompok.
__ADS_1