Babi Beranting

Babi Beranting
25. TAK MULUS


__ADS_3

"Maaf ada keperluan apa? Tumben-tumbenan kok bertamu ke rumah abah. dan perasaan kita baru kenal ya, Jang?" tanya Mbah Abun mengawali obrolan sore itu.


"Saya dari kampung situ, Bah! yang dulu pernah mengadakan pertunjukan adu babi. Saya tertarik dengan kerajinan anyaman Abah. kalau bisa saya mau memborong kerajinan itu, untuk saya jual lagi ke orang!" ujar tamunya menjelaskan kedatangannya menemui Bah Abun.


"Wah nggak ada Jang! ada juga paling 15 biji." jawab Mbah abun, yang merasa menyesal karena dia tidak membuat kerajinan anyaman itu dengan banyak.


"Nggak apa-apa, itu aja dulu bah, saya beli semuanya. coba saya lihat barangnya." Pinta tamunya.


Dengan Segera Bah Abun pun mengambil hasil kerajinan yang baru saja ia selesaikan. kemudian menyerahkannya ke pria itu. tanpa bertanya lagi, pria itu membayar sesuai dengan harga yang biasa Mbah Abun jual. setelah selesai melakukan pembayaran pria itu pun berpamitan, untuk menjual barang Bah Abun. Dan dia berjanji akan kembali lagi setelah barangnya laku terjual.


"Ambu! ambu! kita dapat rezeki nih!" Panggil Mbah Abun sama istrinya yang berada di dapur.


Yang dipanggil pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian menghampiri suami yang masih berada di ruang tamu.


"Nih uangnya!" ujar Bah Abun sambil memberikan semua uang itu kepada istrinya.


"Ini uang apa bah?" Tanya Abu Yayah yang tidak mengerti.


"Emang Abu barusan nggak tahu? ada orang yang membeli kerajinan kita?"


"Enggak, kan abu lagi di dapur, Lagian abah juga kan tadi nggak cerita."


"Ya sudah, simpan uangnya!"


Dengan roman bahagia istrinya pun mengambil uang itu  lalu memasukkannya ke dalam lipatan sarung. kemudian dia berpamitan untuk melanjutkan masak di dapur, namun sebelum dia beranjak pintu rumah mbah Abun pun ada yang mengetuk kembali.


Dengan cepat Mbah Abun membuka pintu rumahnya, terlihat ada seorang pria yang sama baru dia kenal.


"Apa benar ini Mbah Abun pembuat penanak nasi dari anyaman?" Tanya tamu itu tanpa berbasa-basi.


"Benar, Ada apa Jang?"


"Saya mau membeli semua penanak nasi yang ada sekarang!"


"Aduh Jang, telat! baru saja dibawa oleh orang situ."

__ADS_1


"Yah kok bisa telat?" ujar pria itu terlihat raut wajahnya kecewa.


"Iya Jang! Maaf banget! ya sudah, ayo masuk dulu."


"Nggak bah! saya datang ke sini cuma mau mencari penanak nasi. kira-kira kapan ada lagi?"


"Mungkin sehari atau dua harian lagi, baru ada jang!"


"Ya sudah, kalau seperti itu. saya pesan 100 biji, nih uangnya" ujar laki-laki itu sambil memberikan uang berjumlah Rp100.000.


"Nanti aja Jang uangnya, kalau barangnya sudah ada."


"Nggak Bah! kalau nanti-nanti saya akan kehabisan. jadi saya simpan dulu uang di abah, seminggu lagi saya akan datang ke sini, untuk mengambil pesanan saya."


"Ujang percaya sama abah?" tanya Mbah Abun sambil mengerutkan dahi.


"Percaya Mbah! percaya! Lagian Abah kan bukan orang mana-mana, rumahnya sudah jelas. ya sudah, kalau seperti itu saya mohon pamit dulu bah!" ujar laki-laki itu sambil mengulurkan tangan, tampa masuk terlebih dahulu ke rumah Mbah Abun. Dia pun langsung pergi meninggalkan rumah.


"Waduh! gimana nih Ambu, kira-kira selesai gak yah? Dalam waktu seminggu membuat 100 aseupan?" tanya Mbah abun sambil menatap ke istrinya.


"Pasti selesai bah! tadi aja sehari dapat 15, itupun nggak nyampe sore, kita kerja cuma sampai Zuhur." jawab Abu Yayah optimis.


"Ya Allah! hampir lupa! Abu Lagi goreng ikan asin." Pekik Abu Yayah. namun ada yang aneh ketika abu Yayah bilang. "ya Allah" tiba-tiba rumah itu bergoyang, seperti mau runtuh. membuat mereka berlari memegang dinding. Mungkin takut ketiban benda yang terlihat akan jatuh.


"Kenapa Abah?" tanya Abu Yayah sambil menatap ke arah suaminya.


"Nanti coba Abah lihat keluar, siapa tahu aja ada gempa!" Jawab bah Abun, sambil berjalan ke arah luar, kebetulan ada tetangganya yang lewat.


"Barusan ada gempa Nggak, Jang?" tanya Mbah Abun.


Ditanya seperti itu, orang yang lewat mengerutkan dahi. tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mbah Abun.


"Kenapa diam, terasa ada gempa nggak, masa gempa sebesar itu, ujang nggak merasa?"


"Nggak Bah! Perasaan nggak ada gempa. Abah Mimpi kali! Makanya jangan tidur sore-sore bah! jawab anak muda itu sambil berlalu pergi. tak memperdulikan lagi Bah Abun yang masih keheranan.

__ADS_1


Setelah lama berpikir Akhirnya dia pun menepuk jidatnya. "Ya ampun, mungkin itu gara-gara sang prabu marah. gara-gara si Abu menyebut nama itu," gumam Mbah Abun sambil berjalan kembali memasuki rumah, langsung menuju ke dapur.


"Kenapa Abah, tadi kok seperti ada gempa," tanya Ambu Yayah yang baru saja membuang ikan asin yang ia goreng, karena bentuknya sudah berubah menjadi kehitaman.


"Ini kayaknya, gara-gara ambu!"


"Kok gara-gara, ambu?" tanya Abu Yayah sambil mengerutkan dahi, dia tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh suaminya.


"Yah jangan sesekali menyebut nama itu  karena aki sobani dulu telah memperingatkan kita. agar jauh-jauh dari nama itu, nanti Kanjeng Prabu marah, kayak tadi."


"Ya ampun, Maaf Abah! Abu tidak tahu, terus bagaimana ini?" Tanya Abu Yayah yang terlihat panik.


"Gak Apa-apa! tapi jangan diulangi lagi. ya sudah, abah mau menemui Mang Juju, mau membeli bambunya lagi." ujar Bah Abun sambil turun kembali keluar rumah, untuk menemui Mang Juju yang mempunyai pohon bambu.


Begitulah Mbah Abun sekarang, siangnya dia bekerja layaknya manusia pada umumnya. namun malamnya juga dia tetap bekerja, dengan merubah bentuknya menjadi babi hutan.


Namun Namanya usaha, pasti ada aja cobaan demi cobaan, baik usaha itu jalan yang baik ataupun jalan yang salah. kita ceritakan Satu Malam ketika Mbah Abun hendak melakukan kegiatannya, tiba-tiba detak jantungnya berdegup kencang, seolah ada pertanda buruk yang akan menimpanya.


"Kalau Abah ragu, mendingan istirahat aja bah! Lagian uang kita sudah banyak, jangan terus diforsir!" cegah Abu Yuyah yang mengetahui suaminya sedang gelisah.


"Ya ambu, tapi waktunya lagi bagus. doakan saja abah, agar tidak terjadi apa-apa!" pinta Bah Abun sambil mulai membakar kemenyan.


"Terserah! kalau nggak bisa diingatkan." ucap Abu Yayah yang udah tahu sifat suaminya, yang selalu semangat dalam bekerja.


Mbah Abun setelah membuka baju jimat pemberian Prabu uwul-uwul. dengan cepat dia pun keluar dari rumah, untuk bekerja seperti yang biasa ia lakukan.


Setelah kepergian Mbah Abun, Entah mengapa hati Abu Yayah merasa gelisah, jantungnya berdegup sangat kencang tak beraturan. namun dia segera jauh jauh membuang perasaan itu, dia terfokus menatap ke lentera yang sudah ia Nyalakan. lama menatap lentara, dia pun mulai merasa keanehan, karena matanya terasa berat dan semakin berat, sehingga akhirnya dia pun tertidur.


Mbah Abun yang setiap malam bekerja, bahkan tak ada satu malam pun yang terlewat. sekarang benda yang ia cari mulai susah, karena biasanya benda itu suka berceceran di sekitar area Lesung. namun sekarang dia harus menggeser Lesung, agar dia bisa mengambil benda yang bercahaya.


Malam itu setelah keluar dari rumah dan merubah bentuknya menjadi babi hutan. Dia pun berjalan menuju ke arah rumah zuhri, untuk mencari benda yang bercahaya. seperti biasa dia berjalan ke arah samping di mana Lesung penumbuk padi berada.


"Kayaknya Ke depannya, harus pindah tempat usaha. soalnya di sini benda-benda yang dicari sudah tidak ada." gumam Mbah Abun sambil mengelilingi Lesung penumbuk padi.


Lama berkeliling akhirnya, dia melihat bahwa benda bercahaya itu berada di bawah Lesung. dengan cepat Mbah Abun yang berbentuk babi, menggeser Lesung  dengan mulutnya. Namun sialnya bukannya menggeser malah Lesung itu terbalik, sehingga menimbulkan suara yang begitu nyaring, apalagi keadaan sudah mulai larut malam.

__ADS_1


Zuhri yang belum tidur, mendengar kegaduhan di samping rumahnya. dengan cepat dia keluar dari rumah sambil membawa senter. Alangkah terkejutnya dia, ketika di samping rumah ada seekor babi yang sedang mencari makan di lesungnya.


"Babiiiiiii! babiiiiiii hutan! babiiiiii! babiiiiiii! tolong ada babiiiiii!!" teriak Juhri membelah heningnya malam, membangunkan jiwa-jiwa yang mulai terlelap.


__ADS_2