
Suasana di luar terlihat sangat cerah, ayam-ayam berkokok di bawah kolong rumah, domba-domba saling bersahutan dari arag sampin, menambah Asrinya suasana di perkampungan. terlihat di salah satu rumah ada seorang gadis yang sedang membuka buka halaman buku, sesekali Dia mencatat lalu menghitung. Lama bergelut dalam pekerjaan, akhirnya mata gadis itu pun terasa ngantuk, hingga dia membaringkan tubuhnya di atas kursi. dengan buku-buku laporan yang masih berceceran di atas meja.
Lama tidur akhirnya terlihat mata Ranti pun terbuka, kemudian mata indah itu melirik ke arah dinding. "Ya ampun, sudah jam 02.30. sebentar lagi bedug Ashar." ujar Ranti sambil merapikan buku-buku yang masih berserakan, kemudian menyimpan buku itu ke dalam rak. selesai merapikan semua barang-barangnya, Ranti masuk ke kamar kemudian dia berhenti sebentar, lalu menarik handuk bergegas pergi ke toilet yang berada di samping rumahnya.
Setelah sampai di ******, yang kolamnya terisi penuh dengan ikan-ikan emas yang besar-besar. Ranti mulai membasahi tubuhnya dengan air, terus menggosok kulit yang berwarna kuning langsat, menggunakan busa sabun, layaknya seorang anak remaja perempuan pada umumnya.
Ranti menghabiskan waktu lama di ******, karena jambannya adalah ****** sendiri, dia melaksanakan aktivitasnya dengan tenang, tidak terganggu atau merasa terburu-buru oleh orang lain. selesai membersihkan tubuh nanti mengelap tubuhnya dengan handuk, kemudian keluar dari ****** itu lalu masuk kembali ke dalam rumahnya.
Sesampainya di kamar, dia mengambil baju yang bersih dari lemari kemudian memakai baju itu. selesai memakai baju Ranti mulai menghias tubuhnya dengan berbagai alat kecantikan, yang sengaja dibeli oleh Mbah Abun agar anaknya yang sudah cantik terlihat lebih cantik. Ranti pun terlarut dalam aktivitas yang menjadi kebahagiaan bagi semua perempuan.
Setelah semuanya selesai, dia pun kembali ke kursi yang ada di ruang tengah, tidak ada orang tuanya membuat rumah besar itu terasa sepi. Lama terdiam dia pun sering menatap ke arah kamar orang tuanya. semakin lama menatap semakin penasaran, karena Mbah Abun melarang untuk memasuki kamar itu. Ranti yang merasa bosan hingga akhirnya dia memutuskan bangkit dari kursi tempat duduknya, kemudian berjalan perlahan mendekati kamar orang tuanya.
"Ada apa sih di dalam?" gumam Ranti sambil menatap ke daun pintu yang tertutup gorden, dia semakin merasa penasaran, dengan apa yang disembunyikan oleh orang tuanya. hingga akhirnya dia pun mendorong pintu kamar Bah Abun. semenjak kehidupannya kembali ke masa jaya. bandar anyaman itu merenovasi rumahnya dengan memasang pintu di setiap kamar.
Ceklek!
Pintu kamar itu terbuka, terlihat ada dipan yang biasa dipakai istirahat oleh orang tuanya. di samping ranjang terlihat ada lemari pakaian milik Mbah Abun dan Abu Yayah, Ranti pun mulai masuk ke dalam dan memindai seluruh area kamar itu .
"Nggak ada apa-apa juga! ngapain pakai dilarang-larang segala." gumam Ranti sambil mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang, sambil terus memindai area sekitar. namun tatapan itu terhenti ketika melihat ke arah lemari pakaian milik orang tuanya, nggak ada kerjaan Ranti pun bangkit kemudian dia mendekati lemari itu, lalu membukanya. terlihat pakaian Mbah Abun dan Abu Yayah yang tersusun rapi di rak-rak lemari. namun matanya terbelalak ketika melihat ada bambu Tamiang dengan ukiran yang begitu indah.
"Ini apa?" tanya Ranti dalam hati sambil mengambil bambu itu, kemudian dia menimbang dan memperhatikan dengan teliti, bambu yang ada di tangannya. "Indah banget!" gumam Ranti sambil terus meraba-raba bambu Tamiang itu.
Krek!
__ADS_1
Awwwww!
Tiba-tiba bambu itu terbuka, membuat Ranti terperanjat kaget. lalu menempatkan bambu itu ke lantai papan. mungkin ketika Ranti memegang bambu itu tak sengaja dia memutar bambu bagian atas ke sebelah kanan, dan bambu bagian bawah ke sebelah kiri. hingga akhirnya bambu keramat itu terbuka.
"Kok aneh? bisa terbuka dengan begitu." ujar Ranti sambil menatap ke arah bambu yang barusan ia lemparkan. matanya menangkap ada gulungan benda hitam yang keluar sedikit dari bambu yang sudah terbelah menjadi dua. Namun semakin takut dalam dirinya membuat Ranti semakin penasaran, hingga akhirnya Ranti pun berjongkok lalu mengambil kembali bambu tamiang.
"Apa ini?" ujar Ranti sambil memegang gulungan hitam yang ada di dalam bambu. kemudian dia mengangkat lalu menggoyang-goyangkannya hingga gulungan itu semakin jelas terlihat, bahwa gulungan hitam adalah sebuah baju berwarna hitam mengkilap bak Sutra yang sangat mahal.
"Pantas aja nggak boleh masuk ke kamar! ternyata si Ambu punya baju sebagus ini." ujar Ranti sambil melebarkan baju itu, lalu dikenakan di luar tubuhnya terlihat di cermin Dia sangat cantik, dengan tempelan baju hitam itu.
"Kalau Si Mita tahu, Aku punya baju secantik ini. pasti dia akan semakin iri." gumam Ranti yang terus memperhatikan pantulan tubuhnya di cermin. "Iya bener aku harus memamerkan baju ini ke Si Mita, agar hatinya semakin panas. Lagian kata Abah juga, aku nggak boleh kalah oleh keluarganya Mang Sarman." lanjut gumam Ranti kemudian dia keluar dari kamar Bah Abun. perbawaan hati yang senang sampai dia lupa merapikan lemari milik orang tuanya. dia terus berjalan menuju ke arah kamar, setelah sampai di kamar, dia pun mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang baru saja dipakai. setelah selesai melepaskan bajunya ranti mengambil baju hitam yang disimpan di atas ranjangnya, kemudian dia memakai baju itu
Bugh!
Terdengar ada letupan pelan, ketika Ranti selesai memakai baju milik orang tuanya. namun gadis cantik itu tidak mempedulikannya. perbawaan hati yang senang membuatnya merupakan keadaan sekitar, Bahkan dia keluar dari kamarnya tanpa bercermin terlebih dahulu.
Di tengah jalan, Ranti bertemu dengan Daus. dengan cepat gadis cantik itu tersenyum menyapan, sambil memamerkan baju sutra yang yang dipakai olehnya. namun Daus bukannya memuji, ataupun tercengang dengan kecantikan baju yang dipakainya, dia malah berteriak sambil berlari.
"Ada babiiiiiii! ada babiiiiiii! babiiiiiiiii hutan." teriak Daus sambil pergi meninggalkan tempat itu menggunakan langkah seribu.
"Eh ada babi di mana?" gumam Ranti sambil memindai area sekitar, mencari keberadaan hewan yang disebutkan oleh Daus. namun beberapa kali dia memutar arah dia tidak melihat apapun.
"Ih ada-ada aja!" gumam Ranti sambil kembali melanjutkan perjalanan, namun langkahnya terhenti sesaat setelah melihat dari berbagai arah, banyak orang-orang yang menghampiri dengan membawa senjata lengkap, membuat Ranti merasa takut, apalagi ada anjing yang menggonggong.
__ADS_1
"Guuuuuk! guk! guk! aung!"
Suara anjing yang berlari menuju ke arah Ranti meninggalkan Para pemiliknya. melihat anjing yang berlari ke arahnya membuat Ranti pun berteriak, kemudian lari menuju ke arah kebun. aneh tapi nyata, sekarang tubuhnya terasa sangat ringan, hingga larinya pun terlihat sangat kencang bak panah yang dilepas dari busurnya.
"Babiiiiiiii! babiiiiii! babi!" teriak para warga yang terus mengikuti Ranti, sehingga membuat gadis itu semakin ketakutan, yang awalnya dia berlari menuju ke arah kebun untuk menghindari kejaran anjing namun dia terus berlari sampai ke sawah, Sesampainya di sawah terlihat anjing-anjing masih mengejarnya, Ranti pun terus berlari hingga masuk ke dalam hutan.
Anjing anjing pemburu terus mengejar, namun namanya juga hewan yang mengandalkan penciuman. Anjing tidak mampu menyusul jejak babi, hingga akhirnya anjing itu teralihkan oleh hewan trenggiling. kehilangan jejak tidak mampu mengejar lagi babi yang sudah lari ke arah hutan.
"Eh Anjing sial4n! ngapain malah nangkap trenggiling bukannya nangkap babi dasar anjing tak berguna." bentak seorang pemburu sambil menendang anjingnya yang sedang menggigit ekor pesing. Mungkin dia sangat kesal karena beberapa kali ada babi, anjingnya itu tetap tidak bisa menangkap.
Yang namanya hewan anjing ketika dimarahin seperti itu, tidak menjawab. Anjing itu terus menggigit trenggiling yang sudah ditangkap.
"Ke mana larinya ya mang?" tanya Galih yang terlihat nafasnya terengah-engah, karena sudah berlari dengan begitu jauh.
"Susah kalau sudah lari ke hutan. Lagian kalau berburu itu harus direncanakan dengan matang-matang, tidak bisa mendadak seperti sekarang." jawab Zuhri sambil menyeka keringat yang bercucuran memenuhi wajah, Mungkin dia juga merasakan hal yang sama seperti Galih.
"Iya, padahal lumayan kalau bisa tertangkap. Kepalanya kan mahal." jawab seseorang menimpali.
"Iya Tah Mang?" tanya Galih yang kurang paham dengan hal begituan.
"Iya bener menurut sepengetahuan Akang, kepala babi itu buat tumbal ketika ada proyek pembangunan."
"Masa sih!" tanya Galih yang tidak percaya.
__ADS_1
"Yeeeeeiy! Ujang mah, dikasih tahu malah begitu. beneran jang makanya para pemburu sangat senang berburu, selain mereka menyalurkan hobi, namun ada upah yang mereka bisa dapatkan."
Akhirnya para warga pun berbondong-bondong kembali dari hutan, sambil terus mengobrol bertukar cerita tentang kejadian yang baru mereka alami. apalagi Daus orang yang pertama kali melihatnya, Dia berbicara sampai mulutnya berbusa. menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya, hingga rombongan orang-orang yang berburu menangkap babi itu tiba di kampung. akhirnya mereka berpencar menuju ke rumah masing-masing, tinggal Galih dan zuhri Masih bersama karena arah pulangnya searah