
Grokkk! grokkk....!
Si Bibi Tani yang mendapat sapaan dari Ranti, dia terperanjat kaget. dengan cepat dia membalikkan tubuh menatap ke arah datangnya suara, setelah melihat kearah Ranti matanya terbelalak dengan sempurna, mulutnya menganga, mau berteriak tidak keluar suara, karena rasa takut sudah memenuhi jiwa. cungkir yang dipegangnya pun jatuh menimpa ke jempol kakinya.
Awwww!
Desis Si Bibi tertahan. tubuhnya terasa lemas, sehingga terjatuh di atas tanah, dengan terduduk Tanpa sempat menjerit meminta tolong. dari arah bawah terlihat ada cairan yang keluar membasahi tanah. dia tak sempat berlari, badannya terasa menggigil, panas dingin. melihat Si Bibi yang sangat ketakutan. Ranti terlihat sangat kaget, karena kedatangan dirinya hanya mencelakakan orang lain, hingga akhirnya dia sadar kembali, bahwa sekarang dia bukan lah Ranti yang berwujud manusia, melainkan Ranti yang sudah berubah wujud menjadi hewan buas. Akhirnya dia pun pergi meninggalkan si Bibi yang masih ketakutan.
"Maaf Bibi, Ranti bukan mau berniat menyiksa atau menakut-nakuti, tapi Ranti mau minta tolong," gumam Ranti dalam hati, sambil terus berjalan dengan membawa perasaan yang sangat hancur dan sangat sedih. kemudian dia masuk kembali ke rumpun tepus. dengan menggunakan kaki depan sebagai sandaran kepalanya.
Babi ngepet itu terlihat tengkurap, napasnya terlihat sangat memburu, perutnya semakin lama semakin melilit. semakin lama terdiam semakin terasa, semakin lama berpikir semakin terpikir, bahwa dirinyalah orang yang paling sengsara di dunia ini. hingga akhirnya air matanya keluar tak tertahan lagi membasahi pipi.
Daun-daun terlihat bergoyang, bergesekan dengan daun-daun lainnya. suaranya seperti terisak ikut merasakan kesedihan Ranti yang sudah berubah wujud menjadi babi ngepet.
Ranti dalam wujud babi ngepetnya, dia mulai memejamkan kembali matanya, untuk meresapi kesedihan yang membelenggu. sedangkan Si Bibi Tani yang masih Terkesima, lama-kelamaan dia mulai tersadar dengan keadaan yang menimpanya.
Toloooooong!!
Jerit Si Bibi Tani yang terlambat, karena harusnya dia berteriak seperti itu, tadi ketika ada babi di hadapannya. namun masih beruntung sekarang dia bisa berteriak, sehingga suami dan anaknya yang berada di sebelah lembah, terperanjat kaget mendengar teriakan istrinya seperti itu. Mereka berdua pun berlari mendekat ke arah datangnya suara.
Setelah sampai ke tempat Si Bibi Tani, yang masih terduduk sambil terus menjerit meminta tolong. laki-laki itu terperangan menatap wanita itu, karena istrinya seperti anak kecil. "Ada apa Inah? pakai teriak-teriak segala?" Tanya laki-laki itu sambil mendekat ke arah istrinya.
"Kang Karmin....! Kang Karmin.....! ada babi kang, ada babi, ada babi," rancu Si Bibi Tani yang bernama Inah, mengadukan kejadian yang dialami kepada suaminya.
"Di mana ada babi?, kamu ngigo siang-siang." bentak Karmin sambil memindai area sekitar, mencari keberadaan hewan yang dibicarakan oleh istrinya.
"Akang Malah marah-marah, orang lagi ketakutan bukannya ditolongin!" Ketus Inah yang merasa kesal.
Melihat istrinya ketakutan seperti itu, akhirnya hati Karmin pun luluh. kemudian dia berjongkok di dekat tubuh istrinya, lalu menggendong tubuh wanita itu. namun Alangkah terkejutnya dia, ketika memegang tubuh inah yang terasa basah.
__ADS_1
"Kok, rok kamu basah Inah?" tanya Karmin sambil menatap wajah istrinya yang berada di pangkuan.
Ditanya seperti itu Inah hanya membuang muka, Mungkin dia merasa malu dengan kelakuan tubuhnya yang tidak bisa diajak kompromi.
"Bapak...! bapak, kok bekas tempat duduk ibu, ada yang basah?" tanya anak kecil kira-kira berumur 8 tahun.
"Olinya sudah Dol, Cup!" jawab Karmin sambil terus berjalan menggendong istrinya menuju ke arah Saung.
Mendapat jawaban seperti itu, Ucup hanya menggaruk-garuk kepala, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh bapaknya. namun meski begitu, dia tetap berjalan mengikuti kedua orang tuanya.
Sesampainya di saung, Karmin pun meletakkan tubuh istrinya di atas papan kayu, kemudian menuangkan air ke dalam batok kelapa, yang dijadikan gelas, lalu diserahkan kepada Inah.
Glek! glek! glek!
Inah mulai meneguk air yang baru diberikan oleh Karmin, terlihat tenggorokannya turun naik, seolah sangat menikmati air yang membasahi kerongkongannya. hingga akhirnya dia pun kembali tenang walaupun masih trauma.
"Ada Apa, kok kamu berteriak-teriak seperti tadi?" tanya Karmin setelah melihat istrinya agak tenang.
"Ada babi bagaimana, buktinya tadi nggak ada?"
Inah pun mulai menceritakan kejadian yang menimpanya, kejadian di mana Dia disapa oleh babi hutan yang sangat besar, dengan taring yang sangat panjang. terlihat Inah bercerita sambil berigidik ngeri, tak mampu membayangkan kembali hewan buas itu.
"Hahaha, mana ada babi di Kebon kita." tanggap Karmin setelah selesai mendengar istrinya.
"Ya sudah kalau nggak percaya, terserah.....!" Ketus Inah sambil membuang muka.
"Makanya kalau bekerja itu fokus, jangan ngelamun kemana-mana, jadi kamu nggak ngehalu seperti barusan," nasehat Karmin yang masih terlihat mengulum senyum.
"Ucup tolong bakar ikan pedanya, Jangan hiraukan bapak kamu yang tidak peka," seru Inah tanpa memperdulikan lagi ucapan Karmin.
__ADS_1
Anak Kecil berumur 8 tahun pun mengangguk, kemudian dia mengambil kantong plastik yang di dalamnya ada ikan asin, yang baru tadi dia beli dari warung. tanpa berpikir panjang, Ucup mulai menaruh ikan itu di atas bara api, untuk mematangkan nasi liwet yang ada di atasnya.
Sedangkan Karmin setelah melihat istrinya selamat, dia pun keluar. Walaupun dia sedikit tidak percaya dengan cerita istrinya, tapi Karmin ada rasa penasaran yang mengganggu. sehingga dia pun keluar dari Saung, kemudian Kembali ke tempat istrinya tadi berteriak meminta tolong.
Setelah sampai dia kembali memindai area sekitar dengan teliti, hingga akhirnya dia menemukan satu jejak kaki hewan yang meski sangat asing, tapi dia tahu bahwa jejak hewan itu adalah jejak babi hutan. pria itu mengerutkan dahi, seolah tidak percaya, dengan apa yang dilihatnya. Karena kebun yang dia garap jaraknya sangat dekat perkampungan.
Merasa penasaran karmin pun mulai menyusur jejak babi yang berjalan menuju ke atas bukit, Namun sayang ketika jejak itu keluar dari perkebunan, jejaknya menghilang ditelan oleh dedaunan pohon yang berserakan di mana-mana.
Meski kehilangan jejak, Karmin tidak kehilangan akal, dia mulai mencabut golok yang ada di pinggangnya, kemudian dia mulai menebas rerumputan rerumputan yang menghalangi jalan, dia ingin naik ke atas bukit, Siapa tahu saja di atas ada jejaknya kembali.
Srek! srek! srek!
Suara golok yang menebas pohon-pohon kecil, Karmin terus mendaki mendekat ke arah di mana Ranti bersembunyi.
Bras!
Terdengar suara seperti benda yang menabrak dedaunan, membuat Karmin terperanjat kaget menatap ke arah datangnya suara. terlihat ada bayangan hitam yang berjalan menuju ke arah atas.
"Benar Ternyata apa yang dikatakan oleh si Inah, di sini ada babi. tapi babi dari mana, kok bisa nyasar ke sini." gumam Karmin yang seorang laki-laki, dia tidak setakut Inah.
"Awas.....! nanti aku akan memburumu babi," ancam Karmin kemudian dia memasukkan kembali golok ke sarangnya.
Setelah yakin bahwa di tempatnya ada babi, dia pun tidak gugup, dia kembali menuruni Bukit, menuju ke arah Saung yang tercium wangi peda yang dibakar.
"Iya, benar.....! ternyata ada babi di dekat kebun kita," lapor Karmin sama keluarganya.
"Sekarang tahu kan kebenarannya seperti apa, Makanya jangan menuduh orang terlebih dahulu, sebelum tahu kebenarannya." gerutu inah.
"Hehehe maaf Inah, Akang tadi berpikir logis, mana mungkin kebun dekat kampung ada babi hutannya."
__ADS_1
"Tapi buktinya ada kan?"