Babi Beranting

Babi Beranting
23. KEMBALI


__ADS_3

"Terima kasih! aki telah membantu saya, Terus bagaimana menyimpan kembali baju ini ke dalam bambu Tamiang?"


"Udah taruh aja di atasnya!" seru aki sobani.


Mbah abun pun mengangguk, kemudian menaruh baju jimat itu di atas bambu yang terbuka. dengan sendirinya baju itu mulai mengerut mengecil dan akhirnya kembali ke seperti semula. hanya terlihat benda hitam yang memenuhi ruas bambu itu. setelah baju jimat tersimpan, bahkan kecanggihannya bukan sampai di situ, bambu Tamiang yang sebelahnya lagi dengan segera menutup benda itu. sehingga bentuknya kembali seperti semula, Kembali ke bentuk bambu Tamiang yang tidak memiliki celah.


"Luar biasa!" ujar Bah Abun sambil tersenyum.


Mereka bertiga pun akhirnya mengobrol sampai larut malam, hingga akhirnya aki sobani meminta izin untuk masuk ke kamarnya, dan menyuruh tamunya itu untuk tidur di tengah rumah.


****


Keesokan paginya, pagi-pagi Mbah Abun dan Mang sarpu sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya.


"Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih banyak karena Aki telah bersedia membantu Abah. nanti kalau Abah sudah sukses Abah akan sering main ke sini, Doakan saya agar saya bisa sukses seperti Mang Sarpu." pamit bah Abun sambil menyalami gurunya.


"Hati-hati di jalan! Aki doakan Abah sukses! jangan lupa larangan-larangan yang sudah kita bahas semalam." Nasehat aki sobani seolah tak merasa bosan, mengingatkan Mbah Abun tentang aturan-aturan yang harus dijalankan.


"Baik aki! Saya akan perhatikan itu."


Setelah mereka bersalaman, akhirnya mereka berdua mulai berjalan menuruni Bukit, menaiki Lembah, menuruni Bukit lagi. Diantarkan oleh suara Burung-burung berkicau, yang ikut merasakan kebahagiaan Bah Abun, Yang sebentar lagi akan menjadi orang sukses. air embun yang menggenang di ujung-ujung daun bak berlian yang begitu mengkilat ketika tersinari matahari. lama berjalan, akhirnya sebelum matahari naik, kedua orang yang tersesat itu sudah sampai di jalan, yang biasa dilewati oleh angkutan umum.


Sesampainya di pinggir jalan, Mereka pun mencari tempat yang hangat karena suasana pagi yang begitu dingin. apalagi di daerah pegunungan seperti itu, dinginnya bisa berkali-kali lipat, dibanding dengan Hawa dingin yang ada di perkampungan. mobil yang ditunggu agak telat datang, karena mobil yang melewati jalur itu hanya ada dua. mobil yang satu berangkat pagi, yang satunya lagi berangkat sore. namun kalau itu dilakukan dengan penuh kesabaran, akhirnya mobil yang mereka tunggu pun lewat. dengan cepat Mang Sarpu menghentikan mobil angkutan itu, lalu mereka berdua pun naik.


Tak diceritakan lamanya di perjalanan naik mobil, dan  perjalanan pulang ke rumah Mang sarpu. kita ceritakan mereka sudah sampai di rumah Mang sarbu.

__ADS_1


Kedua orang yang sedang berjalan sambil tersenyum senyum bahagia, akhirnya mereka terhenti di salah satu rumah besar yang ada di kampung Sukaraja. dengan cepat orang yang terlihat masih muda, mengajak orang yang satunya untuk masuk ke dalam rumah yang terlebih dahulu.


Marni yang Melihat kedatangan suaminya, dengan cepat dia menyiapkan air minum. karena dia tahu pasti suaminya akan sangat haus, sehabis perjalanan yang begitu jauh, Apalagi ditambah terik matahari yang sangat tinggi. Mbah Abun dan Mang sarpu melihat air yang begitu bening, dengan cepat Mereka pun meneguk air masing-masing sampai habis tak tersisa.


"Mang sarpu! Abah ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya, karena Mamang sudah membantu Abah." ucap Bah Abun setelah menyimpan kembali gelas air minum.


"Sudah bah! jangan bilang terima kasih terus, saya hanya pelantara, saya tidak bisa membantu apa-apa. Kanjeng Prabu lah yang akan membantu Abah, untuk merubah kehidupan Abah menjadi lebih baik." jawab Mang sarpu dia merasa bosan karena Mbah Abun sudah kesekian kalinya mengucapkan hal itu.


"Karena Abah nggak tahu harus bilang apa lagi, mang! untuk membalas kebaikan mang Sarpu sekeluarga. Oh iya, Abah minta tolong, apa saja sesajen yang harus di siapkan?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah sahabatnya.


"Kembang tujuh Warna, daun tujuh rupa, kopi pahit, cerutu, degan, menyan dan yang paling penting lentera, serta air di dalam baskom." Mang sarpu menyebutkan satu persatu sajen yang harus disiapkan oleh Mbah Abun.


"Caranya bagaimana Mang?"


"Nanti kerjanya Seperti apa, Mang?" tanya Mbah Abun yang merasa tanggung dengan penjelasan sahabatnya.


"Seperti yang sudah saya jelaskan, Nanti Baju itu akan menuntun Abah dan memberitahu Abah, cara kerjanya seperti apa!"


"Mang Sarpu, sekali lagi Abah ucapkan terima kasih, beribu-ribu Terima kasih! atas semua pertolongan yang Mang serbuk berikan. Abah bukan tidak kangen, namun apa sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Abah merasa khawatir dengan anak istri di rumah. jadi Abah mohon izin untuk langsung pamit!" jelas Mbah Abun sambil menatap ke arah sahabatnya.


"Sebentar bah! kita makan dulu." tolak Marni yang sudah membawa bakul nasi ke tengah-tengah mereka.


"Bener bah! Ayo kita makan dulu!"


Mendapat tawaran dari tuan rumah yang sangat baik, akhirnya Mbah Abun mengalah. karena semenjak kepergian dari rumah aki sobani, hanya baru air saja yang masuk ke perutnya.

__ADS_1


mereka bertiga pun makan bersama, dengan terus diiringi canda tawa, perbawaan hati yang sangat bahagia membuat obrolan mereka sangat mencair. selesai makan, Mbah Abun pun bersiap-siap untuk pergi melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah. meski Mang Sarpu Dan Bi Marni menyuruhnya untuk menginap terlebih dahulu, namun dia tetap memaksa, hingga akhirnya keluarga itu membiarkan sahabatnya pulang.


Mbah Abun terus berjalan menyusuri Jalan Setapak, menaiki bukit yang di atasnya ada warung Salamah. warung penjual gorengan yang beberapa hari lalu Mbah Abun kunjungi. namun sekarang pria tua itu tidak mampir, Kejadian beberapa hari yang lalu masih terbayang di benaknya. Kejadian ketika dia mau membayar gorengan dengan uang berlumpur. Mbah Abun terus berjalan meski di bawah terik sinar matahari yang sudah ada di atas ubun-ubun, dengan sengatan begitu panas. Namun dengan tekad yang kuat dan perjuangan yang begitu gigih. hingga pukul 02.00 siang, akhirnya Bapak dari anak yang bernama Ranti itu, bisa kembali ke rumahnya yang berada di Ciandam.


Melihat kedatangan suaminya, Ambu Yayah yang sudah khawatir dari kemarin. Sehingga kerjaannya terus melirik ke arah jalan berharap ketika ada yang lewat itu adalah suaminya. dengan cepat wanita paruh baya itu menyiapkan air minum, serta rebus talas, untuk menyambut kedatangan suaminya yang baru pulang dari Medan tempur, untuk merubah kehidupan keluarganya.


"Kok lama banget Abah perginya? Ambu sampai khawatir." tanya Ambu Yayah setelah suaminya menghabiskan air di dalam gelas.


"Ternyata! rumah aki sobani lumayan jauh Ambu, jadi Abah harus nginep di sana. maaf kalau Abah membuat Ambu khawatir!" Jelas Mbah Abun sambil mengusap cairan bening yang keluar dari dahinya.


"Siapa itu aki sobani?" tanya Ambu Yayah yang belum mengetahui orang yang bernama sobani, karena kemarin ketika Mbah Abun meminta, izin, suaminya tidak pernah menyebut nama itu.


"Kuncen Gunung Karang Ambu"


"Oh begitu! Jadi bagaimana hasil?" tanya Ambu Yayah yang sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil dari pekerjaan suaminya.


"Berkah, ambu! kebaikan lagi berada di pihak kita, sehingga perjanjian itu dengan mudah kita lakukan."


"Terus sekarang Apa yang harus kita lakukan?"


"Si Nyai, ke mana?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah kamar anaknya.


"Biasa, Mungkin dia lagi main ke rumah temannya, Katanya capek harus membuat iratan terus."


Mendengar penuturan istrinya, Mbah Abun bangkit kemudian mengunci pintu rumah.  sambil memperhatikan area sekitar, takut ada orang yang mengintip atau orang yang sedang lewat di hadapan rumah. Setelah dirasa cukup aman. dia pun kembali menghampiri istrinya yang sedang menatap penuh keheranan ke arah Mbah Abun.

__ADS_1


__ADS_2