Babi Beranting

Babi Beranting
50. Keputusan


__ADS_3

Ambu yayah dan Mbah Abun yang merasa penasaran dengan suara-suara yang didengarnya tadi malam, dengan memberanikan diri mereka pun keluar dari pintu depan. memperhatikan area sekitar, namun ternyata di area itu tidak ada apa-apa. padahal tadi malam terdengar suara suara yang sangat mengerikan, bahkan di kolong rumah aki sobani. tidak terlihat ada yang aneh, harusnya di kolong itu sudah banyak jejak babi hutan, karena tadi malam papan yang mereka duduki terasa bergerak-gerak, karena ada hewan di bawahnya. namun prasangka itu terbantahkan seketika, setelah melihat kenyataan.


"Kok, gak ada apa-apa ya Bah?" tanya Abu Yayah sambil menatap heran ke arah suaminya.


"Ya Emang nggak ada apa-apa, mungkin cuma pendengaran kita saja yang salah."


"Kok bisa seperti itu?"


"Bisalah Ambu! sudah jangan banyak pikiran dan banyak pertanyaan, yang terpenting kita sudah selamat."


"Berarti tempat ini aman ya Bah?"


"Aman lah, Ambu! buktinya aki sobani sudah lama tinggal di sini, dia terlihat sangat betah. Dan kalau tidak aman Mungkin dia sudah pindah dari dulu."


"Oh iya Abah, kapan kita pulang? Ambu khawatir dengan keadaan siranti." Tanya Ambu Yayah mengalihkan pembicaraan.


"Sekarang juga kita bisa pulang, tapi kita bertanya dulu dengan aki sobani. takut terjadi apa-apa sama anak kita." Jawab Mbah Abun yang terlihat sudah sedikit tenang tak setegang seperti semalam.


"Ya sudah ayo kita tanyakan!" ajak Ambu Yayah yang terlihat bersemangat.


"Sabar Ambu! kan, akinya juga baru mencuci muka. nanti setelah mencuci muka, kita langsung tanyakan Ada apa sebenarnya." jawab Bah Abun sambil terus berjalan melihat-lihat keadaan sekitar yang tak sedikitpun berubah dari ketika dia datang.


Keadaan pagi-pagi di alam pegunungan. suasananya masih terasa dingin, kabut kabut menyelimuti gunung, warnanya yang putih menutupi lereng-lereng yang dalam. air embun gemerlap di ujung-ujung daun, rumput-rumput masih terlihat basah dengan air sepertiga malam. angin yang masih belum berhembus, karena biasanya angin berhembus ketika matahari mulai panas. membuat suasananya terasa nyaman, tentram. membuat siapapun akan betah berlama-lama tinggal di situ.


Terlihat di arah bawah Gunung Karang, rumah-rumah yang bercuculan bak jamur yang baru tumbuh. sawah-sawah membentang seluas mata memandang, di aksen oleh jalan-jalan yang saling berhubungan. membuat tempat itu semakin terlihat sangat indah. Hingga akhirnya mentari pagi pun menampakan wujudnya, membuat sekitar tempat itu terasa hangat. burung-burung semakin berisik berkicauan, menjatuhkan air air embun yang menempel di ranting pohon.


Uhek! uhek!


Terdengar aki sobani yang batuk, kemudian dia pun menghampiri pintu depan rumahnya. Bah Abun yang masih menatap keindahan sang pencipta, melihat aki sobani sudah duduk dengan cepat dia pun menghampiri.

__ADS_1


"Bagaimana Abah, Apakah tadi malam tidurnya nyenyak?" tanya aki sobani sambil menatap ke arah tamunya.


"Ampun aki! Abah tidak bisa memejamkan mata sekejap pun. rasanya sangat dingin sekali!" jawab Mbah Abun dengan jujur, karena memang begitulah kenyataannya. dia sama istrinya tidak bisa tidur nyenyak, jangankan tidur nyenyak memejamkan mata sekejap pun tak bisa.


"Wajar Abah! namanya juga di pegunungan, tapi Abah masih beruntung."


"Beruntung Bagaimana aki?" tanya Mbah Abun yang mengerutkan dahi.


"Masih beruntung bisa tidur di rumah. Karena ada sebagian dari orang-orang yang memilih tidur di pekuburan. makanya Abah beruntung, karena masih bisa dilindungi oleh genteng, sehingga tubuh Abah tidak basah oleh air embun."


"Iya aki, Terima kasih! tapi Abah nggak akan lama-lama di sini, karena di rumah sangat banyak pekerjaan, Sayang Kalau ditinggal lama. terus Abah keingat terus, dengan anak Abah yang ditinggal sendirian, kasihan karena baru sekarang dia ditinggal seperti itu." jawab bah abun yang sebenarnya sudah tidak merasa betah tinggal di rumah aki sobani. karena biasanya ketika dia berkunjung ke rumah aki sobani, dia hanya sebentar tidak menginap seperti sekarang.


"Oh begitu, nggak nunggu siang aja Abah. kan aki belum Masak! Abah juga belum sarapan."


"Nggak usah Aki! nanti Abah sarapan di jalan aja, namun bagaimana tentang menghilangkan si pengganggu itu, apa saja syaratnya dan apa yang harus disiapkan?" ujar Bah Abun mengulangi pembahasan yang tadi malam.


"Kalau untuk masalah itu, aki tidak bisa memutuskan sekarang. karena aki akan menemui dulu Prabu Uwul-Uwul. nanti beliaulah yang akan memutuskan Apa yang sebaiknya dilakukan, untuk menghilangkan pengganggu usaha Abah. mungkin kalau sudah memutuskan, Kanjeng Prabu akan mengutus para bawahannya, untuk datang ke kampung Ciandam, memberi pelajaran pengganggu usaha abah Abun."


"Nggak tahu Abah! aki kan bukan peramal. mungkin itu hanya gangguan-gangguan ringan aja. udah sekarang jangan banyak pikiran macam-macam!" jawab aki sobani.


"Oh hanya gangguan-gangguan. sama seperti dulu ketika Abah datang ke kerajaan babilosia ya Aki?"


"Iya begitulah Mbah!"


"Terima kasih kalau seperti itu, Abah Bukannya tidak kangen dengan aki, Bukannya tidak betah tinggal di sini. namun Abah harus segera pulang. Jadi Abah mohon pamit undur diri. nanti Abah akan main lagi ke sini." ujar Mbah abun.


"Ya sudah, kalau buru-buru ingin pulang. hati-hati di jalan! Aki doakan agar usaha Abah selalu diberikan kelancaran dan ingat pesan-pesan aki, Abah harus berhati-hati dalam berusaha, dan menyimpan barang-barang Abah."


"Baik aki! Terima kasih atas doanya."

__ADS_1


Akhirnya Mbah Abun dan Abu Yayah pun menyalami aki sobani, kemudian mereka berjalan menuruni gunung meninggalkan aki sobani, yang masih menatap sampai kedua tamunya tak terlihat. mereka terus berjalan menyusuri Jalan Setapak yang terlihat masih basah oleh air embun. namun hati mereka sedikit agak tenang, setelah mendengar kesanggupan aki sobani yang mau membantunya untuk menghilangkan duri dalam daging, pengganggu ketentraman hidupnya. dan anaknya yang mereka khawatirkan sudah mendapat kejelasan dari ucapan aki Kuncen itu. karena mereka sangat mempercayai dengan kemampuan yang dimiliki oleh aki sobani.


Selesai menapaki Jalan Setapak, akhirnya mereka pun tiba di Jalan Raya, di mana mobil akan lewat. Setelah menunggu agak lama terlihat mobil yang ditunggu pun datang, dengan cepat Mbah Abun mengangkat tangan untuk menghentikan mobil itu.


Setelah mobil menaikan penumpangnya, mobil Elf itu melaju kencang berliuk-liuk mengikuti arah jalan yang berbelok-belok. sesekali mengerem ketika ada orang yang menghentikannya untuk naik ataupun turun. mobil itu terus melaju hingga kira-kira pukul 11.00, akhirnya mobil itu pun berhenti di Jalan Setapak yang menuju ke arah Kampung Ciandam, karena Mbah Abun menghentikannya.


Mereka berdua terus berjalan menapaki Jalan Setapak disinari oleh panasnya matahari yang terasa terik, beruntung jalan yang mereka lalui di payungi oleh pohon-pohon besar, sehingga tidak terasa terlalu panas.


Kira-kira pukul 01.30, akhirnya mereka pun sampai ke dekat Kampung Ciandam. bahkan rumah yang berdiri di pinggir Kampung sudah terlihat. langkah mereka terhenti ketika ada Mang juju yang menghampiri, mungkin dia sedang mencari rumput karena di tangannya terlihat ada Arit yang digenggam.


"Eh ada abah, baru pulang bah?" tanya Juju sambil menatap ke arah orang yang baru datang.


"Iya baru datang, Kenapa mang?" jawab Mbah Abun membalikan pertanyaan.


"Nggak apa-apa bah! saya cuma bertanya. Lagian heran aja Biasanya Abah kalau bepergian gak pernah sampai nginep seperti sekarang, dan biasanya berangkat sendirian, ini berangkat sama si ambu." jawab Juju mengungkapkan rasa penasarannya.


"Iya kemarin Abah ada urusan untuk membahas kerjasama tentang kerajinan usaha anyaman kelompok, sekaligus menghadiri acara pernikahan rekan kerja Abah. jadi Abah harus nginep seperti sekarang."


"Oh begitu pantes aja!"


"Benar ini Mang Nggak ada apa-apa?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah Juju.


"Nggak ada Abah, tapi kemarin Zuhri menanyai Abah, bahkan sekarang dia masih menunggu di rumahnya."


"Ada apa Mang?" tanya Mbah abun yang terlihat penasaran.


"Nggak tahu bah, kalau ada apanya, cuma! yang jelas Jang Zuhri mencari Abah."


"Ya sudah, terima kasih atas informasinya Mang." Ujar Mbah Abun sambil meneruskan langkahnya, diantar oleh tatapan juju.

__ADS_1


Ambu Yayah yang sudah merasa tenang, sekarang hatinya kembali bergejolak merasa gelisah, jantungnya berdegup dengan kencang, prasangkaan buruk mulai menghinggap kembali. namun dia terus berjalan mengikuti suaminya yang berjalan di hadapannya, hingga akhirnya mereka tiba di rumahnya.


__ADS_2