
"Sudah jangan marah...! akang ngaku salah, tidak percaya dengan apa yang kamu ucapkan," ujar Karmin sambil duduk di tepian Saung. terlihat Ucup sedang mengipasi arang dengan daun agar ikan pedanya matang.
Mendengar perkataan suaminya seperti itu, Inah hanya mendengus kesal tampak menjawab. Dia keluar dari saungnya entah mau ke mana, karena dia tidak menceritakannya. namun tak lama dia pun kembali sambil menenteng rok yang terlihat basah.
"Dari mana Inah?" tanya Karmin yang menatap heran.
"Sudah jangan banyak tanya," ujar Inah sambil menjemur roknya di dinding Saung yang terbuka.
"Habis menyuci oli yang Dol kali pak," ujar Ucup menyahuti.
"Halahhh...! anak kecil tahu apa! sudah matang belum asinnya?" gerutu inah
"Udah Bu, Tapi kepalanya belum."
"Ya sudah patahkan aja kepalanya, simpan di atas arang, nanti lama-kelamaan juga matang," saran Inah sambil kembali masuk ke dalam Saung.
Ucuppun tidak menjawab, Dia hanya mengangguk kemudian meniup ikan peda, agar ketika dipatahkan tidak terlalu panas. dengan cepat dia pun mematahkan kepala ikan peda, lalu dilemparkan ke atas arang. sedangkan bagian tubuhnya Ucup bawa menggunakan daun pisang.
"Nasinya udah matang?" tanya Karmin menatap ke arah istrinya yang sedang duduk.
"Sudah, tapi cek lagi aja, kalau takut belum matang," jawab Inah.
Karmin pun bangkit dari tempat duduk, kemudian dia membuka penutup kuali yang di dalamnya terlihat nasi yang mengepul, memancarkan bau harum yang sangat menggugah selera, karena nasi itu dicampur dengan sereh, salam serta daun bawang.
"Kamu masak banyak amat Inah?" tanya Karmin.
"Biarin atuh Kang banyak juga, nanti kan bisa dibawa pulang, Jadi Inah nggak harus masak lagi," jawab Inah sambil mengambil batok kelapa.
__ADS_1
Mendengar jawaban istrinya seperti itu, Karmin tidak menjawab. Dia mengangkat nasi liwet itu di dekatkan ke papan Saung. dengan cekatan Inah mengambil cabe yang ditumpangkan di atas nasi, untuk menguleknya di atas batok kelapa.
Lama berjuang, hingga akhirnya makanan pun tersaji. Nasi liwat yang masih mengepul sudah terhidang di atas daun pisang. sambal cabe rawit yang dibuat oleh Ina sudah terlihat dikasih air. Ucup pun menyimpan ikan asin peda bakar di tengah-tengah nasi, membuat selera makan keluarga Karmin tergugah. tanpa berpikir panjang Mereka pun mulai menyantap nasi liwet dengan lahap. dari arah tungku terlihat mengepul asap yang keluar dari kepala peda yang tadi dilemparkan oleh Anak Karmin.
Asap itu terlihat mengepul ke atas, kemudian hilang diterpa oleh angin. namun wanginya tetap tercium sampai ke penjuru arah,, membuat Siapa saja yang menciumnya, perut mereka akan berdemo, meminta untuk segera cepat diisi.
Ranti yang tadi menghindar ketika dicari oleh Karmin. dia tidak pergi jauh, namun hanya berpindah tempat, setelah merasa aman dia pun kembali tengkurap, menyembunyikan tubuh di rerumputan yang berkerumun. Entah mengapa hari itu dia sangat merasa lelah, sehingga dia tidak ingin pergi jauh, apalagi kepalanya yang terasa mengenut mungkin karena lapar.
Dia terbaring di rerumpunan pohon manjah, dengan menggunakan kaki depannya sebagai sandaran kepala. matanya tertutup seolah sedang merasakan perut yang sedang melilit.
Dari arah bawah terasa semilir angin yang menerpa dedaunan, membuat hidung Ranti terangkat semakin ke atas. karena semilir angin itu membawa wangi yang begitu khas, wangi ikan asin yang sedang dibakar.
Kruwuk.....!
Suara perut babi ngepet terdengar bergetar, seolah meminta isi. Apalagi sudah sebulan lebih dia tidak mendapatkan makan nasi, sehingga ketika mencium wangi yang begitu khas, wangi ikan kesukaannya, membuatnya membuka mata.
Semakin lama terdiam, semakin tercium pula wangi ikan asin peda yang terbakar. membuat Ranti tidak sadar diri, seolah terhipnotis dia bangkit dari tempat tengkurapnya. kemudian berjalan menuju ke arah wangi ikan asin yang memenuhi rongga hidungnya. keadaan lapar dan kesusahan yang terus menimpa, membuatnya selalu lupa bahwa sekarang dia bukan memiliki wujud manusia, sehingga dia berencana mendatangi Saung, untuk meminta belas kasihan Pak Tani, siapa tahu saja mereka mau berbagi makanan.
Babi ngepet itu mulai menuruni tebing, Semakin lama berjalan, Ranti semakin mendekat ke arah Saung, semakin tercium pula ikan peda yang sedang dibakar, membuat ranti semakin tak sabar ingin meminta makanan itu. dengan cepat dia masuk ke arah depan Saung yang tak tertutup.
"Punten Mamang, Ranti boleh minta makan?" tanya Ranti dengan sopan ketika sudah berdiri di ambang Saung.
Maksud Ranti berkata seperti itu, dia ingin meminta makanan. namun berbeda penerimaan dengan keluarga Karmin yang diminta makan oleh Ranti. mereka terperanjat kaget sambil membulatkan mata menatap ke arah datangnya suara. apalagi dengan Inah yang baru saja masukkan nasi ke dalam mulutnya, sehingga membuatnya tersendat oleh nasi yang sedang dikunyah, terlihat wanita itu batuk-batuk, mungkin hendak mengeluarkan nasi dari tenggorokan yang tidak mau masuk dan tidak mau keluar.
"Bapak babi......!" Teriak si Ucup sambil loncat dari pelupuh papan, menuju ke arah samping yang tidak terhalang oleh babi yang sedang menatapnya. kemudian dia lari entah ke mana. sedangkan Karmin yang sedang Terkesima, dia menatap ke arah babi dan menatap ke arah istrinya, yang masih terbatuk-batuk, tersedak oleh nasi yang dimakannya. dengan cepat Karmin mendekat ke arah Inah lalu memukul leher belakang Inah, agar bisa memecahkan nasi yang tertahan di tenggorokan.
Setelah memukul punduk istrinya, Karmin pun menggendong tubuh Inah untuk segera pergi meninggalkan Saung. Namun sayang Karmin yang menggendong Inah di depan, dia tidak memakai perhitungan, Karena rasa takut sudah memenuhi jiwanya, sehingga tubuh istrinya terjedot ke tiang Saung.
__ADS_1
"Aduh....!" Desis Inah tertahan.
Namun Karmin tidak mempedulikan Hal itu, dia terus berlari sambil menggendong tubuh Inah, hingga akhirnya Saung itu pun terlihat sepi, hanya tersisa Ranti yang menatap kebingungan ke arah orang-orang yang sedang berhamburan.
Ucup yang masih kecil dan badannya yang masih ringan, dengan cepat dia sudah tak terlihat lagi berlari menuju ke arah perkampungan. sedangkan Bapaknya yang terlihat kesusahan, karena harus menggendong tubuh istrinya, dia tidak berhati-hati karena tidak bisa melihat pijakan, sehingga.
"Halah......! Bugh.....! Awwwww!
Teriak Karmin yang tersandung akar yang merambat ke tengah-tengah jalan, membuat tubuhnya terbang terjatuh menimpa tubuh istrinya. namun dia dengan cepat bangkit untuk segera menjauh dari area Saung.
"Kang Karmin......! Kang Karmin....! tolong....! tolongJangan tinggalin Inah..." Panggil Inah Yang Tertinggal, membuat Karmin menghentikan langkah lalu berlari Kembali menuju ke arah istrinya.
"Aduh.....! sampai lupa kalau saya punya istri. Lagian Kenapa kamu, Inah.....! tidak lari? kenapa kamu masih diam, ayo lari.....! Buruan......!Nanti kamu dimakan babi," gerutu karmin yang terlihat kesal, namun meski begitu dia tetap menggendong kembali tubuh inah, kemudian melanjutkan berlari menuju ke arah Kampung, mengejar Ucup yang sudah tidak terlihat lagi.
Sedangkan biang keroknya, hanya terdiam sambil menatap heran ke arah orang-orang yang berhamburan berlari meninggalkan Saung. seolah tidak sadar bahwa dirinya bukan berwujud manusia. Namun kejadian itu tidak terlalu lama. setelah orang-orang yang berlari sudah tak terlihat lagi. Babi ngepet itu terlihat menarik nafas dalam, tanpa Memikirkan keadaan orang yang sudah kabur, dengan santainya dia pun masuk ke dalam Saung.
Perlahan Ranti mendekat ke arah daun pisang yang dihamparkan di atas pelupuh Saung, yang masih terisi oleh nasi liwet yang masih mengepul. karena baru saja diangkat dari tungku. Ditepian nasi terlihat ada sambal dan ikan asin peda yang tinggal sebelah lagi. ikan peda yang tanpa kepala karena sudah dibuang oleh Ucup ke atas arang. Kepala ikan yang mengundang babi datang ke saungnya.
Ranti yang sudah sangat lapar Dari kemarin, melihat makanan yang begitu menggugah selera. tanpa berpikir panjang dia mulai memakan nasi yang ada di atas daun, menggunakan semua kemampuannya. karena dia tidak bisa menggunakan tangan. babi itu terlihat seradak seruduk Seperti tergesa-gesa, takut orang yang memiliki Saung datang kembali.
"Maafkan Mamang...! Maafkan saya Bibi....! saya melakukan hal seperti ini, karena saya sangat lapar, Tadinya saya mau minta seikhlasnya. tapi kalian malah kabur. kasihan kalau melihat Si Bibi yang tersendat, sampai tidak bisa berbicara." gumam Ranti sambil terus mengunyah nasi yang ada di atas daun dicampur dengan sambal dan peda bakar.
Akhirnya nasi yang ada di atas daun pun habis, sampai bersih. bahkan nasi yang masih ada di dalam kuali ikut Ranti habiskan. batok sambal terlihat pecah, ikan peda Habis tak tersisa. Karena Ranti makan sampai habis ke tulang-tulangnya. maklum babi tidak bisa mencubit hingga memakan Asin itu sampai ke tulang. setelah merasa perutnya kenyang babi itu mendekat ke arah batok yang terisi oleh air minum. dengan menyeruduknya Ranti mencoba meminum air itu. Namun sayang batok itu malah terjatuh hingga air yang di dalamnya tumpah. Namun meski begitu, masih ada air yang masuk ke dalam tenggorokan Ranti.
Setelah merasa kenyang, Ranti dalam bentuk babi hutannya. dengan segera dia meninggalkan Saung Karmin, menyela-nyela rerumputan ilalang, hingga akhirnya dia tiba di atas bukit, di mana pohon tebu timbarau bertumbuh subur di sana. dengan segera Dia memasukkan tubuhnya kembali ke atas rerumpunan itu, sambil menikmati perut yang terisi dengan kenyang.
"Alhamdulillah, ya Allah! akhirnya hamba bisa mendapat nasi dengan lauk yang begitu luar biasa," gumam hati Ranti sambil mulai memejamkan mata, perutnya tidak Berisik seperti tadi, sekarang perutnya terasa tenang tidak bergejolak seperti sebelum diisi.
__ADS_1
Semilir angin dari arah bawah membuat tubuh Ranti Terasa tenang, bak kipas angin yang memberikan kesegaran. berisik suara burung-burung kecil seperti musik pengiring sebelum tidur, hingga akhirnya babi hutan itu dengan perlahan mulai menutupmatanya dengan sempurna. akhirnya Ranti tertidur dengan sangat nyenyak, membuatnya tidak ingat di bumi alam, terlarut dalam khayalan khayalan dan mimpi-mimpi indahnya.