Babi Beranting

Babi Beranting
44. celaka


__ADS_3

Setelah berada di jalan, Sarman tidak bergegas menuju ke hutan. namun dia mengikuti jalan yang nantinya akan sampai ke Jalan Raya. dia terus memindai Jalan Setapak yang sedang ia pijak, mencari tempat teraman untuk mengeksekusi Mbah Abun. hingga akhirnya dia menemukan satu bukit yang jauh ke mana-mana.


"Kayaknya di sini aman deh!" ujar Sarman sambil memindai area sekitar bukit, kemudian dia mencari tempat yang teduh, namun tidak terlihat oleh orang lain untuk bersembunyi.


"Kalau habis pulang dari kota, mungkin si Abun akan kelelahan. sehingga dia tidak punya tenaga untuk bertarung. jadi aku akan mudah menghabisi nyawanya." gumam Sarman setelah menemukan tempat persembunyian.


Perbekalan yang disiapkan oleh istrinya pun disimpan di sampingnya, matanya terus terfokus ke arah lembah, menunggu kedatangan Mbah Abun.


Sejam, dua jam, tiga jam menunggu. namun orang yang ditunggu belum hadir menampakan hidungnya, membuat Sarman sedikit kesal namun dia tidak menyerah, karena dia beranggapan kalau dia menyerah, maka tidak akan ada kesempatan bagus seperti sekarang.


Kira-kira pukul 02.00 siang, Sarman yang sudah menghabiskan perbekalan dari istrinya. dia terperanjat kaget karena dari arah bawah, terlihat ada seorang laki-laki yang sedang menanjak menuju ke arahnya. setelah memastikan bahwa yang datang itu adalah musuh bebuyutannya, dengan segera dia pun bersiap-siap mengencangkan ikat golok kepinggang. sambil merapikan bajunya. tak lupa dia menutup mulutnya dengan kain yang sudah disiapkan, menyisakan mata yang terlihat bergerak-gerak. sehingga kalau tidak jeli, orang-orang akan menganggap bahwa Sarman, adalah seorang begal yang hendak menyergap korbannya.


Dug deg! Dug deg! Dug deg! Dug deg!


Jantung Sarman berdegup dengan kencang, karena perbuatan sekeji itu baru dia lakukan sekarang. sehingga dia beberapa kali terlihat menarik nafas, untuk menghilangkan ketegangannya.


"Sehabis nanjak, pasti dia akan sangat capek. apalagi dia baru pulang jam segini. pasti tidak akan membutuhkan waktu lama, untuk menghabisi nyawanya." gumam Sarman sambil terus menatap ke arah laki-laki yang semakin mendekat.


Semakin lama, Mbah Abun yang terlihat lemas semakin mendekati ke arah persembunyian Sarman. semakin cepat pula jantung Sarman memompa darahnya, hingga akhirnya orang yang ditunggu pun lewat ke hadapan Sarman.


"Mampus kau babi!" teriak Sarman menggetarkan hati musuhnya, tanpa berbicara lagi dia melayangkan golok yang sejak dari tadi dia pegang, mengarah ke kepala bah abun dari samping. Namun sayang, Mbah Abun walaupun terlihat capek namun dia sedikit mempunyai kelebihan. Mendengar orang yang berteriak dan merasa bahaya akan menyerangnya, dengan cepat dia memundurkan kembali tubuhnya ke belakang, sehingga sabetan golok Sarman memakan angin.

__ADS_1


"Eee eeh! Sejak kapan di pasir tiis, ada begal ."ujar Bah Abun sambil menatap ke arah Sarman yang sudah menggunakan penutup wajah.


Namun orang yang ditanya dia tidak menjawab, hanya matanya yang menatap tajam ke arah bah Abun. Mungkin dia merasa kecewa karena serangannya tidak mengenai sasaran. dengan memasang kuda-kuda, dia mulai bersiap menyerang kembali musuhnya.


"Siapa Kau ban9sat?" tanya Mbah Abun sambil menatap tajam sama orang yang ada di hadapannya.


Sarman yang emosinya sudah memenuhi jiwa, tanpa menjawab pertanyaan Mbah Abun. dia mulai menusukkan goloknya menyasar tepat ke arah dada. namun Mbah Abun yang sekarang sudah lebih Waspada, dia menggeserkan badannya ke arah samping. sehingga serangan kedua Sarman tidak mengenai sasaran, namun tidak cukup sampai di situ Sarman membalikan goloknya dengan cara melibas ke arah samping, dengan tujuan menyerang leher Mbah Abun. namun Mbah Abun dengan cepat dia menjatuhkan tubuh, sehingga serangan itu meleset lagi.


"Kurang ajar! kayaknya kamu harus merasakan tinju saya." ujar Bah abun yang merasa kesal, karena beberapa kali nyawanya hendak diancam. dia pun mulai mundur beberapa langkah, mengatur strategi agar bisa melumpuhkan musuh yang memiliki senjata lengkap.


"Ayo maju lagi!" tantang Mbah Abun sambil memasang kuda-kuda yang sangat tegap, menandakan Dia adalah orang yang bisa bermain silat.


Yang diajak berbicara seperti biasa dia tidak menjawab, namun golok mulai menyambar dari arah samping menuju arah pinggang Mbah Abun, dengan cepat Mbah Abun mengecilkan perutnya sehingga golok itu hanya mengenai bajunya. Serangan Sarman yang tidak mengenai sasaran, dia mulai membalikkan arah golok menuju arah samping, kembali membabat pinggang bah Abun, sehingga Mbah Abun pun beberapa kali mundur menghindari serangan golok itu.


"Aduh!"


Desis Sarman yang merasa tangannya kesemutan. Golok yang dipegangnya pun terjatuh, dengan cepat bang Abun menendang golok itu agar menjauh dari mereka.


"Hahaha! ayo mau ngapain lagi, ujar Bah Abun yang masih memegang tangan Sarman. dengan cepat dia pun mengarahkan pukulannya ke arah pria yang menggunakan penutup wajah.


Sarman yang melihat pukulan Mbah Abun hendak mengenai wajahnya, dengan cepat dia pun menggeserkan kepalanya ke arah samping, sehingga pukulan bah Abun hanya memakan angin. dengan cepat Sarman memeluk tubuh bah Abun, hingga pergulatan pun tak terhindarkan.

__ADS_1


Akhirnya Kedua orang itu saling Serang, saling sikut, saling pukul, saling melemparkan, saling tindih, saling tonjok, saling mempertahankan egonya. yang satu ingin mempertahankan nyawanya dari orang yang jahat, yang satunya lagi ingin menghabisi nyawa musuhnya.


Lama bertarung Sarman yang tidak memiliki keahlian silat, beberapa kali wajahnya terkena pukulan oleh Mbah Abun. sehingga akhirnya dia pun mulai keteteran, tak sanggup lagi melanjutkan pertarungan. Hingga akhirnya dia berniat melarikan diri. Mbah Abun yang mengetahui gelagat musuhnya hendak melarikan diri, dengan cepat dia mentekel kaki Sarman, sehingga tak Ayal tubuh itu terjatuh nyungsep ke tanah.


"Hahaha, cuma segitu aja kemampuanmu ban9sat?" tanya Mbah Abun sambil bertolak pinggang, menatap ke arah lawannya yang sudah roboh. kemudian Mbah Abun melakukan tendangan beberapa kali ke arah tubuh Sarman.


"Mampus kau ban9sat!" Pekik Mbah Abun. namun dia Merasa penasaran, Mbah Abun pun mendudukkan tubuhnya di atas tubuh Sarman. dengan cepat dia membuka kain penutup wajah.


"Sarman!" Desis Bah Abun yang merasa kaget karena orang yang sedang ditindihnya, ternyata tetangganya sendiri.


Sarman yang tersadar dengan penyamarannya yang terbongkar oleh Mbah Abun, dengan mengandalkan sisa-sisa tenaga yang masih tersisa. dia mendorong Mbah Abun yang sedang kebingungan, karena tidak menyangka ada warga yang hendak melenyapkan nyawanya. sehingga tak Ayal lagi, Mbah Abun yang belum siap mendapat serangan, dia pun terjungkal ke arah belakang. setelah Mbah Abun terjatuh dengan cepat Sarman pun bangkit, lalu berlari meninggalkan Mbah Abun yang masih terlentang.


"Eh ban9sat, tungguuuuuuu! kurang ajar." bentak Bah Abun yang dengan cepat bangkit, namun ketika dia hendak mengejarnya. dia pun merasa kelelahan apalagi habis dari perjalanan jauh, sehingga dia tidak melanjutkan pengejaran itu.


"Kurang ajar Kalau tahu 8tu si Sarman, sudah gua habisin tu orang." gumam Mbah Abun sambil menepuk-nepuk bajunya yang terlihat kotor oleh tanah. dia pun kembali mendudukan tubuhnya untuk menghilangkan rasa lelah, sehabis melakukan pertarungan. Otaknya sambil terus berpikir bagaimana cara menghabisi Sarman, karena kalau dibiarkan seperti itu terus, maka Mbah Abun lah yang akan kehilangan nyawa, karena Sarman sekarang Sudah berani berbuat tega seperti itu.


"Kalau dilaporkan sama Pak RT, mungkin hanya diperingatkan saja, kayak kemarin. Mending kalau dia diteruskan ke kelurahan, kalau nggak urusannya semakin ribet, Apalagi Si Sarman itu sangat pandai bersilat lidah." gumam Mbah Abun yang masih menatap ke arah pelarian Sarman.


"Kayaknya harus menggunakan cara lembut, agar tidak membuat gaduh orang-orang. Awas kamu Sarman! rasakan pembalasanku." lanjut gumam Mbah Abun sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia menghampiri golok yang tadi dia tendang, lalu mengambil golok itu memperhatikan sesaat.


Setelah dirasa capeknya sudah mulai berkurang, Mbah Abun pun mulai melanjutkan perjalanan dengan membawa golok Sarman Yang Tertinggal.

__ADS_1


Tak diceritakan lamanya di perjalanan, akhirnya Mbah Abun pun sampai ke rumah. abu Yayah yang melihat perbedaan dengan tubuh suaminya, dengan cepat menghampiri, sambil membawakan air minum.


__ADS_2