
Selesai menjampe bandotan yang ada ditangannnya, aki Tardi mulai menyimpan bandotan itu di atas luka Sarman, sehingga orang yang tak sadarkan diri itu mengkerejep, mungkin merasa perih.
Setelah Luka Sarman tertutup oleh bandotan, aki tardi mulai membungkus luka itu dengan kain yang tadi sudah dipotong-potong, layaknya perban yang membungkus luka.
"Aki Bagaimana suami saya, kok belum sadar?" tanya Darmi yang terlihat penuh kekhawatiran.
"Sebentar! aki lagi fokus mengobati lukanya, karena kalau dia sadar mungkin akan susah mengobatinya. sekarang kamu banyak berdoa agar suamimu tidak terjadi apa-apa."
Darmi mendengar ucapan aki Tardi seperti itu, dia hanya menghela nafas dalam sambil menyusut cairan bening yang membasahi pipinya. Tak kuasa menahan rasa pilu melihat orang yang ia sayangi terbaring lemas tak berdaya.
Selesai mengurus luka yang diderita oleh Sarman, aki Tardi pun bangkit dari tempat duduknya, lalu pindah mendekat ke arah kepala Sarman.
"Minta air putih!" Pinta aki Tardi sama orang yang tadi menyiapkan air hangat.
"Segimana aki?" tanya wanita itu yang belum paham.
"Segelas aja cukup!" jawab aki tardi.
dengan cepat orang itu bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia menuju ke arah dapur Sarman. melihat keluarga Darmi yang sedang kesusahan, dia dengan tulus membantu keluarga itu.
Tak lama Orang yang mengambil air pun datang kembali, dengan membawa segelas air di tangannya, lalu menyerahkan air itu ke Aki Tardi.
Setelah gelas yang berisi air berada di tangannya, aki Tardi mulai berkomat-kamit membaca mantra kembali. setelah selesai membaca mantra, seperti biasa dia meniupkan bacaannya ke air yang ada di dalam gelas. setelah ditiup dia pun mulai meneguk air sampai pipinya yang udah keriput terlihat mengkilap, karena mulutnya penuh dengan air. setelah mulutnya penuh dengan air dengan menatap wajah Sarman.
Byur!
Aki tardi menyembur Sarman dengan air yang ada di mulut, sehingga membuat mata Sarman yang awalnya terpejam mengkrejep seketika, membuat orang-orang yang ada di situ merasa lega karena melihat Sarman sudah siuman.
Aduuuuuuuh! aduuuuu!h aduuuuuuh sakiiiiiit!
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Sarman, hanya desisan-desisan menahan rasa sakit, yang ditimbulkan oleh lukanya. Membuat semua warga Kampung Ciandam merasa pilu dengan apa yang diderita oleh tetangganya.
__ADS_1
"Kaaaaang! Akang! akang sadar?" ujar Darmi yang masih berlinang dengan air mata, dia dengan cepat mendekati ke arah kepala Sarman. lalu membersihkan cairan semburan aki Tardi yang masih membasahi wajah Sarman.
"Tolong bantu angkat kepalanya!" Pinta aki Tardi sambil melirik ke arah orang yang ada di dekatnya.
Para warga pun dengan Sigap mengangkat kepala Sarman, setelah kepala itu terangkat aki Tardi mulai mendekatkan gelas berisi air, yang sudah di Jampe-jampe ke dekat bibir Sarman. dengan perlahan Sarman pun mulai meneguk air itu, meski tidak banyak, namun ada air yang masuk ke dalam mulutnya, membuat Dia sedikit tersadar dengan keadaan yang menimpanya.
"Kang Sarman! Kang Sarman! Akang nggak apa-apa?" tanya Pak RT yang menatap nanar ke arah orang itu.
"Sakit Pak RT! seluruh badan saya sakit, dada saya terasa nyeri," jawab Sarman yang terbata-bata, wajahnya terlihat meringis.
"Ya sudah Kang Sarman jangan banyak berbicara, kang Sarman istirahat saja terlebih dahulu."
"Bentar jang RT, aki mau tahu ceritanya seperti apa, agar kita mudah menolongnya," tahan aki Tardi yang merasa kasihan dengan Sarman.
"Kang Sarman bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. biar kami bisa menolong, dan kami bisa berhati-hati ketika memasuki hutan itu," tanya Pak RT sambil menatap kembali ke arah orang yang sedang terbaring di atas tikar. meski dia merasa kasihan, namun benar yang diucapkan oleh aki Tardi, mereka harus tahu penyebab Sarman terluka, agar bisa menolongnya dengan cepat, dan bisa berhati-hati ketika masuk ke dalam hutan.
Sarman yang meringis menahan sakit, dia mulai menarik nafas dalam. namun tidak kuat karena dadanya terasa sakit. "saya diserang babi hutan!" jawab Sarman membuat warga-warga yang berada di situ terheran heran, kenapa diserang babi hutan ada luka sayatan benda tajam di kakinya.
"Kok bisa?" tanya salah Seorang warga.
"Benar! benar! sekarang kita harus lebih berhati-hati, karena babi hutan semakin ganas, bukan hanya masuk ke perkampungan, namun para babi hutan itu sudah menyerang warga," ujar Pak RT memberi peringatan.
"Ya sudah sekarang Jang Sarman istirahat aja terlebih dahulu, aki mau pulang ke rumah karena aki belum mencari rumput buat kambing. Nanti sore aki ke sini lagi, untuk mengecek keadaan Jang Sarman," ujar aki Tardi sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Terima kasih aki, Terima kasih banyak!" ujar Darmi yang masih tetap duduk di samping suaminya. Pipinya yang basah terkena tetesan air mata yang terus mengalir seolah di belakang matanya ada sumber mata air.
"Yah Bi Darmi, saya juga mau pamit dulu, tadi saya lagi memangkas rumput di galengan sawah. Perkakas saya masih Tertinggal di sawah, karena mendengar teriakan kang Sarman. Saya mau mengambil perkakas pekerjaan saya dulu, Nanti insya Allah sore saya akan ke sini lagi," ujar Pak RT sambil bangkit dari tempat duduknya.
Akhirnya para tetangga Sarman pun mulai berpamitan, pergi meninggalkan rumah orang yang sedang kena musibah itu. menyisakan tetangga-tetangga yang rumahnya dekat dengan Sarman. mereka saling bahu-membahu membantu keluarga Sarman yang sedang terkena musibah, dengan cara menemani Darmi agar tidak merasa kesepian.
*****
__ADS_1
Keesokan paginya, Darmi yang mau mengganti perban luka Sarman. dia pun menjerit, setelah melihat dari luka yang diderita oleh suaminya, keluar belatung seperti hendak busuk.
Mita yang sedang berada di kamar, mendengar teriakan ibunya dengan cepat dia pun keluar menghampiri ibunya yang sedang menjerit. "Ada apa ibu?" tanya Mita yang terlihat kaget penuh keheranan, matanya memerah seperti orang yang habis menangis.
Ditanya oleh anaknya, Darmi tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah kaki Sarman yang sudah mulai membiru, dari sayatan lukanya terlihat belatung yang keluar. Mita yang melihat kengerian seperti itu dia pun berteriak dengan keras, sehingga para tetangga yang berada didekat rumahnya berhamburan menghampiri.
Ceklek!
Pintu rumah mereka pun didorong dari luar, dengan cepat beberapa orang masuk ke dalam rumah. "ini ada apa kok pada berteriak?" tanya orang yang baru datang sambil menatap ke arah ibu dan anak yang sedang menangis berpelukan. kemudian warga yang datang mengalihkan ke arah Sarman yang masih terpejam meringis menahan sakit.
"Itu kang Adin, ituuuuuu!" hanya kata itu yang terucap dari mulut Darmi, sambil menunjuk ke arah kaki Sarman yang mengeluarkan bau menyengat.
"Astaghfirullahaladzim, Kenapa ini bisa seperti ini?" tanya Adin yang menatap heran ke arah kaki Sarman. "Tolong panggil aki Tardi dan Pak RT!" pinta Adin yang dengan cepat menguasai keadaan.
Salah satu dari mereka pun ada yang bangkit, kemudian keluar dari rumah Sarman, untuk menemui ketua Kampung mereka. tak lama menunggu akhirnya orang yang dipanggil pun datang.
"Kenapa lagi ini?" tanya aki Tardi sambil meminta maaf agar bisa mendekat ke arah Sarman.
"Nggak tahu aki! kok kaki Kang Sarman bisa busuk seperti itu. padahal kalau infeksi, lukanya baru kemarin?" jelas Adin sambil membuka penutup luka Sarman. Terlihatlah kembali belatung yang berjatuhan.
"Astaghfirullahaladzim! ini ada apa lagi?" gumam aki Tardi sambil menghela nafas dalam, tidak menyangka luka yang diderita oleh Sarman seberat itu.
"Emang kalau luka diakibatkan oleh serangan taring babi, bisa seperti ini aki?" tanya Pak RT yang menatap ngeri ke arah Sarman yang terbaring dengan nafas yang sangat pelan.
"Nggak tahu Jang! sepengetahuan aki tidak ada orang yang pernah dilukai taring babi. aki juga bingung bagaimana cara mengobatinya karena ini adalah pengalaman pertama aki selama membawa kepala ini," jawab aki Tardi yang terlihat penuh kebingungan dan keheranan.
"Terus bagaimana cara menolongnya aki?"
"Kalau begini kejadiannya, aki juga bingung, Aki harus menolongnya dengan cara apa," jawab aki Tardi seolah kehabisan akal.
"Kang Sarman! Kang Sarman!" Panggil Pak RT sambil menatap ke arah orang yang masih terbaring sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Iya Pak RT!" jawab Sarman dengan suara pelan, matanya perlahan terbuka namun tidak sempurna. membuat terlihat sangat mengkhawatirkan.
"Ini kejadiannya seperti apa, Bisa nggak Kang Sarman ceritakan, agar kita semua bisa membantu, kalau kita bisa mengetahui penyebabnya."