Babi Beranting

Babi Beranting
45. Rencana


__ADS_3

"Abah kenapa?" tanya Abu Yayah sambil memindai seluruh tubuh suaminya.


"Si Sarman ambu!" jawab Mbah Abun tidak melanjutkan perkataannya, dia mengambil air yang sudah disiapkan istrinya, kemudian meneguk air itu sampai habis tak tersisa.


"Kenapa dengan si Sarman?" tanya Abu Yayah yang terlihat tidak sabar.


"Barusan di Sarman mencegat Abah di jalan, Bahkan dia hendak membunuh Abah dengan golok ini." jelas Mbah Abun sambil menunjukkan golok yang dibawanya.


"Ya ampun Abah, Abah nggak apa-apa?" tanya Abu Yayah sambil mendekati Mbah Abun kemudian dia mulai mengecek dari ujung rambut sampai telapak kaki, memastikan tidak ada luka di tubuh suaminya.


"Apa-apaan si Ambu, Abah nggak apa-apa! kalau si sial4n itu tidak kabur, mungkin Abah sudah bisa membunuhnya."


"Abah jangan tinggal diam, cepat laporkan semua ini sama Pak RT! agar diproses secara hukum."


"Jangan Ambu! jangan dilaporkan sama Pak RT, Abah sudah mempunyai cara untuk melenyapkan pengganggu itu."


"Kenapa? Bukannya kalau sama Pak RT, urusannya akan diluruskan."


"Yah cuma diluruskan saja Ambu, namun tidak menyelesaikan masalah. kalaupun di penjara, penjaranya pun nggak akan lama. setelah dia keluar dia akan mulai mengganggu kehidupan kita lagi. kita harus melenyapkan tuntas sampai ke akar-akarnya, agar kehidupan kita kembali tenang."


"Abah jangan nekat jangan sampai membunuh Sarman, nanti bukan Sarman yang masuk penjara, tapi malah Abah yang masuk." jelas Abu Yayah yang tidak setuju dengan yang diungkapkan oleh suaminya.


"Tenang Ambu! Abah punya cara yang lebih halus, yang tidak bisa dideteksi oleh hukum yang berlaku di negara kita."


"Caranya?" tanya Abu Yayah sambil mengerutkan dahi.


"Si Nyai ada?"


"Nggak ada abah, tadi sehabis Ashar dia meminta izin sama Ambu mau ke kantor kelompok. emang kenapa?"


"Nggak apa-apa! agar rencana kita tidak terdengar oleh orang lain."


"Rencana apa?" tanya Abu Yayah yang semakin merasa bingung, dengan apa yang disampaikan oleh suaminya.


"Ambu! Ambu! kan kita lagi membahas cara melenyapkan si pengganggu itu."


"Iya bah! maaf-maaf, lagian ngomongnya berbelit sih, jadi Ambu nggak paham, terus Apa rencana Abah?"

__ADS_1


"Kita temui aki sobani, kita minta pertolongan sama dia. agar menyelesaikan urusan Sarman. Mungkin dia akan punya cara melenyapkan pengganggu itu, tanpa mengotori tangan kita."


"Oh begitu, Terus kapan abah mau menemui aki sobani?" tanya Abu Yayah karena dia juga merasa khawatir kalau Sarman terus dibiarkan. Mungkin awalnya sarman menyerang Mbah abun, nanti lama-kelamaan bisa-bisa menyerang dirinya atau anaknya, itu urusannya akan semakin ruwet.


"Besok! besok kita ke Gunung Karang, untuk menemui aki sobani. Ambu juga harus ikut, biar Ambu tahu rumah guru kita." jelas Mbah Abun yang tak mau menunda niatnya.


"Terus kalau kita meninggalkan rumah, apa Abah nggak takut kalau Ranti didatangi oleh si Sarman?"


"Tenang Ambu! Abah sudah memikirkan matang-matang. untuk masalah itu, nanti Abah akan sewa orang untuk menjaga keamanan si Nyai, jadi kita bisa bepergian dengan nyaman." jawab Bah Abun yang sudah menyiapkan rencana dari tadi, ketika dia pulang dari pertempuran.


"Ya sudah abah! Ambu ikut aja, yang terpenting semuanya selamat."


"Beres! tenang aja."


"Ya sudah sana Abah mandi dulu, ganti baju kotornya." seru Ambu Yayah sambil memberikan handuk agar suaminya membersihkan tubuh yang terlihat kotor oleh keringat bercampur tanah.


Malam hari, setelah keluarga Mbah Abun melaksanakan makan malam bersama  seperti biasa keluarga itu akan mengobrol sebentar sebelum kantuk menjemput, sambil menurunkan nasi yang baru saja masuk ke dalam perutnya.


"Ranti!" Panggil Mbah Abun memecah heningnya suasana.


"Jangan ngelamun terus! masa, masih muda sudah sering melamun." jelas Bah Abun.


"Enggak kok bah! Ada apa?" tanya Ranti sambil membenarkan posisi duduknya.


"Begini Ranti, besok Abah dan Ambu diundang ke kota, untuk menghadiri acara pernikahan anak teman Abah."


"Asik Ranti bisa main ke kota." jawab Ranti sambil mengulum senyum.


"Namun ada hal yang berat, yang harus Abah sampaikan. karena teman Abah Hanya mengundang Abah sama ambu, kamu tidak ikut diundang. kamu jaga rumah kita aja yah! nanti lain waktu kita akan liburan bersama-sama, Sekarang kan Abah dan ambu bukan mau liburan, tapi mau menghadiri undangan pernikahan, sambil membahas pekerjaan." jawab Bah Abun membiaskan kebahagiaan yang Terukir di wajah Ranti.


"Kok begitu Abah?"


"Yah begitu, nanti kamu capek kalau kamu ikut, Lagian Abah juga malu kalau tidak Diundang. kamu baik-baik di rumah ya, Abah janji nanti minggu depan kita jalan-jalan bersama ke kota!"


"Serius Bah! Abah tidak bohong kan?"


"Abah Nggak pernah bohong sama kamu Ranti! yang terpenting besok kamu jaga rumah, abah khawatir kalau rumah ditinggal tanpa ada yang menghuni."

__ADS_1


"Emang mau berapa hari di kotanya?"


"Dua hari semalam."


"Berarti besok Ranti di sini sendirian?"


"Nggak, kamu Nggak sendiri, nanti Abah tugaskan Zuhri sama Galih untuk menjaga rumah kita, agar kamu tidak merasa takut, Kalau ada yang menjaga."


"Serius Abah?" tanya Ranti yang wajahnya terlihat mulai bercahaya lagi, karena walaupun tidak ikut sama orang tuanya, dia akan merasakan kebahagiaan bisa berlama-lama mengobrol dengan Galih.


"Iya, namun ada satu hal yang harus kamu ketahui. Selama kepergian Abah dan Ambu kamu tidak boleh memasuki kamar Abah."


"Kenapa Abah?" tanya Ranti yang terlihat penuh keheranan.


"Pamali! itu kan kamar orang tua."


"Ya sudah kalau seperti itu, Abah hati-hati ya di kotanya dan jangan lupa oleh-olehnya!" akhirnya Ranti pun mengalah dia berbesar hati merelakan kepergian orang tuanya.


"Nah, begitu dong itu namanya baru anak Abah! Ya sudah, ayo kita tidur!" ajak Mbah Abun sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke kamar diikuti oleh Abu Yayah, sedangkan Ranti, dia pun sama masuk ke kamarnya.


Keesokan paginya, pagi-pagi Bah Abun dan Abu yayah yang hendak pergi menemui aki sobani, mereka berdua pun sudah siap-siap.


"Ingat pesan Abah semalam, jaga rumah dan jangan sampai masuk ke kamar Abah!" ingat Bah Abun sebelum berangkat.


"Iya Abah! Ranti sudah paham kok! Ranti bukan anak kecil lagi."


"Ya sudah kalau begitu, Kamu hati-hati di rumah ya! Abah mau berangkat dulu!" ujar Bah Abun sambil menyalami anaknya, diikuti oleh Abu Yayah Yang menciumi Ranti, seperti yang hendak bepergian lama.


Selesai berpamitan, mereka berdua pun berangkat menyusuri Jalan Setapak yang nantinya tembus ke arah jalan raya. Jalan Setapak yang biasa dilewati oleh Mbah Abun, diantar oleh tatapan Ranti yang merasakan ada kekhawatiran di dalam hatinya, namun entah apa kekhawatiran itu dia pun tidak mengerti.


"Semoga saja tidak terjadi sesuatu sama abah dan Abu."  gumam Ranti sambil masuk ke dalam rumahnya, kemudian seperti layaknya seorang anak perempuan, dia pun mulai menyapu seluruh area rumahnya, agar tidak kotor oleh debu. hanya kamar orang tuanya yang terlewat, karena Ingat pesan dari Mbah Abun. selesai mengerjakan pekerjaan rumah, dia pun pergi ke kantor kelompok, untuk membayar kerajinan yang sudah selesai dikerjakan.


Di kantor Ranti pun bertemu dengan Galih, namun tak ada pembicaraan serius di antara mereka, menjaga hati Daus agar tidak tersakiti. selesai melaksanakan tugasnya, Ranti berpamitan untuk pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Ranti langsung makan siang sendirian. rasanya sangat terasa berbeda, ketika makan tidak ditemani oleh orang tuanya. sesudah makan siang, dia pun duduk di kursi ruang tengah. tidak ada orang tua, rasanya rumah besar itu sangat mencekam dan membosankan. matanya yang terus tertuju ke kamar Mbah Abun, membuatnya semakin penasaran tentang larangan Bapaknya.


"Ada apa sih! di kamarnya. sampai anaknya aja nggak boleh masuk ke dalam." gumam Ranti yang terus menatap ke arah kamar, namun dia segera membuang jauh rasa penasaran itu. dengan mengecek buku pembayaran yang baru saja ia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2