Babi Beranting

Babi Beranting
64. Dilukai


__ADS_3

"Ini ada apa?" tanya Pak RT yang kebetulan dia juga sedang berada di sawah, namun sawahnya dekat dengan hutan. dia terkaget ketika mendengar ada orang yang berteriak meminta tolong, sehingga dengan cepat Ia pun berlari ke arah datangnya suara.


"Kurang tahu Pak RT, tadi ketika saya datang kang Sarman sudah begini," jawab Seorang warga menyampaikan penemuannya.


"Kok bisa seperti ini, ya Allah ada-ada aja!" Gumam tetuah kampung ciandam.


"Iya Pak RT!" Jawab Salah Seorang warga yang terlihat kebingungan juga, dengan apa yang menimpa sama tetangganya.


"Ya sudah, kalian jangan diam saja. ayo kita tolong Kang Sarman! Kita bungkus lukanya! agar tidak mengeluarkan banyak darah," pinta Pak RT sambil jongkok kemudian dia membuka baju Sarman yang sudah acak-acakan terkena sayatan. dengan cepat dia pun membungkus luka sarman yang ada di kaki, agar pendarahannya terhenti.


para warga Kampung Ciandam pun seolah tersadar dengan apa yang terjadi. mereka mulai mencari bambu untuk dijadikan tandu, karena melihat kondisi Sarman, itu sangat tidak memungkinkan untuk dibawa dengan cara digendong, atau digotong. hanya menggunakan tandulah cara yang terbaik, untuk membawa orang yang terluka seperti itu.


Warga terus membantu Sarman, meski mereka tidak suka dengan sikapnya yang selalu memojokkan Mbah Abun. namun Walau begitu, mereka adalah para warga yang selalu gotong royong dalam segala hal. Sehingga mereka terus disibukkan menolong Sarman, sebisanya, semampunya. ada yang mengurus luka Sarman, ada juga yang menyiapkan tandu untuk membawa orang yang terluka.


Setelah selesai membuat tandu, para warga pun kembali mendekati ke arah Sarman, yang masih dikerumuni oleh orang-orang yang membantunya.


"Kuat nggak tandunya?" tanya Pak RT memastikan.


"Insya Allah, kuat Pak! karena saya tadi sudah mencobanya dengan tidur di atas tandu itu," jawab Seorang warga menjelaskan bahwa, tandu yang dibuatnya bisa digunakan.


"Ya sudah! ayo kita bawa kang Sarman pulang ke rumah!" ajak Pak RT sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian Dia memegang tubuh Sarman secara perlahan, untuk dipindahkan keatas tandu. para warga yang lain yang melihat, mereka pun mulai membantu memindahkan tubuh Sarman.


Setelah tubuh Sarman berada di atas tandu. Tanpa dikomando, mereka pun mulai menaikkan tandu itu ke atas pundak mereka, lalu membawa tubuh Sarman untuk pulang ke kampung Ciandam.


Di tengah jalan mereka bertemu dengan warga-warga yang lain, Mereka pun saling bertanya. setelah mendengar apa yang terjadi, Mereka pun ikut mengantar Sarman dan sekaligus gantian Menandu tubuh orang itu.


Semakin lama orang yang mengikuti pun semakin banyak. Seperti orang yang sedang mengantar jenazah ke pekuburan. namun bedanya ini bukan Mengantar ke kuburan, namun pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah Sarman. Darmi yang melihat kerumunan orang yang berkunjung ke rumahnya. dia awalnya nampak heran, namun setelah dia melihat dengan jelas orang yang ditandu. dia pun menjerit histeris tidak menyangka suaminya akan terluka seperti itu.


"Suami saya kenapa Pak RT, ada apa dengan suami saya?" tanya Darmi dengan suara tertahan, karena tercampur dengan tangis yang sudah memenuhi dada, sebentar lagi akan tumpah.

__ADS_1


"Sudah Jangan banyak bertanya dulu, mendingan Bibi siapkan bantal sama gelar tikar, agar Sarman bisa beristirahat dengan nyaman," jawab Pak RT yang terlihat Tetap tenang.


Mendengar perintah pak RT seperti itu, Darmi yang dari tadi menahan tangisan. dia pun tidak kuat, akhirnya tangisnya pun pecah menambah suasana getir di kampung itu. namun meski Darmi tidak menurut, dengan apa yang diperintahkan oleh Pak RT. ada Seorang warga yang merasa kasihan, hingga dia pun masuk ke dalam rumah lalu menyiapkan sesuai dengan apa yang Pak RT perintahkan.


Dengan perlahan, tubuh Sarman yang terkulai lemas dimasukkan ke dalam rumah. lalu diletakkan di tikar yang sudah dihamparkan. terlihat matanya yang belum terbuka, membuat Darmi terus menangis.


"Tolong Panggil aki Tardi!" pinta Pak RT menyuruh salah Seorang warga.


Tak ada jawaban, namun ada Seorang warga yang bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia pun pergi entah ke mana. namun tak lama menunggu, dia pun sudah kembali diikuti oleh aki Tardi.


"Ada apa ini rame-rame?" tanya aki Tardi yang baru datang.


"Kurang tahu Ki! katanya Mang Sarman celaka. tapi tidak ada yang tahu Celakanya seperti apa?" jawab Seorang warga menjelaskan.


"Tolong suami saya aki! tolong Sembuhkan kang Sarman!" ucap Darmi setelah melihat orang tua kampung mereka, datang menjenguk.


"Ini kenapa?" tanya aki Tardi sambil menatap lekat ke arah wanita yang sedang menangis itu.


Aki tardi mulai memindai tubuh Sarman, dari ujung rambut sampai telapak kaki. dia memperhatikan dengan teliti tubuh itu. namun matanya terhenti, ketika dia melihat ada ikatan kain di kaki Sarman.


"Ini kenapa?" tanya aki Tardi sambil menunjuk balutan kain yang ada di kaki Sarman.


"Ini terluka aki, namun saya belum bisa memastikan lukanya diakibatkan oleh benda apa," jawab Pak RT.


Aki tardipun pindah mendekat ke arah luka sarman, kemudian dengan perlahan dia membuka ikatan kain pembungkus luka Sarman. Alangkah terkejutnya, ketika dia melepaskan ikatan kain pembungkus luka. karena ternyata luka yang diderita oleh Sarman sangat dalam. Seperti disayat oleh benda tajam.


"Ya Allah....! ini ada apa?" Tanya aki tardi sambil menatap ngeri ke arah luka yang diderita oleh tetangganya.


"Tolong dia aki! tolong suami saya!" pinta Darmi sambil terus menangis membuat suasana semakin riuh.


"Sudah jangan menangis terus, mendingan kamu doakan agar suamimu tidak terluka parah, dan bisa cepat sembuh seperti sedia kala. Dan tolong orang yang sehat, buatkan air hangat untuk mencuci lukanya, agar tidak infeksi," jelas aki Tardi sambil Menutup luka sarma namun tidak diikat.

__ADS_1


Mendengar perintah dari tetuah Kampung Ciandam, Salah Seorang warga ada yang bangkit. kemudian berjalan ke arah dapur, dia mulai menyalakan api ditungku, untuk memasak air untuk mencuci luka Sarman.


"Yang lain, Tolong cari bandotan untuk mengobati luka Jang Sarman, dan yang lainnya lagi Tolong cari putri malu," pinta aki Tardi memberikan tugas.


Dua orang pun bangkit lalu meninggalkan rumah Sarman, untuk mencari apa yang aki Tardi minta.


"Oh iya, Neng Darmi punya kain bersih?" tanya aki Tardi menatap ke arah wanita yang sejak dari tadi menangis.


Mita sebagai anak Sarman, dengan cepat dia pun masuk ke kamar. tak lama dia pun kembali, sambil membawa kain jarik yang terlihat masih baru.


"Ini masih baru Neng Mita, sayang kalau dibuat untuk bungkus luka. kalau ada, kain yang lama tapi bersih." ujar aki Tardi menolak pemberian kain jarik dari Mita.


Mita pun mengangguk, kemudian dia masuk ke kamar untuk mengambil kain, sesuai dengan yang diminta oleh orang tua Kampung mereka. untuk yang sekarang Mita pun tidak salah mengambil, karena aki Tardi langsung mengambil kain itu, lalu dia menggunting menjadi beberapa lembaran, seperti perban yang ada dirumah sakit.


Setelah lama menunggu, akhirnya orang yang ditugaskan mencari bandotan dan putri malu pun datang, membawa apa yang diminta oleh aki Tardi, kemudian mereka menyerahkan benda yang baru mereka ambil.


"Bandotannya Gilas dengan tangan, agar mengeluarkan air. itu berguna untuk menahan darah yang keluar, sekaligus mengeringkan luka."


"Terus Putri malunya Buat apa Ki?" tanya orang yang memegang tanaman Berduri itu.


"Nanti kita akan keringkan menggunakan api, sampai benar-benar kering. setelah kering kita akan tumbuk sampai menjadi serbuk, agar luka Sarman cepat sembuh."


Orang yang ditugaskan merebus air panas pun datang menghampiri aki tardi dengan membawa kuali berisi air yang terlihat masih mengepul.


"Ini aki airnya!" ujar perempuan itu sambil menyerahkan kuali yang dipegang.


"Ini airnya kepanasan, Tolong ambilkan air dingin, untuk menelonnya agar tidak terlalu panas. karena untuk luka seperti ini, hanya membutuhkan air hangat, agar bakteri-bakterinya bisa terbunuh," jelas aki Tardi.


Wanita itu pun kembali ke dapur, namun tak lama dia pun sudah kembali dengan membawa air dingin di baskom. lalu diserahkan pada aki Tardi, Untuk dicampurkan dengan air panas. setelah dirasa airnya tidak terlalu panas. Aki Tardi pun mulai memejamkan mata mulutnya berkumat kamit seperti sedang membaca mantra. setelah mantra itu selesai dibaca, dia pun meniup air yang ada di kuali, setelah ditiup dia pun mulai membasuh luka Sarman dengan hati-hati menggunakan air hangat. beruntung Sarman tidak dalam keadaan sadar, kalau sadar Mungkin dia akan meringis, menahan perihnya disiram air hangat seperti itu.


Setelah luka itu terlihat bersih, Aki Tardi Mulai mengambil bandotan yang tadi sudah digilas oleh para warga, dengan cepat dia pun mulai berkumat kamit kembali kemudian meniup bandotan.

__ADS_1


__ADS_2