
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali Mbah Abun yang sudah Berencana mencari keberadaan Ranti. dia sudah siap-siap dengan memakai baju kampret hitam, dan celana pangsi yang Senada dengan Warna bajunya, tak lupa topi Koboi kebanggaannya dia letakkan di kepala.
"Ambu, Abah mau mencari keberadaan anak kita dulu, kamu di rumah jangan lupa makan, jangan lupa urus dirimu sendiri, Jangan biarkan ambu sakit, jangan sampai Abah Ketika nanti pulang, ambu masih tiduran. Kamu harus sehat, kamu harus kuat," ujar Bah Abun sama istrinya yang berada di kamar.
"Silakan Abah...! Ambu doakan semoga Abah berhasil menemukan anak kita!."
Setelah semuanya dirasa selesai, Mbah Abun yang sudah dandan dengan rapi, dia pun keluar dari rumah kemudian pergi menuju ke Jalan yang menghubungkan antara Kampung Ciandam dengan kampung yang lain.
Matahari pagi itu belum terlihat, namun sudah memancarkan sinarnya, sehingga di ufuk timur terlihat warna kuning keemasan. ayam jago terus berkokok di Sahuti dengan kambing-kambing yang meminta pakan. burung-burung mulai berkicau, sambil loncat-loncat dari ranting satu ke ranting yang lain, menjatuhkan air embun yang menempel di ujung-ujung daun.
Mbah abun terus berjalan menuju kampung yang terdekat, dengan Kampung Ciandam. hingga akhirnya dia tiba di kampung Cisarua, dia mulai mengelilingi kampung itu sambil terus bertanya mengenai anaknya yang hilang. Namun sayang di kampung pertama yang didatangi oleh Mbah Abun, tidak ada orang yang mengetahui.
Setelah Kampung Cisarua Habis disisir tak tersisa, tak ada tempat yang tidak didatangi oleh Mbah Abun. pria paruh baya itu kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kampung Kebon Jati. Mbah Abun tidak memperdulikan rasa lelah, Mbah Abun tidak peduli dengan rasa capek, dia terus berjalan untuk mencari keberadaan Ranti.
Sesampainya di Kampung Kebon Jati, Mbah Abun pun melakukan hal yang sama, bertanya kepada orang-orang yang dia temui, tentang keberadaan anaknya. Namun sayang di Kampung Kebon Jati juga sama seperti di kampung Cisarua, orang-orang yang tinggal di kampung itu, tidak tahu keberadaan Ranti.
Mbah Abun terus berjalan dari kampung satu ke kampung yang lain, terus bertanya dari orang yang satu ke orang yang lain. tidak ada kata lelah buat dirinya, Hatinya sudah bulat dia tidak akan pulang sebelum menemukan keberadaan anaknya. berhari-hari Mbah Abun terus berjalan, ketika malam tiba, dia pun beristirahat di warung atau numpang di rumah warga.
Hari-hari berlalu, sehingga sudah hampir setengah bulan Mbah Abun terus berjalan mencari keberadaan Ranti. perbekalan yang dia bawa mulai habis, tubuhnya mulai terasa sangat lelah, apalagi mbah Abun tidak semuda dulu, yang memiliki fisik yang sangat kuat. Namun sayang waktu pencarian selama itu, dengan pengorbanan yang begitu luar biasa. Ranti anaknya belum ditemukan, setiap orang yang ditemui hanya menjawab tidak tahu, atau berkata ooooh, karena mereka baru tahu bahwa ada seorang anak gadis yang hilang. sehingga akhirnya satu hari dia tiba di salah satu warung, yang entah kampung apa namanya. Bah Abun pun duduk di bangku panjang yang terbuat dari bambu gelondongan, untuk mengisi perutnya yang terasa lapar, sekalian menghabiskan bekal terakhirnya.
Tak lama memesan, satu piring nasi pun dihidangkan, dengan lauk pauk seadanya, maklum warung di perkampungan gak sesuai dengan warung-warung yang di kota. Mbah Abun, dia makan dengan begitu lahapĀ sehingga akhirnya nasi satu piring itu habis tak tersisa. Sehabis makan dia pun meneguk air yang ada di dalam gelas, kemudian dia mengambil bungkusan rokok yang sengaja ia bawa dari rumah, bungkusan rokok yang sudah tinggal satu batang lagi. tanpa pikir panjang dia pun mulai menyalakan korek api lalu membakar rokok itu.
__ADS_1
"Maaf nih Bi, saya mau menitip pesan sama bibi," ujar Bah Abun setelah menghempaskan asap yang ada di mulutnya.
Mendengar pelanggannya berbicara seperti itu, bibi warung pun menggeserkan tempat duduknya, mendekat ke arah pintu. penjaga warung terlihat dengan Sigap hendak menerima apa yang disampaikan oleh Mbah Abun, seperti yang kita ketahui pada zaman itu tukang warung lah yang menjadi penyebar berita akurat. Bibi warung menatap ke arah Mbah Abun seperti seorang jurnalis, yang sedang menyimak penjelasan narasumbernya.
"Perkenalkan, nama saya Abun, Kalau di kampung saya terkenal dengan panggilan Abah atau Abah Abun. Saya memiliki seorang anak gadis yang usianya sudah masuk remaja. bukannya saya bangga dan sombong namun Kenyataannya memang begitu, karena banyak orang-orang yang mengakui bahwa putri saya sangat cantik, sehingga banyak para pemuda-pemuda yang ada di kampung Saya, bahkan Kampung tetangga tertarik dengan Putri semata wayangnya."
"Iya juragan namanya siapa?"
"Anak saya bernama Ranti, sekarang tidak ada. dia pergi dari rumah tanpa berpamitan terlebih dahulu, jelasnya putri saya kabur dari rumah."
"Holooooooh...! Kok bisa seperti itu, emang juragan sedang ke mana, Kok bisa sampai anaknya sudah ketahuan pergi dari rumah?"
"Waktu itu saya bersama istri sedang pergi ke kota, menghadiri acara undangan dari rekan bisnis yang menikahkan anaknya. Sekarang saya mau menitip pesan sama Bibi, Barang siapa yang menemukan anak saya, Tolong antarkan gadis itu ke kampung ciandam, nanti saya akan kasih hadiah yang tak terhingga."
"Kalau orang yang mengantarkan anak saya seorang perempuan, maka perempuan itu akan saya jadikan saudara kandung anak saya. karena anak saya adalah anak tunggal, tidak memiliki kakak, tidak memiliki adik."
"Bagaimana kalau yang menemukan, yang mengantarkan seorang laki-laki."
"Laki-laki tua, apa laki-laki muda?" Jawab Mbah Abun membalikkan pertanyaan.
"Remaja....!"
__ADS_1
"Kalau Remaja, maka saya akan menikahkannya dengan putri saya. kalau yang mengantar adalah laki-laki tua, maka saya akan menjadikannya sebagai kakaknya. kalau laki-laki di bawah umur anak saya, maka akan dijadikan adiknya. saya nggak akan pilih-pilih, tapi kalau laki-laki yang tua sudah duda, maka saya akan tetap menikahkan dengan anak saya."
"Bagaimana kalau orang yang mengantar itu, tidak menyukai anak Abah?"
"Tidak mau menikah dengan anak saya begitu?" Mbah Abun memastikan.
"Iya juragan...!"
"Oooooh....! Kalau ada orang yang seperti itu. tidak mau diangkat menjadi saudara anak saya, atau tidak mau dinikahkan dengan anak saya, maka saya akan memberikan orang yang mengantar itu, hadiah uang sekarung, padi satu kamar dan domba satu kandang. yang terpenting mereka mau mengantarkan anak saya ke kampung Ciandam. mungkin segitu amanat yang saya sampaikan Bi!" ujar Bah Abun menjelaskan, Dia berbicara seperti itu agar apa yang dia sampaikan bisa sampai ke orang-orang yang lain, minimal orang yang berbelanja di warung si bibi, bisa tahu bahwa Dia sedang mencari anaknya. jadi bah Abun tidak harus susah-susah memberitakan tentang sayembara yang sudah akan dimulai.
"Oh begitu....! bagaimana ciri-ciri Putri juragan yang hilang?"
"Anak saya bentuk tubuhnya tinggi semampai, warna kulitnya kuning agak keputihan, sama seperti ibunya ketika waktu muda dulu. wajah anak saya, bulat bagai bulan purnama. matanya agak besar dengan bola mata yang bersih, Alisnya tebal bulu, matanya pada jentik ke atas, hidung mancung, kulit pipi lembut. kalau rambutnya, lebat, lurus dengan warna hitam yang pekat. Kalau Anak saya sedang berbicara dia agak cadel, kalau tersenyum pipi yang sebelah kanan terlihat masuk sedikit ke dalam, makanan kesukaannya adalah makanan pedas, kalau makan dia harus pakai sambal. baju kesukaannya adalah baju merah muda," jelas Bah Abun panjang lebar.
"Kalau gambarannya seperti itu, berarti anak juragan sangat cantik...!"
"Iya Bi.....! Memang begitulah keadaannya, bahkan menurut saya anak itu adalah wanita tercantik yang ada di dunia ini, mengalahkan kecantikan ibunya hehehe..."
"Ya sudah juragan, nanti saya akan bantu menyebarkan berita baik ini sama orang-orang yang datang berkunjung ke warung saya. Dan semoga ini bisa menjadi jembatan ketemunya Putri juragan, dan sekarang semoga Putri Abah dalam keadaan sehat walafiat." Ujar Si Bibi yang terlihat tidak konsisten, kadang memanggil Abah kadang memanggil juragan.
"Amin....! Terima kasih doanya, Oh ya Bi...! Ini uang buat bayar makanan saya, dan Ini sisa bekal dari saya, semuanya buat sama bibi. itung-itung sebagai uang muka atau bahasa kotanya sebagai DP. karena Bibi sudah mau membantu saya, untuk menyebarkan berita tentang kehilangan anak saya. nanti kalau ada orang yang menemukan, terus orang itu tahu beritanya dari bibi. Maka nanti saya akan berikan lagi presentasenya." ujar Mbah Abun sambil memberikan semua uangnya.
__ADS_1
"Aduh.....! Terima kasih banyak juragan, terima kasih...!" Jawab wanita itu sedikit bergetar, karena merasa bahagia mendapat uang yang lumayan banyak, bahkan uang yang diberikan oleh Mbah Abun, lebih besar daripada uang yang dibelanjakan di warungnya.
"Sama-sama Bi! awas jangan sampai lupa perintah saya."