Babi Beranting

Babi Beranting
73. Pupus


__ADS_3

Jegerrrr!


Terdengar suara dentuman Guntur yang begitu menggelegar, dentuman yang sangat keras dibandingkan dentuman dentuman petir yang Tadi mereka dengar, diikuti oleh suara Deru hujan yang semakin membesar.


Tubuh Sarman yang terbaring lemah di atas ranjang, mengkerjap sedikit. matanya masih tertutup namun bibirnya bergerak seperti hendak berbicara.


Akang......! akang......!


Panggil Darmi sambil loncat mendekat ke arah tubuh Sarman, kemudian dia memeluk tubuh pria itu dengan begitu erat. Mita yang melihat kejadian sangat memilukan di depan matanya, dengan cepat mendekati kaki bapaknya, kemudian dia memijat-mijat pelan kaki yang tidak terluka.


Kamar yang digunakan untuk merawat Sarman kembali hening. hanya terdengar isakan isakan dan ratapan-ratapan yang dikeluarkan oleh anak dan istrinya. dari arah luar terdengar deru hujan yang terus mengguyur bak air yang ditumpahkan dari atas langit, diselingi dengan kemerlap kilat yang disusul dengan Guntur yang menggelegar. begitulah kejadian itu terus terulang, sehingga membuat keadaan di ruangan itu menjadi sangat mencekam.


Kira-kira waktu Isya, Sarman terdengar menggumam membuat Darmi terperanjat kaget, bahkan pak RT pun mendekat kearahnya. hanya Pak dokter yang terlihat Tetap tenang, tangan Sarman terangkat sedikit ke atas, kemudian tangan itu turun kembali, dengan ditegangkan. namun setelah itu tangan Sarman kembali terukulai lemas, hingga akhirnya Tak Bergerak lagi.


Sarman sudah sampai ke takdir yang dituliskan, ia kembali ke sang pencipta, untuk memenuhi janji bahwa hidup di dunia itu hanya sementara.


Akang......! akang....!


Jerit Darmi memanggil suaminya, dia sudah merasakan kepedihan yang begitu dalam, karena melihat wajah suaminya yang terlihat sudah pucat, tangannya sudah lemah. ketika dia memeluk tubuh suaminya, tubuh itu semuanya ikut bergerak.


Bapak.....! bapak.....!


Susul mita menjerit mengalahkan suara ibunya, dia pun mendekat ke arah wajah Sarman lalu memeluk sambil menangisi tubuh Sarman yang hanya tinggal raga, jiwanya sudah keluar untuk bertemu sang pencipta.

__ADS_1


Mereka, kedua wanita itu menangis melepaskan kesedihan yang sudah terkumpul dari tadi, jeritan-jeritan dan ratapan-ratapan memenuhi ruang rawat yang ada di rumah Pak dokter. mereka berdua terlihat seperti anak kecil yang sedang kehilangan benda paling disayang.


Mita yang tidak kuat menahan beban cobaan yang dialaminya begitu berat, hingga tubuhnya terlihat lemas lalu hendak jatuh ke lantai. beruntung pak RT yang berdiri didekatnya, dengan cepat memegang tubuh gadis itu sehingga tubuh Mita bisa diselamatkan.


Pak dokter yang melihat kejadian yang sangat memilukan, dengan perlahan dia mendekat ke arah Darmi yang sedang menangis. "Sudah Bu....! Jangan ditangisi.....! karena ini sudah digariskan oleh sang pencipta, sekarang ibu doakan agar suami ibu bisa diterima Iman Islamnya, diampuni segala dosanya. kita hanya manusia yang tidak memiliki daya dan upaya, kita hanya Mengikuti alur takdir yang digariskan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. karena takdir tidak bisa kita pungkir, kadar tidak bisa kita usir. Ibu sudah berusaha semaksimal mungkin, Ibu sudah merawat suami ibu dengan sempurna, ibu harus kuat...! harus sabar....! agar yang meninggalkan kita bisa tenang," nasehat Pak dokter yang menenangkan Darmi.


Darmi mendapat nasehat seperti itu, dia hanya memperkeras suara tangisnya. karena Sarman adalah orang yang terbaik yang sudah menemaninya, Sarman dan Darmi adalah satu pasangan yang kompak, tidak pernah ada perdebatan di antara mereka.


"Sudah Bi.....! sudah jangan nangis.....! Bibi harus sadar ini ada di mana. yang sudah terjadi Biarkan saja terjadi, karena kita tidak bisa mengulangnya kembali. kita ambil hikmahnya, jadikan pelajaran dengan apa yang menimpa dengan Kang Sarman," tambah Pak RT menenangkan wanita paruh baya itu.


Darmi semakin lama, suara tangisnya semakin mereda. namun air matanya terus mengalir bak air sumur yang tak henti-hentinya mengalirkan air kesedihan. dia terus memanggil-manggil meratapi kepergian suaminya, membuat kedua hati orang yang berada di ruangan itu tersayat teriris begitu perih.


Aki Tardi dan para warga Kampung Ciandam yang lainnya, yang menunggu di ruang koridor. mereka tidak mendengar suara tangisan darmi, karena suara Deru hujan yang begitu keras, mengalahkan suara tangis wanita itu. namun ketika diberitahu oleh Pak dokter yang keluar, mereka terperanjat merasa kaget dengan apa yang menimpa warga Kampung mereka.


Aki Tardi yang mengetahui bahwa Mita pingsan, dengan cepat dia pun menolong Gadis itu dibantu oleh Pak RT. hingga akhirnya Mita pun sadar kembali, Gadis itu terus menangis meratapi kepergian bapaknya. sedangkan Darmi yang terlihat sudah agak tenang, sudah bisa menerima dengan apa yang menimpa keluarganya.


Tubuh Sarman yang sekarang sudah menjadi jenazah, diurus oleh aki Tardi. tubuh itu ditutup menggunakan sarung layaknya mayat pada umumnya.


Pak Dokter ketika ditanya oleh Pak RT tentang biaya pengobatan. Pak dokter pun menolak, Bukan dia tidak membutuhkan uang, namun melihat keadaan keluarga Darmi yang hanya tinggal perempuan, dia bisa membayangkan kesusahan yang akan menimpa keluarga itu. Karena sekarang tulang punggung keluarga mereka sudah patah, tidak bisa disambungkan kembali.


"Terima kasih banyak Pak Dokter! Terima kasih atas kebaikannya, walaupun saya berat menerimanya. namun saya harus tetap menerima, karena keadaan keluarga almarhum Sarman yang sangat mengkhawatirkan. semoga kebaikan Pak Dokter dibalas oleh Allah subhanahu wa ta'ala, dengan balasan yang berlipat ganda," ujar pak RT yang merasa terharu oleh kebaikan dokter itu.


"Sudah....! Bapak jangan banyak pikiran, sekarang Tenangkan diri bapak.....! saya memohon maaf karena kemampuan Saya terbatas. perkara yang satu hanya Allah yang menakdirkan, kita hanya bisa berusaha, tidak bisa mewujudkan hasilnya." jawab Pak dokter.

__ADS_1


"Iya Pak, Benar! saya mengerti. Sekali lagi saya ucapkan beribu-ribu terima kasih, atas segala kebaikan bapak. kita harus bisa menerima dengan sabar dan sadar apa yang terjadi kepada keluarga almarhum Kang Sarman," ujar pak RT dengan suara parau.


Sesudah Sarman meninggal dunia, hujan di luar pun terdengar mulai sedikit memelan, apalagi suara angin sudah senyap tak tersisa. hanya kilatan-kilatan petir yang menerangi langit, namun sekarang tidak disusul dengan Guntur yang menggelegar. hingga akhirnya lama-kelamaan hujan itu berhenti seutuhnya, hanya menyisakkan sisa-sisa Air yang jatuh dari genteng yang masih menempel.


Di luar rumah terlihat sangat gelap gulita dan sangat sepi. Pak RT dan Aki Tardi mereka berdiskusi untuk membawa jenazah Sarman, karena jarak antara Kecamatan sama kampung Ciandam sangat jauh, ditambah keadaan yang gelap, terus jalan yang begitu licin.


"Kalau menurut hemat aki, kalau kalian masih kuat membawa dan berjalan dengan jauh, kita bawa saja jenazah Jang Sarman sekarang, karena besok atau sekarang itu sama-sama saja akan membutuhkan tenaga ekstra." ujar aki Tardi memberikan pendapat.


"Kalau saya setuju saja aki, tapi bagaimana dengan bi Darmi, Apakah Bibi setuju Kalau jenazah Kang Sarman dibawa sekarang?" tanya Pak RT sambil menatap ke arah wanita yang sejak dari tadi terus menangis.


"Kalau saya ikut bapak saja!" Jawab Darmi singkat seperti orang yang tidak memiliki keinginan.


"Kalau begitu, kita akan membawa tubuh Sarman sekarang. karena kepalang capek kita harus menyelesaikan tugas yang kita sudah mulai. kita tidak boleh menyerah sampai di siniĀ  kita harus membawa tubuh Sarman untuk kembali ke kampung. masalah gelap kita bisa akali dengan membawa obor. namun yang menjadi bahan pertimbangan Apakah tidak apa-apa membawa jenazah dalam keadaan waktu malam?" ujar Pak RT memberikan keputusan, sambil menatap ke arah Aki Tardi, ketua Kampung Ciandam.


"Nggak nggak apa-apa! kalau para warga masih kuat membawa tubuh Jang Sarman, mendingan kita pulang sekarang. karena malam ataupun siang, ketika membawa orang yang meninggal itu tidak akan menjadi masalah." jawab aki Tardi menepis keraguan Pak RT.


"Ya sudah kalau seperti itu, ayo kita siap-siap untuk pulang kembali ke kampung kita," ajak Pak RT memberi keputusan.


Akhirnya para warga Kampung Ciandam mulai bergerak tidak mempedulikan rasa capek yang sudah menyelimuti tubuh. mereka bekerja dengan giat, ada yang menyiapkan obor, ada yang mengurus tubuh Sarman untuk dimasukkan kembali ke dalam sarung. sedangkan Pak RT meminta izin kepada Pak Dokter untuk membawa jenazah Sarman pulang kembali ke kampung halamannya. Pak Dokter tidak bisa berbuat banyak, dia hanya mendoakan yang terbaik untuk keluarga Sarman.


Setelah semuanya dirasa selesai, para warga pun mulai menandu kembali tubuh Sarman yang sudah menjadi jenazah. dan akhirnya mereka pun kembali pulang menuju Kampung Ciandam, dengan membawa hati yang sangat sedih, rasa yang sangat lelah. apalagi Darmi dan Mita yang dari tadi kerjaannya hanya menangis, tubuhnya terasa lelah seperti tidak ada kekuatan. namun meski begitu, mereka berdua tetap berjalan menggunakan sisa-sisa tenaganya.


Untuk menerangi Jalan, Adin dan Aki Tardi membawa obor, yang minyaknya dapat ngasih dari Pak dokter.

__ADS_1


__ADS_2