Babi Beranting

Babi Beranting
89. Mbah turo


__ADS_3

"Ya sudah! ayo kita lihat. Abah penasaran bagaimana bentuknya babi itu. Dan kalau beneran ada, kita harus usahakan agar babi itu bisa ditangkap oleh kita berdua. namun menangkapnya harus hidup-hidup, biar bisa uangkan."


"Bener Bah! Ya sudah ayo kita lihat sekalian mengambil nasi yang masih tertunda disaung. Sayang Kalau dibiarkan begitu saja, nanti mubadzir." ujar Mang Karmin sambil menatap ke arah istrinya, kemudian Dia meminta izin untuk kembali ke Saung.


Setelah mendapatkan izin dari Inah. dua laki-laki itu pun berangkat menuju ke arah kebun Karmin. Mereka berdua terus berjalan, hingga akhirnya tiba di saung kebun milik Karmin. namun Alangkah terkejutnya Turo dan Karmin, karena melihat keadaan Saung yang terlihat acak-acakan. daun pisang yang dijadikan alas makan, sudah acak-acakan tak terbentuk. batok sambel sudah belah, seperti Terinjak. begitupun dengan panci wadah air minum, sudah tergeletak di bawah, airnya habis tak tersisa.


yang semakin membuat mereka kaget, karena nasi yang dianggap oleh Karmin masih tersisa. Nasi itu sudah habis Hanya menyisakan wadahnya. kedua laki-laki itu hanya bisa terdiam, tidak mengerti dengan apa yang terjadi. namun lama kelamaan Mbah Turo yang sudah memiliki banyak pengalaman. dia berjalan ke arah samping Saung, menyusuri jejak babi yang terlihat sangat jelas. karena tanah yang dilewati oleh sang babi, adalah tanah yang baru dibersihkan oleh Inah. sehingga tidak tersamarkan oleh rumput.


Mbah Turo yang diikuti oleh Karmin, terus menyusur jejak hewan hutan itu, sampai akhirnya mereka tiba di tepian kebun. Mereka terdiam sesaat sambil memindai area sekitar, karena di situ banyak daun pohon mahoni serta rumput yang agak tebal, membuat mereka kehilangan jejak.


"Bagaimana nih Bah?" tanya Karmin


"Susur terus area Ini! Abah yakin babi itu belum jauh,"


Karmin pun tidak bertanya lagi, dia terus mencari dan menerka-nerka Ke mana perginya babi ngepet itu. Setelah lama berusaha terlihat ada jejak babi seperti menaiki tebing. yang nantinya tembus ke kebun tebu tibarau. Melihat kenyataan seperti itu, Mbah Turo terdiam seperti sedang memikirkan Bagaimana langkah selanjutnya.


"Bagaimana nih bah?" tanya Karmin sambil menatap pria tua itu.


"Kita jangan tanggung jang Karmin, kita harus menyusuri jejak ini sampai ke mana ujungnya."


"Ayolah!" jawab Karmin tanpa berpikir dua kali.


Perlahan kedua orang itu mulai menaiki tebing yang tidak terlalu tinggi dan tidak curam. kemudian dengan hati-hati dan penuh ketelitian, mereka terus menyusul jejak babi yang agak samar. namun meski begitu, kalau menyusur dengan penuh ketelitian, akhirnya mereka tiba di salah satu tempat yang membuat kedua mulut mereka menganga sambil menatap ke arah benda hitam yang sedang tengkurap. terdengar dengkuran yang sangat keras, seperti sedang sangat menikmati tidur lelapnya.


Kedua laki-laki itu saling menatap, saling berbicara menggunakan kode. lalu menatap kembali ke arah babi hutan yang sangat besar, yang sedang tertidur. mereka bukan merasa aneh dengan babi hutannya. karena mereka sering bertemu dengan hewan itu. apalagi Mbah Turo adalah pemburu hewan seperti itu, bahkan Mbah Turo ketika mendapat babi hutan, Dia sering mengadakan pertunjukan Adu babi, untuk mendapat uang lebih sebelum dijual. yang membuat kedua laki-laki itu merasa heran, ketika melihat Telinganya yang berbeda dengan babi pada umumnya. karena telinga babi itu menunjuk ke atas dihiasi oleh anting.


"Abah...! Abah! lihat telinganya bah!" Ujar Karmin sambil berbisik.


"Iya Abah juga lihat. Kok ada ya, babi yang dipakaikan anting seperti ini, Apa ini babi peliharaan?"

__ADS_1


"Ah, nggak tahu bah! Saya tidak mengerti masalah yang beginian. Namun sepengetahuan saya, kalau di daerah Tatar Jawa tidak ada orang yang memelihara babi."


"Terus ini babi apa dong?"


" Daripada Abah penasaran, mendingan Ayo kita tangkap!"


"Hush, Ngaco! Bagaimana menangkapnya. kita tidak akan bisa menangkap babi sebesar ini, Apalagi hanya menggunakan tangan kosong. Biarkan saja dia tertidur dengan nyenyak. Ayo sekarang kita pulang!" ujar Mbah Turo. dengan perlahan dia meninggalkan tempat babi yang sedang tertidur, diikuti oleh Karmin menuju kembali ke Saung kebunnya.


Sesampainya di saung, Mereka pun duduk di tempat yang bersih, karena tempat itu masih acak-acakan, mata mereka terus memindai, memperhatikan perabotan-perabotan yang sudah berserakan di mana-mana.


"Ini Sangat aneh bah! kok, ada babi yang telinganya pakai anting. yang lebih anehnya dia tidak mengganggu tanaman-tanaman di Kebun saya. Babi itu lebih memilih nasi sama sambal. Apakah babi hutan suka makan nasi dicampur sambal bah..?" tanya Karmin memecah heningnya suasana di saung itu.


"Jangkarmin! Ujang Jangan banyak pikiran ke mana-mana, karena Abah memiliki pirasat yang kurang baik. kalau kita gegabah dalam menangkapnya, bisa-bisa kita sendiri yang akan celaka."


"Terus kita harus bagaimana Bah?"


"Jadi intinya Bagaimana Bah?" tanya Karmin yang terlihat kebingungan.


"Ya, kita harus menangkap babi itu, bagaimanapun caranya. Tapi menurut pengalaman yang Abah sudah lalui, kalau kita hendak menangkap babi seperti ini. kita harus memberikan sesajen terlebih dahulu, kepada makhluk halus yang menjaganya, makhluk halus yang mengasuhnya."


"Kenapa harus pakai Sajen segala?"


"Karena menurut orang tua zaman dahulu, seluruh hewan, seluruh binatang yang ada di dunia ini. Semuanya ada yang mengasuh, dan ada yang menjaga. kalau kita mau menangkap hewan itu, kita harus meminta izin kepada mereka."


"Oh begitu...! ya sudah, kalau saya ikut saja dengan apa yang Abah sarankan. Kenapa tadi saya menyuruh Ucup untuk memanggil Abah, karena saya yakin Abah pasti memiliki cara untuk menangkap si Babi. maka dari itu, saya akan mengikuti apapun yang Abah sarankan. Namun yang jadi permasalahan, sekarang bagaimana cara kita meminta izin sama penjaga babi. karena jujur saya tidak mengerti masalah hal yang begituan, karena saya sadar diri, saya ini bodoh, saya ini kurang pengalaman. jangankan kenal sama sang pengasuh Bagong, sama sang pengasuh cucunguk saja saya nggak tahu." ujar Karmin panjang lebar.


"Suda! sudah! Jangan diteruskan! Semakin didengarkan semakin ngelantur aja pembicaraanmu Min!" Ketus Mbah Turo.


"Maaf bah! ya sudah, apa yang harus saya lakukan," ujar Karmin yang tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala, Menyembunyikan rasa malunya.

__ADS_1


"Sekarang jang karmin harus mencari pisang Mas?"


"Terus apa lagi?" tantang Karmin.


"Pisang emas, lele, degan, telur ayam dan cerutu."


"Terus!"


"Sudah, segitu aja! nanti kalau semuanya sudah lengkap, kasih tahu Abah..! karena abah mau membuat perangkap babi terlebih dahulu. kita berbagi tugas aja. jang karmin menyiapkan perlengkapan sesajen! Abah menyiapkan perangkap babi."


"Siap lah kalau begitu. kalau masalah Sajen Abah jangan khawatir, karena lele saya tinggal ngambil di kolam. pisang Mas saya punya sesikat, dikasih dari neneknya si Ucup. Cerutu banyak di warung. kalau untuk telur ayam Nanti minta sama mertua. tapi ngomong-ngomong Siapa yang mau mengijabkanya, karena saya nggak bisa. seperti yang tadi saya bilang, saya nggak ngerti masalah yang gituan. Lagian Saya tidak tahu sesajen itu harus diijabkan ke siapa?"


"Sudah, jangan banyak berpikir dan banyak bertanya Kamu itu Min! yang terpenting kamu sediakan apa yang baru saja abah Sebutkan. sekarang Cepat kamu pulang dan jangan berbicara sama orang lain, kita akan menangkap babi hutan. Cukup menjadi rahasia kita berdua saja."


"Siap Bah! tapi Masa cuma 5 syarat aja.  jawab Karmin sambil mengulum senyum karena terus bertanya sama Mbah Turo.


"Tanya mertuamu atau ibumu, Bagaimana cara menyediakan sesajen, namun yang 5 syarat itu adalah hal yang paling wajib, tidak boleh ditinggalkan.


Setelah mendengar penjelasan dari Mbah Turo, Karmin pun berpamitan untuk pulang ke rumah. sedangkan Mbah Turo berkeliling memindai kebun Karmin, untuk membuat jebakan agar babi itu bisa ditangkap. beruntung di sebelah lembah, terlihat ada galian tanah buat penampungan air, untuk menyiram tanaman ketika musim kemarau tiba. Setelah diperhatikan kedua sudut bibir bahtera pun terangkat, memamerkan giginya yang sudah mulai berjatuhan, karena ternyata galian tanah itu lumayan dalam, hampir setinggi orang dewasa.


Mbah turo terus berpikir mencari cara bagaimana agar nantinya babi itu bisa masuk ke dalam galian tanah penampungan air. Setelah lama berpikir dia pun mendapatkan ide. dia mulai membuat pagaran agar Ketika nanti babi itu lewat, bisa masuk ke dalam jebakannya. Mbah Turo terus bekerja dengan semangat, sehingga terlihat dari wajahnya mengucur keringat membasahi sampai ke leher. Setelah lama berusaha, terlihatlah jalan yang di samping kanan kirinya dihalangi oleh pagar.


"Kalau dikerjakan, akhirnya beres juga! Nggak seperti hanya dipikirkan," gumam Mbah Turo sambil memasukkan kembali golok ke dalam sarungnya yang terikat di pinggang, setelah dirasa semuanya beres, dia pun bergegas pergi meninggalkan kebun Karmin untuk kembali ke rumahnya.


Sedangkan Karmin, setelah sampai ke rumah. dia berdiskusi dengan istrinya untuk menyiapkan Sajen, untuk menyuguh demit sang pemilik babi hutan, sesuai dengan apa yang diminta oleh Mbah Turo. Inah sebagai istri yang baik, dia tidak banyak penolakan, dia terlihat setuju setuju saja. karena kalau dibiarkan berkeliaran, Dia takut nanti bisa-bisa babi itu merusak tanamannya.


"Ya sudah, sana kang Karmin ngambil degan sama ikan lele. Inah mau ke rumah Emak, mau minta telur ayam, sekalian membeli cerutu di warung bi Edah," ujar Inah yang terlihat sudah bersiap-siap.


"Siap! Laksanakan Paduka. Oh iya, bagaimana kamu tersendatnya sudah sembuh?"

__ADS_1


__ADS_2