Babi Beranting

Babi Beranting
81. diskusi


__ADS_3

"Maksudnya bagaimana Abah?" tanya Abu Yayah setelah mendengar keinginan suaminya yang hendak mengadakan sayembara pencarian Ranti


"Abah berniat jujur sama semua orang, bahwa anak kita hilang bukan dengan bentuk aslinya sebagai manusia, namun anak kita menghilang yaitu dengan berubah wujud menjadi babi, namun babinya bukan babi hutan, melainkan babi jadi-jadian atau babi ngepet," jelas suami abu yayah mengutarakan keinginannya.


"Kenapa harus seperti itu Abah?"


"Hei Ambu....! Jangan bod0h-bod0h amat jadi orang, bagaimana anak kita mau ketemu, kalau orang-orang mencari Ranti dengan wujud aslinya. sedangkan Anak kita kan sudah berubah menjadi babi hutan. jadi mau tidak mau kita harus jujur sama orang-orang, bahwa anak kita menghilang dengan berubah menjadi babi ngepet."


Mendapat penjelasan suaminya seperti itu, Ambu yayah terdiam berpikir menimbang-nimbang apa yang terbaik yang harus dia lakukan. karena kalau untuk jujur, kalau untuk mengakui bahwa keluarganya melakukan pesugihan siluman babi, pasti dia akan merasa malu, pasti tetangga Ambu Yayah akan memojokkannya, akan membicarakan, akan menghina, sama seperti dulu ketika dia sedang susah.


"Abah ....!" Panggil Abu Yayah dengan suara pelan, Setelah dia selesai berpikir agak lama.


"Iya kenapa ambu?"


"Kalau untuk jujur, rasanya hati Ambo tidak memberi izin."


"Lah kenapa, kok Ambu tidak setuju dengan saran abah. Coba Pikirkan apakah Abu tidak sayang dengan anak kita, apa ambu lebih memilih harga diri, dibanding menyelamatkan anak kita. karena ini adalah dua pilihan yang sangat sulit, satu pilihan ketika kita tidak jujur maka anaklah yang akan jadi korban, anak kita akan terus tersiksa dengan penderitaannya, bisa-bisa dia tersesat hingga akhirnya pulang ke Gunung Karang menjadi anak buah Prabu uwul-uwul. satu pilihan harga diri kita akan jatuh, namun anak kita akan selamat, sekarang ambu mau memilih cara yang mana?"


"Abah...., pilihan yang diberikan oleh Abah menurut Ambu dua-duanya tidak untuk dipilih. karena Ambu tidak mau mengorbankan anak dan tidak mau mengorbankan harga diri. Abah Harus berpikir bagaimana caranya agar anak kita terselamatkan dan harga diri kita tidak jatuh!"


"Ambu....., Abah cuma punya pikiran seperti itu, kalau Ambo punya jalan yang lebih baik silakan jalankan, silakan bicarakan!"


"Bagaimana kalau begini saja abah, kita jangan mengambil kedua pilihan yang tadi Abah bicarakan. kita ambil jalan lain, kita bilang sama orang-orang barangsiapa yang menemukan babi aneh, babi beranting, babi yang sangat jinak, babi yang berbeda dengan babi pada umumnya, maka kita akan memberikan hadiah yang sangat besar."


"Kalau begitu, itu sama saja Ambu! lambat laun orang-orang akan mengetahui tentang rahasia kita."


"Iya nggak apa-apa! Abah, yang terpenting kita tidak harus berbicara jujur, tidak harus mengakui bahwa kita melakukan pekerjaan yang berbeda dengan pekerjaan orang lain pada umumnya. kalau kita berbicara seperti itu, paling hanya orang-orang Yang mengetahui yang berpikiran panjang, yang akan menuduh kita melakukan pesugihan siluman babi. berbeda ketika kita jujur, itu sama saja kita bertelanj4ng bulat di hadapan para warga, sehingga akhirnya bukan kampung kita saja yang mengetahui, tapi kampung orang lain sama-sama akan mengetahui keburukan kita, karena kita sudah jujur dengan Apa yang dilakukan oleh keluarga kita."

__ADS_1


"Haduh......!" tanggap Bah Abun menghela nafas dalam kemudian menghempaskan dengan kasar. dia terlihat berpikir seolah sedang menimbang dengan apa yang disampaikan oleh istrinya.


Mbah Abun terlihat lama terdiam, namun setelah beberapa saat dia pun mulai mengerti apa yang disampaikan oleh istrinya. Ternyata memang ada benarnya dia tidak harus berbicara jujur, dia cukup memberitahu orang-orang agar mencari babi yang sangat aneh.


"Abah.....!' Panggil Ambu Yayah Mungkin dia merasa bosan karena terlalu lama menunggu.


"Ya ambu.....!" jawab Mbah Abun yang terperanjat kaget terbangun dari lamunannya.


"Bagaimana saran ambu?"


"Ya sudah kita jalankan apa yang Ambu bicarakan. memang benar kalau kita tidak berbicara jujur, harga diri kita tidak akan terlalu jatuh di mata orang lain. Terima kasih Ambu, telah memberikan saran yang begitu sempurna," ujar Bah Abun yang mengakui kepandaian istrinya.


"Terus apa yang harus kita lakukan?"


"Nanti Abah akan menemui Pak RT dan para ketua ketua Kampung Ciandam, untuk membicarakan rencana kita." pungkas Bah Abun mengakhiri diskusi, mengakhiri musyawarah dengan istrinyayang sedang berusaha mencari keberadaan anaknya yang sedang hilang. Mereka berdua sepakat nanti ketika mereka mengadakan sayembara, mereka tidak akan menyebut-nyebut nama anaknya, mereka akan meminta orang-orang untuk membawa babi betina, yang berbeda dengan babi-babi pada umumnya.


Waktu pun terus maju, hingga akhirnya sore pun tiba. kira-kira ba'da Ashar terlihat langit yang menghitam tidak secerah biasanya. namun walaupun seperti itu, anak-anak tanggung mereka masih asik bermain di pekarangan rumah yang terbesar. ada yang bermain galah, ada juga yang bermain congklak, petak umpet dan permainan-permainan anak-anak pada umumnya.


Para orang tua mereka duduk di teras, sambil mengobrol dengan para tetangga atau keluarga, melepaskan lelah setelah seharian bekerja. burung-burung cavinis berterbangan mungkin menyambut suasana mendung yang terlihat sebentar lagi akan turun hujan.


Terlihat ada seorang anak muda yang sedang berjalan melewati rumah Pak RT. "lagi ngapain Pak, kok kayaknya seperti sedang serius berpikir, hehehe....." sapa Galih sambil tersenyum, kemudian dia pun mampir masuk ke dalam teras.


"Eh, ada Jang Galih. benar Jang bapak sedang berpikir, karena ada beberapa masalah di antara warga kampung kita. kebetulan Ujang datang sehingga bapak bisa ada teman mengobrol," jawab Pak RT sambil membalikkan tempat duduknya menghadap ke arah galih.


"Emang sedang memikirkan apa Pak?"


"Sedang memikirkan Mbah Abun."

__ADS_1


"Kenapa memang dengan Mbah Abun?" Jawab Galih yang menatap lekat ke arah Pak RT, seolah Dia sangat penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh ketua kampungnya.


"Apa benar dia melakukan pesugihan siluman babi, karena menurut keterangan dari Kang Arif, dia bisa mendatangkan puluhan babi untuk menghancurkan kebun almarhum Kang Sarman."


"Kenapa Pak RT bisa punya pemikiran itu sama mbah Abun?"


"Bukan jahat Jang! tapi kenyataannya seperti itu. babi-babi yang menyerang kebun Kang Sarman pulangnya ke arah rumah mbah Abun dan menghilang di sekitar area itu. semakin ke sini semakin jelas apa yang dicurigakan oleh Kang Zuhri, bahwa Bah Abun memiliki pekerjaan yang tidak biasa."


Mendengar penjelasan Pak RT, Galih hanya mengurutkan dahi seolah tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh orang yang berada di hadapannya. Mungkin dia masih muda masih belum banyak pengalaman. soalnya babi yang dibicarakan babi jadi-jadian atau babi ngepet yang ada di kampung Ciomas, itu pun tidak bisa membuktikan kebenarannya. karena babi itu tidak tertangkap. "Oh begitu Pak RT  Terus apa yang harus kita lakukan sekarang?" ucap Galih Setelah beberapa saat terdiam.


"Ya nggak tahu Jang, Bapak juga sedang bingung belum habis perkara urusan Bah Abun. ada lagi masalah yang lain."


"Masalah apa lagi itu Pak RT?"


"Masalah usaha yang sedang kita tekuni terbengkalai begitu saja. karena ujang sebagai pengurus malah pergi mencari keberadaan anak Mbah abun," jawab Pak RT seolah menyalahkan Galih yang lepas tanggung jawab, karena walaupun Zuhri sudah siap menggantikan Galih, namun Zuhri tetaplah Zuhri, Juhri bukanlah Galih.


"Maaf Pak RT Saya bukan lepas tanggung jawab. namun percuma kalaupun saya tetap berada di perusahaan, tapi hasil dari perusahaan kita tidak ada yang mau menampung, tidak ada yang mau membeli. karena Ranti yang biasa membayar hasil kerajinan anyaman warga Kampung tidak ada. begitu juga Mbah Abun yang terlihat beberapa hari terakhir, dia tidak berada di rumah. beliau sibuk mencari Ranti yang hilang. saya membantu mencari keberadaan Ranti, ini adalah bentuk rasa kasih sayang dengan kelompok usaha anyaman kita, agar kelompok usaha itu bisa kembali berjalan," jawab Galih seolah tidak mau disalahkan, Karena dia melakukan pencarian Ranti Dia memiliki alasan yang sangat kuat.


"Benar Jang Galih! Tapi menurut Bapak, Ujang harus terus bekerja mengurus kelompok usaha anyaman kita, jangan sampai berhenti, apalagi sampai ditinggalkan.


"Siapa yang berhenti Pak RT, semua warga, semua pengrajin anyaman mereka terus membuat kerajinan. namun hasil kerajinan mereka mandet tidak bisa dijual. Karena Bandar yang menampungnya sedang terkena musibah. maka dari itu pak RT, kita harus membantu keluarga Mbah Abun, agar usaha kita stabil kembali."


Mendengar penjelasan Galih seperti itu, Pak RT pun terdiam namun tak lama kepalanya pun mulai manggut-manggut seolah paham dengan apa yang disampaikan oleh pemuda itu. "Ya sudah kalau begitu, kita harus membantu mencari keberadaan Ranti," jawab Pak RT.


"Ya harus Pak!"


"Terus apa yang harus kita lakukan?"

__ADS_1


"Sekarang kita temui Mbah Abun, kita berdiskusi dengannya. bagaimana agar anaknya bisa tertolong?"


__ADS_2