Babi Beranting

Babi Beranting
29. diskusi


__ADS_3

"Terus apa lagi keinginan para bapak, biar nanti saya diskusikan dengan Mbah Abun." akhirnya Zuhri bertanya kembali karena tidak menemukan jawaban yang tepat, dia harus berkonsultasi dulu dengan Mbah Abun, sebagai penampung kerajinan mereka.


"Kalau benar tujuan Mbah Abun ingin memajukan kampung kita, bagaimana kalau para pengrajin anyaman yang udah sepuh, mereka hanya menganyam saja, terus bahan bakunya disiapkan oleh Mbah abun. itu bisa memberikan peluang bagi orang orang yang belum bisa menganyam, mereka bisa mengambil bambu, mencari rotan, membuat iratan. jadi semua warga Kampung Ikut andil di dalam kerajinan ini." saran Pak RT yang sejak dari tadi hanya menyimak


"Nah, bener tuh! jadi bukan hanya orang-orang yang memiliki kemampuan kerajinan anyaman, Tapi semua warga bisa ikut andil kalau seperti itu." Timpal Seorang warga membenarkan pendapat petuah mereka.


"Kalau para warga ingin untungnya lebih banyak, tinggal memilih sesuai dengan arahan yang pertama. yaitu Mereka menjual hasil kerajinannya ke Mbah Abun, dengan harga Rp700." Pak RT menambahkan pendapatnya.


"Ada lagi?" tantang Zuhri.


"Kayaknya seperti itu aja, aki setuju dengan saran yang Jang RT berikan." jawab aki Tardi memberi pendapat.


"Yang lain bagaimana apa setuju dengan saran yang diberikan oleh Pak RT?" Ujar Zuhri melemparkan pertanyaan itu kepada warga.


"Setuju!" jawab para warga yang menghadiri rapat dengan serempak.


"Kalau setuju saya akan menyampaikan semua pendapat para warga. nanti kita diskusikan lagi setelah mendapat keputusan dari Mbah Abun." ujar Zuhri memberi keputusan.


"Ya Jang! diskusikan dulu, nanti baiknya bagaimana!" jawab Pak RT.


"Kalau tidak ada yang ingin ditambahkan lagi, saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kehadirannya, semoga usaha yang akan kita jalani, diberikan kelancaran oleh Allah subhanahu wa ta'ala!"


"Amin!" Jawab warga-warga yang menghadiri acara rapat itu.


Akhirnya rapat pun ditutup, dengan keputusan bahwa Zuhri akan mengkonsultasikan semua keinginan para pengrajin dengan Mbah Abun, dan berjanji dia akan secepatnya memberitahu apapun keputusannya.


Keesokan paginya, matahari terlihat di ufuk timur sudah menampakkan diri, memberikan kehangatan bagi jiwa-jiwa yang merasa kedinginan. di tengah-tengah kampung Ciandam, terlihat ada seorang laki-laki yang berjalan menuju salah satu rumah warga.


"Assalamualaikum, Mbah!" ujar pria itu setelah berada di depan pintu. Namun sayang beberapa kali mengucapkan salam, pintu itu tidak terbuka. dengan cepat dia pun berjalan menuju arah samping rumah, langsung menuju pintu dapur.


"Pantes! Saya mengucapkan salam tidak dijawab, ternyata Abah ada di sini!" ujar Zuhri setelah melihat tuan rumah sedang menghangatkan diri di dekat tungku masak, sambil menikmati kopi ditambah singkong bakar.


"Eh jang Zuhri, Maaf Jang! Nggak kedengeran. Ayo masuk sambil menghangatkan tubuh!" ajak Mbah Abun.


"Nggak apa-apa? Saya masuk ke rumah Bah!"

__ADS_1


"Nggak apa-apa! Kaya sama siapa aja!" jawab Bah Abun kemudian dia menngambil kursi jongkok yang terbuat dari kayu. lalu ditaruh di samping tungku pembakaran, agar Zuhri duduk di sampingnya.


"Terima kasih banyak bah!"


"Ambu, Tolong buatkan kopi buat Zuhri!" Pinta bah abun sama Abu Yayah yang sedang menanak nasi.


"Bentar, tanggung! Ambu lagi mengukus nasi. sabar dulu ya Jang, sebentar lagi nasinya matang ini kok. kalau diangkat nanti nasinya matangnya tidak sempurna." jawab istri Bah Abun.


"Nggak usah repot-repot Abah, Ambu. sebelum datang ke sini, Saya udah sarapan kok!" Tolak Zuhri yang merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa Jang! Lagian nggak setiap hari  bertamu ke rumah abah. Oh iya, ngomong-ngomong ada apa kok pagi-pagi sudah bertamu?" tanya Mbah Abun.


"Jadi begini Bah! sesuai yang kita bicarakan kemarin sore, bahwa Abah ingin memanfaatkan para warga Kampung Ciandam yang memiliki keahlian dalam bidang anyaman." ujar Zuhri mulai menjelaskan kedatangannya.


"Terus?"


"Saya sudah mengumpulkan semua warga yang memiliki keahlian dalam kerajinan anyaman. namun ternyata ada beberapa kendala yang belum kita bahas."


"Kendala Apa itu Jang?" tanya Mbah Abun sambil mengerutkan dahi.


"Namun apa Jang?" tanya Mbah Abun yang terlihat tidak sabaran.


"Bentar atuh bah! Kan saya belum selesai bicara."


"Iya Abah! Dengerin dulu kalau orang ngomong itu, jangan main potong!" Timpal Abu Yayah Yang Sudah dari tadi mendengarkan.


"Hehehe. Ya udah lanjut! namun apa?" Tanya Mbah Abun sambil tersenyum.


"Namun, seperti yang Abah ketahui. bahwa orang-orang yang memiliki kemampuan dalam bidang anyaman, adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut. Jadi mereka Bukan tidak sanggup untuk membuat kerajinan. tapi agak keberatan Kalau di usianya yang sudah Renta, harus mengambil bambu dan mencari rotan dari hutan. Mereka ingin hanya menganyam saja!" ujar zuhri menjelaskan pembicaraannya yang tadi terpotong.


"Terus bagaimana?"


"Ya Abahnya, bagaimana? kalau mereka hanya menganyam saja, semua peralatan, semua kebutuhan, Abah yang menyiapkan."


Ditanya seperti itu Bah Abun berpikir sesaat, menimbang baik dan buruknya keputusan Apa yang hendak diambil.

__ADS_1


"Emang kalau terima jadi ,Abah Mau beli berapa?" Tanya Abu Yayah.


"Si Abah mau membeli hasil kerajinan para warga di harga Rp700-an ambu." jawab Zuhri mewakili Mbah Abun.


"Ngapain susah-susah Abah! pakai mikir segala. udah aja Abah beli Rp750 yang Rp50 buat Zuhri. jadi Abah tinggal duduk manis sambil memikirkan cara pemasarannya." saran Abu Yayah, karena walaupun dengan harga segitu, dia sudah mendapat keuntungan 250.


"Kok seperti itu ambu?" tanya Mbah abun.


"Ya Coba bayangin aja sama abah! kalau abah masih harus tetap bekerja, ya buat apa mengajak orang. berbagi keuntungan dengan orang lain, tidak akan membuat kita rugi."


"Bener juga sih! tapi Jang Zurinya mau nggak bantu mengurus usaha Abah, dengan gaji Rp50?"


Ditanya seperti itu, sekarang giliran Zuhri yang berpikir, dia bukan meremehkan uang sebesar Rp50, karena kalau dikumpulkan uang itu akan menjadi banyak. Tapi yang membuatnya bingung Bagaimana mengurus kebutuhan orang lain, untuk menyediakan bahan-bahan kerajinan anyaman.


"Kenapa jang diam, nggak mau?" tanya Bah Abun sambil menatap lekat ke arah tamunya.


"Bukan nggak mau bah! namun saya bingung kalau harus mencari rotan ke hutan, sedangkan rotan itu sudah mulai langka. kalau bambu saya masih bisa menghandle, karena di kampung kita pohon bambu bertumbuh liar  hampir di setiap lembah." jawab Zuhri menyampaikan kerisauannya.


"Jangan bingung-bingung Jang! sekarang zamannya udah canggih. untuk pengikat anyaman, sekarang ada rotan sintetik, kekuatannya sama kok dengan rotan yang ada di hutan." jelas Mbah Abun sambil bangkit dari tempat duduknya, tak lama dia pun kembali sambil membawa rotan sintetik dengan berbagai warna.


"Apa ini bah?" tanya Juhri yang baru melihat benda yang mirip iratan itu .


"Ini yang namanya rotan sintetik!"


"Oh, ini rotan, Berapaan ini bah?"


"Murah jang, Rp100 udah dapat 10 helai."


"Murah juga ya! kalau dibandingkan dengan mencari rotan yang sudah langka.


"Iya Jang, lumayan! Terus bagaimana mau apa nggak, Ujang bantu mengurus usaha Abah.


"Nanti saya diskusikan kembali dengan para warga bah. karena saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri. namun untuk mengurus pekerjaan ini, Insya Allah saya siap membantu, kalaupun nggak saya, nanti saya akan mencari orang untuk mengurusnya."


"Jadi begini aja Jang! benar kata si Ambu, Abah bukan tidak mau bekerja. namun Abah ingin fokus dengan pemasaran hasil kerajinan para warga. Abah akan membeli semua kerajinan para warga dengan harga Rp750. Nah, tinggal Ujang mengolahnya Seperti apa, Silahkan Ujang atur sendiri, Bagaimana baiknya. agar Ujang juga ke bagian untung dari usaha yang dikelola." Jelas Bah Abun memberikan keputusan

__ADS_1


__ADS_2