
Sedangkan para warga yang tadi sebentar lagi mendekat ke arah babi hutan yang bersembunyi. namun tiba-tiba mereka dikagetkan karena babi yang sudah terkepung dan sebentar lagi bisa tertangkap, menghilang begitu saja. menyisakan anjing-anjing yang masih mondar-mandir, entah apa yang anjing itu cari.
"Ke mana larinya babi hutan itu? perasaan tadi di sini." tanya zuhri sambil terus menyinari sawah yang padinya sebentar lagi dipanen.
"Benar tadi saya lihat di sini! terus kok sekarang menghilang." jawab Seorang warga membenarkan.
"Paling molos!"
"Molos kesebelah mana, perasaan dari tadi kita terus berdekatan seperti ini, tidak ada yang melihat Bahwa babi itu keluar dari kepungan kita!"
Merasa penasaran salah seorang dari warga yang pemberani, dia mulai mendekati ke arah di mana hilangnya babi itu. dia terus menyela-nyela padi agar memudahkan ketika melangkah, namun benar babi hutan itu tidak ada. tak terlihat sama sekali, jangankan babinya jejaknya pun tidak ada.
"Apa tadi kita nggak salah lihat?" tanya seseorang warga yang mulai ragu.
"Mana mungkin salah lihat, kan banyak orang yang melihat Bahwa babi itu benar-benar ada!"
"Iya saya juga Melihat babi itu masuk ke rumpun padi!"
"Terus sekarang ke mana?" tanya Seorang warga
"Apa jangan-jangan! itu bukan babi biasa?" Ujar salah seorang warga yang terlihat sudah tua memberikan pendapat.
"Maksud aki bagaimana?" tanya Seorang warga yang penasaran.
"Yah, Dulu ketika aki masih muda, ada orang yang tersesat langkah, dia mengadakan perjanjian dengan siluman babi, untuk merubah taraf kehidupannya." jelas aki Tardi.
"Babi ngepet?" tanya Pak RT.
"Mungkin!"
"Tapi Apa mungkin cerita yang dulu, bisa terjadi di zaman sekarang?" tanya Zuhri sambil mengerutkan dahi.
"Bisa aja! kan namanya juga setan, mereka akan terus mengganggu anak cucu Adam, sampai maut memisahkan."
__ADS_1
"Masuk akal sih! soalnya tadi pas saya lihat babi itu sedang ada di samping rumah saya, sedang mencari makan di Lesung. Biasanya kan babi, mereka akan pergi ke kebun bukan ke rumah ya?" Tambah Zuhri menjelaskan.
"Terus kalau benar babi itu, babi ngepet. kira-kira, siapa warga kita yang tersesat langkahnya?" tanya Pak RT.
"Wallahualam! Jang! ya sudah, mending ayo kita pulang. soalnya sudah jelas babinya sudah tidak ada." saran aki Tardi kemudian dia pun keluar dari area persawahan, diikuti oleh para warga warga lainnya.
"Lumayan ya! kalau ketangkap, bisa dijadikan tontonan. kalau Beneran itu babi jadi-jadian." ujar Seorang warga
"Tapi Emang bisa gitu? Kita merubah bentuk menjadi babi."
"Buktinya Kan barusan, kita semua melihat Bahwa babi itu menghilang tiba tiba. kalau babi beneran, Mana mungkin bisa menghilang."
Para warga Kampung Ciandam akhirnya berbondong-bondong Kembali menuju ke rumah masing-masing, sambil terus mengobrol tentang apa yang baru saja mereka alami.
Sedangkan yang diobrolkannya. setelah masuk kamar Abu Yayah dan Mbah Abun tidak langsung tidur, mereka terduduk di samping ranjang sambil menghela nafas lega karena sudah selamat dari kejaran para warga.
"Maafkan Ambu, Abah! Ambu tidak kuat menahan kantuk, sehingga ambu ketiduran." ucap Abu Yayah.
"Udah abu! gak usah dibahas lagi. namanya juga udah terjadi, lagian kan Abah sudah selamat. jadi abu nggak usah khawatir lagi" jawab Bah Abun yang tidak mempermasalahkan keteledoran istrinya. karena sejak dari awal dia sudah tahu dengan segala Resiko yang akan ia tanggung.
"Ya Ambu! Ya udah, ayo kita tidur lagi! nanti kesiangan besok kita bekerja." ajak bah abun sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Ambu Yayah yang melihat suaminya sudah berbaring, dia pun ikut merebahkan tubuh di samping suaminya. Hingga akhirnya mata mereka berdua tertutup sempurna. menyambut mimpi-mimpi Indah, meninggalkan kengerian yang baru saja mereka alami.
Keesokan paginya, seperti biasa Mbah Abun ditemani istri dan anaknya. dia terus membuat kerajinan anyaman bambu untuk penanak nasi. tanpa membahas kembali kejadian semalam, berbeda dengan para warga yang masih terus menceritakan keanehan yang terjadi, ketika mereka hendak menangkap babi jadi-jadian.
Hari-hari berikutnya, Mbah Abun terus bekerja seperti biasa. siang hari dia disibukkan dengan membuat penanak nasi, malamnya dia disibukkan dengan mencari benda bercahaya. namun yang berbeda sekarang Mbah Abun tidak terlalu memaksakan bekerja malam hari. ketika mereka merasakan ada tanda-tanda yang tidak beres, mereka tidak bekerja. ketika mereka yakin bahwa akan selamat Mereka pun melakukan pekerjaan pesugihan babi.
Kehidupan Mbah Abun dan keluarganya perlahan mulai kembali ke masa jayanya. dia sudah menghiasi tubuh kedua wanita yang sangat ia sayangi dengan berbagai perhiasan emas. bahkan Ranti sekarang sudah diberikan make up, agar anaknya itu mulai merawat diri. Ranti yang awalnya cantik ketika dipoles make up dia menjadi semakin tambah cantik. Sehingga banyak para pemuda Kampung yang tertarik dengannya.
Sore itu, seperti biasa keluarga Mbah Abun sedang duduk di tengah rumah, ditemani dengan secangkir teh dan cemilan yang sengaja dibeli dari kota.
"Ambu pesanan kerajinan kita sudah semakin banyak, kita keteteran karena banyaknya orderan yang masuk. kita harus memikirkan cara lain, agar kita tidak terlalu capek. Namun uang tetap mengalir terus, bagaikan air." ujar Bah Abun mengungkapkan keinginannya di tengah-tengah Obrolan mereka.
__ADS_1
"Maksudnya Abah?"
"Iya kita cari uang jangan terlalu capek-capek amat! abah mau mengajak pengrajin pengrajin anyaman di kampung kita, untuk ikut bergabung dalam usaha kita."
"Ya jangan dong bah! Nanti kita bisa rugi kalau banyak orang yang jualan."
"Ya bukan begitu ambu, kita mengajak mereka bergabung. Agar kita mendapat untung tapi tidak terlalu capek!"
"Ambu nggak terlalu mengerti, dengan maksud Abah gimana?"
"Jadi begini ambu! kita ajak aki Tardi dan Aki Tisna, untuk membuat kerajinan ayaman. Hasilnya kita beli dengan harga Rp700 nanti kita jual ke para bandar seribu. kita kan masih dapat untung Rp300." jelas Bah Abun.
"Emang mereka mau seperti itu?"
"Pasti mau ambu! kan pekerjaannya setiap hari, jadi terus-menerus bukan hanya sesekali. ini juga bisa menjadi penghasilan tambahan buat mereka." Jelas Bah Abun.
"Maksudnya apa mereka mau, ketika Abah bayar murah, nggak sesuai dengan harga yang dibeli oleh bandar?"
"Abah kan sudah punya nama. para Bandar anyaman mengenal Kampung Ciandam, itu gara-gara Abah! yang suka membuat anyaman bambu. nah, para warga yang lain Mereka tidak harus repot-repot memikirkan ke mana mereka menjual hasilnya. karena sudah ada abah yang akan membeli kerajinan mereka. Terus kalau mereka mau langsung menjual ke bandar, bandarnya belum tentu mau menerima hasil kerajinan mereka. tapi kalau lewat Abah, Bandar pasti mau, karena mereka sudah percaya dengan kualitas anyaman Abah. jadi Abah dan warga saling menguntungkan, mereka membuat kerajinan Abah yang membeli. Bagaimana paham Ambu?" Ujar Bah Abun panjang lebar.
"Oh, jadi kita, Jadi Bosnya gitu?" tanya Ambu yayah sambil mengerutkan dahi, penjelasan suaminya yang panjang lebar tidak membuatnya mengerti.
"Iya sederhananya seperti itu! Bagaimana setuju apa enggak?"
"Dari dulu ambu nggak pernah melarang apapun yang hendak Abah kerjakan. yang terpenting bagi Ambu! Abah sudah mau menafkahi keluarga aja, itu sudah membuat Abu bahagia." Jawab Abu Yayah.
"Kalau setuju! abah mau menemui Zuhri, untuk memintanya menghubungi aki dardi dan Aki Tisna.
"Kapan mau menemui Zuhri?"
"Kalau Ambu setuju, sekarang Abang mau berangkat. Soalnya takut kesorean.
"Ya sudah, Abah temuin sana!" seru Abu Yayah.
__ADS_1
Akhirnya Mbah Abun pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia keluar dari rumah menuju rumahnya Zuhri.