
Mendengar keputusan dari ketua Kampung Ciandam, Adin kemudian bangkit dari tempat duduknya, hendak pulang ke rumahnya terlebih dahulu, untuk bersiap-siap pergi ke kantor kecamatan. mau mengecek kebenaran seperti apa yang disampaikan oleh Isak.
Sedangkan di rumah Sarman, orang-orang masih bergerumun ikut sedih hati, Lara rasa, melihat Tetangga yang sedang tertimpa musibah begitu menyakitkan. kaki Sarman yang terkena sayatan taring babi, bukan saja keluar belatung, namun mengeluarkan bau busuk yang menyengat memenuhi hidung.
Aki Tardi meski dia telah menyerah dengan apa yang terjadi kepada Sarman, namun dia tetap membantu sebisanya, semampunya, Untuk meringankan derita yang dialami oleh tetangganya itu. dia mulai membersihkan luka Sarman dari belatung belatung lalu ditaburi dengan serbuk yang terbuat dari putri malu. setelah selesai kemudian Aki Tardi membungkusnya, namun tidak dibungkus seperti kemarin, sekarang hanya ditutup oleh kain untuk menghindari lalat-lalat yang mulai berdatangan, karena mungkin mencium bau busuk yang keluar dari kaki Sarman.
Selesai memberikan pertolongan pada luka Sarman, Aki Tardi memanggil Pak RT untuk berbicara serius berdua. mereka menjauhi kerumunan para warga menuju belakang dapur, kebetulan di situ ada bangku pelepas lelah setelah Sarman selesai bekerja.
"Ada apa aki?" tanya Pak RT sambil menatap orang tua Kampung mereka, orang tua yang memiliki banyak keahlian.
"Begini Jang RT, mendengar keterangan dari Sarman bahwa beberapa bulan terakhir dia sedang terus mengincar Mbah Abun, Bahkan tadi dia bercerita Sarman pernah mau menghabisi nyawa Mbah Abun. yang menjadi pertanyaan, Kenapa Mbah Abun tidak melaporkan kejahatan Sarman kepada Pak RT," jelas aki Tardi mengungkapkan kebingungannya.
"Iya benar, saya juga berpikir ke sana, apa jangan-jangan Mbah Abun tidak mau melaporkan kejahatan Sarman, karena dia memiliki rencana lain." Pak RT juga mempunyai prasangka yang sama dengan Aki Tardi.
"Rencana lain bagaimana?"
"Aki Kayaknya lebih tahu, daripada saya. melihat kejadian Sarman yang tidak bisa dimengerti oleh Nalar itu, sudah membuktikan bahwa Mbah Abun membalas dengan cara seperti itu." ujar Pak RT mengungkapkan penemuannya.
"Benar Jang! tapi kita tidak punya bukti untuk menuduh yang tidak tidak kepada Mbah Abun."
"Iya juga Ki! terus apa yang harus kita lakukan untuk menolong Kang Sarman, karena walaupun dia salah telah melakukan kejahatan, namun melihat keadaannya seperti sekarang, itu sangat mengkhawatirkan," jelas Pak RT meminta pendapat sama orang yang lebih tua
"Sekarang begini saja, kita tunggu Jang Adin pulang dari Kecamatan, sambil kita mencari tahu kebenaran cerita Sarman, Kalau bisa Jang RT harus mendatangi Mbah Abun, untuk meminta penjelasan," jawab aki Tardi memberi keputusan.
"Apa saya harus langsung datang ke rumahnya, untuk menanyakan masalah Sarman?" Pak RT bertanya lagi.
__ADS_1
"Nggak harus, tapi kalau bertemu di jalan atau gak sengaja bertemu, baru Jang RT Jelaskan! karena kalau sengaja datang, kita tidak punya bukti kuat. nanti bisa-bisa Bah Abun Tidak enak hati, merasa bahwa kita menuduh dia yang melakukannya," jelas aki Tardi.
"Sekarang bagaimana?"
"Sekarang kita pulang ke masing-masing, kita mencari nafkah seperti biasa, sambil menunggu kabar dari orang yang pergi ke Kecamatan. aki yakin, Adin paling siang mendekati sore dia baru pulang, karena Kampung Ciandam dan Kecamatan lumayan agak jauh."
Mendengar keputusan aki Tardi, akhirnya mereka berdua pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian masuk kembali ke rumah untuk meminta izin pulang ke rumah masing-masing. mereka berdua berjanji nanti setelah Adin datang mereka akan datang lagi ke rumah Sarman.
Setelah berpamitan, Akhirnya kedua ketua Kampung Ciandam mereka pulang ke rumah masing-masing. untuk melaksanakan aktivitas seperti biasa. Aki Tardi melanjutkan anyamannya. sedangkan Pak RT setelah sampai ke rumah, dia bergegas mengambil keranjang dan Arit hendak mencari rumput untuk pakan hewan ternaknya.
Merasa sudah terlalu siang, Pak RT mencari rumput tidak jauh-jauh. dia mencari rumput di galengan-galangan sawah yang belum dibersihkan.
Matahari mulai terasa terik menyengat jiwa-jiwa yang tersinari oleh sinarnya. para warga yang sedang bekerja mereka terus meminum air, untuk menetralisir rasa panas yang keluar dari luar tubuhnya, meski sesekali ada angin yang menerpa tubuh, namun itu tidak cukup.
"Panas-panas masih bekerja aja jang RT," sapa Mbah Abun yang seperti biasa terlihat sangat ramah.
"Iya bah! Tadi kesiangan Soalnya ada warga yang sakit," jelas Pak RT sambil bangkit, kemudian memasukkan rumput yang ada di tangannya.
"Ada yang sakit! siapa warga yang sakit Jang RT?" tanya Mbah Abun yang terlihat penasaran.
Mendengar pertanyaan Mbah Abun, Pak RT tidak langsung menjawab. namun dia mendekati Saung Mbah Abun lalu masuk ke dalam terasnya. sebelum duduk dia melepaskan keranjang yang ada di punggungnya, kemudian dia mengambil botol air yang ada di tas yang di selendangkan. Pak RT belum menjawab pertanyaan Mbah Abun, dia meneguk beberapa tegukan air, yang ada di botolnya. terlihat jakunnya yang naik turun seolah menikmati air yang membasahi tenggorokannya.
"Maaf Abah! Saya haus sekali, panasnya lumayan menyengat." ujar Pak RT sambil menutup kembali botol air minumnya.
"Iya, untung sawah Abah padi sudah gede, jadi tidak harus membutuhkan suplai air yang banyak, kalau masih kecil ini sangat bahaya banget, buat pertumbuhan padi kita." jawab bah abun menjelaskan.
__ADS_1
"Benar! benar! kalau Padi sudah sebesar ini, tidak terlalu banyak membutuhkan suplai air. kalau disuplai banyak nanti bisa-bisa padinya akan busuk," jawab Pak RT menimpali.
"Oh iya, Jang RT belum menjawab pertanyaan Abah, siapa warga yang sakit, terus sakit apa?" ungkap Mbah Abun mengulangi pertanyaannya.
"Kang Sarman Mbah! Kang Sarman yang sakit, kemarin ketika dia mencari kayu bakar, dia diserang oleh babi hutan. namun lukanya sangat aneh, selain memar bekas serudukan serudukan babi, ada luka sayatan di kakinya, seperti luka sayatan yang disebabkan oleh benda tajam."
"Ya ampun, Kok bisa seperti itu?" tanggap Bah Abun menunjukkan rasa simpati, namun berbeda dengan hatinya yang tersenyum puas mendengar musuhnya mendapat luka seperti itu.
"Iya bah, kasihan......! dari luka yang dia derita sekarang mengeluarkan bau wangi dan belatung belatung kecil, membuatnya terlihat sangat mengkhawatirkan," Pak RT melanjutkan ceritanya.
"Kasihan juga ya, kalau seperti itu. terus emang nggak diobati, terus Emang kalau taring babi mempunyai racun seperti ular?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah orang yang duduk di hadapannya.
"Diobati, sudah Bah! namun untuk pertanyaan yang kedua Saya tidak mengetahui, bahkan Aki Tardi yang umurnya sudah tua itu, dia belum pernah melihat orang yang diserang babi seperti Kang Sarman," jelas Pak RT.
"Oh begitu......" tanggap bahabun yang tidak tahu harus memberi tanggapan Seperti apa lagi.
"Namun dari kejadian yang menimpa Kang Sarman, ada satu cerita yang menyangkut sama abah," jelas Pak RT.
"Menyangkut sama abah bagaimana?" tanya Mbah Abun sambil mengerutkan dahi dan menyipitkan pandangan, tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Pak RT.
"Tadi dia bercerita, bahwa beberapa hari yang lalu, dia menyerang Abah di pasir tiis, Apakah itu benar Mbah?"
"Benar Jang! ketika Abah pulang dari kota mengurus pekerjaan Abah. di pasir tiis ada orang yang mencegat Abah, awalnya Abah tidak tahu siapa yang menyerang, Karena orang itu memakai penutup wajah, hanya kelihatan matanya yang memerah seperti menunjukkan kebencian terhadap Abah. akhirnya kita pun bertarung memperebutkan nyawa, orang yang memakai topeng itu menyerang Abah membabi buta menggunakan golok. namun Abah walaupun merasa capek sehabis perjalanan jauh. Abah masih ada dalam perlindungan-Nya, hingga singkat cerita Abah bisa mengalahkan orang itu. ketika Abah buka penutup wajahnya, alangkah kagetnya Jang RT, ternyata orang yang menyerang Abah yang tadi Abah kira itu begal beneran, ternyata itu si Sarman, si kurang ajar, si tidak tahu diri. kalau abah tahu yang menyerang itu si Sarman, Abah sudah menghabisi nyawanya dari awal, tidak akan ada ampun lagi. Namun sayang abah yang merasa kaget melihat tetangga dekat Abah menyerang, sehingga membuat Abah lengah, akhirnya Sarman kabur dari cengkraman Abah." cerita Mbah Abun panjang lebar.
"Terus Abah membalasnya dengan cara halus? sehingga kang Sarman terluka seperti sekarang," tanya Pak RT memancing, namun berbeda dengan Mbah abUn yang membulatkan mata seolah tidak percaya mendapat pertanyaan seperti itu.
__ADS_1