
Empat anjing yang baru dimasukkan, Mereka terlihat berlari dengan kencang sambil terus menggonggong menuju ke arah babi yang sedang berteduh. namun Aneh ketika Anjing itu sampai ke dekat babi, anjing itu hanya menggonggong satu kali, kemudian berlalu tanpa menyerang. anjing anjing itu terlihat berjalan menuju ke pinggir pagar, kemudian dia duduk sambil mangap-mangap mungkin merasa capek setelah berlari begitu cepat, begitupun dengan anjing-anjing yang lainnya yang sama ikut mengelilingi pagar.
"Anjing apaan itu Kok nggak ada gunanya, itu babinya anjing...! tuh babinya...!" itu teriak salah seorang penonton yang memberi tahu, layaknya sedang berbicara dengan manusia.
"Kayaknya ini bukan anjing pemburu, tapi anjing tong sampah," ledek penonton lain membuat suara tawa pun terdengar.
"Masukkan lagi anjingnya, Jang Karmin...!" Seru Bah Turo yang melihat anjing-anjing yang pertama tidak menyerang.
"Ayo masuk 4 anjing lagi!" seru Karmin memberi komando.
Para pawang anjing pun melepaskan anjing Mereka, kemudian sama seperti anjing yang pertama. anjing-anjing itu berlari menuju ke arah babi yang sedang berteduh, namun ketika mereka mau menggigit, mata Anjing itu membulat dengan sempurna, kemudian pergi meninggalkan babi yang terlihat memejamkan mata.
"Eh tumang ngapain kamu malah pergi, gigit telinganya Tumang, ambil antingnya...!" teriak pawangnya yang merasa kesal, karena anjingnya tidak sedikitpun tertarik dengan babi.
"Halah...! anjing bodoh seperti itu jangan dimasukkan ke dalam gelanggang, membuat tempat sempit aja. anjing seperti itu jangan dikasih babi, tapi kasih telur manusia yang kuning!" Timpal penonton yang pandai meledek, membuat para penonton kembali riuh dengan tepuk tangan. namun berbeda dengan Pawang anjing yang bernama tumang, wajahnya terlihat memerah tak kuat menahan rasa malu. hatinya terasa panas, amarahnya sudah berada di ubun-ubun. namun apa daya, dia tidak bisa melakukan apa-apa, karena memang buktinya seperti itu, anjingnya tidak mau menyerang babi yang terlihat.
Rombongan anjing kedua, rombongan anjing ketiga yang dimasukkan ke dalam gelanggang, tidak jauh beda dengan rombongan anjing yang pertama. Ketika dimasukkan, awalnya Anjing itu terlihat sangat beringas, bahkan ketika masih di luar arena mereka Terdengar menggonggong dengan begitu nyaring, bahkan bergerak gerak ingin segera dilepaskan oleh sang pawang. namun ketika dimasukkan dan setelah dekat dengan sang babi, anjing itu hanya terdiam kemudian pergi meninggalkannya, mata anjing anjing itu terlihat menoleh ke sana kemari, seperti sedang mencari jalan keluar dari gelanggang.
Kejadian seperti itu membuat semua orang yang menyaksikan merasa heran, karena sudah hampir lebih 10 anjing yang dimasukkan, namun kesepuluh anjing itu tetap tidak ada yang menyerang. jangankan menyerang mendekati babi pun tidak ada, membuat penonton merasa kecewa, karena yang mereka harapkan pertandingan adu babi, yang sangat seru itu tidak terjadi. berbeda dengan pertunjukan adu babi sebelum-sebelumnya, hingga pertunjukan itu terasa hambar, hanya terdengar suara teriakan teriakan para penonton yang mengeluarkan kekecewaannya.
Sedangkan Mas sumijan dan Surya Jaya mereka terus menatap ke arah babi yang masih berteduh, Tak sedikitpun ada yang terlewat. bahkan mungkin kalau bisa matanya dilarang untuk berkedip, karena semakin lama semakin terlihat keanehan babi itu, soalnya tidak ada satupun anjing yang mau mengganggunya.
"Sekarang Percaya nggak, Kang?" tanya sujiman sama orang yang berada di sampingnya, yang sejak dari tadi matanya terfokus ke arah sang babi ngepet.
"Sangat percaya mas, karena memang benar ini babi aneh bin ajaib. Akang selama membawa kepala yang akang bawa, Baru kali ini akang menemukan babi seistimewa ini."
"Syukur kalau Akang sudah percaya, sekarang akang pikirkan Berani membayar di harga berapa, Kalau babi itu mau Akang beli?"
__ADS_1
"Harga itu urusan yang mempunyai babi, Akang hanya pembeli, hanya bisa mengikuti kemauan pemiliknya. ketika harganya pas dan sesuai dengan uang yang akang miliki, maka akang akan membelinya, Tapi kalau uangnya kurang kan itu sangat percuma."
"Lah.....! Akang jangan setengah-setengah, pokoknya babi ini harus menjadi milik Akang! soalnya sudah kita lihat dengan mata kita sendiri, kalau babi ini diadukan dengan cara seperti ini, tidak akan membuahkan hasil, walaupun babi itu diadukan kembali dengan anjing."
"Terus bagaimana dong Mas?"
"Satu-satunya cara, babi ini harus kita ajak berkenalan, harus diketahui apa maunya. supaya bisa menurut sama kita, sehingga kita bisa membuat sirkus kecil-kecilan! Saya sangat yakin kalau akang bisa melakukan pendekatan dengan babi itu, maka keuntungan lah yang akan terus mengalir," ujar Mas sujiman Yang Terus mengompori sahabatnya, agar membeli babi milik Mbah Turo.
Sedangkan di tengah gelanggang adu babi, terlihat ada dua anjing yang sangat besar, pipinya terlihat bergelambir, Anjing itu baru masuk ke dalam pagaran.
Guk...! guk...! guk!
Gonggongan kedua anjing yang terdengar menggema, membuat Siapa saja yang mendengarnya hatinya akan merasa bergetar, membuat para penonton kembali Terdengar sangat riuh, mereka menyangka bahwa kedua Anjing itu adalah lawan sepadan bagi sang babi yang terlihat sangat besar.
"Nah, ini nih! baru lawan yang pas buat si babi, ayo, ayo maju anjing...! maju....!"
"Jacky maju...! Jaki Serang babi itu!" teriak sang pawang yang memberi semangat kedua anjingnya.
"Ya Allah, bagaimana ini....? ya Allah, tolong hamba, ya Allah! ya Allah!" ujar Ranti yang tak tahu harus bagaimana lagi.
Sedangkan kedua anjing bulldog itu terlihat menggonggong sambil berlari menerjang ke arah babi yang masih berteduh. Ranti yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, dia hanya memejamkan mata dengan begitu erat. "kalau kamu mau makan tubuhku, Makanlah sepuasmu, Hey anjing...!" ujar Ranti dalam hati sambil memperkuat pejaman matanya, tak mau menyaksikan kengerian yang ada di hadapannya.
Tepuk tangan para penonton pun semakin meriah, melihat kedua anjing yang sangat besar yang sudah menerjang berlari ke arah sang babi ngepet. Namun sayang ketika kedua Anjing itu berada di hadapan babi, mereka berhenti lalu menatap tajam ke arah lawannya. setelah itu kedua anjing pun terlihat berjongkok, berhadapan dengan babi yang masih memejamkan mata.
Hewan-hewan yang selalu bermusuhan itu sekarang terlihat sangat akrab, mungkin kalau manusia mereka akan mengobrol bertanya tentang kabar. berbeda dengan para penonton yang merasa kesal dan merasa jengkel, karena Harapan pertandingan yang suguhkan akan seru, berbanding 180° dengan kenyataan. sehingga lambat laun para penonton pun mulai keluar dari gelanggang pertunjukan adu babi, untuk pulang ke rumah masing-masing, dengan membawa rasa kecewa yang begitu luar biasa.
"Rugi, rugi....!300 perak kita hilang begitu saja, tanpa ada keseruan sedikitpun." gerutu salah seorang penonton menumpahkan kekecewaannya.
__ADS_1
"Iya benar, tapi walaupun seperti itu. kita tidak rugi-rugi amat, karena ini adalah pengalaman pertama kita menyaksikan, Gimana ada anjing yang tidak mau menyerang babi.
"Yah, benar! ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa," Timpal temannya menyembunyikan kekesalan.
Sedangkan sujiman dan Surya Jaya mereka tidak langsung pulang, Mereka menghampiri bah turo yang terlihat sedang melamun, karena mendengar perkataan-perkataan para penonton yang menyinggungnya.
"Bagaimana nih bah kok jadi seperti ini?" tanya mas sujiman setelah berada di hadapan Mbah Turo.
"Nggak tahu man, Abah juga bingung. Kalau kenyataannya seperti ini anjing anjing tidak mau menyerang babi itu?"
"Mending Abah jual saja...! karena kalau diadukan seperti ini, tidak akan menjadi uang."
"Iya Abah mau, tapi Siapa yang mau membelinya!"
"Ini, kang Surya! orang yang tadi saya ceritakan, beliau sangat tertarik dengan babi yang Abah miliki."
"Iya bah, Saya sangat tertarik dengan babi yang Abah miliki, kira-kira mau dijual berapa?" Tanya Surya Jaya menimpali.
"Rp250.000, Abah lepas!'
"Waduh..., Mbah! itu harga yang tidak masuk di akal, itu sebanding dengan harga anak kebo."
"Pasti masuk di akal Hang Surya, karena babi yang Abah miliki, babi yang sangat aneh, Ujang juga sudah melihat kan keanehannya seperti apa?"
"Iya saya sudah melihat, makanya saya tertarik dengan babi itu tapi kalau bisa harganya jangan segitu lah Bah!"
"Emang nawar berapa?" Tanya Mbah Turo.
__ADS_1
"Rp100.000 berani bah!" jawab Surya Jaya karena dia merasa yakin bahwa harga itu, sudah berkali-kali lipat dari harga babi pada umumnya.
"Wah nggak bisa lah Jang, kalau dari 250 ke 100 itu sangat jauh sekali turunnya."