
Semakin lama pintu pun semakin terbuka, hingga akhirnya pintu kandang babi pun terbuka dengan sempurna. namun Aneh ketika kandang itu terbuka, prasangka orang-orang yang menonton, ketika pintunya terbuka, maka akan terlihat seekor babi yang keluar dari dalam kandang kemudian berlari mengelilingi pagaran. Namun ternyata prasangka Mereka salah, karena babi itu tidak keluar, babi itu terlihat masih tengkurap dengan bercucuran air mata.
Melihat kenyataan yang seperti itu, para penonton pun terlihat kecewa. karena babi yang sedang mereka tunggu tak kunjung menampakan batang hidungnya, Mereka terlihat bergoyang hendak melihat lebih dekat, Kenapa babi itu tidak keluar dari kandangnya.
"Mana babinya woi.....! ada apa nggak sih babinya, apa jangan-jangan kita ditipu?" Ujar salah seorang pria yang terlihat jinjit, ingin melihat jelas ke arah gelanggang.
"Nggak mungkin nipu, karena tadi saya melihat sendiri bahwa babinya ada. kita sabar dulu saja, mungkin babinya sedang berdandan dan bersolek," jawab orang yang ditanya sambil mengulum senyum sedangkan pria yang berada di samping mereka ikut memamerkan gigi.
"Babi apaan kok pemalu seperti itu, apa jangan-jangan gara-gara memakai anting. Mungkin dia takut antingnya tertarik oleh gigitan anjing, hahaha!'
"Mana babinya woi....!" terdengar dari arah utara yang berteriak.
"Iya bah! mana babinya jangan-jangan Abah nipu, kalau nggak punya babi jangan pasang karcis segala, kita datang ke sini bukan mau nonton Abah." sahut penonton yang lain.
para penonton pun bertanya-tanya di mana keberadaan babi aneh itu, membuat telinga Bah turo terlihat memerah, karena merasa malu dan merasa aneh melihat kelakuan babi yang berbeda dengan babi biasanya.
"Halah...! Kenapa kamu babi, Kenapa kamu nggak mau keluar, apa kamu mampus di dalam?" gumam hati Bah Turo yang terlihat menelan ludah mungkin dia sedang membuang rasa, malu karena mendapat SorakanĀ dari penonton.
"Mana bah, babinya?" tanya salah seorang penonton yang kebetulan berdiri di dekat Mbah Turo
"Sabar...! sabar saudara! babi ini adalah babi aneh, sebentar abah bujuk dulu agar mau keluar," ujar Bah Turo sambil turun dari tempat perlindungannya, dia ingin mengecek Kenapa babi itu tidak mau keluar. setelah sampai Mbah turo terlihat kaget, karena melihat babi itu hanya diam tengkurap, matanya melirik ke sana kemari penuh dengan air mata.
"Kenapa babi ini, apa mau mempermalukanku di hadapan orang banyak, awas...! aku cungkil kamu pakai bambu!" gumam hati Bah Turo yang terlihat menatap penuh heran ke arah babi yang masih berada di dalam kandang. Mata kakek itu terlihat memindai area sekitar, hingga akhirnya Terhenti Di sebilah bambu bekas pikulan. tanpa berpikir panjang Mbah Turo mengambil bambu itu, kemudian dipakai menusuk-nusuk babi dari luar kandang.
"Ayo keluar Nyai...! tuh lihat penonton sudah menunggu, ayo keluar...! jangan tidur terus. keluar...! keluar!" ujar Bah Turo sambil terus menusuk-nusuk perut babi, tusukan itu berpindah ke arah leher, ke arah telinga, ke arah mulut. membuat hati Ranti menjadi semakin sedih dan menjadi semakin sengsara. harga dirinya benar-benar jatuh, benar-benar hancur tak tersisa, sehingga tidak ada satu orang pun yang menghargainya. bambu yang menusuk-nusuk tubuh tidak terlalu sakit, namun keadaan yang tidak diharapkan rasanya sangat menyakiti hati Ranti, karena dia harus mengalami dipertontonkan layaknya hewan liar. bahkan tidak sampai di situ dia akan diadukan dengan anjing .
"Abah.....! ambu....! Ranti harus bagaimana kalau sudah begini? Ya Allah, tolong hambaMu Ya Allah, tolong....!" jerit hati Ranti yang harapannya sudah habis, kalau bisa mungkin dia akan menangis dengan berguling-guling, agar semua Belenggu yang mengikatnya Terhempas ke tanah. air matanya terus berjatuhan membasahi pipi. Ranti menangis sejadi-Jadinya meratapi nasib yang sedang dia alami. namun berbeda dengan Bah Turo yang mendengar suara sang babi yang begitu nyaring, membuat dia agak sedikit lega karena ternyata babi itu masih sehat .
Suara babi itu Bahkan bukan terdengar oleh bah turo saja. semua penonton yang hadir pun mendengar suara babi, hingga terdengar suara tepuk tangan yang sangat meriah karena para penonton yakin, ketika suaranya seperti itu babinya sangat sehat.
"Cepetan keluarin Mbah...! lama amat sih, Nanti keburu magrib." teriak salah seorang penonton yang sudah merasa kesal.
__ADS_1
"Babi Jangan dipeluk terus Bah! keluarkan buruan.....!" Timpal warga yang lain
"Kayaknya si Abah mau menyembunyikan babi cantik itu, mungkin mau dinikahi olehnya," penonton yang lain menimpali sambil meledek
"Ayo Bah, nanti keburu magrib!"
Sedangkan orang yang diseru untuk mengeluarkan babi, wajahnya terlihat memerah menahan malu, karena terus-terusan disoraki oleh para penonton. dengan kesal dia terus mencolok-colok tubuh babi itu agak sedikit kasar, agar segera keluar.
"Siram dulu pakai air bah...!" saran Karmin yang terdengar dari arah selatan.
Mendapat saran itu, Mbah Turo yang merasa terilhami dengan cepat dia pun mengambil air yang sudah disiapkan dari tadi, kemudian tanpa berpikir panjang air itu disiramkan ke dalam kandang babi.
Byur! Byur! Byur!
Air pun mengguyur kandang babi, sehingga tubuh Ranti terlihat basah kuyup, bahkan tidak sampai di situ. tanah yang dipijaknya pun mulai menjadi Lumpur, karena terus terusan disiram oleh air.
Merasa tidak kuat dengan apa yang dideritanya, ranti pun memberanikan diri untuk keluar. berharap ketika di luar dia tidak akan disiram dan tidak akan ditusuk-tusuk oleh bah Turok, karena semakin lama tusukan itu semakin terasa sakit.
"Ya Allah, ternyata banyak yang menonton," gumam hati Ranti yang merasa minder kalau dihadapkan dengan orang banyak.
Sedangkan para penonton, mereka Terdengar bertepuk tangan kembali dengan tepuk tangan yang lebih meriah karena babi yang mereka tunggu sekarang sudah menampakkan kepalanya. membuat Ranti merasa takut hingga akhirnya dia kembali masuk ke dalam kandang, Ranti merasa Dilema, antara keluar atau tetap berada di dalam. Soalnya di dalam kandang dan di luar kandang itu sama saja, sama-sama bukan pilihan yang baik. ketika dia mau lebih masuk ke dalam, namun dengan cepat Mbah Turo menahan tubuhnya dengan bambu.
"Keluar babi jangan buat orang marah....!" bentak Bah Turo yang terlihat kesal, matanya memerah, giginya mengancing, merasa tidak suka dikerjai oleh babi yang tidak mau keluar.
Mendapat bentakan dari bahturo, babi itu berlari menuju ke arah luar kandang, disambut para penonton yang bertepuk tangan dengan sangat riuh.
"Keluar tuh babinya, keluar...!"
"Yah, keluar tuh!"
"Keluar....! keluar! keluar!"
__ADS_1
"Ternyata benar, pakai anting!"
"Mana, mana, mana!"
"Iya benar, pakai anting!"
Teriak para penonton yang terlihat bergembira, mereka saling membicarakan apa yang mereka lihat, gendang penca terdengar semakin nyaring, anak kecil terlihat loncat-loncat kegirangan, orang-orang yang masih penasaran dengan telinga babi itu mereka tak berkedip menatap gerak-gerik babi yang berada di dalam pagaran. karena Ranti terus berlari mengelilingi gelanggang adu babi, sambil terus memindai area gelanggang Berharap ada satu celah yang bisa membuatnya melarikan diri. Namun sayang pagar gelanggang adu babi baru dibetulkan oleh Mbah Turo, sehingga terlihat kokoh dan kuat.
Ranti Terus Berlari ke arah selatan, disambut tepuk tangan para penonton. berlari ke arah barat, disambut tepuk tangan para penonton. kemanapun Ranti berlari terus disambut oleh tepuk tangan penonton. Bahkan bukan hanya tepuk tangan, Ada pula yang memukul-mukul pagar gelanggang itu, membuat Ranti semakin panik. Namun lama-kelamaan dia pun merasa capek, karena terus-terusan berlari hingga akhirnya dia berhenti di tempat yang terlihat Teduh, matanya terus memindai area sekitar, memperhatikan ke arah penonton yang sedang menontonnya.
Mbah Turo melihat babinya sudah keluar dia pun terlihat sumringah karena merasa bahagia tidak jadi dipermalukan oleh sang babi ngepet. sekarang dia tinggal menunggu anjing dimasukkan ke gelanggang pertarungan. perlahan Dia berjalan menuju ke arah Mang Karmin yang ditugaskan untuk mendata orang-orang yang mau memasukkan anjingnya ke dalam kandang.
"Sudah ada yang mendaftar jang Karmin?" tanya bah turo setelah berada di samping orang yang ditanya.
"Sangat banyak Bah...! bahkan sudah ada 60 ekor anjing yang mau diadukan. mana ada anjing Bulldog dari kota. Bagaimana ya Bah, apa Anjing itu nggak akan merusak babi kita?"
"Kamu harus pintar mengaturnya Min...! kalau anjing kecil boleh dimasukkan 4 anjing, tapi kalau anjing besar Cukup dua saja. ya Sudah buruan Masukkan anjingnya, Nanti keburu magrib! dan satu lagi anjing yang dimasukkan harus diberi waktu 5 menit."
"Nggak terlalu sebentar tuh, bah?"
"Ya kan anjingnya sangat banyak, Nanti anjing yang lain nggak akan kebagian waktu."
"Benar juga. ya sudah kita mulai saja adu babi ini," jawab Karmin kemudian dia berjalan menuju ke arah kerumunan orang yang sedang memegang tali-tali anjingnya.
"Silakan masukkan anjing-anjingnya! yang kecil 4 ,kalau yang besar cukup dua saja. namun waktunya jangan lama-lama, cukup 5 menit." seru Karmin setelah berada di kerumunan orang-orang yang memiliki anjing.
Para pawang anjing pun mengangguk, karena mereka tidak bisa membantah apa yang sudah ditetapkan oleh para panitia. dengan cepat mereka memilih anjing yang paling kecil ,setelah dapat Anjing itu pun dimasukkan ke dalam gelanggang pertarungan adu babi.
Guk! guuk! Guuuuuuuk!
Anjing anjing pun menggonggong dengan kencang, kemudian mereka berlari masuk ke tengah lapangan, membuat para penonton kembali terdengar bersorak.
__ADS_1