
"Kapan Kang Sarman mau dibawa ke dokter, soalnya Sekarang kan sudah sore hari?" Tanya pak RT setelah mendengar keputusan aki Tardi yang hendak membawa Sarman berobat ke dokter yang ada di kecamatan.
"Benar, kalau dibawa sekarang emang kesorean, jarak dari kampung Ciandam ke Kecamatan lumayan jauh, apalagi harus menandu orang yang sakit. itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama. kita berangkat besok pagi, namun untuk sekarang kita persiapkan tandu yang kokoh, untuk membawa tubuh Jang Sarman. dan beritahu warga-warga yang memiliki tenaga yang kuat, agar bisa membantu memikul tandu." jawab aki Tardi memberi keputusan.
"Bagaimana kalau tubuh Kang Sarman dimasukkan ke dalam sarung, kemudian sarungnya kita masukkan bambu sebagai pikulan. agar kalau ketika ada jalan yang sempit, kita masih bisa menggotong dengan nyaman," usul salah Seorang warga.
"Benar aki, jadi nanti ketika kita menyebrang jembatan atau melewati Jalan Setapak yang sempit, itu tidak susah. karena kalau pakai tandu kita harus menggotongkan Sarman dengan empat orang. sedangkan ada jalan yang akan kita lalui tidak akan cukup dilewati berdua dengan cara bergandengan. kita harus melewati jalan itu dengan cara beriringan," ujar salah Seorang warga yang lain menambahkan.
"Yah, kalau begitu lebih baik. aki ikut saja sama yang muda-muda, karena aki tidak akan sanggup untuk memikul tandu, kalau masalah itu aki serahkan sepenuhnya kepada kalian," jawab aki Tardi membenarkan.
"Tapi bagaimana dengan Kang Sarman, Apakah dia mau dibawa ke rumah sakit?" tanya Pak RT, karena aki Tardi tadi baru bertanya sama istrinya, belum bertanya langsung kepada orang yang menderita penyakit yang sangat aneh dan menjijikkan itu.
"Kang Sarman! Kang Sarman...! Akang sadar?" ujar Adin sambil menepuk pelan tangan Sarman yang terkulai lemas.
Namun sayang orang yang dipanggil tidak memberikan respon lebih, hanya membuka mata dengan perlahan, seperti kelopak matanya sangat berat, kemudian kelopak itu tertutup kembali.
"Bagaimana ini aki?" tanya Adin sambil menatap ke arah ketua Kampung mereka.
"Jang..! Jang.....! Jang.....! Jang Sarman......!" Panggil aki Tardi sambil menggoyangkan tubuh Sarman, seperti orang yang hendak membangunkan orang yang sedang tidur.
Dipanggil Aki Tardi, Sarman sama sekali tidak memberikan respon apapun, Hanya Deru nafas yang terlihat sangat pelan, sesekali terlihat meringis menahan sakit, yang diakibatkan oleh serangan babi hutan.
"Sudah aki...! Biarkan saja Kang Sarman beristirahat, karena masih ada Bi Darmi sebagai istrinya. kita cukup meminta izin sama keluarga Kang Sarman," tolak Pak RT yang melihat aki Tardi terus membangunkan Sarman.
__ADS_1
Mendengar ada yang memperingatkan, aki Tardi tidak melanjutkan niatnya yang hendak bertanya sama orang yang sedang terbaring tak berdaya. dia menatap ke arah Darmi, istri Sarman. "Bagaimana kalau besok kita berangkat membawa Jang Sarman ke Kecamatan?" tanya aki-aki itu, sambil menatap ke arah wanita yang masih terisak, nggak kuat menahan kesedihan yang diderita oleh suaminya.
"Saya Ngikut aja Aki!" jawab Darmi singkat dan pelan, kalau tidak mendengarkan dengan jeli, pasti perkataannya tidak akan terdengar.
"Ya Sudah, kalau seperti itu. sekarang siapkan bambu yang kuat untuk memikul tubuh Jang Sarman." pinta aki Tardi memberikan tugas.
Akhirnya para warga yang berkumpul, membubarkan diri masing-masing. sebelum pulang Mereka membagi tugas untuk menyiapkan perlengkapan menandu Sarman, ketika besok dibawa ke Puskesmas.
Waktu terasa begitu cepat. sore itu sudah berubah menjadi malam, bertambah pula kesedihan yang sedang dialami oleh keluarga Darmi yang terkena musibah, suaminya diserang oleh babi hutan. para warga dan saudara tidak ada yang ikut menemani, karena sebenarnya mereka tidak kuat dengan bau busuk yang ditimbulkan dari luka Sarman, akibat Serangan taring babi.
Namun meski begitu, malam yang panjang bisa dilalui dengan aman, tidak ada gangguan atau ketakutan yang mengganggu keluarga Darmi. hingga Keesokan paginya, warga Kampung Ciandam yang memiliki tenaga yang lumayan kuat, dan memiliki rasa simpati yang begitu tinggi terhadap tetangganya. mereka sudah bersiap siap berkumpul di rumah Sarman.
Setelah semua orang berkumpul dan dirasa cukup untuk menandu tubuh Sarman. aki Tardi dan Pak RT sebagai tetuah kampung Ciandam, mereka sibuk memberikan tugas. tubuh Sarman yang terbaring lemas di atas tikar, perlahan mereka pindahkan ke dalam sarung.
Setelah menimbang menimbang dan mengukur berat pikulannya. akhirnya mereka berdua pun turun dari rumah Sarman, diikuti oleh Pak RT, aki Tardi, Darmi serta Mita yang matanya terlihat sembab karena semalam mereka tidak bisa tidur ditambah dengan terus-menerus menangis.
Para warga yang dari tadi menunggu di luar, melihat tubuh Sarman keluar dari rumah. Mereka pun membantu agar Sarman bisa keluar dengan aman. Setelah semuanya dirasa selesai, dan tidak ada yang tertinggal. kedua orang yang memikul tubuh Sarman mulai melaju menuju ke jalan besar yang ada di tengah-tengah kampung Ciandam. diikuti oleh para warga warga lainnya, yang ikut berbela sungkawa dengan apa yang menimpa kepada keluarga itu
Gerombolan orang-orang yang mau mengantar Sarman bertemu dengan dokter di Puskesmas, terus bergerak menyusuri Jalan hingga akhirnya mereka keluar dari kampung Ciandam. setelah keluar dari kampung mereka terus menyusuri Jalan Setapak, yang biasa digunakan oleh warga Kampung ketika hendak pergi ke kota. dua orang yang memikul, ketika mereka merasakan kelelahan, mereka meminta warga lainnya, untuk bergantian memikul tubuh Sarman.
Dari arah Timur terlihat matahari Belum menunjukkan sinarnya, Entah mengapa hari itu cuacanya bisa berbeda dengan hari-hari kemarin, padahal hari kemarin cuacanya sangat panas.
"Kok bisa sekarang mendung seperti ini?" ujar pak RT yang berjalan paling belakang.
__ADS_1
"Yah namanya juga cuaca Jang! kadang berubah secepat kilat, jangankan dengan jarak waktu sehari, jarak waktu beberapa jam saja, cuaca sudah bisa berubah. Harusnya kita bersyukur karena cuaca hari ini tidak sepanas hari kemarin. sehingga kita tidak akan terlalu capek ketika melakukan perjalanan jauh seperti sekarang." jawab aki Tardi yang berjalan di depan Pak RT.
"Yah Aki...! Semoga saja awan tetap mendung, jangan sampai awan itu tumpah," doa Pak RT.
Namun doa hanyalah doa, doa hanyalah keinginan manusia yang kadang tidak sesuai dengan kenyataan. lama kelamaan langit itu menjadi semakin mendung, bahkan terlihat sangat gelap. terdengar suara gemuruh angin yang menerpa pepohonan, membuat para rombongan itu terperanjat kaget dengan perubahan cuaca yang begitu mendadak. ditambah mereka sedang ada di tengah hutan yang jauh ke perkampungan.
Pak RT yang sudah tidak enak Rasa, dia terus mendongakkan kepalanya, melihat awan yang sudah menghitam, sehingga dia lalai dengan pijakan jalan yang dia lalui. kalau tidak cepat-cepat aki Tardi pegang, Pak RT bisa terjatuh karena tersandung akar pohon yang berserakan di Jalan Setapak itu.
"Hati-hati Jang RT...!" ujar aki Tardi sambil melepaskan kembali genggamannya.
"Iya Aki! saya takut Hujan akan turun, mana ke perkampung masih jauh lagi. sekarang kita harus bagaimana aki?" jawab Pak RT diakhiri dengan pertanyaan, kemudian dia melanjutkan kembali perjalanannya, mengikuti rombongan warga yang membawa tubuh Sarman.
"Jalannya agak dipercepat....! agar Ketika nanti hujan turun kita sudah berada di Kampung, kita bisa ikut berteduh ke rumah warga disana..!" perintah aki Tardi.
"Tolong kerahkan semua ilmu aki, agar hujan ini tidak jadi turun!" pinta Darmi yang sudah terlihat sangat khawatir.
"Maaf aki bukan pawang hujan, yang bisa menghentikan atau memindahkan hujan. biarkan hujan itu turun, karena itu adalah rezeki langsung yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. dengan adanya air hujan, tumbuh-tumbuhan akan subur, Apalagi sudah lama tidak turun hujan seperti sekarang."
"Iya, kalau itu jatuhnya ke tanah, tapi kalau jatuhnya ke orang yang sakit, akan lebih berabe, bisa-bisa Kang Sarman penyakitnya bertambah parah!" ujar Darmi.
"Semoga saja hujannya tidak cepat turun. makanya kita harus mempercepat langkah! Agar kita tidak kehujanan," saran aki Tardi.
Orang yang menggotong tubuh Sarman, mereka pun mengikuti saran aki Tardi. mereka dengan bergegas mempercepat langkah. namun walau jalan yang dilalui sudah mulai menurun, tapi turunannya yang lumayan begitu terjal. sehingga harus tetap berhati-hati, membuat keringat kedua orang yang menggotong tandu bercucuran membasahi pakaian-pakaian yang mereka kenakan. warga yang lain, yang tenaganya sudah pulih dengan cepat mengambil bambu yang digunakan sebagai tandu untuk membawa tubuh Sarman. dengan rela hati Mereka bergantian menggotong tubuh orang sakit itu.
__ADS_1
Suara angin semakin besar, menerpa pohon-pohon besar sehingga terlihat bergoyang ke sana kemari, seperti hendak terbawa oleh tiupan angin yang sangat kencang. burung-burung pada berlarian masuk ke dalam semak-semak, untuk bersembunyi dari perubahan alam yang begitu mendadak.