Babi Beranting

Babi Beranting
74. Galih dan Daus


__ADS_3

Rombongan para warga Kampung Ciandam yang menggotong jenazah Sarman, terus berjalan menyusuri jalan yang tadi mereka lalui. dihantarkan oleh angin malam yang menembus masuk kesumsum balung, suara jangkrik dan serangga serangga yang biasa bersuara di malam hari, sudah mulai terdengar, karena mungkin mereka baru bisa keluar dari sarangnya, karena tadi mereka masih terdiam di dalam, mengingat hujan yang begitu deras.


Langit gelap Tak Berbintang, seperti gelapnya hati Darmi dan Mita kala itu. mereka merasa kesedihan yang teramat dalam, karena orang yang paling mereka sayangi sekarang sudah tinggal nama.


Perjalanan itu sangat terasa mengesalkan, karena orang yang membawa jenazah Sarman tidak bisa berjalan dengan cepat, mereka berjalan harus dengan penuh kehati-hatian dan penuh perhitungan. sebab jalan yang mereka lalui sangat kecil dan licin, diakibatkan hujan yang tadi mengguyur begitu deras, setiap melewati perkampungan mata mereka celingukan mencari keberadaan warga-warga yang sedang meronda, tadinya para warga mau minta tolong, agar bisa membantu membawa tubuh Sarman pulang ke kampung Ciandam. Namun sayang para ronda yang dicari itu tidak terlihat batang hidungnya sekalipun, mungkin para warga Kampung lebih memilih tinggal di dalam rumah, dengan kerukupan menggunakan selimut.


Ketika rombongan itu bertemu kembali dengan jembatan yang tinggal 2, di sini Mereka meningkatkan kewaspadaan. agar kejadian tadi siang tidak terulang lagi, kejadian di mana Syukron terjatuh hingga mengakibatkan tubuh Sarman ikut terjatuh. beruntung meski hanya disinari oleh cahaya obor yang tidak terlalu terang, mereka semua bisa menyebrang dengan selamat, tanpa ada yang terjatuh seorang pun.


Kira-kira lewat tenggah malam, rombongan itu Akhirnya sampai di Kampung Ciandam, kampung yang terlihat sepi. karena warga Kampung lebih memilih untuk berdiam diri di kamar, kerukupan menggunakan selimut, sehingga mereka bisa tidur dengan nyenyak, terhindar dari serangan dingin yang mulai menyerang.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa sampai ke kampung Ciandam dengan selamat aki. Apakah kita harus membangunkan warga lain untuk memberitahu keadaan yang menimpa Kang Sarman?" gumam Pak RT sambil bertanya sama orang tua kampung ciandam.


"Alhamdulillah.....! kalau untuk memberitahu para warga Kampung, aki rasa itu sekarang belum perlu, karena walaupun banyak orang, jenazah tidak bisa diurus sekarang. pengurusan jenazah harus tetap dilakukan besok pagi, kalau mau memberitahu, beritahulah keluarga-keluarga terdekat Jang Sarman dan Neng Darmi."


Darmi yang sudah Terlihat agak tenang, dengan cepat dia membasuh kakinya. kebetulan di samping rumah ada air di dalam ember, air hujan yang tertampung dari genteng-genteng rumahnya. setelah selesai mencuci kaki, Dia pun dengan cepat masuk ke rumah, lalu menyalakan lentera hingga rumah yang terlihat gelap terang seketika.


Warga yang menggotong tubuh Sarman, dengan hati-hati mereka masuk ke dalam rumah, lalu jenazah Sarman diletakkan di atas tikar yang sudah disiapkan oleh Darmi.


Sedangkan Mita yang perasaannya masih kalut, dia hanya duduk sambil meluruskan kakinya. perasaan capek menyeruak memenuhi jiwa raganya, ditambah dengan kesedihan yang begitu memilukan, Dia terlihat sangat pasrah dengan apa yang terjadi menimpa keluarganya.


"Aki, Boleh saya pinjam obor? Saya mau memberitahu Kang Arif, karena Kang Arif adalah kakak tertua Kang Sarman," ujar Darmi sambil menatap ke arah aki Tardi.

__ADS_1


"Sudah Neng diam saja di rumah, biarkan orang lain yang memberitahu kakaknya Jang Sarman," jawab aki Tardi menolak.


"Syukur atuh, kalau seperti itu, Terima kasih banyak aki!" gumam Darmi sambil menatap kembali ke arah tubuh suaminya, yang sudah terbungkus rapih oleh kain jarik.


aki Tardi setelah berkata seperti itu, dia meminta salah Seorang warga untuk membangunkan tetangga paling dekat dari rumah Sarman. setelah dibangunkan mereka dengan cepat menemui orang yang membangunkannya, kegaduhan yang ditimbulkan membuat para warga lain, yang tadinya tidak mau mengganggu, Mereka pun terperanjat seketika  karena para warga Kampung Ciandam tahu bahwa Kang Sarman tadi pagi dibawa ke Kecamatan. setelah Kang Sarman pergi, hujan pun datang tak berhenti sampai malam hari. membuat para warga kampung itu merasa khawatir dengan kondisi Sarman.


Akhirnya para warga yang terbangun mereka berkumpul di rumah Darmi, mereka mendoakan Sarman yang sudah menjadi jenazah, mereka merasa sedih kehilangan keluarga dan tetangga yang begitu menyakitkan.


Seorang warga yang ditugaskan untuk memanggil Arif, dia pun dengan bergegas menuju rumah orang itu, tak lama dia pun kembali diikuti oleh Arif bersama istrinya.


Melihat kejadian yang sangat pahit, Arif dan istrinya pun menangis tersendu. namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena takdir sudah digariskan. Mita dan Darmi terus dihibur, agar mereka tidak terlarut dalam kesedihan.


Ada salah satu warga yang memiliki inisiatif, dia mengajak beberapa perempuan yang lain untuk menuju ke arah dapur Darmi. tanpa disuruh mereka mulai menyeduh air panas untuk membuatkan kopi, bahkan tidak hanya itu, mereka pun menanak nasi, agar orang-orang yang baru datang bisa makan, bisa mengisi perut yang pasti sudah sangat keroncongan.


Keesokan paginya, pagi-pagi sekali. berita kematian Sarman sudah menyebar ke seluruh penjuru Kampung Ciandam. para warga yang mengetahui tentang berita itu, mereka bergegas menuju ke rumah duka, dengan membawa bakul berisi beras, ada juga yang membawa pisang, ada juga yang membawa makanan lainnya. para lelaki yang biasa bertugas mengurus jenazah, mereka semua menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk mengurus jenazah Sarman. ada yang membawa cangkul, ada yang membawa garpu, ada yang membawa parang, ada juga yang membawa papan untuk dijadikan padung.


Semua warga Kampung Ciandam bergerak menunjukkan kepedulian dan Bela sungkawa yang begitu dalam kepada keluarga yang sedang terkena musibah. meski Sarman sangat tidak disukai karena sifatnya yang selalu menjelekkan orang lain, namun ketika seperti itu, kejelekan Sarman tidak diungkapkan. mereka membantu sekemampuan mereka, sebisa mereka, menunjukkan tali persaudaraan yang begitu erat di perkampungan.


Jenazah Sarman akhirnya diurus layaknya seperti jenazah pada umumnya, mereka mengurus jenazah Sarman sesuai dengan aturan-aturan Islam yang berlaku. di komandoi oleh pak ustad dan tetuah-tetuah Kampung lainnya.


Sehingga tengah hari menjelang siang, Sarman sudah selesai dikebumikan. para warga yang mengantar Sarman ke kuburan, sudah kembali pulang ke rumah masing-masing. namun ada beberapa warga yang ikut pulang ke rumah Darmi, untuk menemani agar keluarga yang ditinggalkan oleh suaminya tidak merasa kesepian.

__ADS_1


Malam harinya, diketuai oleh Pak RT, dipimpin oleh Pak Ustad. mereka berkumpul bersama di rumah Darmi, mereka berkumpul dengan membaca tahlil, Tahmid untuk mendoakan Sarman agar diterima Iman Islamnya, diampuni segala dosanya.


Malam-malam berikutnya pun sama, para warga Kampung Ciandam berkumpul di rumah Darmi. untuk menemani orang yang sedang sedih hati, susah rasa. para warga Kampung Ciandam mereka ikut berbela sungkawa terhadap tetangga mereka yang terkena musibah.


Hari-hari pun berlalu, hingga kejadian yang menimpa keluarga Sarman hanya tinggal pembicaraan. seperti biasa para warga hanya bersimpati ketika awal-awal saja. setelah beberapa hari berlalu, Mereka pun akan mengabaikan sibuk dengan urusan masing-masing. terlihat dari arah selatan ada anak muda yang  memasuki kampung itu, dengan berjalan gontai seperti merasa lemas, Bajunya sudah dekil karena tidak pernah menyentuh air. Tapi walau begitu tidak mengurangi ketampanan anak muda itu.


Galih, bener itu adalah Galih yang sudah lama mencari keberadaan Ranti, Dia pun akhirnya sampai ke kampung Ciandam. dia berniat pulang terlebih dahulu, untuk mengistirahatkan tubuhnya, sambil mengambil perbekalan kembali, sebelum melanjutkan pencariannya, mencari anak Mbah Abun.


Sesampainya di rumah, dia terperanjat kaget ketika mendengar cerita yang menimpa keluarga Kang Sarman. orang yang hendak mau menjadi mertuanya. namun rencana itu tidak terjadi , karena melihat sikap Sarman yang begitu kurang baik, sehingga Galih memutuskan untuk mengakhiri hubungan percintaan dengan anaknya Sarman, yaitu Mita.


****


Sore hari, terlihat di tengah Kampung Ciandam, ada seorang laki-laki yang tak kalah gagah dan tak kalah tampan kalau dibandingkan dengan Galih. anak muda itu sedang berjalan menuju ke pos ronda, Di mana para Pemuda lainnya berkumpul.


"Kang Galih Katanya sudah pulang ya?" tanya salah seorang pemuda ke pemuda yang lain.


"Iya, tapi jangan main sekarang, katanya Kang Galih masih  capek, kalau kita mau menemuinya, besok saja!" jawab pemuda yang lain memberikan keterangan.


Mendengar sahabat sekaligus saingan yang sudah pulang dari pencarian kekasihnya. Daus dengan cepat berpamitan kembali untuk menyelesaikan permasalahan yang mengganjal hatinya.


"Mau ke mana Us? baru aja datang sudah pulang lagi," tanya pemuda yang ada di pos ronda sambil menatap ke arah Daus.

__ADS_1


"Nggak tahu nih! perutku tidak bisa diajak kompromi," jawab Daus sambil mengelus perutnya menunjukkan agar aktingnya terlihat natural.


__ADS_2