
"Aduh capek Kang...! Saya terlalu sering bolak-balik ke kampung cipelang. apalagi tadi kita habis pergi ke Kecamatan. insya Allah, nanti ketika ada waktu saya akan main ke sana, namun sebelum kita berpisah. Saya berpesan sama Akang, jangan sampai menyia-nyiakan babi ini, akang harus memeliharanya dengan baik, supaya mendatangkan hasil." Jawab sujiman sambil memberikan nasehat.
"Siap Man..! Akang akan memelihara babi ini dengan sangat baik, karena harganya saja hampir sama dengan harga anak kebo. Oh ya, Akang minta maaf sama kamu, soalnya Akang belum bisa membalas kebaikan kamu, Soalnya uang yang akang miliki sudah sangat tipis, itupun buat membayar tukang pikul." Jawan Surya Jaya.
"Nggak apa-apa kang! yang terpenting usaha Akang sukses dulu, Saya yakin akang bukan orang yang melupakan kebaikan orang lain."
"Siap...! siap! tolong doakan agar usaha akang tidak ada gangguan."
"Iya Kang, pasti saya doakan."
"Ya udah, kalau kamu nggak mau ikut, akang pamit dulu nanti awas kamu lupa jenguk akang!"
Setelah mereka bersalaman, Surya Jaya pun berjalan mengikuti orang yang sedang memikul babi, diantar oleh tatapan Mas sujiman, sampai tak terlihat ditelan oleh belokan jalan.
Setelah sahabatnya pergi, Sujiman pun terlihat menarik nafas kemudian menghembuskannya dengan pelan. kedua sudut bibirnya pun mulai terangkat, persis seperti orang yang kurang waras. "lumayan akhirnya membuahkan hasil juga!" ujar sujiman kemudian dia pun membalikkan tubuh untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, terlihat Ijah sedang menghangatkan nasi, karena tadi siang dia belum sempat, teralihkan oleh pertunjukan adu babi. ketika melihat suaminya datang dia pun bangkit dari kursi jongkok yang terbuat dari kayu, kemudian mengambil air lalu dituangkan ke dalam gelas.
"Ke mana Kang Surya, Apa sudah pulang?" tanya Ijah sambil menyerahkan gelas yang berisi air teh.
"Dia langsung pulang, karena kalau mampir dia takut babinya tidak ada yang mengawasi," jawab Sujiman yang terlihat sangat kelelahan, namun berbeda dengan wajahnya yang sumringah.
"Bagaimana babinya laku apa enggak?" tanya Ijah Yang penasaran ingin mengetahui hasil kinerja Sujiman.
"Iya laku...! Mas kebagian untung yang sangat besar, uangnya tinggal ngambil di Bah Turo sebesar Rp20.000. itu cukup buat hidup kita sebulan ke depan, hahaha! dasar lagi bujur."
"Bukan bujur Mas! tapi mujur. karena kalau bujur itu ****4*."
"Iya, iya, hahaha!" jawab sujiman yang terlihat terus tertawa, karena hari itu hidupnya dipenuhi dengan kebahagiaan yang sangat luar biasa, karena uang Rp20.000 adalah uang terbesar yang ia dapat, sedangkan kalau kuli mencangkul saja sehari hanya dibayar Rp750.
"Ya sudah kalau begitu bagaimana kalau Ijah saja yang mengambil uang Akang di bah turo," ujar Ijah menawarkan diri yang terlihat mengelum senyum penuh bahagia.
"SUdah sana ambil, tapi sebelum berangkat Angkat dulu nasi, karena mas sudah lapar."
"Nanti saja Mas! kan tidak lama ini, Lagian rumah kita sama rumah mbah Turo Lumayan dekat, sekalian Ijah mau membeli lauk makan, kebetulan kita sudah tidak punya garam sama sekali.
"Iya sudah, tapi jangan dibelikan sama garam loh, mau dapat seberapa banyak kalau uang sebesar itu dibelikan sama garam."
__ADS_1
"Nggak akan dibelikan semuanya sujiman...! paling cuma 20 rupiah."
"Yah! Yah! Ya sudah sana buruan ambil, tapi kalau ke warung Mas minta rokok, sebatang!"
"Beres kalau seperti itu, Ijah nitip api jangan sampai padam ya!"
"Siap..! Beres..! jawab sujiman.
Akhirnya Ijah pun keluar Lewat Pintu dapur, kemudian dia berjalan menuju ke rumah Bah Turo, Namun sayang Bah Turo ternyata belum pulang, masih ada di rumah Karmin dekat gelanggang adu babi. dengan segera Ijah pun menuju rumah Karmin, benar saja orang yang dia cari sedang mengobrol bersama Karmin dan beberapa panitia yang tadi mengadakan pertunjukan adu babi, mungkin mereka sudah membagi hasil penjualan tiket.
"Assalamualaikum Abah...mana uang suami saya?" tanya Ijah yang seperti biasa tidak bisa berbasa-basi, dia langsung ke inti permasalahannya.
"Oh uang Mas sujiman, nih, Abah sudah Pisahkan!" ujar Bah Turo sambil mengeluarkan uang dari kantong kampretnya, dia tidak tersinggung karena sudah paham dengan sifat keluarga sujiman, soalnya walau bagaimanapun sujiman adalah partner berburu terbaiknya.
"Berapa nih bah?" tanya Ijah sambil menatap ke arah pawang babi itu.
"Rp20.000, Kalau Neng Ijah nggak percaya, Silakan hitung dulu saja!"
Ijah pun mengangguk, kemudian dia menghitung uang yang sudah berada di tangannya, setelah dihitung kedua sudut bibirnya pun terangkat, lalu menatap kembali ke arah Bah Turo. "Sudah pas, bah..! terima kasih," ujar Ijah yang terlihat hendak membalikkan tubuh, ingin segera pergi meninggalkan rumah Karmin.
"Mau Apalagi Bah? kan uangnya sudah diterima, apa Abah mau minta bagian?" tanya Ijah.
"Bukan begitu! Abah ada rezeki buat si mas!"
"Aduh...! rezeki apa tuh bah," jawab Ijah yang terlihat kembali sumringah.
Bah Turo melirik ke arah Karmin, kemudian dia mengeluarkan uang sebesar Rp5.000 lalu diserahkan ke istri sujiman.
"Apa ini bah?" tanya Ijah sambil menatap penuh heran.
"Itu sebagai bentuk rasa Terima kasih Abah buat si mas, karena dengan adanya Mas Sujiman, hari ini Abah mendapatkan untung yang sangat besar."
"Aduh....! Terima kasih banyak bah," jawab Ijah sambil merebut uang yang masih berada di tangan Mbah Turo, Mungkin dia takut uang itu masuk kembali ke kantong kampret."
"Yah sama-sama, Tolong sampaikan sama si Mas, Terima kasih gitu," ujar Bah Turo.
"Iya bah, Nanti saya sampaikan! terima kasih juga buat Abah, semoga rezekinya diganti dengan yang lebih besar." tanpa menunggu jawaban lagi, Ijah pun membalikan tubuh lalu pergi meninggalkan orang-orang yang masih menatapnya.
__ADS_1
"Suami sama istri sama-sama aja nggak ada bedanya, kalau kita tidak tahu sifatnya, kita akan sakit hati!" ujar Karmin.
"Yah, benar..! kalau kita tidak paham, kita akan sakit dengan sikap mereka, Tapi walau sikapnya kurang ajar seperti itu, tapi mas sujiman dan Ijah orangnya sangat baik, hanya bicaranya saja yang kadang suka berbeda," jawab Bah Turo membenarkan.
Akhirnya mereka pun melanjutkan lagi obrolan sambil menunggu adzan maghrib berkumandang. sedangkan orang yang dibicarakan sehabis meninggalkan rumah Karmin, dia bergegas menuju ke warung, untuk membeli kebutuhan sehari-hari, tak lupa dia membeli titipan suaminya.
Sesampainya di rumah, terlihat sujiman yang sedang mengakeuel nasi sambil di kipasi oleh Hihid, kipas yang terbuat dari bambu.
"Kok, nasinya udah diangkat Mas, emang sudah matang?" tanya Iija yang menatap penuh keheranan.
"Sudah...! sudah matang, makanya Mas angkat. mana pesanan Mas?"
"Lanjutin aja dulu Mas, nanti ngerok0knya sehabis makan, Ijah Mau ngegoreng ikan asin dan nyambel dulu, biar Makannya enak."
"Iya..! iya!" jawab sujiman sambil terus mengakeul nasi yang ada di dalam dulang, hingga akhirnya semua persiapan makan sore pun tersaji. dengan berbahagia hati, Bersenang jiwa. sepasang suami istri itu menikmati hidangan yang ada di rumahnya.
Sesudah makan Ijah pun memberikan rok0k yang tadi ia beli dari warung. Melihat yang diberikan bukan sebatang, melainkan sebungkus membuat sujiman menatap tajam ke arah istrinya.
"Banyak amat kamu beli rokoknya?" tanya sujiman yang terlihat kesal bukan bahagia.
"Nggak apa-apa Mas! lagian biar masnya senang!"
"Bukan begitu kita harus menghemat!"
"Yah hemat atuh Mas! lagian uangnya bukan uang dari Kang Surya Jaya, melainkan dari bah turo. gak apa-apa sekali-kali mas menikmati hidup."
"Benar juga ya, terima kasih..!" Ujar sujiman sambil mengulum senyum kemudian dia mengambil sebatang rokok lalu dinyalakan dengan korek kayu.
Akhirnya mereka berdua pun bersukacita karena habis mendapat keuntungan yang sangat besar, tanpa modal dan tanpa bekerja keras. sama seperti Mbah Turo dan Karmin yang sedang mendapatkan kebahagiaan, hasil untung dari menjual babi yang berkali-kali lipat dari penjualan babi biasanya.
Sedangkan orang yang memberi kebahagiaan, dia terus berjalan menyusuri Jalan Kampung, mengiringi kedua orang yang sedang memikul kandang babi.
season pertama sudah tamat, terima kasih bagi semua reader yang telah membaca buku saya, dan mohon maaf kalau ada kesamaan kata dan nama karena semua ini hanya cerita fiktif belaka.
sampai bertemu di babi beranting season 2 nanti saya akan update pada tanggal 1 Januari 2023.
see you thank you! 🤭😁😁
__ADS_1