Babi Beranting

Babi Beranting
34. fitnah mita


__ADS_3

"Mita kalau kamu mau menghina keluarga saya, silakan lanjutkan! namun saya tidak punya waktu untuk meladeni hinaan kamu, rasanya terlalu bod0h untuk meladeni orang yang memiliki mulut comberan seperti kamu." ujar Ranti yang terlihat nampak tenang, Padahal kalau dia tidak malu, rasanya ingin menggampar mulut wanita yang ada di hadapannya.


Merasa tidak terlalu penting meladeni Mita, Ranti pun membalikkan tubuh hendak meninggalkan tempat itu, namun dengan cepat tangan Ranti digenggam oleh Mita.


"Mau ke mana, buru-buru amat, aku belum selesai bicara." ujar Mita.


"Mau apa? mau menghina keluarga saya. yang kehidupannya yang berbeda jauh dengan kehidupan keluarga kamu?" tanya Ranti sambil mengangkat satu sudut bibir.


"Nggak! Walaupun keluarga kamu nggak dihina tapi kehidupan keluarga kamu udah terhina. tapi ada hal yang lebih penting dari keluarga kamu, yang kaya dari pemberian siluman!"


"Apa, kalau tidak penting Biarkan saya pergi dari sini. nanti kamu malu kalau saya balik Menghina kamu."


"Dengar ya anak babi, dan kamu camkan baik-baik! jangan sampai kamu lupakan Apa yang hendak aku sampaikan. kamu jangan dekat-dekat dengan Galih, karena dia adalah calon suamiku. keluargaku dan keluarga Galih, sudah setuju Kalau anak mereka menyatu."


"Hahaha!" mendengar ancaman dari Mita, Ranti pun tertawa. dia merasa lucu dengan apa yang dilakukan oleh temannya.


"Kenapa kamu tertawa, Aku ngomong serius! kalau kamu nggak nurut, maka orang-orang kampung akan mengetahui tentang keburukan keluarga kamu."


"Ooooooh, kamu menahanku hanya gara-gara aku dekat dengan Galih. apa jangan-jangan kamu takut kalah saing untuk mempertahankan hatinya. karena orang iri itu adalah tandanya tidak mampu." tanya Ranti membalikkan serangan.


"Kamuuuuuuu!" bentak Mita sambil menunjuk wajah Ranti.


"Aku emang cantik! wajar kalau kamu ngiri." jawab Ranti terus mengompori Mitha.


"Kurang ajar!" bentak Nita sambil mengangkat tangan hendak menampar wajah Ranti namun.


"Mitaaaaaa!" bentak suara seorang laki-laki yang baru datang. terfokus dengan perdebatan, sehingga kedua gadis itu tidak melihat area sekitar.


"Galih!" ujar Mita sambil menyembunyikan tangan yang tadi hendak menampar Ranti.


"Mau ngapain kamu, mau menampar Ranti ya?" tanya Galih sambil menatap tajam ke arah kekasihnya.


"Nggak, aku hanya mau melihat Bedak apa yang dia gunakan, karena aku yakin wajahnya sangat busuk kalau tidak ditutupi bedak seperti ini." jawab Mita membuat Galih menggeleng-gelengkan kepala, karena semakin ke sini, dia semakin paham dengan karakter wanita pujaannya.

__ADS_1


"Apa-apaan kamu mita! kamu nggak boleh ngomong seperti itu." sanggah Galih dengan raut wajah kesal.


"Emang benaran kan, tanya aja kalau nggak percaya sama orangnya!" Kelak Mita yang tak mau kalah.


Galih pun menatap ke arah wajah Ranti yang terlihat cantik natural. sehingga tak terelakkan kedua tatapan mereka beradu, membuat kedua hati Remaja itu berdegup dengan kencang. melihat kejadian itu, Mitta seolah paham dengan apa yang ada di hati mereka berdua. dengan buru-buru mita menarik lengan kekasihnya.


"Kamu Jangan lama-lama menatap dia! nanti kamu terpikat oleh pelet dan wajah tebalnya." sanggah Mita yang tidak konsisten, tadi Dia menyuruh melihat sekarang dia melarang untuk melihat.


"Apaan sih kamu mit!" ujar Galih sambil melepaskan pegangan tangan kekasihnya.


"Sudah kalau kalian mau bertengkar! Saya mau ke kantor kelompok." pamit Ranti sambil membalikan tubuh pergi meninggalkan sepasang kekasih yang sedang berdebat. membuat Galih dengan cepat menyusul meninggalkan Mita yang masih uring-uringan. namun dia tidak memiliki keberanian untuk menahan Galih. Takut kekasihnya akan semakin menjauh kalau dia bertindak over protektif.


"Agrrrrrhhhhhh!" teriak Mita sambil membulatkan kepalan tangannya, kemudian dia berjalan menuju ke arah rumahnya. sedangkan Galih yang menyusul Ranti, sekarang sudah berjalan di sampingnya.


"Kenapa nggak diteruskan?" tanya Ranti sambil melirik ke arah pria yang berjalan di sampingnya.


"Apanya?" jawab Galih pura-pura tidak tahu.


"Hahaha, nggak! maafin Mita ya, kalau sikapnya kelewatan. Sebenarnya dia orangnya sangat baik kok, kalau kita sudah mengenal dekat." jawab Galih meminta maaf mewakili kekasihnya, membuat Ranti semakin merasa kagum sama pria yang dipujanya. karena Galih berani bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.


"Nggak apa-apa! kan namanya juga manusia, pasti akan ada salah paham, yang terpenting kita bisa menjaga kesalahpahaman itu menjadi hal yang baik." jawab Ranti yang sama membuat Galih merasa kagum melihat pemikiran wanita yang berjalan di  sampingnya, karena sangat jarang seorang anak gadis remaja yang memiliki pemikiran sedewasa itu.


"Terima kasih ya!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Galih.


"Buat apa?"


"Karena akang telah menemukan wanita yang memiliki pemikiran seluas Ranti!" ujar Galih mengeluarkan senjata andalannya.


"Apaan sih! kamu nggak jelas banget tahu! Oh iya, tadi akang mau ke mana, Kok tiba-tiba ada di situ?" tanya Ranti mengalihkan pembicaraan agar tidak termakan gombalan pria yang ada di sampingnya.


"Tadinya akan mau ke rumah Ranti, soalnya akang takut kalau Ranti kenapa-kenapa. karena biasanya kan kamu mengecek hasil pekerjaan pengrajin pagi-pagi, namun jam segini Ranti belum datang. Jadi akang memutuskan untuk menjenguk, takut kamunya sakit. namun Alhamdulillah ternyata Ranti baik-baik aja." jawab Galih panjang lebar.


Perjalanan, kalau ditemani dengan obrolan obrolan ringan seperti itu, membuatnya tak terasa. hingga akhirnya mereka tiba di kantor kelompok. membuat Daus menatap heran karena melihat kedua sejoli itu datang bersamaan. namun dia tidak berani bertanya, karena masih ada Ranti wanita yang ya sukai.

__ADS_1


Setelah sampai Ranti pun melaksanakan tugasnya, dia mulai mengecek satu persatu hasil kerajinan anyaman. Ranti mengecek semua dengan begitu teliti, karena dia tidak mau usaha yang sedang dijalankan orang tuanya, mendapat komplain dari pelanggan.


Setelah selesai melaksanakan tugasnya, ranti pun berpamitan untuk pulang ke rumah. tak lupa Sebelum pulang dia pun membayar semua hasil kerajinan yang baru saja ia cek.


"Mau diantar?" tanya Daus memberanikan diri.


"Enggak lah kang! lagian masih siang, tapi terima kasih yah! atas tawarannya." ujar Ranti sambil tersenyum ramah, kemudian dia menguluarkan tangan sebagai ijab qobul pembayaran. Lalu dia pergi meninggalkan kantor kelompok sehingga hanya menyisakan Galih dan Daus.


"Kok kamu tadi datang bersama dengan Ranti , bukannya Akang tadi minta izin untuk ke ******?" selidik Daus sambil menatap penuh curiga ke arah Galih.


"Hehehe, kamu kayak nggak tahu aja Us! kan ****** yang terdekat searah dengan rumah mbah Abun. jadi ketika aku tadi keluar dari ******, Ranti pun datang." jawab Galih berbohong.


"Emang akang nggak suka sama Ranti?" Ujar Daus menaikkan level pertanyaannya.


"Hanya orang bodoh yang tidak suka sama wanita secantik dan secerdas Ranti. namun seperti yang sudah Daus ketahui! Akang sudah memiliki Mita. nggak mungkin akang menginjakkan kaki di antara dua titik, Nanti akang bisa terjatuh." jawab Galih mengalir begitu saja, sehingga membuat Daus Tak sedikitpun merasa curiga.


"Berarti akang nggak mau dong sama Ranti."


"Bukan nggak mau us! tapi kan tadi akan sudah bilang Akang sudah memiliki Mita."


"Iya bener! jadi pria itu harus setia, harus konsisten dengan apa yang Ia janjikan. Tapi boleh nggak kalau saya mendekati Ranti?" tanya Daus.


"Hahaha, bolehlah! lagian kan dari kemarin-kemarin emang Daus pernah Akang larang untuk dekat sama Ranti. nggak pernah kan?" tanya Galih sambil menatap ke arah Daus menandakan yang dibicarakannya sangat serius.


"Terima kasih Kang Galih!" ujar Daus sambil tersenyum penuh kebahagiaan karena saingan terberatnya sudah mundur perlahan.


"Oh iya yang barusan sudah kamu catat tentang pembayaran dari Ranti?" tanya Galih mengalihkan pembicaraan.


"Sudah Kang!" jawab Galih sambil menyerahkan buku catatan untuk diperiksa oleh ketuanya.


Akhirnya mereka pun terlarut dalam pekerjaannya. kalau tidak mencatat, mereka akan pergi ke lembah untuk mengambil bambu yang sudah mereka beli. kalau tidak ada pekerjaan mereka akan mengobrol sambil menunggu hasil kerajinan yang disetorkan dari para warga. Atau menemani para pengrajin karena sesekali para pengrajin mereka mengerjakan anyaman di halaman rumah Zuhri, agar mereka tidak jenuh dalam melakukan pekerjaan.


Sedangkan Ranti sepulangnya dari kantor kelompok, dia terus kepikiran dengan ucapan Mita, yang menuduh orang tuanya melakukan pesugihan siluman babi. ketika sampai di rumah, dia langsung menuju ke arah dapur, di mana Ambu Yayah sedang menanak nasi untuk makan siang.

__ADS_1


__ADS_2