Babi Beranting

Babi Beranting
62. Menemui umi Erot


__ADS_3

Daus ketika mendengar penuturan bapaknya icah, hanya tersenyum Getir. jangankan menikah dengan Icah, mengenalnya pun dia belum kepikiran. dengan cepat dia berjalan menuju ke arah rumah yang ditunjukkan, meski hatinya tidak percaya. namun daripada tinggal berlama-lama di situ, Daus merasa ketakutan takut dipaksa menikahi Icah yang sudah mempunyai anak bernama Sarmin.


"Punten......! permisi......!" ujar Daus setelah sampai di salah satu rumah yang tadi ditunjukkan oleh bapaknya Icah.


"Punten! permisi!" ulang Daus karena tidak mendapat jawaban.


"Sebentar......." terdengar suara seorang perempuan tua dari dalam rumah, membuat Jantung Daus sedikit berdegup kencang, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Ceklek!


Pintu rumah itu terbuka, muncullah sosok wanita tua berkebaya Ungu, bersarung jarik. rambutnya yang sudah memutih diikat di belakang.


"Eh, Ada tamu, mau ke siapa?" tanya nenek-nenek itu menyapa Daus dengan tersenyum memamerkan gigi yang tinggal beberapa.


"Saya Daus! mau mencari Umi Erot," jawab Daus terbata-bata.


"Mau cari Umi, ada apa?" tanya nenek-nenek itu.


"Saya mau minta tolong Mi! saya dapat alamat Umi dari aki Makmun orang Ciaul."


"Hehehe orang itu....! ternyata masih ingat sama Umi, padahal sudah puluhan tahun tidak bertemu. eh malah diajak ngobrol, ya sudah masuk dulu ke dalam, nanti kita lanjut ngobrolnya." seru wanita tua itu mempersilahkan.


"Emang benar ini rumahnya Umi Erot?" tanya Daus seolah tidak percaya.


"Benar Jang, Umi adalah nenek-nenek yang sering dicari oleh para Kawula muda, yang sedang patah hati."


"Terima kasih banyak kalau begitu, berarti saya tidak salah orang."


"Benar, Ujang tidak salah orang, Silakan masuk!"


Akhirnya Daus pun mengangguk, kemudian dia masuk ke dalam rumah itu, yang terlihat remang-remang tersinari oleh Lentera malam. sebelum duduk Daus memindai area sekitar mungkin dia sedang menghafalkan arah ke mana dia berlari, Kalau nanti ada sesuatu yang tidak diinginkan.


"Silakan duduk Jang!"


"Baik, terimakasih Umi."

__ADS_1


Pasangan berbeda jenis dan berbeda usia itu duduk di tikar yang terbuat dari daun pandan, tikar yang sudah terlihat mengkilap Mungkin sering diduduki. karena mungkin benar apa yang diceritakan oleh aki Makmun, bahwa Umi Erot sering didatangi oleh para kaula muda yang patah hati.


Dari arah luar terdengar suara jangkrik dan gaang atau sesorok yang berbunyi dengan nyaring disahuti oleh suara belalang setan. dari arah jauh terdengar suara kodok yang berkoak-koak menambah suasana sepinya sore menjelang malam itu.


"Oh ya, Ujang namanya siapa, dan dari mana?" tanya Umi Erot mengawali pembicaraan, memecah sepinya malam.


"Saya Daus Mi! dari kampung Ciandam."


"Heuluh! ternyata jauh juga ya, kirain umi warga-warga dekat Kampung sini."


"Iya Mi, Walaupun jauh saya tetap datang ke sini karena Saya punya kesedihan, punya kesusahan, yang menurut keterangan hanya Umilah yang bisa membantu," jelas Daus.


"Kesusahan apa, sehingga membuatmu mendatangi Umi?"


"Kesusahan hati, karena sahabat saya, yang selalu saya banggakan. dia berani tega merebut kekasih hati saya."


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Nggak tahu lah Mi, saya juga bingung. karena sepengetahuan saya, orang itu sangat baik. bahkan kita selalu bersama sama dalam setiap pekerjaan, namun Entah mengapa dia berubah jadi sejahat itu."


"Iya Mi, kok Umi bisa tahu?"


"Tahulah! Kamunya aja ganteng, Pasti orang yang merebut pacarmu lebih ganteng," jawab Umi Erot sambil mengolum senyum.


"Terus, kira-kira Umi bisa nggak membantu kesusahan saya, karena kalau tidak cepat diobati. Saya takut, saya tidak akan bisa nyenyak tidur, tidak nikmat makan. karena memikirkan kekasih Hati, Pelipur Lara, direbut oleh orang lain."


"Hahaha, gampang......! gampang sekali itu Jang! yang terpenting Ujang Mau menjalankan apa yang diperintahkan oleh Umi."


"Perintah Apa itu Umi. kalau puasa harus puasa Seperti apa, kalau membayar, membayar berapa?" tanya Daus seolah menantang.


"Hush! ilmu Umi tidak bisa diperjualbelikan seperti itu, yang terpenting Ujang mau menjalankan apa yang diperintahkan oleh Umi. Kalau masalah uang tidak usah dibicarakan, karena Umi sudah bisa membantu kesusahan orang-orang saja, itu sudah sangat membanggakan dan membahagiakan," jelas wanita itu sambil mengambil Gambir, pinang dan Apu lalu dimasukkan ke dalam daun sirih, setelah dibungkus lalu dia memakan sirih itu.


"Kalau seperti itu apa yang harus saya lakukan. agar kekasih hati saya tidak pindah ke hati yang lain?" tanya Daus sambil menatap lekat ke arah wanita yang sedang menyirih itu. terlihat mulutnya bergerak gerak seperti sangat menikmati setiap letupan-letupan pedas, yang dikeluarkan oleh daun sirih.


"Siapa nama perempuannya, Siapa nama pria yang merebut hatinya?" tanya Umi Erot.

__ADS_1


"Wanita pujaan hati saya bernama Ranti, sedangkan orang yang hendak merebut kekasih saya adalah Galih."


"Oh seperti itu, Kamu sudah mempersiapkan syarat-syaratnya?"


"Syarat-syarat apa?"


"Syarat-syarat. seperti menyan sebesar kepalan monyet, minyak wangi 1 botol kecil, ditambah cengkir kelapa merah, dan daun sirih hitam."


"Oh saya sudah menyiapkan semuanya, tadi kebetulan tukang warung yang ada di pertigaan memberitahu saya." jawab Daus sambil mengeluarkan benda-benda yang ada di sakunya, sesuai dengan syarat-syarat yang Umi Erot Sebutkan.


"Sebentar ya! Umi ngabisin dulu sirihnya. nanti Umi akan berdoa Siapa tahu saja ini bisa menjadi berita baik buat Ujang," ujar Umi Erot sambil tetap mengunyah daun sirih berisi Gambir, Pinang dan Apu.


Mendengar penuturan Umi Erot, Daus hanya menghela nafas pelan sambil terus memindai area sekitar. mendengarkan suara-suara yang sangat menyeramkan di luar rumah, namun walau seperti itu Daus tetap bersabar. karena tekadnya sudah bulat dia ingin meluluhkan hati Ranti dan menjauhkan Galih dari anaknya Mbah abun itu.


Setelah lama menunggu, akhirnya Umi Erot pun membuang daun sirih yang dikunyahnya ke dalam bambu yang sudah disiapkan. Lalu mengambil syarat-syarat yang sudah berada di hadapannya. kemudian dia bangkit dari tempat duduk lalu masuk ke kamarnya. entah apa yang dilakukan oleh nenek-nenek tua itu di dalam kamar, namun tercium bau kemenyan yang dibakar. membuat bulu Kunduk Daus sedikit mengangkat, merasakan takut dengan bau seperti itu. namun dia tetap berusaha tegar, menguatkan hati yang sudah sangat ketakutan, Demi tercapainya cita-cita.


Setengah jam berlalu, akhirnya gorden pintu kamar Umi Erot terbuka. muncullah nenek tua berambut putih itu keluar dari kamar, dengan membawa kembali syarat-syarat yang tadi Daus serahkan .kemudian Umi Erot pun duduk kembali di tempat yang tadi dia tinggalkan.


"Berat.....! berat banget Jang!" tiba-tiba Umi Erot berbicara seperti itu, membuat Daus sedikit mengerinyitkan dahi, tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh nenek tua itu.


"Berat kenapa?"


"Soalnya wanita yang Ujang sebut, sekarang sudah tidak memiliki hati layaknya seperti manusia."


"Maksudnya?" tanya Daus yang semakin tidak mengerti.


"Umi belum bisa memastikan. namun hati wanita itu sekarang bukan lagi hati manusia. jadi Umi tidak bisa menarik hati itu untuk suka sama Ujang. Tapi kalau buat pria yang tadi ujang Sebutkan. Ujang nggak usah khawatir, karena Umi akan memalingkan hati itu, agar dia tidak menyukai gadis yang Ujang sukai."


Mendengar penuturan Umi Erot yang membuat Daus tidak paham, dia hanya menggaruk-garuk kepala. mencerna Apa yang diucapkan oleh nenek tua yang berada di hadapannya. namun meski seperti itu Daus, dengan cepat menguasai pikirannya agar tidak kemana-mana. "Terima kasih Umi telah membantu saya, terus apa yang harus saya lakukan?"


"Nanti setelah pulang dari Umi, Ujang Datangi kuburan yang paling tua yang ada di kampung Ujang. kemudian kuburkan daun sirih sama kelapa cengkir ini. sebelum mengubur ujang Sebutkan nama pria yang hendak Ujang tuju, lalu Sebutkan apa yang dimaksud."


"Kapan itu waktunya?"


"Waktunya malam Jumat, Kebetulan malam Jumat sekarang adalah malam Jumat Kliwon. itu sangat baik untuk menggapai semua cita-cita yang Ujang harapkan."

__ADS_1


__ADS_2