Babi Beranting

Babi Beranting
95. harapan


__ADS_3

"Kasih makan apa dong?" tanya anak kecil yang satunya lagi.


"Menurut bapak, babi hutan itu mereka suka makan Tales Bogor, kalian punya talas bogor nggak?" tanya anak yang terlihat agak besar.


"Aku punya..!"


"Aku juga punya di rumah!"


Jawab Anak-anak yang mengetahui bahwa orang tua mereka memiliki tales bogor itu.


"Ya Sudah, sana buruan ambil..!"


Tanpa berpikir panjang kedua anak itu pun berlari menuju ke arah rumahnya masing-masing, tak lama mereka pun kembali sambil membawa dua bonggol tales Bogor, kemudian anak yang paling besar menyuruh memasukkan ke dalam kandang babi dengan cara dilempar. sehingga talas itu tepat mengenai dahi Ranti, kemudian jatuh ke samping tubuhnya masuk ke dalam lumpur.


"Makan tuh babi...! itu makanan paling nikmat bukan?" Ujar salah seorang anak yang paling besar, sambil mencolok-colok tubuh Ranti dengan pohon singkong yang dari tadi ia pegang, sehingga mengenai mulut babi membuat Ranti semakin merasa sedih.


Babi itu terlihat bangkit dari tempat rebahannya kemudian menjauh ke sisi sebelah kanan, takut tangkai pohon singkong itu mengenai matanya. sedangkan talas dia anggurkan begitu saja. jangankan untuk dimakan melihatnya saja perutnya terasa mual, pengen muntah. Apalagi kalau ditambah dengan pijakan yang terlihat berlumpur dan berbau ******.


"Dasar babi manja...! dikasih singkong nggak mau, dikasih talas nggak mau, apa harus dikasih makan golok?" ujar salah seorang anak sambil mengulum senyum, kemudian dia berjalan menuju ke arah Ranti yang tadi menghindar, tanpa aba-aba dia menusuk pantat babi itu dengan ujung golok


Grok!


Ranti yang merasa kaget dengan cepat membentak anak itu, namun suara yang keluar adalah suara babi membuat anak yang iseng itu loncat ke belakang, merasa kaget dibentak babi seperti itu. Sedangkan teman-teman yang melihat kelakuannya, mereka tertawa terbahak-bahak, semakin merasa betah berlama-lama bermain di rumah Karmin mencandai babi ngepet itu.


"Ya Allah kamu anak kecil....! jangan kebangetan apa? Jangan samakan aku dengan hewan liar pada umumnya, walaupun bentukku sekarang emang seperti itu tapi aku adalah manusia yang sebenarnya. Aku memiliki perasaan, memiliki keinginan dihargai oleh orang lain," ujar Ranti sambil menatap tajam ke arah anak-anak lewat celah kandang.

__ADS_1


Tapi walaupun Ranti berbicara panjang lebar, itu sama sekali tidak ada artinya, karena yang anak-anak kecil dengar, yang warga Kampung dengar, hanyalah suara seekor babi yang sedang bersuara. daripada mereka mengerti malah mereka menertawakan, membuat Ranti hatinya merasa jengkel, merasa semakin terhina.


Matahari semakin lama semakin meninggi, memancarkan cahaya panas yang lumayan terik, membuat lambat laun suasana di pekarangan rumah Karmin pun mulai berkurang. para warga mulai sedikit demi sedikit meninggalkan tempat itu untuk menjalankan rutinitas dan kewajibannya seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya. ada yang mencari rumput buat pakan ternak, ada yang mencari kayu bakar, Ada pula yang pergi ke sawah, ataupun ke kebun untuk mengecek tanaman-tanaman mereka. tapi ada juga yang punya pekerjaan di rumah seperti orang yang menekuni kerajinan anyaman atau membuat kerajinan-kerajinan yang lainnya.


Akhirnya yang menyisa di tempat itu hanyalah tinggal 4 orang. yang pertama Karmin, Mbah Turo ditambah Ayi dan Mas sujiman orang Purworejo, Orang yang memberikan rokok Siong sebagai oleh-oleh dari kampungnya. sedangkan Inah sudah masuk ke dapur, si Ucup dia masih mengerjai babi hutan dan terus bercerita kejadian yang kemarin dia alami sampai terlihat mulutnya berbusa.


"Mbah bagaimana nih sekarang, mumpung suasana sudah sepi, kira-kira mau diapakan babi hutan itu, apa mau dijual, apa mau diadukan dengan anjing terlebih dahulu?" tanya Karmin memecah heningnya suasana.


"Abah masih merasa aneh jang karmin, Abah ingin melihat perilakunya seperti apa kalau diadukan sama anjing, apa akan seperti babi pada umumnya?"


"Kenapa bisa seperti itu Bah?"


"Abah masih penasaran Jang...! soalnya babi ini adalah babi aneh, telinganya saja pakai anting." jawab Bah Turo yang tetap merasa penasaran, dia ingin mempelajari dan meneliti keadaan babi yang baru dia tangkap.


"Benar bah...! apa yang disarankan oleh Kang Karmin, mendingan kita adukan saja babi ini terlebih dahulu itung-itung hiburan buat para warga." Timpal Ayi yang terlihat bersemangat, karena dia paling suka menonton pertunjukan adu babi, Bahkan dia termasuk Bobotoh termuda di kampung Sela kaso


"Benar....! kita harus tetap hati-hati, jangankan untuk hal yang aneh seperti ini. setiap apapun yang kita kerjakan, kita harus tetap berhati-hati. bagaimana kalau begini saja, kita betulkan gelanggang adu babi yang sudah lama tidak terpakai, tali yang sudah keropos kita kuatkan, pagar yang sudah Lapuk juga kita ganti, Nanti sore kita adakan pertunjukan adu babi," ujar Bah Turo memberi saran.


"Boleh tuh bah! tapi jangan sekarang, soalnya saya sangat lapar, karena sejak dari subuh kita terus-terusan bekerja." jawab Karmin menyanggupi.


"Sama aja, jang karmin..! Abah juga lapar. Jang Ayi sana kamu ngambil bambu buat tali, sekalian meminta izin sama Pak RT, bahwa nanti sore di kampung kita akan mengadakan pertunjukan adu babi," jawab Bah Turo memberikan perintah.


"Siap Bah...!"Jawab Ayi sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia mengencangkan ikatan golok yang tergantung di pinggang, kemudian dia pergi meninggalkan rumah Karmin menuju ke rumpun bambu tali, untuk dijadikan ikatan gelanggang adu babi.


Sedangkan Karmin dia masuk ke rumahnya, kalau bah turo dia bergegas pulang ke rumah untuk mengisi perut yang mulai terasa melilit, meninggalkan Mas sujiman karena ketika diajak makan oleh Karmin, pria itu menolak, Menyisakan Mas sajiman Jerman Setelah dia sendirian,

__ADS_1


Pira kelahiran Purworejo pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia menghampiri kandang babi yang masih dikerumuni oleh anak-anak. merasa penasaran, dia pun berjongkok ingin membuktikan apa yang diungkapkan oleh orang-orang Bahwa babi itu sangat aneh.


"Jangan terus menerus di colok-colok, kasihan babinya. Nanti lemas, soalnya nanti sore mau diadukan oleh Mbah Turo dengan anjing," tahan Mas sujiman matanya tetap terfokus menetap ke arah dalam, memperhatikan dengan teliti babi hutan itu.


Sedangkan anak kecil, mereka terdiam seperti sangat ketakutan oleh Mas sujiman, Mereka terlihat berhenti tidak mencolok-colok tubuh Ranti. membuat sang babi ngepet itu merasa tenang dan merasa nyaman, sehingga matanya mulai tertutup ingin melupakan kejadian yang sedang menimpanya, tidak ingin terfokus dengan kandang, tidak ingin terfokus dengan Lumpur. dia mulai menguatkan hati membiasakan jiwa, menganggap bahwa kandang itu adalah rumah ternyaman yang sedang ia tinggali.


Sedangkan Mas sujiman, dia terus menatap ke arah Ranti, terutama ke bagian telinga, setelah lama diperhatikan ternyata telinga babi itu berbeda dengan telinga babi pada umumnya. telinga babi yang berada dalam kandang selain memakai anting, telinga itu terlihat sangat kecil. sedangkan bulu-bulunya terlihat sangat halus, berbeda dengan babi hutan pada umumnya. semakin lama Mas sujiman semakin merasa penasaran dia pun berjalan mendekat ke arah babi yang sedang merebahkan tubuh.


"Hai sang babi, kamu orang mana nih?" tanya Mas sujiman dengan suara pelan, karena mungkin dia juga takut ada orang yang melihat, dia sedang bertanya sama seekor babi.


Mendengar pertanyaan seperti itu, membuat Ranti hatinya berdebar, karena ternyata ada salah seorang yang bertanya layaknya seperti kepada manusia. matanya perlahan terbuka kemudian dia melirik ke arah datangnya suara, terlihat sebagian muka mas sujiman, karena tertutup oleh dinding bambu yang dipagarkan.


"Ada apa Mang, kalau Mamang pengen tahu, saya orang Ciandam," jawab Ranti yang merasa berbicara seperti biasa layaknya seorang manusia. Padahal yang terdengar hanya suara seekor babi.


Mendapat respon dari sang babi seperti itu, membuat Mas sujiman merasa kaget, jantungnya terasa berdegup dengan kencang, karena ketika dia berbicara bisa di Sauti oleh sang babi, membuatnya semakin merasa penasaran dengan babi yang berada di dalam kandang.


"Eh, eh, kayaknya babi ini ngerti dengan pembicaraan manusia, coba aku tanya lagi," gumam Mas sujiman dalam hati.


Namun sebelum bertanya, dia memindai area sekitar takut ada orang yang seumuran, karena kalau anak kecil masih yang nonton membuatnya tidak terlalu khawatir, tapi setelah dipikir berkali-kali dia pun memutuskan.


"Hei bocah-bocah! sana Kalian cari pakan babi, tapi jangan singkong atau talas, cari pakan yang umum, yang layak seperti manusia." usir sujiman secara tidak langsung.


Mendapat Perintah seperti itu, anak-anak kecil pun mulai bangkit dari tempat jongkoknya, kemudian mereka berhamburan untuk mencari pakan sang babi ngepet, membuat hati Mas sujiman merasa lega. kemudian lelaki itu menatap kembali ke arah dalam kandang kemudian dia bertanya seperti layaknya Dia sedang bertanya sama manusia. "hei babi, Coba kamu jawab pertanyaan saya, apa kamu babi biasa, atau babi istimewa. Kalau babi yang sangat istimewa, coba kamu anggukan kepala, tapi kalau babi pada umumnya kamu diam!"


Mendengar pertanyaan seperti itu, membuat hati Ranti merasa bahagia, karena sudah ada jalan untuk selamat. dalam hatinya tak henti-henti mengucap rasa syukur ke Yang Maha Agung. dengan cepat dia pun bangkit dari tempat tidurnya, kemudian dia menganggukan kepala menjawab pertanyaan Mas Sujiman.

__ADS_1


"Oh berarti kamu tuh babi jadi-jadian atau babi ngepet, pantas saja kamu terlihat sangat aneh, kamu berbeda dengan babi pada umumnya. melihat kejadian seperti ini, saya bisa menentukan kalau kamu itu seorang wanita, karena telingamu memakai anting," ujar sujiman bertanya lagi.


Dengan cepat nanti pun mengangguk, karena hatinya sangat bahagia. Soalnya sudah ada orang yang bisa membaca pikirannya. Siapa tahu kedepannya, orang ini bisa menolongnya. Minimal dia ketika mau ngasih makan, tidak dikasih singkong mentah, ataupun Tales yang masih penuh dengan tanah.


__ADS_2