Babi Beranting

Babi Beranting
71. malang


__ADS_3

Warga yang bernama sahroji dan Syukron pun maju ke depan, kemudian mereka meminta pikulan bambu yang sedang dipegang oleh warga lain. warga yang dipinta pun menyerahkan pikulan bambu yang membawa tubuh Sarman kepada kedua orang yang mereka anggap bisa membawa tubuh itu menyeberang dengan selamat.


"Kang Adin, tolong menyeberang duluan, kemudian pegang bambunya agar tidak terlalu goyang. saya akan memegang dari sini," seru Pak RT memberi tugas.


Adin dan beberapa warga yang ditugaskan seperti itu,mereka tidak menolak. para warga dengan perlahan menyeberangi jembatan bambu yang tinggal dua, kemudian setelah sampai mereka memegangi bambu itu, agar tidak terbalik dan meredakan guncangan yang ditimbulkan oleh air banjir.


"Bismillahirohmanirohim.....!" ucap semua warga yang mengantar Sarman dengan serempak, ketika melihat syahrozi dan Syukron yang mulai menapaki jembatan.


Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, kedua orang yang menggotong tubuh Sarman mulai menapaki setiap inci jembatan, yang terbuat dari bambu geluntungan itu. syahrozi dan Syukron terus melangkahkan kaki mereka dengan sangat penuh perhitungan, karena kalau mereka salah memijak, maka sarmanlah yang akan menjadi taruhannya. tubuh Sarman akan hanyut terbawa oleh derasnya air sungai, kejadian seperti itu sangat tidak diharapkan karena bisa menambah penyakit yang diderita oleh warga Kampung Ciandam itu.


Darmi dan Mita serta beberapa warga yang belum menyebrang, mereka menahan nafas sambil menatap ke arah kedua orang yang sedang menandu tubuh Sarman. aki Tardi pun sama, dia menahan nafas, takut kejadian terburuk menimpa tubuh Sarman. apalagi para warga Kampung Ciandam matanya membulat sempurna menghiraukan air yang menerpa wajahnya, ketika melihat sahroji dan Syukron berada di tengah-tengah jembatan. namun untung kedua orang itu memiliki tenaga yang sangat kuat sehingga mereka bisa menyeimbangkan tubuhnya, namun ketika hendak mendekati ke ujung jembatan, tiba-tiba Syukron yang berada di paling depan dia terpeleset.


Brukk...!


Tubuh Syukron ambruk, beruntung tubuhnya ambruk ke tanah, tidak ambruk ke air. Namun sayang tubuh Sarman yang digotong tidak bisa diselamatkan, tubuh itu jatuh menimpa tubuh Syukron. sedangkan syahrozi yang berada di belakang, dengan cepat dia melepaskan pikulannya, ketika tubuhnya terbawa oleh Syukron yang terjatuh.


Byurrrrr!


Tubuh sahrozi terjatuh ke dalam air, namun beruntung Adin yang ditugaskan memegang jembatan, dengan cepat mengambil pikulan bambu yang dilepaskan oleh sahrozi. kemudian menariknya menjauh dari tepian sungai, sehingga tubuh Sarman tidak jatuh ke air, namun jatuh ke tanah menimpa tubuh Syukron.


Melihat kejadian seperti itu, para warga yang belum menyeberang jantung mereka terasa berhenti, melihat kejadian yang begitu ngeri seperti itu.


"Syukron........! kenapa kamu...., Kenapa kamu tidak hati-hati!" bentak aki Tardi yang terlihat kaget bercampur kesal, karena melihat Syukron yang tidak berhati-hati, dia lengah setelah kakinya menginjak tanah yang bercampur lumpur, sehingga dia tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya.

__ADS_1


Para warga yang sudah menyebrang duluan, dengan cepat menolong tubuh Sarman yang terlihat sangat lemas, mengangkat tubuh yang menimpa Syukron memasukkan kembali ke dalam sarung.


Akang........!


Darmi yang melihat suaminya seperti itu, tanpa berpikir panjang dia berlari menyeberangi jembatan yang terbuat dari bambu, Darmi menyeberang tidak dengan perhitungan sehingga.


Byur......!


Tubuh Darmi yang oleng terjatuh seketika, kemudian tubuh itu hanyut terbawa oleh arus air sungai yang begitu deras.


Ibuuu..........


Panggil Mita dengan menjerit, berteriak memanggil orang tuanya. terlihat Dia sangat gelagapan melihat kejadian seperti itu, dia hanya bisa menangis sambil berjalan menuju ke arah Hilir, untuk menyelamatkan ibunya. namun dengan Sigap aki Tardi memegang tubuh gadis itu, agar tidak berbuat nekat.


Plek.....!


Tangan Darmi dipegang oleh sahrozi, kemudian menarik tubuh wanita itu ke arah tepian sungai, sahrozi membantu Darmi naik dari sungai itu. setelah mereka selamat terlihat nafas mereka sangat memburu, Bajunya sudah basah kuyup oleh air yang sudah menguning, bahkan terlihat ada lumpur di tubuh mereka.


Mita yang sedang dipegangi oleh aki Tardi, terlihat menjerit-jerit meronta-ronta ingin melepaskan pegangan itu, namun aki Tardi dibantu oleh Pak RT, memegang Gadis itu dengan kuat, agar tidak berbuat nekat. Sarman yang tadi terjatuh, Adin dan beberapa warga lainnya sudah memasukkan kembali tubuh Sarman ke dalam sarung, Bahkan mereka sudah terlihat menggotongnya. namun keadaan Sarman sangat mengkhawatirkan, dia tidak bergerak sedikitpun, hanya terlihat napasnya yang menghembus sangat pelan.


Kejadian itu terjadi begitu cepat, sehingga membuat para warga jantungnya berhenti berdegup, merasa kaget dengan kejadian yang menimpa kepada mereka. bagaimana tidak kaget, orang yang sakit jatuh dari tandunya, Darmi terbawa oleh arus air, Mita yang menjerit-jerit seperti orang yang sangat Kehilangan, membuat suasana semakin ketir.


Darmi yang sudah diselamatkan oleh sahrozi, dengan cepat menghampiri Mita, kemudian memeluk anaknya untuk memberikan ketenangan. hingga akhirnya mita pun tidak menjerit menjerit seperti tadi, hanya isakan tangis yang begitu sendu, membuat mata para warga mengembun dengan cairan-cairan kesedihan.

__ADS_1


Pak RT yang melihat kejadian itu, dengan cepat mengajak warga yang belum menyebrang untuk menyeberang jembatan. Dia memegang Darmi untuk membantunya melewati jembatan bambu itu, Sedangkan aki Tardi membantu Mita menyeberangi jembatan itu. dengan penuh kehati-hatian hingga akhirnya semua warga Kampung Ciandam sudah melewati jembatan dengan selamat.


Setelah mereka bisa menyebrang dengan selamat, tidak ada pembicaraan atau perkataan yang saling menyalahkan. mereka semua pasrah menerima dengan takdir yang menimpa mereka, hingga akhirnya Pak RT sebagai ketua Kampung Ciandam memberikan komando, untuk melanjutkan perjalanan menuju ke dokter yang ada di kecamatan.


Hujan terus bercucur dengan begitu deras, angin bertiup dengan begitu kencang. dari arah langit terlihat kilat yang gemerlap diikuti oleh dentuman dentuman petir yang saling bersahutan. Sarman yang sudah ditempatkan kembali ke dalam tandu. Dengan cepat Adin mengambil daun pisang untuk menutup tubuh Sarman agar tidak terkena hujan.


Rasa sedih, rasa sengsara, rasa Nelangsa, rasa kesal, rasa putus asa, berkumpul menjadi satu. memenuhi hati para warga yang mengantar Sarman, apalagi Darmi dan Mita kalau bisa ditukar keselamatan Sarman dengan nyawanya, maka mereka akan melakukan hal itu.


Rombongan orang-orang yang mengantar Sarman terus berjalan dengan sangat hati-hati, Medan yang berat, jalan yang begitu licin, membutuhkan kewaspadaan yang begitu ekstra. tidak ada pembicaraan atau obrolan ketika waktu itu, mereka terfokus membawa tubuh Sarman agar cepat sampai ke Kecamatan.


Dengan perjuangan yang begitu gigih dan sangat melelahkan. akhirnya mereka tiba di kecamatan. dengan bergegas Pak RT meminta Adin untuk menunjukkan rumah dokter yang diceritakan.


Adin yang diperintahkan seperti itu, dia pun berjalan lebih dulu menjadi petunjuk para warga yang menggotong tubuh Sarman, hingga akhirnya mereka tiba di salah satu rumah yang terlihat besar namun sederhana. entah jam berapa mereka datang ke rumah dokter itu, karena mereka tidak ada yang memiliki jam tangan, yang jelas waktu itu hujan masih turun, keadaan sudah terlihat sangat gelap, mungkin kalau diperkirakan itu sudah masuk waktu sore. rintangan rintangan di jalan yang mereka harus lalui, membuat mereka membutuhkan waktu yang sangat banyak, untuk sampai ke Kecamatan.


"Assalamualaikum permisi.....! Assalamualaikum punten......!" ujar Adin setelah sampai di rumah itu, kemudian dia menggedor rumah agar orang yang di dalam mengetahui bahwa ada tamu.


Terdengar suara deru langkah yang sangat cepat menuju ke arah pintu, hingga akhirnya pintu yang digedor oleh Adin terbuka. muncullah seorang pria bertubuh besar namun tidak kekar, matanya terbelalak kaget melihat orang yang sedang ditandu dengan berhujan-hujanan.


"Ini ada apa, pakai ngegedor rumah segala, kalian sangat nggak sopan. Terus siapa itu yang ditandu?" gerutu orang yang baru keluar.


"Tolong suami saya Pak Dokter, Tolong sembuhkan suami saya!" pinta Darmi memohon, sambil mendekat ke arah orang yang masih berdiri di ambang pintu.


Pria yang dipanggil Pak Doktor itu hanya mendengus kesal, namun dia tidak melanjutkan amarahnya. dengan cepat dia mempersilahkan orang yang menggotong tubuh Sarman untuk masuk ke dalam rumahnya langsung dibawa ke kamar, kemudian tubuh Sarman dibaringkan di ranjang yang terbuat dari besi.

__ADS_1


__ADS_2