Babi Beranting

Babi Beranting
88. Bantuan


__ADS_3

Siang itu, matahari terlihat sudah mulai condong ke arah barat. membuat panasnya masih terasa menyengat. para warga Kampung masih sibuk di tempat kerjanya masing-masing. ada yang mengurus sawah, ada yang mengurus kebun, ada juga yang jualan berkeliling, dari kampung satu ke kampung yang lain. Pokonya semua warga masih sibuk dengan kasabnya masing-masing, yang tersisa hanya anak-anak dan para orang tua yang sudah renta, yang sudah tidak bisa bekerja lagi. sehingga membuat suasana perkampungan terlihat sepi, tak seperti pagi atau sore hari.


Terdengar suara ayam yang terus berkokok, di Sahuti oleh hewan ternak yang lain, mulai dari domba, embe, kerbau serta sapi. terlihat ada anak kecil kira-kira berumur 8 tahun, yang sedang berlari menggunakan sekuat tenaga, mulutnya terlihat menganga sambil mengeluarkan suara.


"Tolong......! ada babi, ada babi.... gede..... babi besar......! tolong...... tolong ada babi!" teriakan anak kecil itu sambil terus berlari.


Mendengar teriakan Ucup, para warga yang sedang berada di rumah. warga yang sedang mengasuh anaknya dan anak kecil yang sedang bermain dihalaman rumah. menatap ke arah datangnya suara. namun orang yang diperhatikan tidak menghiraukan, bahkan sempat beberapa kali ditanya sambil berteriak. dia terus berlari menuju ke arah rumahnya. Para warga yang menyaksikan kejadian itu belum saja habis rasa kaget dan penasarannya. dari arah datangnya Ucup berlari, terlihat Bapaknya yang sedang menggendong bi Inah. nafasnya terlihat memburu karena mungkin Mang Karmin merasa ketakutan. apalagi tubuh Bi Inah tidak bisa dibilang kecil, sehingga membutuhkan tenaga yang sangat ekstra. pria itu terus menggendong wanita itu, sambil terus berlari menuju ke arah rumahnya, mengikuti Ucup yang sudah masuk ke kamar.


Bruk!


Suara Tubuh Inah yang dihempaskan oleh Karmin ke atas papan kayu. kemudian dia pun menjatuhkan dirinya, duduk sambil menyandar ke atas dinding, mengatur nafas yang terlihat memburu, matanya terus menatap keluar dengan penuh  ketakutan. takut babi hutan itu mengejarnya, keringat terlihat membasahi seluruh tubuh Karmin.


"Sial....! Sial banget hari ini. sepanjang Hidup, Baru kali ini aku didatangi babi seperti barusan. aneh.....! ini sangat aneh! kenapa babi itu tidak memiliki rasa takut, Dia berani mendatangi manusia seperti itu. kira-kira babi apa ya?" ujar Karmin seperti bertanya sama dirinya sendiri. karena istrinya tidak menanggapi, terlihat inah hanya memejamkan mata sambil membaringkan tubuh yang terasa lelah, traumanya masih belum menghilang, ditambah tenggorokannya terasa sakit, akibat tersendat oleh nasi yang tadi dia makan. leher belakangnya masih terasa ngilu, akibat hantaman Karmin.


Dari arah kamar terlihat Ucup datang menghampiri, kemudian dia duduk diantara orang tuanya. dia sudah tidak terlihat kelelahan seperti Karmin dan Inah. "Hehehe kasihan banget kamu Ibu. sampai tidak berdaya seperti ini, padahal Kenapa harus takut, kan babinya juga nggak ngapa-ngapain?" ujar Ucup dengan santai, bahkan bibirnya dilukis dengan senyum, seperti sedang menertawakan ibunya yang sedang kesakitan.


Mendengar ucapan anaknya, Inah hanya mendelik sebentar. namun tak berbicara, karena ketika mulutnya bergerak tenggorokannya terasa sakit.


"Cup kalau kamu sudah tidak capek, Tolong kamu temui Mbah Turo!" pinta Karmin sambil menatap ke arah anaknya yang masih cengengesan.


"Mau ngapain nemuin si Abah?" tanya Ucup yang terlihat malas, sehingga senyumnya membias.


"Jangan banyak tanya! kamu sebagai anak hanya mengikuti perintah orang tua!'


"Yey......, meni kitu! Ucup Cuma bertanya mau apa?"


"Ini urusan orang tua, kamu kalau diperintah Jangan membantah, sudah sana buruan temuin Mbah Turo. bilang bapak nyuruh datang ke rumah!" ujar Karmin sambil membulatkan mata.


"Iya...! Iya!!!" jawab Ucup yang terlihat meringis, merasa takut melihat bapaknya seperti itu. tanpa bertanya lagi anak kecil itu berlari menuju ke arah rumah mbah Turo.

__ADS_1


Sedangkan Karmin, setelah nafasnya tidak terlalu memburu. dia pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian menuju ke arah dapur untuk mencari air minum. tapi setelah sampai dia tidak menemukan barang yang ia cari, karena panci yang dia punya, tadi dibawa ke kebun. namun dia tidak kehabisan akal, Karmin mengambil gayung yang terbuat dari batok kelapa, lalu mencelupkannya ke dalam seeng untuk mengambil air minum.


Glek! Glek! Glek!


Suara tenggorokan yang sedang meneguk air membasahi kerongkongan yang terasa kehausan. sehingga air yang ada di dalam gayung itu habis tak tersisa, terdengar suara sendawa yang begitu keras. setelah dirasa Karmin kenyang dengan air minum, dia pun membawa satu gayung ke dalam rumah untuk istrinya.


"Inah....., Sebenarnya kamu tersendat apa?, tersendat nasi, apa tersendat tulang ikan peda?" tanya Karmin setelah sampai di dekat Inah.


Ditanya seperti itu inah tidak menjawab, Dia hanya melirik dengan sudut mata, wajahnya terlihat pucat. Inah menelan ludah, terasa di tenggorokan ada yang mengganjal, seperti tulang ikan. "sakit banget Kang! kayaknya Inah tersendat cucuk ikan peda."


"Diam! Diam...!  jangan banyak gerak, sebentar Akang obati dengan mantra-mantra yang dipelajari dari aki, sekalian mengetes khasiatnya, kira-kira mempan apa nggak," ujar Karmin sambil duduk dengan bersila tegap. gayung yang terbuat dari batok kelapa didekatkan ke bibir. terdengar mulutnya berkomat-kamit membaca mantra tersendat.


"Ulah matuh dina jantung, ulah betah Dina Bayah, ulah ngancik Dina Ati. Kamu tempatnya bukan di sini, maka lancar...! maka Lengser...! Gleser!!! Gleserrr! Hey kakait anu boga ruruhit, ulah ngait kana getih, ulah nyugak kana tulang, sing kabawa kucai caih anu nembrag! Sing kakuras kucai bersih! Cuah! Cuah! Cuah!. nih minum....!" ujar Karmin sambil memberikan air yang ada di dalam gayung, air yang sudah di jampe jampe olehnya.


Inah pun bangkit dari tempat tidurnya, dia mengambil air pemberian dari Karmin, kemudian Dia mulai meneguk air jampe yang dibuat oleh suaminya. terlihat tenggorokan Inah naik turun, seolah sangat menikmati air yang masuk ke kerongkongan, air yang rasanya sangat dingin sampai ke ulu hati.


Huuuuuh!


"Bagaimana tulang ikannya kebawa oleh air Inah?" tanya Karmin yang sejak dari tadi memperhatikan istrinya.


"Masih terasa Kang Karmin....! masih terasa menusuk-nusuk tekak."


"Jangan khawatir rasa sakit itu, bukan rasa sakit yang diakibatkan oleh tulang ikan yang masih tersangkut, melainkan itu hanya bekas lukanya saja. karena akang yakin tulang ikan itu akan terbawa oleh air yang kamu minum. Kalau kamu masih mau, akang bisa ambilkan lagi air minumnya."


"Sudah...! Gak usah kang.! ini juga sudah kenyang. perut Inah terasa bergelambir penuh dengan air, seperti orang yang sedang mengandung bayi." jawab Inah sambil menggeser tempat duduknya, bersandar ke dinding rumah. matanya mulai terpejam menikmati rasa sakit yang masih terasa. dalam bayangannya terlintas kembali kejadian yang baru saja menimpanya, di mana dia sedang makan di bentak oleh babi hutan, sehingga membuatnya tersendat oleh nasi. rasanya Begitu Terasa susah untuk dilupakan, karena tenggorokannya masih terasa sakit.


Dari arah luar, terlihat ada seorang laki-laki yang sudah tua. mungkin umurnya berbeda 20 sampai 25 tahun di atas Karmin, diikuti oleh Ucup. orang tua itu tanpa berpamitan dia pun masuk ke dalam rumah, kemudian dia duduk di dekat pintu. matanya mula-mula menatap ke arah Inah, kemudian menatap ke arah Karmin, dahinya mengkerut seperti Sedang berpikir, atau sedang mencerna sesuatu yang tidak dimengerti oleh nalarnya. "Ini Ada apa Jang Karmin?" tanya laki-laki itu setelah puas membagi tatap.


"Ada pengalaman aneh bah Turo! ada hal yang mungkin bisa menguntungkan bagi kita. tadi, Ketika saya mengecek tanaman-tanaman di kebun. istri saya yang sedang membabat rerumputan liar, karena sudah tinggi. dia berteriak dengan kencang karena kaget didatangi oleh babi hutan. awalnya saya tidak percaya, namun ketika kami makan, tiba-tiba datang sang babi. dengan santainya dia berjongkok di pintu Saung, membuat kami sekeluarga sangat ketakutan. bahkan istri saya sampai tersendat oleh nasi, serta tulang ikan. hampir-hampir saja kami sekeluarga celaka Abah...! Ini semua gara-gara si Bagong itu. tapi dari kejadian yang saya alami, ada yang mengganggu pikiran saya, karena menurut saya itu tidak wajar."

__ADS_1


"Tidak wajar bagaimana?"


"Babi hutan itu terlihat sangat jinak, meski ukuran tubuhnya sangat besar."


"Oh ternyata seperti itu ceritanya, Abah kira tadi ada apa. kok ada orang-orang yang berteriak.  Ternyata ada babi di kebun jangkarmin."


"Iya Abah...! saya berteriak karena saya sangat takut."


"Kira-kira babinya dari mana?"


"Nggak tahu lah Mbah, Kan saya bukan pengembala babi." jawab Karmin


"kalau beneran ada babi hutan di Kebon kita, kebetulan Abah sedang membuat pagar."


"Apa hubungannya pagar sama babi hutan Mbah?" tanya Karmin yang terlihat tidak mengerti.


"Kita bisa memanfaatkan pagar Abah untuk menangkap babi itu, kita buat jebakannya."


"Caranya bagaimana?"


"Sudah, itu urusan Abah.! yang penting jangkarmin bantu."


"Siap bah! makanya saya memanggil Abah untuk membicarakan hal ini. karena saya yakin Abah bisa menangkap babi hutan itu. selain takut mengganggu tanaman kita di kebun. Saya memiliki dendam yang sangat luar biasa. karena si babi itu mengagetkan istri saya, sampai sangat ketakutan. Mungkin kalau menimpa orang yang memiliki penyakit jantung, bisa-bisa meninggal seketika." ujar Karmin sambil melirik ke arah istrinya yang masih menyandar ke dinding rumah.


"Emang sekarang ada di mana?" tanya Mbah Turo sambil menatap ke arah karmin.


"Apanya yang di mana?" tanya Karmin yang tidak mengerti.


"Babinya ada di mana?"

__ADS_1


"Nggak tahu bah, tapi kalau abah penasaran, Ayo kita lihat!"


__ADS_2