
"Maksud Jang RT?" tanya Mbah Abun yang membulatkan mata, dia tidak percaya kalau Pak RT memiliki pemikiran sejahat itu terhadap dirinya.
"Maaf Abah, bukannya Saya menuduh, tapi saya ingin mendengar penjelasan Abah. karena saya melihat Abah seperti santai santai aja, tidak menunjukkan seperti orang yang sudah di Serang, tidak seperti orang yang mau direbut nyawa. Abah terlihat tidak memperdulikan hal itu, padahal Menurut saya itu adalah kejadian yang sangat merisaukan, bahkan kalau tidak hati-hati mungkin Abah sekarang tinggal nyawanya," jelas Pak RT panjang lebar, agar Mbah Abun tidak berpikiran buruk tentangnya.
"Maksudnya bagaimana Jang? coba Jangan berbelit biar Abah mengerti! Abah kan udah tua. otak Abah sudah mulai mengental."
"Kenapa Abah tidak melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib, Kalau di kampung minimal Abah melaporkan kejadian itu kepada pengurus setempat. agar tindakan yang dilakukan oleh Kang Sarman tidak terulang lagi," tanya Pak RT sambil menatap pria paruh baya yang ada di hadapannya, seperti ingin menembus ke dalam hati Mbah Abun, ingin mengetahui apa yang sebenarnya Mbah Abun rahasiakan.
"Abah sebenarnya mau melaporkan hal itu ke Pak RT, namun seperti yang Pak RT ketahui, Abah diundang menghadiri acara pernikahan anak partner bisnis Abah di kota. sehingga Abah tidak sempat menyampaikan kejadian itu ke pengurus. Sehabis pulang dari kota, Abah juga terkena musibah. Ranti, anak Abah satu-satunya menghilang entah ke mana bahkan sampai sekarang keberadaannya belum diketahui," jelas Mbah Abun yang terlihat sangat pintar memainkan peran, sehingga Pak RT terlihat manggut-manggut seperti orang yang mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Mbah Abun. "sekarang menurut Abah, mendingan si Sarman itu dibiarkan saja! jangan ditolong. mungkin ini adalah balasan dari sang pencipta kepada orang yang iri hati, jahat seperti Sarman. orang yang berani melukai tetangganya sendiri, bahkan kalau dia mampu mungkin mau merenggut nyawa Abah," lanjut Mbah Abun.
Mendengar jawaban Mbah Abun yang panjang lebar, membuat ketua Kampung Ciandam terdiam sesaat seolah sedang mencerna apa yang disampaikan oleh warganya. hingga akhirnya dia terlihat menarik nafas dalam, seperti sedang mengumpulkan kekuatan untuk berbicara di tengah kebingungannya.
"Tapi kalau melihat keadaan Kang Sarman, yang sangat mengkhawatirkan, saya merasa kasihan Mbah."
"Maka dari itu, Abah Kenapa tidak melaporkan Kelakuan si sial4n ke pengurus, karena Abah tahu Jang RT akan membela orang itu sampai mati," ujar Bah Abun yang mulai menyudutkan Pak RT.
"Nggak Bah! nggak seperti itu, semua orang yang ada di kampung Ciandam, itu adalah warga saya. jadi saya tidak akan pilih-pilih untuk menegakkan keadilan, namun untuk melihat keadaan Sarman yang harus segera ditolong. Jadi saya sebagai ketua memutuskan menolongnya terlebih dahulu, sebelum memberikan keputusan. Nanti kalau dia sudah sembuh, Saya berjanji akan berdiskusi dengannya, kalau dia tidak mau berubah, maka saya tidak akan tanggung-tanggung untuk membawanya ke kantor desa, untuk disetorkan ke pihak yang berwajib. karena walau bagaimanapun Apa yang dilakukan oleh Sarman, adalah kesalahan yang sangat fatal, kesalahan hendak melukai bahkan menghilangkan nyawa orang lain, itu sangat tidak dibenarkan." ujar Pak RT memberikan jawaban agar Bah Abun tidak memojokkannya.
"Kenapa Pak RT hanya memikirkan Sarman? Kenapa tidak memikirkan Abah, yang sekarang sedang kehilangan anaknya? apakah di mata Pak RT, Sarman lebih penting daripada anak Abah, daripada Abah sendiri. yang sudah banyak mengeluarkan banyak uang dan pikiran untuk memajukan Kampung Ciandam. Di mana letak hati nurani Pak RT?" ujar Bah Abun seperti menemukan jembatan di tengah-tengah hutan belantara, dia terus memojokkan Pak RT.
"Maaf Abah, Apakah Abah pernah melaporkan kehilangan Ranti kepada saya?"
__ADS_1
"Bagaimana mau melaporkan Jang, pemikiran Abah lagi kalut. harusnya Jang RT yang mendatangi Abah, menanyakan keadaan Ranti. Abah yakin kalau Jang RT mendengar kesulitan yang sedang Abah hadapi. sebagai ketua kampung yang baik, harusnya Jang RT peka terhadap apa yang menimpa warga kampungnya!"
Mendengar penjelasan Mbah Abun, membuat Pak RT terdiam, tertegun seketika seperti tertonjok benda paling vitalnya. karena dia mengakui Apa yang dibicarakan oleh Mbah Abun, memang begitu benar adanya, dia tidak cepat tanggap dengan kejadian yang menimpa keluarga Bandar anyaman itu, dari kelalaiannya maka ia harus menanggung malu, di pojokan oleh Mbah Abun.
"Maafkan saya Abah! kalau saya kurang tanggap dengan apa yang terjadi ke Keluarga abah, Sekali lagi saya mohon maaf! saya benar-benar mengabaikan berita itu. karena menurut keterangan dari Zuhri, Abah sudah mengutus Galih dan Daus untuk mencari keberadaan anak Abah yang hilang." ujar Pak RT sambil menghela nafas dalam menghembuskan penyesalan penyesalan yang pernah dia lakukan, Penyesalan tidak cepat tanggap dengan apa yang terjadi kepada warganya.
"Apa cukup menggunakan Galih dan Daus, yang mereka bukan siapa-siapa, mereka bukan pengurus, mereka bukan ketua kampung?" jawab Bah Abun yang menyudutkan terus Pak RT.
Mendapat dirinya disudutkan, pak RT yang tidak tahu harus berbicara apa lagi. dia kembali menghela napas dalam, merasa bingung dengan apa yang harus ia bicarakan. tadinya dia ingin mengintrogasi kejadian yang menimpa keluarga Sarman, tapi kenyataannya dia malah di pojokan seperti itu.
"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena saya tidak cepat tanggap dengan kejadian yang menimpa Keluarga abah. Saya akan memikirkan Bagaimana cara menolong Ranti, saya mohon pamit dulu, untuk melanjutkan pekerjaan saya mencari rumput buat ternak," ujar Pak RT akhirnya dia berpamitan, karena dia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Akhirnya pak RT pun bersalaman, setelah saling Maaf memaafkan, dia melanjutkan pekerjaannya kembali, pekerjaannya yang sempat tertunda, mencari rumput untuk hewan ternaknya.
****
Sore hari, di kampung Ciandam. Adin yang ditugaskan untuk mencari kebenaran tentang adanya dokter di kecamatan, dia pun sudah pulang ke kampung itu. dengan segera dia menemui Pak RT, di rumahnya. kebetulan orang yang dicari sedang tidak kemana-mana, karena dia juga sedang menunggu berita yang dibawa oleh Adin.
"Bagaimana, apakah bener di Kecamatan ada dokter?" tanya Pak RT setelah mempersilahkan tamunya duduk. dia langsung bertanya, karena ingin cepat-cepat mengetahui berita Apa yang dibawa oleh warga kampungnya, sehingga dia bisa menyimpulkan Bagaimana cara menolong Sarman.
"Alhamdulillah, ternyata apa yang disampaikan oleh Kang Agis itu benar adanya, di kecamatan ada dokter yang baru ditugaskan, untuk mengobati warga. Emang benar dokter itu baru datang beberapa minggu yang lalu, sehingga tidak ada banyak orang yang mengetahui berita baik ini," jelas Adin mengungkapkan penemuannya
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, saya merasa senang ketika mendengarnya."
"Terus apa yang harus kita lakukan?"
"Sekarang kita temui Bi Darmi, dan Tolong panggilkan aki Tardi! agar kita bisa berdiskusi bagaimana kelanjutannya." jawab Pak RT memberikan keputusan.
Akhirnya mereka berdua pun bangkit dari tempat duduk masing-masing, kemudian keluar dari rumah Pak RT lalu menuju ke rumah Kang Sarman. namun ketika ada belokan, Adin yang ditugaskan untuk menjemput Aki Tardi, dia berbelok menuju rumah tetua Kampung Ciandam itu.
Rumah Sarman sore itu, dipadati kembali oleh warga-warga yang memiliki Simpati terhadapnya. Tetua-tetuah Kampung Ciandam berkumpul untuk membicarakan atau mengambil keputusan Bagaimana cara menolong warga kampungnya.
"Bagaimana Jang RT, Apakah Jang Adin sudah mendapatkan berita yang akurat?" Tanya aki Tardi mengawali pembicaraan sore itu. Darmi dan Mita sebagai keluarga, mereka hanya diam menyimak, sesekali dia mengusap keringat yang keluar dari tubuh suami dan bapaknya itu.
"Alhamdulillah, berkah aki! Kang Adin yang kita tugaskan untuk mencari kebenaran dokter di kecamatan, dia menemukan berita yang akurat. bahwa benar, di kecamatan ada dokter yang kita bisa mintai tolong, untuk mengobati luka Kang Sarman." jawab Pak RT menjelaskan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Adit.
"Terus sekarang kita harus bagaimana?" tanya Ishak yang kebetulan dia pun diberitahu, bahwa Adin sudah pulang dari kecamatan.
"Untuk mengambil keputusan, kita tidak boleh mengambil keputusan sendiri. Kita harus bertanya langsung ke keluarganya, orang yang wajib mengurus keadaan suami dan bapaknya. bagaimana Neng Darmi Apakah Kang Sarman mau dibawa ke dokter itu, atau dibiarkan begini saja?" ujar aki Tardi sambil menetap ke arah wanita yang Sejak dari pagi terus menangis, sepertinya bola mata yang dimiliki oleh Darmi, bak mata air yang terus mengalirkan cairannya.
"Kalau saya, ikut saja apa yang diputuskan oleh para ketua kampung. yang terpenting suami saya bisa sembuh seperti sedia kala." jawab Darmi sambil menyusut cairan bening yang mengalir di pipinya.
"Kalau mendengar penuturannya seperti itu, bagaimana kalau kita bawa Jang Sarman ke dokter untuk mengetahui Penyakit apa yang diderita olehnya, agar bisa diobati secepat mungkin, karena kalau dibiarkan aki takut, luka di kaki Jang sarman akan menyebar kemana-mana!" putus aki Tardi sore itu.
__ADS_1