Babi Beranting

Babi Beranting
51. Ranti Menghilang


__ADS_3

Kira-kira pukul 02.00 siang, terlihat di Jalan Kampung Ciandam, ada sepasang manusia yang sedang berjalan menyusuri jalan itu. hingga akhirnya mereka berdua berhenti di salah satu rumah terbesar yang ada di kampung Ciandam.


"Rantiiiiiiiii! Rantiiiiiii! Rantiiiiii!" Panggil Mbah Abun ketika sampai di depan pintu, namun orang yang dipanggil tak menjawab. Mbah Abun memanggil anaknya sampai beberapa kali, hingga akhirnya dia merasa penasaran, kemudian mendorong pintu rumahnya namun terkunci. dengan cepat Ambu Yayah membuka pintu rumah itu, dengan kunci cadangan yang ia bawa. lalu mereka berdua pun masuk ke dalam.


"Rantiiiiiiii! Rantiiiiiiii! Ranti!" Panggil Mbah Abun sambil terus berjalan menuju ke arah dapur, membuka pintu  untuk mengecek keberadaan Ranti di ******, Namun ternyata Ranti tidak ada di situ.


"Ada nggak Abah?" tanya Abu Yayah Yang menghampiri.


"Nggak ada Ambu, ke mana ya anak kita?"


"Aduh! jangan-jangan." ujar Abu Yayah yang tak sanggup melanjutkan perkataannya, dari sudut mata yang sudah berkerut terlihat ada cairan yang tertahan.


"Sudah jangan berprasangka buruk! nanti bisa jadi kenyataan." jawab Mbah Abun yang masuk kembali ke dalam rumah kemudian dia keluar.


"Mau ke mana Abah?"


"Mau ke rumah Jang Zuhri, siapa tahu aja dia tahu keberadaan si Nyai. karena dia orang yang ditugaskan untuk menjaganya." jawab Abun tampa menunggu jawaban dari istrinya, Dia pun terus berjalan menuju ke arah rumah Zuhri.


Mbah Abun berjalan dengan tergesa-gesa, sedikit berlari. hatinya yang semakin terasa gelisah, jantungnya yang memompa dengan begitu kencang. wajah anaknya terus terbayang memenuhi kelopak mata.


"Jang zuhriiiiiii! Jang zuhri! Jaaaaaang!" Panggil Mbah Abun dengan berteriak, setelah sampai di rumah orang yang ia tuju.


"Iya ada apa bah?" jawab Zuhri yang membuka pintu depan.


"Anak Abah ke mana?" Mbah Abun tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Maksudnya anak Abah ke mana bagaimana?" tanya Zuhri yang terlihat kebingungan.


"Ya anak Abah ke mana, Siapa tahu aja Ujang melihatnya. kan, Ujang yang Abah tugaskan untuk menjaga Ranti."


"Sudah Jangan banyak bertanya dulu Bah! mending Abah masuk. Biar ngobrolnya agak tenang." jawab Zuhri sambil masuk ke dalam rumah kemudian dia menggelar tikar sebagai alas tempat duduk.

__ADS_1


Akhirnya Bah Abun pun masuk ke dalam rumah Zuhri, kemudian dia duduk di atas tikar yang sudah digelar.


"Abah Emangnya dari mana, kok nggak kelihatan?"


"Yeeeeeey! kan kemarin Abah sudah bilang, abah mau ke kota dulu abah mau mengurus kerjasama tentang kerajinan usaha kelompok sambil menghadiri acara undangan rekan bisnis Abah. Terus sekarang anak Abah ke mana?" Jawab Bah Abun yang terlihat matanya memerah, mungkin merasa kesal kepada Zuhri.


"Bukan begitu Abah, kemarin sore ketika istri saya mau mengantarkan nasi untuk Ranti tiba-tiba dia terkaget, karena melihat rumah yang pintunya terbuka, jendela jendelanya pun masih belum ditutup. saya awalnya beranggapan kalau Ranti ikut sama abah, tapi ada orang yang menyampaikan bahwa Ranti sempat mengecek hasil kerajinan seperti biasa. mungkin Ranti main ke rumah temannya, sampai lupa pulang. Namun sayang tidak ada yang mengetahui, ke mana mainnya anak Abah. dan ada kejadian yang paling menegangkan. mungkin rumah abah bukan rumah saya, jadi ketika saya menutup rumah Abah ada beberapa jendela yang tak sempat tertutup, hingga ada dua orang asing yang masuk ke dalam rumah abah. beruntung saya Dan Galih datang tepat waktu, Saya dan para warga bisa menangkap maling itu, kemudian menyerahkannya ke kantor desa. sekarang saya mau bertanya, sebenarnya Ranti ke mana, apa ikut sama abah, atau bagaimana?" cerita Zuhri diakhiri dengan pertanyaan.


"Nggak! anak Abah nggak ikut sama abah. terus kira-kira ke mana ya Jang!" tanya Mbah abun yang terlihat semakin panik, karena kejadian semalam yang membuatnya merasa ngeri, itu benar-benar terjadi.


"Nggak tahu Abah! mending sekarang Abah pulang cek kembali barang-barang Abah, siapa tahu aja ada yang hilang. karena ada orang yang masuk, Maaf Abah bukan saya lepas dari tanggung jawab, namun saya hanya menjaga rumah abah malam hari bukan siang." Ujar Zuhri mengakui kesalahannya.


Mendengar penjelasan Zuhri, Mbah Abun pun menarik nafas dalam. kemudian dia pun berdiri. "Ya sudah abah mau pulang dulu, terima kasih atas semuanya." ujar Bah Abun yang mengakui kesalahannya, karena dia yakin orang-orang yang ditugaskan menjaga rumahnya tidak akan hafal dengan seluk-beluk rumah orang lain. setelah selesai berpamitan Mbah Abun pun dengan tergesa-gesa keluar dari rumah Zuhri.


Di jalan beberapa kali bertemu dengan orang yang bertanya kepada Mbah Abun. namun dia menjawab seperlunya. perbawaan hati yang sangat kacau, membuatnya enggan berbicara banyak. dia terus berjalan menuju kembali ke arah rumahnya. sedangkan Abu Yayah. tadi, sepeninggal Mbah Abun dia pun tidak tinggal Diam, dia mulai mengecek semua area rumahnya. mulai dari dapur dan kamar-kamar yang ada di rumah itu. namun matanya terbelalak kaget setelah melihat baju di kamarnya berserakan, berceceran di mana-mana. membuat jantungnya kembali bergejolak, dengan cepat ambu Yayah keluar dari kamar, hendak menyusul suaminya. Berniat menyampaikan Apa yang terjadi di dalam kamarnya. namun ketika dia mau mengangkat sarung memakai sendal, terlihat dari arah depan rumah, mbah Abun yang berjalan dengan tergesa-gesa.


"celakaaaa, ambu!" ujar Bah Abun yang tiba-tiba berucap seperti itu.


"Celaka Kenapa Abah?"


"Sudah Abah!"


"Apa yang hilang?"


"Lemari Abah!"


"Bagaimana lemari bisa hilang. kan, lemari itu sangat besar, masa maling mau-mauan mencuri barang sebesar itu?" jelas Mbah Abun sambil mengerutkan dahi.


"Nggak Abah! bukan begitu! lemari Abah bajunya acak-acakan di lantai."


Mendengar penuturan istrinya Mbah Abun dengan segera masuk ke dalam langsung menuju ke kamarnya. dia takut karena baju jimat pemberian Prabu uwul-uwul disimpan di lemari itu. bahkan sebelum berangkat Dia mewanti-wanti sama anaknya agar tidak masuk ke kamarnya

__ADS_1


Setelah sampai di kamar, benar saja apa yang disampaikan oleh istrinya. kamar itu sudah dipenuhi dengan baju-baju yang berserakan di mana-mana. membuat kaki Bah Abun terasa lemas, hingga tak mampu menopang lagi beban tubuhnya.


Bruk!


Tubuh Renta itu pun ambruk di lantai papan. "Siapa yang berbuat seperti ini? si Ranti apa maling." gumam Mbah Abun sambil terus menatap ke arah tumpukan baju yang berserahkan, dengan lemas dia pun mulai bangkit ditopang dengan memegang dinding kamarnya.


Dengan gontai dan perasaan yang berkecambuk antara khawatir, takut, kesal, menyesal menjadi satu. Mbah Abun mulai mendekati lemari yang pintunya sudah terbuka, dengan perlahan dia mulai menyisir lemari itu mencari benda miliknya. Namun sayang benda yang dia cari, tidak di temukan.


"celaka ambu! celakaaaa! baju jimat Abah hilang!" ujar Mbah Abun yang terlihat panik ,sambil menatap ke arah istrinya.


"Hilang Bagaimana Abah?". tanya Abu Yayah seperti orang yang kurang peka, Mungkin dia masih merasa panik dengan kejadian yang begitu cepat.


"Iya namanya hilang, ya hilang! nggak ada."


"Ke mana?"


"Nggak tahu Ambu! Ya sudah jangan banyak bertanya, Tolong bantu cari." jawab Bah Abun sambil membulatkan mata.


Akhirnya mereka mulai mencari benda itu, sambil merapikan baju yang berserakan, dilipat satu persatu kemudian dimasukkan kembali ke tempat asalnya, agar tidak berantakan.


"Uang kita, apa nggak hilang Abah?"


"Sebentar Abah cek dulu!" jawab Bah Abun sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia berjalan menuju ke arah dapur. karena dia menyimpan uang itu di tempat yang sangat rahasia, setelah mengecek harta miliknya, dia pun kembali ke kamar menemui istrinya.


"Bagaimana Abah?" tanya Abu Yayah Yang Terus melipat baju-baju.


"Nggak! barang-barang berharga kita nggak ada yang hilang, barang-barang itu masih ada di tempatnya. cuma baju jimat Abah dan anak kita yang hilang ambu."


"Lagian kalau menyimpan sesuatu yang keramat jangan sembarangan. benda yang penting malah disimpan di lemari, sedangkan benda yang tidak penting malah Abah sembunyikan, sampai tidak ada orang yang tahu." Gerutu Ambu Yayah menyalahkan suaminya


"Sudah Jangan saling menyalahkan, Ayo kita rapikan! siapa tahu aja baju jimat itu terselip di antara tumpukan baju-baju yang berantakan."

__ADS_1


Mendengar jawaban suaminya seperti itu Ambu Yayah pun terdiam, namun tangannya terus merapikan baju-baju yang berserakan, dibantu oleh Mbah Abun.


"Abah! Abah! kok Bambu tamiangnya sudah terbelah?" Pekik Ambu yayah yang melihat bambu pembungkus baju jimat milik Mbah Abun.


__ADS_2