Babi Beranting

Babi Beranting
91. berdamai dengan suasana


__ADS_3

Kira-kira waktu mulai gelap, Mbah Turo dan Karmin sudah sampai ke kampung Sela kaso, kemudian mereka berpisah di pertigaan jalan, Kembali ke rumah masing-masing, dan berjanji bahwa besok kira-kira waktu janari kecil, mereka akan kembali ke kebun, untuk menangkap babi hutan. Mereka akan bekerja berdua saja, tidak mau mengajak warga yang lain, mungkin takut rezekinya diminta oleh orang lain.


Sayap malam mulai terbuka, terlihat kelelawar yang terbang mau mencari makan. suara jangkrik saling bersahutan dengan suara ciang ciang. dari arah Barat terlihat sisa-sisa Mentari yang menguning, menimbulkan Lembayung senja yang begitu indah. namun lama-kelamaan Lembayung itu hilang, digantikan dengan gelapnya malam.


Di waktu yang semenakutkan itu, Ranti yang tadi tertidur di rumpun tebu timbarau. perlahan dia mulai membuka mata, karena terganggu dengan suara-suara hewan malam yang terdengar begitu berisik. dari arah kejauhan terdengar suara burung hantu yang di Sauhuti oleh burung gagak, menambah seram suasana malam di pasir datar.


"Ya Allah..! malam sudah datang lagi, Aku harus bagaimana?" Gumam Ranti dalam hati, perlahan dia keluar dari rumpun tempat bersembunyi. karena Ranti merasa tidak betah, kalau harus tidur di tempat seperti itu.selain tidak betah dia pun takut ada hewan-hewan melata yang menggigitnya.


Dengan perlahan Ranti mulai berjalan meninggalkan tempat persembunyiannya. membuat suara kemresek ketika tubuhnya atau kakinya bersentuhan dengan dedaunan yang kering. matanya tertuju ke arah lembah, namun dia terperanjat kaget. karena penglihatannya malam itu berbeda dari biasanya, sekarang penglihatannya terasa begitu jauh, tidak terbatas oleh gelapnya malam. yang membuatnya merasa semakin heran, karena dari arah Lembah, terlihat benda bercahaya mirip jamur lumar, jamur yang suka bercahaya ketika malam hari.


"Apa itu yang bercahaya, kok terlihat sangat indah?" Bisik hati Ranti. timbullah rasa penasaran, hingga akhirnya babi itu berjalan menuju ke tempat yang memancarkan sinar Putih.


Dia merasa aneh kembali, karena biasanya Malam yang begitu gelap membuat gerakannya terbatas. berbeda dengan malam sekarang meski keadaan gelap, Dia bisa berjalan dengan sangat lancar, seperti sedang berjalan di siang hari. dia bisa memilih jalan yang mudah untuk dilewati, menghindari tepian tepian yang agak curam, sama seperti babi pada umumnya, yang suka berkeliaran ketika malam datang.


Semakin lama Ranti berjalan, semakin mendekat ke arah benda bercahaya itu. membuat hati gadis itu berdebar tak karuan, namun dia semakin mempercepat langkah. Ketika sudah sampai, Betapa terkejutnya Ranti, karena cahaya itu ditimbulkan dari buah singkong yang tergantung di pohonnya, seperti dompolan mutiara.


Babi itu pun duduk menirukan anjing. matanya terus memperhatikan buah singkong, yang berada di kebon mang karmin.


"Ternyata ini hanya buah singkong, kirain benda aneh atau benda jimat. menyesal jauh-jauh datang ke sini ,ternyata cuma buah singkong."


Setelah puas memperhatikan buah singkong yang bercahaya. babi itu terlihat bangkit dari tempat duduknya, karena dia tidak tertarik kalau untuk memakan singkong, Ranti lebih tertarik kalau di situ, ada makanan seperti tadi siang, Nasi liwet panas dengan ikan peda bakar.

__ADS_1


Ranti dalam wujud babi hutannya, dia mulai mendaki tebing yang tidak curam, kerasak krusuk membelah rumput ilalang. dia terus mendaki hingga akhirnya sampai ke Puncak pasir datar. matanya celingukkan ke sana kemari memindai area sekitar yang terlihat indah. karena pandangan matanya tidak terbatas oleh gelapnya malam.


Semilir angin malam menerpa wajah, rasanya terasa dingin membuat tubuhnya terasa kebal kedinginan, matanya terasa kesat. babi ngepet itu mendongakkan kepala melihat ke atas langit yang tak berbintang, karena awan hitam menghalangi, sepertinya mau turun hujan badai.


"Ambu....! Abah.....! tolong Ranti....! tolong selamatkan anakmu....! Masa, Abah mau tega sama Ranti. Tolong jangan biarkan Ranti terus ber sedih seperti sekarang. orang lain pasti sudah lelap tidur di atas kasur yang empuk, diselimuti dengan selimut tebal. sedangkan Ranti terlunta-lunta di hutan, tidak ada teman, tidak ada yang peduli. Abah, Ambu! tolong Ranti.....!" begitu gumam hati sang babi ngepet, Namun sayang tidak ada jawaban, hanya semilir angin yang menggoyangkan dedaunan, membuat suara gemerisik karena bergesekan dengan daun-daun yang lain.


Ketika dia menatap ke arah samping kanan, hidung sang babi terlihat merekah. karena mencium wangi yang sangat menyengat, membuat rasa lapar Ranti tergugah, ususnya terasa melilit, perutnya mulai bergetar meminta isi.


Kaki babi ngepet itu seolah terhipnotis, dia mulai melangkah mengikuti penciumannya. meninggalkan Puncak pasir datar menyusur wangi yang semakin lama semakin tercium jelas. membuat rasa laparnya begitu Terasa. hingga akhirnya dia sampai di salah satu lembah yang terlihat sangat seram, karena banyak pepohonan yang tumbuh tinggi di sana. Ranti mulai memindai tempat itu, matanya menangkap kembali gemerlap cahaya, seperti jamur lumar, seperti buah singkong yang tadi dia lihat.


"Eh kok ada lagi yang seperti tadi, apa jangan-jangan masih dompolan buah singkong. tapi sekarang berada di bawah, bukan di atas," gumam hati babi ngepet, sambil terus menatap ke arah benda bercahaya.


"Oh ternyata ini, yang tercium sangat wangi. pantas saja perutku terasa lapar," ujar Ranti sambil duduk menirukan anjing. matanya terus menatap ke arah sajen yang ada di hadapannya. yang membuat selera makannya tergugah, ketika melihat cobek lele yang tercium sangat wangi, yang berada di atas coet. di sampingnya ada nasi yang dibentuk kerucut, menyerupai tumpeng. Namun ini bukan nasi kuning melainkan nasi putih yang terlihat sangat pulen. di bawahnya ada telur rebus yang sudah dikupas, ditambah dengan sesajen sesajen lainnya.


Melihat kenyataan yang sangat membahagiakan di depan matanya. tanpa pikir panjang babi itu mulai menerima sesajen yang diserahkan oleh Mbah Turo dan Karmin. Ranti mulai memakan sajen itu dengan lahap, sebisanya, semampunya, karena kondisi tubuh yang terbatas, membuat Ranti sedikit kesusahan. namun itu tidak menjadi halangan, untuk menikmati kebahagiaan yang datang.


Semua makanan yang menurut Ranti enak dimakan, dia habiskan, tak menyisakan sedikitpun. hanya gerabah berisi arang bekas pembakaran menyan yang Ranti lewatkan.


Setelah menghabiskan makan, dia pun berjongkok kembali di tempat tadi, sambil menatap Sajen yang sudah acak-acakan. "tinggal cerutu, tapi itu nggak enak untuk dimakan! Namun segini juga sudah cukup, Alhamdulillah perutku terasa kenyang," gumam Ranti sambil menatap ke arah cerutu yang terlempar jauh dari tempat awalnya mungkin tergeser oleh Ranti.


Dia mulai menurunkan kaki depannya, sehingga dia pun mulai tengkurap, perlahan dia mulai memejamkan mata, menikmati perut yang sudah terisi kenyang oleh cobek lele. semilir angin malam membuatnya terasa nyaman, seperti sedang di elus-elus oleh alam semesta, angin itu tidak terasa dingin, seperti tadi ketika berada di puncak pasir datar.

__ADS_1


Mata babi itu mulai terkatup dengan sempurna, meninggalkan alam yang membuatnya sedih. menjemput kebahagiaan yang akan hadir di dalam mimpinya. benar saja, Ranti malam itu bermimpi bertemu dengan pria yang sangat tampan, yang sangat menawan. pria itu mengajaknya untuk main di taman, menikmati bunga-bunga yang sedang bermekaran, membuat hati Ranti dipenuhi dengan kebahagiaan yang tak terhingga, membiaskan kesedihan yang sedang dialami.


Malam itu, Ranti merasakan malam yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya. karena malam itu hatinya terasa damai, sehingga dia bisa tidur dengan nyenyak, bahkan bisa mimpi seindah yang dia rasakan. biasanya Ranti tidur tidak senyenyak itu, karena dia terus menangisi kesedihan yang menimpanya, memanggil-manggil orang tua agar segera menolong dari semua kesusahan, kesengsaraan, kesedihan yang sedang dia alami. berbeda dengan malam itu dia sangat tentram, karena mungkin hari itu sudah dua kali dia menemukan makan yang sesuai dengan seleranya. badannya terasa segar, pikirannya terasa nyaman, tidak semrawut seperti yang sudah-sudah.


Suara hewan malam Terdengar sangat berisik, mulai dari suara jangkrik, belalang, sampai suara desisan-desisan ular menghiasi Lembah. bahkan sesekali terdengar suara auman harimau, yang menambah kegetiran malam itu. terlihat ada kunang-kunang yang terbang mendekat ke arah Ranti, hingga akhirnya dia hinggap di daun telinga yang beranting. dari tubuh hewan itu memancarkan kedipan cahaya, yang sangat terlihat indah. kunang-kunang itu mulai merayap ke arah jidat Ranti, sambil terus mengedip-ngedipkan cahayanya. namun itu semua tidak membuat Ranti terbangun, atau terganggu. dia tetap terlelap dengan Mimpi indahnya.


Waktu terus berjalan tanpa henti, hingga akhirnya mulai memasuki waktu menjelang subuh. hujan air embun mulai berjatuhan, membuat dedaunan menjadi basah, bahkan di ujung daun terlihat ada genangan air yang menempel bak mutiara. dari arah perkampungan sudah terdengar ayam jago yang berkokok, disauti oleh ayam jago lainnya, bahkan di tempat Ranti menginap, terdengar suara Cangehgar jantan yang menyahuti. menandakan waktu sudah mulai mau memasuki waktu siang, karena burung-burung kutilang mulai bersuara dari rumpun bambu.


Di waktu sepagi buta itu, terlihat di Jalan Setapak menuju ke arah kebun. ada dua orang laki-laki yang sedang berjalan masih menggunakan selimut sarung, di kepalanya melilit handuk. namun meski begitu, Mereka terlihat siaga. karena di pinggang mereka ada sarang golok yang menempel.


Mereka terus berjalan memecah gelapnya malam, hingga akhirnya sampai di pelataran Yang hantar. Orang yang berjalan di depan terlihat berhenti, sehingga membuat orang yang berjalan di belakang pun ikut berhenti. terlihat napas mereka sangat memburu, mungkin merasa capek sehabis perjalanan jauh. Mata mereka terus memindai keadaan sekitar, Namun waktu itu belum ada yang berbicara. Tapi lama-kelamaan orang yang paling tua, mulai memecah Hening suasana waktu menjelang subuh itu.


"Kalau bertemu sama babi, Ujang Jangan gugup, Ujang harus tetap tenang dan harus mengagetkan babi itu duluan. jangan sampai kita yang kaget lebih dulu oleh babi. Dan nanti kalau babi itu menuju ke arah galian tanah, Jang Karmin jangan mengikuti, Biarkan saja sampai terperosok. karena kalau sampai babi itu berbalik arah, bisa-bisa Kita celaka. karena babi yang seperti itu, mengalahkan babi yang sedang mogok." ujar pria paling tua, yang tak lain dan tak bukan adalah Mbah Turo, yang sejak tadi malam dia tidak nyenyak tidur, ingin segera menangkap babi hutan yang kemarin sudah diberi sajen. dia mulai memberikan wejangan kepada Karmin agar berhati-hati.


"Baik Bah! pokoknya Abah jangan khawatir, abah tenang saja! karena walaupun saya tidak suka berburu babi hutan, tapi saya pernah ikut berburu," jawab Karmin sambil mengikatkan sarungnya ke pinggang, Bahkan dia membenarkan ikatan handuknya yang berada di kepala.


"Ayo kita mulai menggiring! tapi Ujang harus tetap hati-hati dan waspada, karena di daerah sini banyak ular yang berkeliaran. Ujang harus terus berkomunikasi, agar kita bisa mengetahui keadaan masing-masing, kita harus menggiring babi dengan terpisah, Soalnya kalau menggiring tidak boleh bersama-sama, biar semua tempat bisa terjemah." ujar Mbah Turo sambil mulai melangkahkan kaki kembali.


"Siap Mbah!" jawab Karmin yang mulai berpencar dengan Mbah Turo, dia mulai memasuki rumpun Tepus, sambil memukul-mukul beberapa pohon, mengagetkan hewan-hewan yang sedang tidur dengan nyenyak.


Mereka terus bergerak sambil terus memberitahu posisi masing-masing, semakin lama mereka semakin mendekat ke arah galian tanah penampungan air. Jalan yang mereka lalui semakin terjal, karena harus menuruni bukit. dari sebelah timur warna kuning keemasan mulai terlihat, disambut dengan suara burung yang sedang mengigau.

__ADS_1


__ADS_2