
"Kenapa siang-siang begini, pintunya sudah dikunci, Abah?" tanya Ambu ya yah yang tidak setuju."
"Biar kalau Ranti pulang, kita bisa mengetahui. karena ada hal yang penting yang Abah ingin bicarakan." jelas Mbah Abun, dia ingin Rahasianya adalah rahasia suami istri, bukan keluarga. sehingga anaknya saja tidak boleh tahu dengan apa yang hendak dia kerjakan.
"Emang serahasia itukah Mbah?"
"Iya Ambu." jawab Mbah abun sambil duduk kembali di tempat duduknya. kemudian dia mulai menceritakan pengalaman yang dialami, selama tiga hari dua malam ketika meninggalkan rumahnya. Ambu Yayah memperhatikan dengan teliti apa saja yang diucapkan oleh Mbah Abun, takut ada yang lewat dari apa yang diceritakan oleh suaminya. "nah! begitu Ambu ceritanya." pungkas Mbah Abun mengakhiri ceritanya.
"Kapan kita, mau mulai bekerja?" Tanya Abu Yayah yang sudah mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh suaminya, namun dia tetap ingin tahu Apa rencana Bah Abun selanjutnya.
"Nanti malam ambu!"
"Emang Abah nggak capek, baru pulang perjalanan jauh, langsung bekerja?"
"Enggak, Ambu! Abah nggak akan capek untuk mencari kehidupan buat keluarga, yang penting ambu terus mendukung semua kegiatan Abah."
"Terus bagaimana sekarang, Kalau abah mau mulai bekerja nanti malam?"
"Ambu ambil bunga yang ada di pekarangan rumah! abah mau ngambil degan, sama mencari daun buat perlengkapan nanti malam." Jawab Bah Abun sambil bersiap-siap untuk pergi ke sawah.
"Bunganya, tujuh warna bah?"
"Iyaaaah!"
"Ya sudah! ayo kita kerjakan, biar nanti malam kita langsung bekerja." jawab Abu Yayah sambil bangkit dari tempat duduknya, bersiap-siap mengikuti apa yang dilakukan oleh Mbah Abun.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua pun sibuk melakukan tugasnya masing-masing, sesuai kemampuannya, sebisanya, mereka terus bersemangat dalam menjalani kehidupan. Hingga bahan sesajen pun terkumpul dengan lengkap, tak ada yang kurang satu pun.
****
Malam hari, ketika Ranti sudah tertidur di kamarnya. Pasangan suami istri itu mulai menjalankan ritual pesugihan babi ngepet. Ambu Yayah dan Mbah Abun sudah membakar kemenyan, untuk mengawali ritual.
Asap putih membumbung memenuhi ruang kamarnya, wanginya yang khas memenuhi rongga hidung mereka berdua. setelah dirasa ritual awal sudah cukup, Mbah Abun kemudian mengambil bambu Tamiang yang diberikan oleh Prabu uwul-uwul, lalu mengasapi Tamiang itu dengan Asap kemenyan. setelah dirasa cukup, Mbah Abun pun memutar bambu itu sampai akhirnya terbuka. membuat Ambu Yayah Walaupun dia sudah mendengar cerita tentang keanehan bambu itu. namun ketika melihat secara langsung, dia pun tetap terkaget-kaget, terheran-heran.
"Ambu jaga lenteranya, jangan sampai mati! nanti Kalau api di Lentera itu bergoyang-goyang, dan air di dalam baskom itu bergejolak. maka abu harus cepat mematikan Lentera, dan membuang airnya ke dapur." ingat Mbah Abun dengan suara pelan, sebelum dia berangkat bekerja.
Ambu Yayah hanya mengangguk tanda siap melaksanakan apa yang diperintahkan oleh suaminya. setelah selesai menyampaikan amanat, Bah Abun pun berjalan menuju keluar kamar menuju dapur. setelah berada di dapur, dia pun membuka pintu, terasa Hawa dingin mulai menyeruak menerpa tubuh. Namun itu tidak membuat Mbah Abun mengurungkan niat.
Dengan cepat Mbah Abun keluar dari rumahnya, kemudian menutup pintu itu kembali. setelah berada di luar, dia berdiri di kegelapan malam, yang tampa disinari oleh cahaya Rembulan. Membuat keadaan di sekitar samping rumah bah Abun terlihat begitu gelap. saking gelapnya malam itu, sampai-sampai ujung jari pun tidak terlihat.
Setelah baju itu dipakai, tubuh Bah Abun pun berubah menjadi seekor babi hutan yang sangat besar, dengan taring yang begitu panjang. yang dirasakan oleh Bah Abun, dia masih merasa seperti tidak ada perubahan yang berarti dengan bentuk tubuhnya. namun yang berubah penglihatannya yang awalnya terbatas, sekarang penglihatan itu bisa jelas, seperti disinari oleh cahaya Rembulan.
Mbah Abun kembali memperhatikan area sekitar, setelah dirasa aman dia pun dalam wujud babi hutan berlari menuju ke arah kebun. dia hendak menuju rumah Pak Haji Tamim. namun setelah memakai baju Jimat itu, bukan penglihatannya saja yang menjadi tajam, insting bah abun pun ikut menjadi tajam. ketika dia mau melewati jalan besar dia berhenti terlebih dahulu sebentar. karena dia merasa ada orang yang akan melewati jalan itu. benar saja setelah beberapa saat menunggu, ada dua orang yang lewat dengan membawa senter, sambil mengobrol. Mbah Abun masuk kembali ke dalam kebun, agar tidak tertangkap oleh cahaya sinar yang dikeluarkan oleh senter. jantung Bah Abun terasa berdegup kencang, takut dia ketahuan oleh orang yang lewat.
Namun berkah, orang itu tidak mengetahui ada babi di samping jalan. setelah Kedua orang itu lewat, Mbah Abun kembali melanjutkan perjalanannya. hingga akhirnya dia tiba di rumah Pak Haji Tamim. Babi itu pergi ke arah samping rumah, Mbah Abun juga tidak mengerti kenapa dia harus berjalan ke samping rumah, Dia seolah mengikuti apa yang diperintahkan oleh baju jimat yang sedang ia kenakan.
Setelah berada di samping rumah, Babi itu mulai mendekati Lesung, yang biasa digunakan untuk penggilingan padi tradisional.di tempat itulah Mbah Abun melihat ada benda-benda bercahaya yang bertebaran, seperti cahaya kecil yang keluar dari senter yang suka ada dalam korek. Mbah Abun pun mulai memungut benda-benda bercahaya itu, kemudian dimasukkan ke dalam kantongnya.
Habis dari rumah Pak Haji Tamim, dia melanjutkan ke rumah orang-orang lainnya. dia terus memungut benda-benda bercahaya yang berada di sekitaran Lesung. Mbah Abun terus melakukan pekerjaan dari rumah satu ke rumah yang lainnya hingga akhirnya dia pun merasa kelelahan dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan berencana besok dia akan kembali.
Sesampainya di rumah dengan cepat dia berkonsentrasi untuk menyebut pemilik baju jimat. setelah selesai membaca mantra akhirnya dengan sendirinya baju jimat itu terbuka, kemudian Bah Abun kembali ke wujud asalnya yang seorang manusia.
__ADS_1
Setelah melepas baju jimatnya, dia kembali memakai baju yang tadi di tanggalkan. kemudian masuk ke dalam rumah, melewati pintu dapur. setelah berada di dapur dia pergi ke lumbung tempat penyimpanan padi, dia menggetarkan baju Hikmat itu di atas lumbung padinya.
Clik! clik! clik!
Dari baju itu keluar beberapa benda yang tadi Mbah Abun pungut dari lesung warga. Setelah semuanya tidak ada yang tersisa, Mbah Abun pun masuk kembali ke kamar terlihat Ambu Yayah masih terdiam, menatap ke arah lentera yang masih menyala. Mungkin dia merasa khawatir lentara Itu mati.
"Aduh!" ujar Ambu Yayah yang merasa kaget melihat kedatangan suaminya yang tiba-tiba.
"Kenapa ambu! sudah matikan saja lenteranya. Ayo kita tidur!" Seru Bah Abun yang merasa kelelahan.
Mendapat perintah suaminya, Ambu Yayah manggut, kemudian dia menuruti semua perintah Mbah Abun. mulai dari mematikan damar dan membuang air yang ada di baskom. lalu merapikan sesajen agar tidak Terinjak atau tertabrak tikus ketika mereka tertidur.
"Bagaimana Abah, hasil?" tanya Ambu Yayah Yang berbaring di samping suaminya.
"Hasil ambu! Ya sudah ayo tidur! ini sudah malam." jawab Bah Abun tanpa membuka matanya, kemudian tak lama setelah itu terdengar dengkuran yang sangat keras keluar dari bibir Bah Abun, persis seperti babi hutan yang sedang mogok.
Melihat suaminya yang sudah tertidur, Ambu Yayah hanya menatap nanar ke arah wajah yang terlihat samar. dia merasa sedih karena harus melakukan hal yang tidak umum dengan orang-orang lakukan.
"Semoga aja ini adalah perjuangan terakhir kita Mbah!" gumam hati Abu Yayah kemudian dia pun membaringkan tubuh, lalu menutup tubuhnya dengan sarung jarik. Agar dia tidak merasa kedinginan. tak menunggu lama, Ambu Yayah pun tertidur pulas, sehingga dengkuran mereka saling bersahutan.
Keesokan paginya, seperti biasa mereka disibukkan dengan membuat penanak nasi dari anyaman bambu. yang berbeda, sekarang Mbah Abun menggunakan pisau jimat yang diberikan oleh raja siluman, untuk melengkapi pekerjaannya.
Mereka bertiga selalu giat dalam bekerja, hingga hari itu bisa menyelesaikan lima belas penanak nasi. karena ketika kemarin Mbah Abun sedang pergi, Ambu Yayah dan Ranti mereka melanjutkan pekerjaan Bah Abun yang tertunda. sebisa mereka, semampu mereka. jadi hari itu Mbah Abun hanya merapikan pekerjaan anak dan istrinya.
Sore hari, ke rumah Mbah Abun ada yang bertamu. dia menjelaskan bahwa dia dari luar kampung Ciandam. Padahal tidak dijelaskan pun Mbah Abun sudah tahu bahwa orang itu bukan warga kampungnya. Karena bah abun dia sangat hafal dengan siapa saja yang tinggal di kampungnya.
__ADS_1