
"Tenang aja jang kermin! nanti setelah agak terasa hangat, kita baru pulang, sekarang siapkan saja pikulan yang satu simpan di pohon Gintung."
"Yang sebelah lagi Bagaimana bah?" ujar Karmin yang memegang sebelah pikulan.
"Yang itu, simpan di bambu! Terus ikat"
"Bambu yang mana, Yang ini bukan" tannya Karmin sambil menunjukkan bambu yang sudah disilangkan, ditengahnya diikat sebagai sanggahan.
"Nah, itu betul! tumpangkan saja di atasnya," ujar bah turo terus memberikan komando, sambil terus menunjuk-nunjuk membuat Karmin terlihat sangat sibuk, namun dia tidak mengeluh, Karena perbawan hati sangat senang. Apalagi sebentar lagi akan menemukan kebahagiaan yang begitu luar biasa, kebahagiaan berhasil menangkap babi.
Karmin terlihat giat bekerja dan begitu teliti dibantu oleh Mbah Turo, sehingga keringat mulai kembali membasahi tubuh. mereka terus bekerja dengan penuh kehati-hatian, karena sebentar lagi mereka akan mengangkat tubuh babi dari dalam galian.
Sebenarnya kalau mengangkat babi dari galian itu, sangat susah. setidaknya membutuhkan enam orang dengan kekuatan yang lebih dari biasanya. namun di situ ada Bah Turo yang sudah memakan asam manis tentang pemburuan hewan, sehingga mereka berdua sangat yakin bisa mengangkat tubuh babi itu walaupun hanya berdua.
Sesekali karmin melihat ke arah dalam galian yang tadi sudah dibuka satu bambu untuk mengeceknya. yang berbeda sekarang Karmin bisa melihat jelas ke dalam Galian. terlihatlah babi yang tidak bisa bergerak karena galian itu hanya pas untuk tubuhnya.
"Babinya ada bah!" ujar Karmin memberitahu.
"Ya Ada, biarin saja! ayo bantu Abah mengikatkan tali ke leher babi," perintah Bah Turo tanpa memperdulikan Karmin.
"Siap bah!" jawab Karmin sambil mendekati ke arah Bah Turo.
Kakek tua itu mulai membuat lingkaran dari tali, lingkaran yang pas untuk leher babi. setelah selesai dengan perlahan dia pun menurunkan tali itu hingga akhirnya terkena mulut babi ngepet membuatnya menggerakkan kepala sehingga lubang tali itu susah masuk. Terlihat Karmin menahan nafas dalam seolah melepaskan beban yang ada dalam dadanya.
__ADS_1
"Tolong angkat kepalanya pakai bambu! agar lubang talinya masuk ke lehernya," pinta Bah Turo sambil melirik ke arah bambu yang berserahkan.
Tanpa berpikir panjang, Karmin pun mengambil bambu, lalu mencungkil leher babi yang sedang tertunduk, hingga kepala babi ngepet mendongak ke atas. dengan cepat Bah Turo memasukkan tali itu melewati kepala babi, setelah leher Babi bisa diikat, Mbah Turo terus mengikat tubuh-tubuh babi itu hingga akhirnya ada enam tali yang melingkar di tubuh Ranti.
Setelah semua tali melingkar di tubuh Ranti, Mbah Turo dan Karmin mulai mengikat ke pikulan yang sudah tadi mereka siapkan.
"Hati-hati Jang Karmin, jangan setengah hati. kita harus menarik tali ini bersama-sama, agar Babi bisa terangkat dengan seimbang, kalau tidak seimbang nanti takut dia berontak bisa bisa babi ini kabur, terlepas. karena ikatannya belum terlalu kuat," ingat Bah Turo memberi komando.
"Siap bah! Kapan menariknya?"
"Buang dulu bambu bambu penutupnya, agar mudah ketika mengeluarkan babi!" Seru Bah Turo sambil mengambil bambu-bambu yang menutup galian, Karmin pun tidak terdiam dia mulai melakukan hal yang sama.
Setelah mulut galian bersih dari penutup, Mereka pun kembali menghampiri tali-tali yang sudah diikatan, sama pikulan. "sekarang bagaimana Bah?" tanya Karmin yang mengusap keringat di dahinya.
"Kita angkat babi ini, agar kakinya tidak sampai ke tanah. biarkan dia meronta-ronta terlebih dahulu, hingga tenaganya lemas. setelah tenaganya lemas, baru kita mengangkat secara perlahan." Jawab Bah Turo memberikan komando.
Perlahan Mereka pun mulai menarik tali tali yang diikatkan ke pikulan, sehingga dengan perlahan tubuh babi itu mulai terangkat. benar saja apa yang dikhawatirkan oleh Mbah Turo, ketika tubuh babi itu naik beberapa centi, kakinya tidak menapak ke tanah. Babi ngepet itu mulai bergerak-gerak, menggelinjang ingin melepaskan diri, namun kondisi galian yang sangat sempit, membuat pergerakannya Tidak leluasa, sehingga lama-kelamaan tubuhnya pun menjadi lemas. apalagi tidak ada pijakan buat meloncat atau bergerak, karena bah turo sudah mengikatkan talinya ke atas pikulan.
Perlahan Bah Turo mulai mengencangkan beberapa tali yang melingkar di area tubuh Ranti, dengan ikatan yang begitu kuat. kemudian dia menarik kembali tubuh babi itu secara perlahan, hingga babi ngepet itu mulai naik melewati permukaan tanah. dengan menggunakan sisa-sisa tenaga ranti terus meronta-ronta ingin melepaskan ikatan, Namun sayang ikatan yang dibuat oleh Mbah Turo, ikatan yang sangat kuat, sehingga daripada terlepas tubuh Rantilah yang merasa sakit.
"Bagaimana nih bah?" tanya Karmin yang masih memegang tali agak jauh dari tubuh Ranti yang meronta-ronta
"Tali yang Ujang pegang, ikatkan ke pohon jeng jeng! tapi ikannya yang kuat, agar tidak terlepas"
__ADS_1
"Siap Mbah!" ujar Karmin sambil mengikatkan tali yang dipegang ke pohon yang berada di sampingnya. Begitupun dengan Mbah Turo, dia mengikatkan tali yang dipegang ke pohon kayu Afrika.
Setelah tali yang mereka ikatkan dirasa sangat kuat, Mereka pun mengambil tali-tali yang masih mengikat di tubuh Ranti lalu mengikatkan ke pohon, sehingga tubuh Ranti tergantung tak bisa berbuat apa-apa, hanya deraian air mata yang membasahi pipi.
"Kok babinya nangis bah?"
"Itu bukan nangis, dia bangun tidur, jadi itu belek!" jawab Bah Turo sambil mengambil beberapa tali lagi.
"Ini mah air mata bah, bukan belek!"
"Sudah jangan banyak pikiran, Ayo bantu Abah, ikat kakinya! sekalian ikat mulutnya juga, Biar tidak menggigit." Sanggah Bah Turo sambil melempar tali, meminta Karmin untuk membantunya.
Karmin yang masih merasa heran dengan Apa yang dia lihat, namun ketika mendapat perintah dari atasannya, dia pun mengambil tali yang dilempar oleh Bah Turo kemudian mereka berdua dengan Sigap mengikat kaki Ranti dan mulutnya.
Setelah kaki Ranti diikat. tali yang tadi diikatkan ke pohon mulai dilepas kemudian di lilitkan kembali ke tubuh Ranti lalu ditarik hingga punggung babi itu sampai ke pikulan bambu yang melintang di atas. Setelah itu mereka terus mengikat kan tali-tali yang lainnya sehingga tali yang mengikat tubuh Ranti sangat banyak dan sangat kuat. membuat babi ngepet itu sedikit agak kesusahan untuk bernafas.
Dengan perjuangan yang sangat berat dan sangat ulet. akhirnya pekerjaan mereka pun selesai. tinggal membawanya pulang ke kampung. mereka mulai mencoba menimbang-nimbang seberapa berat tubuh Babi itu, namun setelah mereka coba, ternyata babi ngepet itu sangat berat. membuat mereka membutuhkan tenaga ekstra, ketika menurunkan pikulan. namun meski begitu mereka tidak menyerah, hingga akhirnya pikulan itu berhasil diturunkan.
"Sekarang bagaimana bah?" tanya Karmin sambil tetap memegang pikulan.
"Jangan buang waktu, kita harus secepatnya pulang ke rumah, agar bisa mengamankan babi ini."
Akhirnya mereka berdua pun mulai berjalan, dengan sedikit sempoyongan, karena babi yang mereka bawa sangat besar. taringnya terlihat sangat tajam, kalau babi itu menyerang ke arah perut manusia, bisa-bisa isi di dalam perut keluar semuanya.
__ADS_1
Sedangkan hewan yang sedang berada dalam pikulan, dia hanya bisa meratapi nasib diri yang begitu memilukan, tubuhnya terasa sakit, karena habis terjatuh ke dalam galian tanah, perutnya terasa kebas karena kena tali, nafasnya sedikit tertahan dengan ikatan yang sangat kuat, tulang punggung terasa patah karena dipaksa diluruskan, mau berteriak sekencang-kencangnya tidak bisa, karena mulutnya sudah diikat. babi itu hanya bisa bergumam dalam hati. "Ambu...! Abah....! ketakutan Ranti Akhirnya sekarang terbukti, sekarang menjadi kenyataan. Ranti sekarang sudah ditangkap oleh orang jahat. ambu...! Abah....! Bagaimana kalau sudah seperti ini, sama siapa Ranti harus minta tolong...? Abu...! Abah...! Ranti sangat sedih kenapa orang-orang jahat sama Ranti, Padahal Ranti tidak pernah jahat sama orang lain," jerit hati Ranti yang sedang berada dalam pikulan.
Matanya terus bercucuran dengan cairan kesedihan, sambil terus menatap Mbah Turo yang berjalan dengan sedikit agak sempoyongan, karena merasa berat dengan pikulannya. berbeda dengan hatinya, laki-laki tua itu sangat bahagia karena dia berhasil menangkap buruannya. beda dengan Ranti yang sangat sedih hati, suda rasa. kalau dia tidak diikat mungkin Ranti akan mengamuk sejadi-jadinya untuk melepaskan diri, berharap bisa bebas seperti tadi. Namun sayang itu cuma hanya khayalan belaka, jangankan untuk melepaskan diri, untuk bergerak pun sangat kesusahan, perut terasa perih, Kepala terasa mulai pusing kembali, hingga akhirnya babi itu pasrah menerima nasib buruk yang menimpanya, dia terdiam sambil menikmati rasa sakit yang semerbak di sekujur tubuhnya.