
"Buat apa?" tanya Ranti yang belum mengerti sambil menatap ke arah pria yang sedang menatap ke arahnya. sehingga tatapan itu saling beradu, mengeluarkan getaran-getaran yang mampu menggoyahkan jiwa-jiwa pemuda-pemudi itu.
"Akang berharap! Siapa tahu saja kalau kita sudah dekat, kita bisa menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius."
"Serius bagaimana?"
"Serius meresmikan kedekatan kita di hadapan penghulu." Jelas Galih yang masih diplomatis.
Mendapat penjelasan Galih. Ranti pun kembali terdiam, namun dalam hatinya dia merasa sangat bahagia karena orang yang selama ini dia kagumi, akhirnya mengungkapkan perasaannya. namun Ranti belum bisa memutuskan, karena dia masih takut untuk melangkah.
"Kenapa diam, boleh nggak Akang lebih dekat sama Ranti?"
"Eeeeeeeeeeeuuu, emmmmmmm, eeeee!" Jawab Ranti tergagap.
"Kok seperti itu?"
"Maaf Kang Ranti takut!"
"Takut kenapa?"
"Ranti takut sama Mita, kalau Ranti menjalin hubungan dengan akang, nanti Mita marah."
"Hehehe, Ranti nggak usah takut, Ranti kan tahu sendiri kalau akang sudah memutuskan mita di hadapan semua orang." jawab Galih yang tersenyum, dia merasa bahagia karena tidak ada tanda penolakan dari wanita yang berada di hadapannya.
"Tapi Ranti tetap takut kang!"
"Urusan Mita, itu urusan Akang. sekarang urusan kita, Apakah Ranti mau didekati oleh Akang?" ujar Galih menyampaikan perasaan untuk kesekian kali.
Ceklek!
Terdengar pintu penghubung antara dapur dan rumah Terbuka, membuat kedua Insan itu sedikit menjauhkan tempat duduknya.
"Eh ada tamu?" Ujar Ambu Yayah yang baru masuk dari arah dapur, membuat kedua remaja itu menggeserkan tempat duduknya agar sedikit menjauh.
"Iya Ambu, mau ketemu Abah." jawab Galih sambil berdiri, kemudian dia mencium punggung tangan ibunya Ranti
"Si Abah lagi ke sawah dulu." jawab Abu Yayah sambil ikut duduk bersama mereka.
"Iya Ambu, tadi juga Ranti sudah menjelaskan. namun Ada hal penting yang saya ingin sampaikan. Jadi saya putuskan untuk menunggu, nggak apa-apa kan, ambu?" tanya Galih sambil menundukkan pandangan, Mungkin dia merasa malu dengan orang tua gadis yang dia sukai.
"Nggak apa-apa! ya sudah dilanjut ngobrolnya, Ambu mau ke dapur dulu, Mau masak buat nanti makan malam." ujar Abu Yayah seolah mengerti dengan apa yang sedang dirasakan oleh kedua Insan itu, membuat Galih sedikit tersenyum sambil menatap ke arah Ranti.
"Bagaimana Apakah boleh Akang mendekati hati Ranti?" Tanya Galih setelah Ambu Yayah Tak Terlihat Lagi. dia bertanya dengan sedikit memelankan intonasi suaranya, mungkin takut kedengaran oleh orang tua gadis itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" ujar salah seorang pria yang sedang berdiri di ambang pintu dengan menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Eh ada Daus, masuk us!" ajak Galih sambil mengulum senyum menyembunyikan kekesalan, karena merasa terganggu oleh kedatangan orang yang bertamu.
Dengan memasang wajah masam, Daus pun masuk ke dalam rumah Ranti. kemudian dia menyalami kedua orang itu. "kok, akang ninggalin saya, Katanya tadi mau mendatangi Mbah Abun bersama-sama?" tanya Daus sebelum dia mendudukkan tubuhnya.
"Iya, tadi Akang nyamper Daus ke rumah. tapi kata ibu Daus, kamu lagi mandi. akang takut kesorean, jadi Akang berangkat duluan."
"Terus Mbah abunnya mana?" selidik Daus.
"Masih di sawah?"
"Berarti akang dari tadi ngobrol sama Ranti?" tanya Daus sambil menatap tajam ke arah galih.
"Enggak kok! barusan ditemenin sama si ambu." Jawab Galih mengelak.
"Jangan bohong Kang!"
"Buat apa bohong, Nggak ada gunanya kali Us!" jawab Galih yang tetap tenang.
"Kang Daus, mau minum apa?" tanya Ranti memecah perdebatan kedua pria yang ada di hadapannya.
"Air putih aja Ran!" jawab Daus sambil merubah sikapnya ke mode manis, ketika berbicara dengan Ranti.
"Kenapa menatap Akang seperti itu?" tanya Galih yang merasa tidak enak di Tatap penuh curiga.
"Akang jangan bohong! Akang sudah janji bahwa Akang akan melepaskan Ranti buat saya."
"Hahaha, Daus! Daus! Akang nggak akan pernah menghianati sahabat Akang sendiri, kalau kamu nggak percaya. kamu tanya langsung aja sama Ranti!" jawab Galih yang mengulum senyum menyembunyikan kebohongannya
Namun ketika Daus hendak menimpali perkataan Galih, terlihat dari arah dapur Ranti sudah kembali sambil membawa satu gelas air minum. diikuti oleh Mbah Abun yang baru pulang dari sawah.
"Waduh, ternyata ada tamu. Bagaimana sehat Jang?" tanya Mbah Abun yang selalu ramah terhadap semua orang. sebelum duduk dia pun menyalami kedua tamunya terlebih dahulu.
"Iya bah! Ada kepentingan sedikit." jawab Galih sambil manggut memberikan hormat.
"Ada kepentingan apa Jang?" tanya Mbah Abun sambil menggeser tempat duduknya, agar Ranti bisa duduk bergabung bersama mereka.
"Begini Bah! Kita kan sudah menjalankan usaha ini lumayan cukup lama. saya sebagai ketua kelompok ingin mengumpulkan para warga, untuk mengevaluasi kinerja kita semua. sambil meluruskan desas-desus yang ada di tengah-tengah para anggota kelompok." ujar Galih menjelaskan dengan rinci.
"Desas-desus Apa itu Jang?"
"Ah biasa bah! namanya juga usaha, pasti akan ada gangguan. namun Abah jangan khawatir, karena gangguan ini tidak terlalu berpengaruh terhadap pekerjaan kita. Tapi walau seperti itu kita harus cepat menanggulanginya agar tidak semakin meluas.
__ADS_1
"Kapan rencananya mengumpulkan warga?"
"Nanti malam mbah, habis salat isya. sekalian kalau bisa Ranti juga ikut! Karena Ranti juga salah satu dari anggota kelompok dan agar semuanya paham." jelas Galih.
"Di mana?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah ketua kelompok.
"Apanya, yang di mana bah?" Galih balik bertanya karena tidak paham.
"Kumpulnya di mana?"
"Oh maaf Mbah! kumpulnya di majelis. tadinya mau di kantor kelompok, namun kantor itu cukup sempit untuk menampung banyak orang, akhirnya menurut saran Pak RT kita berkumpul di majelis taklim."
"Oh begitu, ya sudah terima kasih atas pemberitahuannya. ngomong-ngomong buat konsumsinya sudah ada belum Jang?" tanya Mbah Abun.
"Hehehe, maaf bah! saya belum kepikiran masalah tentang itu."
"Harus ada konsumsinya dong Jang! Biar ngobrolnya lebih mantap." jawab Mbah Abun memberikan saran sambil mengulum senyum.
"Baik Bah! nanti saya akan usahakan."
"Ranti masih ada uang sisa pembayaran hari ini?" tanya Mbah Abun sambil mengalihkan pandangan ke arah anaknya.
"Ada bah, buat apa?" tanya Ranti yang mengerutkan dahi.
"Berapa?"
"Rp10.000 bah!"
"Ya sudah semuanya kasih sama Galih, untuk menyiapkan konsumsi. Itung-itung kita syukuran atas kerjasama yang kita bangun." seru Bah Abun.
"Aduh Bah! gak usah repot-repot! uang kas kelompok juga masih ada." Tolak Galih yang merasa tidak enak.
"Nggak repot-repot kok, Jang! Lagian uang segitu nggak seberapa, nanti kalau kurang baru menggunakan uang kelompok." jawab mbah Abun sambil mengulum senyum. sedangkan Ranti yang diperintahkan oleh orang tuanya dia pun bangkit kemudian menuju ke kamarnya, tak lama dia pun kembali, sambil menyerahkan uang yang diminta oleh Mbah Abun.
Galih pun melirik ke arah Daus untuk mengambil uang itu, sehingga tangan Daus dan Ranti bersentuhan membuat tubuh Daus terasa berdesir, sehingga tangannya terlihat agak sedikit gemetaran.
"Saya terima uangnya Bah!" jawab Daus sambil menatap ke arah mbah Abun.
"Yah, Terima aja Jang!"
Akhirnya mereka berempat mengobrol ngalor ngidul Tanpa Ada Judul. Tapi obrolan itu tidak terlepas dengan membahas tentang kerajinan-kerajinan yang terbuat dari anyaman. namun obrolan mereka tak terlalu lama, karena menurut Galih mereka harus pulang dan bersiap-siap untuk mengadakan acara rapat nanti malam.
Setelah mendapat izin, kedua remaja itu pun pulang dari rumah mbah Abun, membawa perasaan masing-masing. Galih membawa perasaan yang sangat senang, karena walaupun belum mendapat jawaban, dia sudah tahu apa yang dirasakan oleh Ranti. sedangkan Daus dia membawa pulang perasaan curiga dan ketakutan terhadap Galih. namun dia tidak berani bertanya lebih lanjut, karena Galih orangnya sangat pandai berkamuflase.
__ADS_1